Rabu, 02 September 2009

Everyone Shall Be Doomed*

Semua orang mungkin mengira bila membicarakan musik metal, berarti juga membicarakan musik yang penuh agresifitas. Dalam artian, di dalam kata ‘metal’ terdapat tempo yang cepat, gebukan drum yang berlari cepat dan riff-riff yang juga menggerinding tanpa ampun…pokoknya segalanya serba cepat dan brutal. Mungkin tidak semua orang mengira bahwa di dalam genre metal, dimana banyak orang mempersepsinya sebagai musik cepat itu, terdapat suatu subgenre dimana gaya bermusiknya jauh dari citra band-band yang memainkan metal pada umumnya.

Tempo yang mengalun lambat sekali (secara harfiah), riff-riffnya tidak sebrutal mereka yang memainkan death metal, sound yang berat, atmosfir yang cenderung membawa hawa putus asa bagi yang mendengarnya menjadi ciri khas dari subgenre metal ini. Di kalangan penggemar musik metal sendiri subgenre ini memang tidak popular. Mungkin hal itu disebabkan, karena cara bermainnya yang lambat itu sangat kontradiktif dengan pakem-pakem yang sudah berlaku di dunia per-‘metal’-an selama ini, sehingga jarang sekali dilirik. Untuk lebih mudahnya, kita sebut saja subgenre ini dengan sebutan “doom”.

Akhir-akhir ini saya sering - bahkan sepertinya sudah teracuni – oleh musik doom. Untuk hal ini, mungkin saya harus memberi kredit kepada band lokal bernama Komunal. Walaupun, pada dasarnya,  Komunal bukanlah band yang membawakan musik doom (Komunal lebih kepada thrash/stoner/metal). Namun, melalui Komunal, saya mengetahui band-band hebat lainnya seperti Grief, Warhorse, Goatsnake, Ocean dll. Band-band itu mempunyai kesamaan karakter: gaya bermainnya benar-benar pelan dan soundnya maha berat! Pertama kali mendengar band itu, seperti menemukan sensasi tersendiri bagi telinga yang renta ini. 

Bila sebelumnya, ketika mendengarkan gaya bermain band-band death metal dan thrash metal, saya selalu terkesima dengan skill para pemain gitarnya yang mampu bermain cepat dan brutal pada saat yang bersamaan. Sedangkan ketika mendengarkan musik doom ini, satu hal yang membuat saya selalu tertegun sendirian di kamar adalah sound yang dihasilkan oleh mereka, band-band doom itu. Hell, suaranya benar-benar berat dan kasar! Terkadang ada band doom yang riff-riffnya sangat “punk rock” (three chords way!), sangat kontradiktif dengan permainan musik death metal, misalnya. Tetapi dengan sound yang berat mereka malah tidak terdengar seperti band punk rock!  

Oke, untuk mengetahui tentang musik doom ini, saya telah mengkompilasi beberapa bahan dari situs internet yang membahas tentang sejarah dan perkembangan doom metal (terdengar seperti Septiawan Santana lakukan dengan buku-bukunya, eh?). Situs-situs yang saya kunjungi antara lain adalah doommetal dan wikipedia. Semua bahan itu saya campur-campur lagi dengan pengetahuan saya yang serba-sedikit tentang musik ini. Yah, selamat membaca!

Musik doom mulai tumbuh pada pertengahan tahun 1980. Lahirnya subgenre ini tidak bisa dilepaskan dari kehadiran Black Sabbath formasi awal (Ozzy, Tommi, Butler, dll) sebagai penanggungjawab utamanya. Salah satu track-nya yang berjudul “Black Sabbath” malah sering disebut-sebut sebagai embrio dari gaya bermusik doom metal yang hadir hingga saat ini. Secara musikalitas, doom metal sangat dipengaruhi oleh karya-karya awal Black Sabbath itu. Album ketiga Black Sabbath berjudul Master of Reality ( 1971) dengan lagu-lagunya, seperti “Sweet Leaf”, “Into the Void” dan “Children of the Grave” sering dianggap sebagai bidan yang bertanggungjawab melahirkan anak haram bernama doom metal. Kasarnya, setiap band yang memainkan gaya doom metal, mempunyai hutang yang tidak akan pernah bisa dilunasi kepada Black Sabbath. Walaupun begitu, ada juga mereka yang beranggapan, bahwa Black Sabbath bukanlah satu-satunya band yang mempengaruhi perkembangan subgenre doom metal. Ada yang beranggapan, bahwa banyak juga band-band yang memainkan jenis musik doom ini beberapa saat setelah Black Sabbath melakukan debut pertamanya, seperti band dari Amerika bernama Pentagram. Bahkan beberapa di antaranya berasal dari negara, dimana Black Sabbath sama sekali belum terdengar.

Ciri yang melekat dari musik doom metal ini adalah, bahwa permainan gitar mereka berakar dari musik blues (dengan style yang sangat heavy, tentunya) dan riff-riff Tommi Iomi di era Black Sabbath. Untuk yang terakhir, bila kalian mendengarkan band-band doom metal, pasti sangat terasa riff-riff Sabbath-nya. Coba cari dan dengarkan Warhorse, The Sword atau Goatsnake. Di beberapa lagunya, riff-riff dari Black Sabbath bertebaran di sana-sini. Lalu dari segi lirik, pada umumnya sering mengutarakan tema tentang keputus-asaan, tragedi, rasa kehilangan yang sangat dll. Musik dengan sound yang berat ditambah lirik yang gelap menjadi hal yang sempurna dalam hal ini, karena hasilnya adalah keterasingan total dan orgasme maksimum!!! Fukkyeah.

Sedikit Cerita Perkembangan Doom Metal

Di pertengahan tahun ’80-an, doom metal hanya eksis di kalangan tersendiri yang benar-benar bisa menikmati musiknya. Saat itu, di tahun ’80-an, dunia metal didominasi oleh band-band yang memainkan subgenre speed dan thrash metal. Dan di tataran yang lebih komersial, band-band ‘Glam’ dengan rambut-rambut rancung gondrong (liat Poison!) menguasai stadium yang luasnya segede gaban. Sedangkan gaya musik doom metal yang lambat, berat, pesimistis dan umumnya berdurasi sangat panjang itu tidak terlalu banyak mendapat perhatian besar dari kebanyakan fans metal. Selain gaya bermusiknya yang ‘nyeleneh’ itu, hal lain yang membuat para fans metal memandang sebelah mata pada subgenre ini adalah attitude dari beberapa band yang sedikit ‘tidak umum’ pada saat itu.

Contohnya adalah band bernama Trouble. Band ini dianggap aneh oleh kebanyakan fans metal saat itu dan beberapa di antaranya bahkan tidak bisa menerima kehadiran band ini dalam dunia metal. Hal itu disebabkan, karena tema-tema kristen sangat lekat dalam setiap lirik, imej dan aksi panggungnya. Pada saat itu, mengangkat tema relijius dalam band metal bukanlah hal yang biasa. Selain Trouble, band-band yang mengangkat tema relijius lainnya pada jaman itu adalah Candlemass dan Saint Vitus. Namun begitu, tidak semua band doom metal selalu mengangkat tema relijius. Ada  yang memuja daun hijau bernama ganja, seperti yang dilakukan oleh Weedeater. juga yang mengangkat tema yang menyentuh tataran politik, seperti yang dilakukan oleh band asal Jepang: Corrupted, dan ada juga

Doom metal mengalami perkembangannya yang paling pesat di tahun 1990. Band yang paling esensial dan berpengaruh di saat itu hingga kini adalah Cathedral. Mantan vokalis Napalm Death, Lee Dorian, adalah frontman-nya. Forrest of Equilibrium (1991) sering disebut sebagai album yang ‘penting’ bagi Cathedral dan perkembangan musik doom metal. Album itu telah melahirkan banyak pengikut dan, pada akhirnya, terjadi persilangan antara musik doom metal dengan genre lainnya. Musik doom metal pun menjadi lebih bervariasi. Melahirkan banyak gaya yang berbeda. Misalnya band yang berasal dari Eropa bernama Thergothon dan Funeral yang mengawin-silangkan antara musik doom dan death metal hingga ke titik yang paling ekstrem.

Pada saat yang sama, band yang berasal dari Amerika bernama Crowbar dan Eye Hate God mencampurkan antara gaya bermain doom metal dengan musik hardcore/punk yang ‘raw’. Crowbar dan Eye Hate God telah memunculkan istilah baru bagi musik doom metal saat itu, yakni “sludge doom”. Selain itu, band influental lainnya adalah Earth, berasal dari Amerika. Earth ini adalah pionir dari subgenre doom metal bernama “drone doom”. Tempo yang lebih lambat dari tempo band doom pada umumnya dan kekacauan-kekacauan noise menjadi ciri khas dari drone doom. Subgenre ini juga sering disebut sebagai bentuk yang paling minimalistik dari perkembangan doom.

Hingga saat ini, eksperimentasi dalam musik doom masih terus berlanjut. Banyak yang mencampurkan musik doom dengan genre lainnya, seperti psychedelic, ambient, black metal, punk, industrial, stoner rock dll. Dibalik lagu-lagunya yang sepintas terdengar membosankan dan monoton, sesungguhnya sangat terbuka ruang untuk berkreatifitas dan bereksperimentasi di dalam doom metal ini. Tentu saja semua itu mungkin bila Anda memang menyukai jenis musik ini. Bila tidak, jangan dipaksakan.



* Tulisan ini pernah dimuat di fanzine Newbornfire.

Foto: Ozma (kiri) dan Greg Anderson (kanan) dari band doom bernama Thorrs Hammer yang diambil dari
ideologic.

 

Tidak ada komentar: