Kamis, 20 Agustus 2009

Memoria 2008: Sambolo, Ibu Kota, dan Heartbeat (Cornellius Remix)

Minggu, 25 Mei 2008, ia turun dari bus di Senayan. Kulihat ia sibuk menekan-nekan tombol telepon selularnya. Ingin dijemput, mungkin. Ibukota sekitar pukul 3 sore itu terasa terang-benderang sekaligus panas. Angin yang berhembus terasa kering saat pintu bus terbuka. Lalu, gedung-gedung yang tersebar di Senayan terasa ingin menohok keangkuhan langit: begitu megah, begitu tinggi.

Bus mulai pelan melaju setelah sebagian penumpang yang di-drop di Senayan turun. Saat itu, saya tidak peduli, saya tidak ingin menoleh. Hanya selintas saya melihatnya sedang menelepon seseorang. Masa bodoh…masa bodoh! Ayo cepat, Pak Supir, tancap gas pol-polan. Cepat bawa bus ini menuju Bandung!

Sebelumnya saya sudah punya niat: melupakan. Saya ingin pergi dari segala-galanya, saya ingin melupakan semuanya. Saya ingin berada di suatu tempat pada suatu hari dimana saya hidup hanya untuk saat itu saja. Tanpa harus dibebankan urusan yang belum selesai, dihantui kebodohan-kebodohan yang telah dilakukan di masa lalu. Maka dari itulah, undangan pesta di Sambolo dari angkatan 06 pada 24 Mei itu saya amini sepenuh hati. Hanya ada ombak, lamunan dan bodoran garing teman-teman. Sudah. Ini akan menjadi hari liburan saya satu-satunya saat ini. Itu yang ada di alam pikiran sebelumnya.

Malam hari, 23 Mei, Bus yang saya tumpangi melaju semakin cepat dan berada di samping bus 2. Seorang teman dari bus 2 mengacungkan jari tengahnya. Tentu saja, secara bobodoran garing, saya membalas acungan jari tengahnya. Bus melaju semakin cepat. Perlahan jendela demi jendela bus 2 dilalui dan terlihat aktivitas orang-orang didalamnya. Ada orang-orang yang mempunyai niat yang sama di dalam bus itu, liburan ke Sambolo. Ada yang main gitar, ada yang ketawa-ketawa, ada yang bengong, dan tiba-tiba di jajaran tengah tempat duduk bus 2 ada ia yang melambai-lambaikan tangannya. Oh, dia juga ikut rupanya. Baiklah. Setelah selama ini menghilang (entah menghindar), di malam itu dia melambaikan tangannya. Bus melesat dan meninggalkan bus 2.

24 Mei. Liburan di pantai. Bila elemen pendukungnya adalah ombak dan kehadiran teman-teman, maka hasilnya selalu sama saja. Seperti di Batu Karas tahun lalu. Seorang teman yang antusias berseru, “Hayu kita lihat cewe-cewe cantik!”

Saya kabulkan. Tetapi tahukah apa yang terjadi kemudian? Kami terpuruk. Tepar mabuk parah, hampir tidak ingat apa-apa dan nyeri di sekujur tubuh saat bangun. Tidak ada ‘cewe-cewe cantik’, tidak ada aksi. Dengan kata lain, sudah terlalu lama – kurang lebih 3 tahun – kami melakukan hal-hal nihilistik. Tiada guna, selain mengumbar banyolan-banyolan kosong melompong. Bagi saya, seperti lari dari masalah satu ke masalah lain dengan bersembunyi di dalam kerumunan orang anonimous. Identitas direduksi ke titik yang paling rendah.

Di Sambolo pun kurang lebih seperti itu. ombak, kehadiran teman, panitia yang kerepotan dan susunan acara yang mungkin inginnya menunjukkan “kekompakkan angkatan”-nya. Cih, Kamu ingin lihat yang namanya kompak? Coba lihat kami membawakan lagu Pure Saturday. Itu baru kompak namanya: seteman gitar saya dan Yoyon jauh dari kata sinkron. Intinya, ya, begitu itu. Liburan di pantai kembali seperti itu. Begitu lagi.

Pagi-pagi sekali, ada ‘rasa baru’ saat pertama kali menyusuri pantai. Melihat ke kejauhan laut, teringat Kono. Ia tidak ikut ke Sambolo, tapi ia begitu terobsesi dengan ‘pelaut yang mencintai’. Cinta Seorang Pelaut. Selalu kata-kata itu diulang jika ia berbicara tentang wanita. Saya angguk-angguk saja bila sudah begitu. Sebetulnya saya tidak mengerti juga apa yang dimaksud dengan ‘cinta seorang pelaut’. Saya pun tidak berminat untuk menanyakannya. Tapi saya amini saja.

Duduk-duduk di depan cottage. Di alam pikiran adalah ingin melupakan dan lari dari segalanya. Tetapi, kemarin malam ia kembali hadir. Bung Rull, yang emang dasarnya gelo, ngomong, “kumaha atuh euy?”

Saya bilang aja teu nanaon lah. Tapi, yang namanya dadakan mah emang perlu improvisasi. Dan itu yang saya ga punya. Saya malah keukeuh: liburan, liburan, pokoknya liburan! Tapi, tetep aja perlahan ada yang mencair seperti es batu ketika di simpan di tengah padang pasir. Sesekali mata jebol dari penjagaan dan memandang ia yang terlihat sedikit gemuk sekarang. Sesekali juga mata kami beradu pandang. Saya tahu dan Ia tahu, tapi itu saja belum cukup, kata orang-orang. Bah, omong kosong juga jadinya. Sempat terlintas pertanyaan bodoh: kenapa juga Tuhan harus menciptakan manusia berpasang-pasangan? Kenapa juga manusia tidak diciptakan seperti Godzilla yang bisa bikin anak sendiri tanpa harus ada pasangannya. Mungkin akan sedikit lebih damai dunia bila begitu: Shakespeare ga perlu nulis novel Romeo and Juliet dan ga perlu ada ‘Hikajat Sitti Nurbaja’ yang ditulis oleh Marah Rusli.

Masih di Sambolo, 24 Mei, dan memandang jauh ke laut. Laut itu luas dan lega. Kedua kata itu, ‘luas’ dan ‘lega’, bagiku mempunyai kedekatan dengan kata ‘lapang’ yang berkaitan juga dengan suasana hati. Lapang hati, ada di kamus. Artinya merasa lega. Sebelum berangkat ke Sambolo, perlahan hati ini dilapangkan juga oleh Mamed, Jurad, Jurve, KKN dan setumpuk rutinitas lainnya. Untuk itu, di alam pikiran awal, saya ingin menuntaskannya di Sambolo ini. Karena sudah lama saya tidak merasakan kelapangan hati yang seperti itu. Tetapi, tetap, setiap hal yang berbau dadakan memang membutuhkan improvisasi.

Melihatnya duduk-duduk di bawah pohon kelapa sembari tertawa, seakan-akan mengingatkan kebodohan yang berulang-ulang dilakukan. Seperti benar-benar menjelaskan, bahwa diri ini minim betul akan kapasitas dan kompetensi. Tidak berguna. Ah, rendah diri. Maut memang. Untunglah ada Bung Rull dan Ipen yang sedang meributkan daerahnya masing-masing: Pasir Koja versus Holis Kopo! Saya pun nimbrung dengan membawa daerah tempat saya tinggal selama ini: Margahayu Raya. Melupakan.

Ah, engkau ke ladang, aku kesawah. Aku ke sawah, engkau ke ladang. Tidak ada dialog diantara kita. Maaf.

Minggu, 25 Mei, ia berdiri di depan bus 3, bus yang saya tumpangi. “Mau sekalian pulang ke Jakarta,” katanya sambil berlalu masuk ke dalam bus.

Seperti dahulu rasanya. Engkau di depan, aku di belakang. Namun bedanya, ini bus bukan kelas. Sejarah berulang dan kebodohan pun tetap yang itu-itu saja. 666 kali terperosok di dalam lubang yang sama. Pembangkit listrik di Cilegon begitu indah. Mungkin akan sangat indah bila malam telah tiba. Saat melewati pembangkit listrik itu, saya pun sebenarnya sudah berulang kali menyadarkan dan meyakinkan diri sendiri: Oh, ini tidak akan berhasil. Dia membutuhkan seseorang yang benar-benar ia yakini dan saya benar-benar orang yang cupu. Lihat, ada dua tipe manusia yang kontradiktif secara akhlak dan mental disini. Ditambah, budaya yang berlaku di tempatku hidup adalah budaya yang men-superior-kan kaum lelaki. Berarti saya harus mahfum dan harus belajar untuk paham. Terakhir, dari kelakuannya selama ini pun, terasa, mungkin ini memang tidak akan berhasil. Kamu tau ini tidak akan berhasil.

Kelapangan yang sempat meliputi hati memang terusik. Apalagi melihat ketawa khas-nya di saat perjalanan pulang itu. Matanya yang bening. Tetapi, sudahlah. Liburan harus menjadi liburan. Tidak seperti apa yang ada di alam pikiran awal memang. Baiklah, mungkin ini semua hanya akan memakan waktu selama liburan ini saja…dan beberapa hari setelahnya, mungkin. Pastinya, kelapangan itu harus dikembalikan kembali ke tempat asalnya. Dipulihkan kembali.

Saat bus sudah meninggalkan Senayan, ada ke-tidak puguh-an. Semacam pikiran-pikiran: apa yang harus dilakukan, harus bagaimana, kenapa semua berjalan seperti ini. Semuanya seakan-akan mengingatkan inkompetensi yang sama, yang itu-itu saja. Walaupun tidak akan berhasil, namun tetap dorongan dan tuntutan itu selalu saja merongrong. Menambah ruwet pikiran, menekan, membuat hati dan otak lelah. Ia – yang sekarang mungkin sudah dijemput – seakan menutup pantai, teman dan acara yang telah terekam di dalam kepala. Ah, melelahkan memang….

Bangun dari tidur, terlihat papan reklame nama sebuah warung dengan huruf kecil dibawahnya bertuliskan: Purwakarta. Sudah cukup jauh juga meninggalkan Jakarta. Masih terasa hawa Senayan. Di sebelahku ada Bung Rull dan Bung Ganjar. Kompatriot selama ini. Di belakang ada Bung Auzan yang pendiam mendengarkan lagu dari telepon selularnya. Saya pinjam telepon selularnya. “Terlalu sepi ga ada musik,” kataku padanya.

Mataku langsung tertuju ke mp3 remix Heartbeat milik Tahiti 80.

Play.

Perlahan suasana hati berubah. Betapa cepat memang suasana hati bisa dibalikan. Jadi mengerti juga, kenapa suami yang kalah judi bisa gelap mata dan menggadaikan perhiasan milik istrinya sendiri tanpa bilang-bilang. Sorotan terik matahari sore menimpa muka kedua kompatriot yang sedang ketawa-ketawa tidak jelas di sampingku: Bung Rull dan Bung Njar. Mereka yang selama ini melakukan hal-hal nihilistik bersama. Begitu indah suasana sore saat itu. Saya pun ikut tertawa, walaupun tidak tahu dan tidak terdengar apa yang mereka obrolkan. Lagu Tahiti 80 memenuhi telingaku. Akhirnya aku bisa lari, bisa lupa sejenak dari segala-segalanya. Saya lihat ke depan, ada Bung Ndro yang tertawa-tawa juga. Ke belakang ku lihat Auzan yang sedang melihatku juga. Dari gerakan bibirnya ia seperti mengatakan, “naon?”

Saya tertawa dan menggelengkan kepala. Untuk sebuah kesenangan, sepertinya dibutuhkan setengah dosis kesedihan juga. Miris. Tetapi, sudahlah. Earphone saya lepas. Terdengar deru mesin bus dan tawa teman-teman yang mengeras. Pilih speaker on dan putar kembali Heartbeat remix. Terdengar kocokan gitar akustik yang tricky dan sample-sample yang unik. Ada yang bernyanyi: Enough for me is not much for you…volume maksimum. Saya acungkan tinggi-tinggi telepon selular agar musik itu terdengar ke seluruh bus. Saya menginginkan semua orang di bus itu mendengarkan lagu ini. Nada-nadanya yang membuat suasana, yang membuat semuanya berubah saat itu juga. Saya berharap semua yang ada di bus bisa merasakan juga moodnya yang ceria. Sebagaimana aku merasakan semuanya hari itu.

Di jajaran belakang bus, ada Bung Bach, Bung Njar, Bung Sahrull, Bung Praga, Bung Cakri, Bung Tio, Bung Ndro dan saya. Ada kami. Pastinya, ada bodoran-bodoran nihilistik yang super garing.

“Ndro, kumaha euy, Jakarta geus lewat. Teu sempet ningali Monas atuh?! Di Kopo mah euweuh bangunan nu jiga Monas pan?”

“Enya euy, Bo, urang ge hayang ningali BUSWAY tea geningan. Nu jiga kumaha sih?”

“BUSWAY teh belah mana PT. Inti, Ndro?” Bung Rull tiba-tiba bertanya.

Tawa meledak.

Lagu berganti ke Tears Drop yang dibawakan oleh Massive Attack.

Tidak ada komentar: