Sabtu, 12 September 2009

Seperti Aku Mengenang, dan Pada Akhirnya Kita Menguap di Udara

Tapi apa yang telah kau lihat? Mungkin kau menyangka telah melihat segalanya yang tersaji di depan matamu. Seperti aku yang menyangka segalanya telah terhampar hingga sejauh mata memandang. Namun nyatanya kehidupan inilah yang kita rasakan...kesunyian yang bahkan mata sendiri tak sanggup meredefinisikannya. Namun itulah kebebasan, sayang. Lepas dari definisi, dan tak termasuk kategori apa pun.

Dan aku bebas, sayang, lepas dari horison universalitas yang coba kau definisikan. Eksistensi yang coba kau ukur dengan kedua matamu. Karena eksistensi dalam ukuranmu, bagiku hanya sekadar siluet manusia di sebuah senja. Tidak terlihat jelas dan jernih: bukan hanya letupan-letupan sesaat dari euphoria sebuah kerinduan. Eksistensi bagiku adalah sebuah dialektika yang tidak pernah mewujud kedalam sesuatu yang statis dan terjebak dalam ukuran-ukuran kuantitas, maupun fisik semata. Tidak ada bentuk yang sama, semenjak pertentangan demi pertentangan adalah hal sama yang mendasari kelahiran sebuah bentuk baru yang lain lagi di setiap fasenya.  

Dan kehidupan yang kujalani sudah barang tentu tidak termasuk dalam eksistensi yang coba kau ukur. Dan aku bebas, sayang, dalam anonimitas: lepas dari pengkategorisasian, bahkan pendefinisianmu.

Semoga kehidupan mengambil bentuk yang terbaiknya bagi dirimu.
    

4 komentar:

astri arsita mengatakan...

nah, ini bo, baru rumit, hihi.

abo si eta tea mengatakan...

biasa we...ngacapruk, cil.

heru muthahari mengatakan...

brbrbrbrbrbr...."Dan kehidupan yang kujalani sudah barang tentu tidak termasuk dalam eksistensi yang coba kau ukur. Dan aku bebas, sayang, dalam anonimitas: lepas dari pengkategorisasian, bahkan pendefinisianmu."

heru muthahari mengatakan...

dasyatttt