Kamis, 20 Agustus 2009

Marji

Ada seorang tokoh yang diceritakan dalam novel grafis berjudul ‘Revolusi Iran’ karya Marjane Satrapi bernama Marji. Ia adalah seorang perempuan kecil yang tumbuh, ketika Iran mengalami gejolak sosial, seperti tumbangnya kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang kemudian digantikan oleh seorang ulama kharismatis: Ayatollah Agung Ruhollah Khomeini.




Gejolak sosial di Iran setidaknya sudah dimulai pada tahun 1977. Ketika kaum miskin kota, pengangguran, pengacara, penulis, wartawan dan berbagai macam kelas menengah kebawah lainnya aktif turun ke jalanan sebagai bentuk protes atas tidak efektifnya kinerja pemerintahan dibawah Shah Reza Pahlavi. Salah satu alasan kaum menengah kebawah itu turun kejalanan selama rentang waktu 1977-1979, seperti yang tercatat dalam situs wikipedia, adalah karena kebijakan Shah Reza dalam hal westernisasi yang tidak sejalan dengan spirit identitas Muslim Syiah Iran. Lebih luas dari itu, campur tangan Washington melalui CIA dalam hal ketatanegaraan Iran dan kebijakan-kebijakan pemerintah Iran yang represif sekaligus otoriter terhadap warganya sendiri ditambah krisis ekonomi yang melanda Iran menjadi pemicu berjuta penduduk untuk mengambil alih jalanan.

Marji tumbuh dengan menyaksikan bagaimana para demonstran itu tak lelah-lelah berunjuk rasa di jalanan pada tahun 1979 menuntut agar Shah Reza Pahlavi diturunkan. Marji juga menyaksikan bagaimana pada akhirnya patung dan poster Shah Reza Pahlavi yang terserak hingga kehidupan paling pribadi setiap warga Iran akhirnya dirubuhkan dan disobek-sobek. Gejolak demi gejolak yang terjadi dalam kehidupan sosial di Iran itu memberi warna pada hati dan juga pikiran si kecil Marji.

Shah Reza Pahlavi memang berhasil ditumbangkan saat itu dan di tahun itu, rakyat Iran mengenalnya sebagai peristiwa ‘Revolusi Islam’. Sebuah pergantian rezim yang sebelumnya kental dengan corak monarki menjadi sebuah rezim teokrasi dibawah pimpinan kharismatis Khomeini. Revolusi itu untuk beberapa waktu memberikan euphorianya terhadap warga Iran, tak terkecuali si kecil Marji. Hal itu bisa dilihat ketika suatu waktu Marji bermain bersama teman-temannya di sekitar rumahnya. Marji melihat seorang bocah bernama Ramin yang juga adalah tetangganya. Hampir saja Marji bersama kawan-kawannya itu menikam si bocah Ramin, karena ayah si bocah itu adalah anggota SAVAK. Marji geram terhadap SAVAK, karena intelijen yang dingin di masa Shah Revi Pahlavi itu dianggapnya bertanggungjawab atas nyawa ribuan warga Iran yang tewas. Untung saja Ibu Marji ada di tempat kejadian itu dan segera menarik Marji agar tidak bertindak kelewatan.

“Tapi, Bu…Ayah Ramin kan pembunuh?” tanya Marji tidak mengerti mengapa Ibunya mencegah dirinya menghantam muka Ramin dengan paku-paku yang diselipkan diantara kelima jarinya.

“Mama tahu,” jawab Ibu Marji, ”Ayahnya yang melakukan itu. Jadi bukan kesalahan Ramin. Bagaimanapun bukan tugasmu dan Mama untuk mengadili seseorang. Mama bahkan ingin mengatakan kalau kita perlu belajar untuk memaafkan.”

Marji, bagaimanapun juga, adalah seorang bocah perempuan yang tumbuh ditengah gejolak-gejolak pertentangan antara fundamentalisme dengan modernisme yang bahkan kaum tuanya pun seringkali tidak memahaminya.

Meloncati tai kuda hanya untuk mendarat di tai kuda lainnya

Perjuangan dan pengorbanan dalam sebuah kisah perebutan kekuasaan memang selalu menyisakan cerita haru dan penuh romantika. Bagaimana tidak, setidaknya perjuangan dan pengorbanan itu, walaupun di satu sisi memang terasa sesak dan gelap, namun ia dianggap merefleksikan kejujuran dan kemurnian cita-cita dari para pelaku yang menjalaninya. Maka dari itu, selalu ada himne, lagu puji-pujian bagi mereka para pahlawan yang dianggap membawa perubahan melalui serangkaian perjuangan dan pengorbanan yang panjang dan melelahkan.

Namun, tidak banyak kisah heroik dan mengharukan diceritakan ketika kekuasaan yang lama itu berhasil digantikan oleh kekuasaan baru. Himne itu menjadi sayup dan perlahan menghilang tertelan dalam gedung-gedung kekuasaan yang dingin. Kegembiraan yang sebelumnya membucah dari riuhnya dansa para rakyat yang tumpah ruah di jalanan kota menghilang dan digantikan oleh rapat-rapat yang dingin nan kaku dalam sebuah ruangan sunyi di gedung parlemen. Rakyat, yang dalam banyak cerita mengenai sebuah revolusi, menjadi motor yang memungkinkan perubahan itu terwujud, tidak bisa mendengar apa-apa yang dikatakan atau disiasati oleh segelintir orang di ruangan parlemen yang sunyi itu. Pada akhirnya, rakyat hanya bisa menerima sekadar instruksi yang bersumber dari gedung parlemen mengenai apa-apa yang seharusnya dan tidak seharusnya rakyat lakukan terkait dengan perubahan kekuasaan yang terjadi. Pada titik ini, seringkali terpapar sebuah contoh bagaimana revolusi yang bertujuan menghantam tirani, justru menjadi tiran itu sendiri.

Di Iran, disamping kesewenangan Shah Reza Pahlavi dalam memerintah dan krisis ekonomi, kembali kepada nilai-nilai islam merupakan dambaan hampir semua rakyat Iran pada masa itu. Pemerintahan di bawah Shah Reza Pahlavi memang begitu mencaplok nilai-nilai barat yang cenderung sekuler (memodernisasi Iran), walaupun mayoritas Iran saat itu belum mengenal bentuk nilai-nilai barat. Sehingga mencabut akar sebagian besar Rakyat Iran terhadap nilai-nilai tradisionalnya, yaitu agama islam. Karen Armstrong menyebut kondisi sebagian besar rakyat Iran pada saat itu sebagai kondisi pramodern, dimana keadaan masyarakat masih dipengaruhi kuat oleh bentuk-bentuk kepercayaan tradisional yang bersumber dari agama, dalam hal ini islam. Ditambah lagi, sebagian besar rakyat Iran begitu dipengaruhi oleh nilai-nilai Syiah. Perasaan terasing oleh nilai-nilai barat yang sekuler ditambah dengan kerinduan untuk kembali ke ajaran islam itulah yang membuat rakyat Iran menjadi pendorong utama terjadinya revolusi.

Kerinduan untuk kembali memurnikan ajaran islam itu ditemukan dalam sosok seorang Ayatollah Khomeini. Keadaannya yang diasingkan oleh rezim Shah Reza Pahlavi membuat dirinya dipersonifikasikan dengan imam syiah yang keduabelas atau Imam Gaib dan segera mendapat dukungan dari sebagian rakyat Iran. Untuk hal ini, kita harus mengingat, bahwa sebagian besar rakyat Iran berafiliasi kepada Islam Syiah. Kaum Syiah mempunyai keyakinan, bahwa imam yang akan memimpin umat muslim setelah kepergian Nabi Muhammad berada di tangan Ali bin Husain beserta kedua belas keturunannya. Faktor kepercayaan Syiah yang dipeluk sebagian besar rakyat Iran itulah salah satunya yang mempengaruhi Ayatollah Khomeini bisa didapuk menjadi tokoh pemimpin bagi revolusi Iran.

Namun demikian, pergantian kekuasaan ke tangan Ayatollah Khomeini dilihat oleh kaum liberal Iran yang notabene telah menerima pendidikan barat dan terbiasa dengan nilai-nilai sekuler barat sebagai gelagat yang tidak baik. Revolusi yang terjadi di Iran mengubah kondisi politik menjadi bercorak teokrasi dan hal itu sangat rentan dalam memunculkan bentuk pemerintahan otoriter lainnya. Kaum liberal Iran memandang, revolusi seharusnya merubah pola pikir menjadi lebih sekuler, dimana rasionalitas beserta akal menjadi sorotan utama, sehingga jalannya pemerintahan dilandaskan pada pola pikir yang rasional tanpa terikat oleh pertimbangan-pertimbangan keagamaan yang seringkali nilai-nilainya bertentangan dengan realitas politik yang menuntut pragmatisme, pertimbangan dan kompromi dari para pelakunya. Revolusi biasanya dianggap bakal terjadi pada saat alam duniawi telah mendapatkan posisi baru, dan akan mendeklarasikan kebebasannya dari dunia agama yang mitis (Karen Armstrong: 2002, 502).

Dalam pandangan kaum liberal Iran, pemerintahan yang diidam-idamkan setelah revolusi bergulir adalah sebuah pemerintahan berbentuk republik islam. Republik dimana ‘orang-orang biasa’ yang memegang pemerintahan. Dengan kata lain, pemerintahan itu berjalan sesuai dengan prinsip good governance dimana kekuasaan absolut ditangan para ulama tiada. Namun demikian, pandangan kaum liberal Iran itu pada masanya merupakan pandangan yang tergolong minoritas. Pada dasarnya, sebagian besar rakyat Iran mendukung naiknya Ayatollah Khomeini sebagai pemimpin revolusi dan dengan begitu, berarti mendukung pula sebuah bentuk pemerintahan yang menempatkan ulama (mullah) sebagai otoritas yang tertinggi dalam pemerintahan.

Kekhawatiran kaum liberal Iran akan pemerintahan yang bercorak otoritarian itu menjadi nyata ketika pada bulan Oktober 1979 terjadi sebuah perdebatan mengenai draft konstitusi yang disusun oleh para pengikut Khomeini, yang memberikan kekuasaan tertinggi pada Fakih (Khomeini), yang akan mengontrol angkatan bersenjata dan dapat begitu saja memecat perdana menteri (Karen Armstrong: 2002, 503). Beberapa elemen dari rakyat Iran, seperti kelompok sayap kiri, Islam, intelektual, nasionalis dan kelompok liberal memandang dalam draft konstitusi tersebut terdapat sebuah nilai-nilai yang berpotensi mengkhianati cita-cita awal revolusi Iran. Dalam draft konstitusi tersebut, kebebasan pers dan kebebasan mengungkapkan pendapat dijamin selama tidak bertentangan dengan hukum dan praktek Islam (Karen Armstrong: 2002, 503-504). Padahal, kebebasan berpendapat itulah yang menjadi dasar perjuangan rakyat Iran selama ini dalam melawan tiran seperti Shah Reza Pahlavi. Bila konstitusi itu tetap dipaksakan untuk diterapkan, maka keadaan Iran tidak akan jauh berbeda dibandingkan ketika Shah Reza Pahlavi masih berkuasa.

Namun demikian, seperti cerita yang berulang-ulang mengenai bagaimana seseorang mempertahankan kekuasaan at all cost, Khomeini tetap mendesak agar konstitusi tersebut disahkan dan memaksa setiap rakyat Iran untuk menerimanya. Khomeini juga tidak ragu-ragu untuk memberangus setiap oposisi.

Dalam mempertahankan kekuasaan, Khomeini memakai retorika dengan bumbu sentimen keagamaan yang dianggapnya bisa dijadikan alat pembenaran bagi tindakan yang dilakukannya. Hal itu bisa dilihat dari ucapannya kepada jamaah haji tahun 1979 yang terdapat pada Foreign Broadcasting and Information Service(FBIS), sebagaimana yang tercantum dalam Karen Armstrong:

“Kesatuan Pendapat adalah rahasia kemenangan. Umat tidak akan mencapai kesempurnaan spiritual yang diinginkan kecuali bila mereka menggunakan pemikiran yang tepat. Tak ada demokrasi pendapat; umat harus mengikuti Fakih Tertinggi, yang perjalanan mistiknya telah memberinya “keimanan sempurna” (Karen Armstrong: 2002, 511).

Ucapan Khomeini itu keluar sebagai cermin atas kondisinya yang terjepit oleh kepungan musuh-musuhnya yang berasal dari luar (Amerika dan negara Barat) maupun dari dalam (kaum liberal dan modernis Iran). Dalam hal ini, Khomeini menekankan konformasi ideologi yang berdasarkan ketentuan Islam (Karen Armstrong: 2002, 510). Dengan harapan, revolusi akan terus berjalan tanpa gejolak yang berarti dibawah sentimen agama. Sebagian besar rakyat Iran justru mendukung gagasan khomeini mengenai kesatuan pendapat yang berlandaskan sentimen agama tersebut. Hal itu bisa terjadi, karena kondisi sebagian besar rakyat Iran yang belum tersentuh oleh modernisasi ditambah pengalaman tercerabut dari nilai-nilai tradisional semasa rezim monarki Shah. Seperti yang ditulis oleh Armstrong, rakyat Iran dapat mengerti Khomeini tapi tidak Barat modern. Mereka masih berbicara dan berpikir dalam pola pramodern yang tak lagi dipahami oleh orang-orang Barat (Karen Armstrong: 2002, 512). Ide-ide mengenai rasionalitas dan hak individu sebagai ciri modernitas merupakan suatu hal yang masih asing bagi sebagian besar rakyat Iran. Sebaliknya, mereka masih melihat kekuasaan Ilahi sebagai nilai tertinggi dan belum melihat hak individu sebagai sesuatu yang mutlak (Karen Armstrong: 2002, 512).

Fundamentalisme islam yang muncul sebagai akibat dari keterasingan atas nilai-nilai modern (barat) yang merasuk di kehidupan masyarakat Iran semasa Shah Reza Pahlavi berkuasa sekaligus paranoia akan tercerabutnya akar sejati islam oleh nilai-nilai modern menjadi laksana sihir yang sanggup membius sebagian besar masyarakat Iran yang memang belum tersentuh oleh modernitas. Oleh karena itulah, mengapa Khomeini pada akhirnya selalu mendapatkan dukungan dari sebagian besar masyarakat Iran. Walaupun, dalam hal corak pemerintahan, pada dasarnya, masih berisi hal yang sama, yakni represi dan otoriter. Namun bedanya kali ini, represi dan pemerintahan otoritarian itu berjubahkan sentimen keagamaan (islam) dimana hal itu merupakan senjata yang jitu mengingat mayoritas rakyat Iran memeluk islam sebagai agama dan jalan hidup. Dengan demikian, pemerintahan yang otoritarian dan represif tidak akan terasa bagi sebagian besar orang.

Fundamentalisme versus Iron Maiden

Melihat kehidupan Marji dibawah pemerintahan Ayatollah Khomeini, setidaknya akan memberi gambaran kepada kita bagaimana sebuah cita-cita revolusi berubah menjadi tak semurni seperti yang telah dicita-citakan semenjak awal. Pemerintahan Ayatollah Khomeini yang kental dengan ide fundamentalismenya yang berusaha untuk menegakkan kembali ajaran-ajaran sejati islam sebagai upaya tandingan atas nilai-nilai Barat yang sekular (modernisme), pada tataran mikro malah melahirkan sebuah bentuk pemerintahan yang otoritarian.

Hal itu bisa dilihat dari sebuah cuplikan kisah yang lucu namun miris, ketika orang tua Marji berniat liburan ke Turki. Marji, yang pada saat itu beranjak remaja, merengek minta dibawakan oleh-oleh berupa jaket jeans denim dan sebuah poster Iron Maiden. Ada potret psikologis mengenai bagaimana reaksi orang tua Marji menanggapi permintaan poster Iron Maiden itu. Dan reaksi psikologis itu seolah-olah merefleksikan bagaimana suasana sosial Iran dibawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini.

Hal yang terpikir pertama kali dalam benak orang tua Marji mengenai permintaan anaknya itu adalah bagaimana cara menyembunyikan jaket jeans denim dan poster Iron Maiden tersebut agar tidak diketahui oleh pengawal revolusi ketika memasuki Iran sekembalinya dari Turki nanti. Pengawal revolusi adalah sebuah kelompok yang dibentuk pada tahun 1982 di Iran. Kelompok ini berfungsi sebagai aparat penegak syariah. Dimana mereka dapat menindak setiap anggota masyarakat yang dianggap melenceng dari syariah dan menerapkan gaya hidup barat.

Cuplikan kisah tersebut memberi gambaran, bagaimana sebuah revolusi yang telah dibangun pada akhirnya menjadi sebuah gerakan fundamentalisme agama. Sebuah gerakan dimana fondasinya adalah sebuah upaya untuk memerangi nilai-nilai barat dan berusaha untuk kembali memurnikan ajaran agama.

Karen Armstrong dalam bukunya The Battle for God, menyebutkan, di era ’70 an dunia dijangkiti oleh apa yang disebutnya sebagai gejala fundamentalisme agama. Gejala ini merebak di setiap agama yang ada di dunia, dalam hal ini tidak saja terbatas pada Islam, namun juga kristen, judaisme, budha dll. Gejala fundamentalisme ini tumbuh sebagai reaksi atas semakin sekulernya pola hidup masyarakat sebagai dampak modernisasi yang mengandung nilai-nilai liberal dan sekular yang kental dan dalam satu titik, begitu bertolak belakang dengan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu agama.

Nilai-nilai yang terkandung dalam modernitas menempatkan akal serta rasionalitas manusia sebagai kekuatan utama. Penempatan akal serta rasionalitas manusia sebagai kekuatan manusia ini mempunyai sejarah yang panjang yang dimulai pada abad ke-14 dimana saat itu muncul sebuah pergerakan di Florence, Italia, yang berusaha menggali kembali pemikiran-pemikiran dari peradaban Romawi dan Yunani Kuno. Kita mengenal pergerakan itu sebagai ‘Renaisans’. Istilah renaisans itu sendiri berasal dari kata rinascita (bahasa Italia) yang artinya kelahiran kembali. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Giorgio Vasari pada abad ke-16 untuk menggambarkan semangat kesenian Italia mulai abad ke-14 hingga ke-16 yang bernafaskan semangat kesenian Yunani dan Romawi kuno (Denys Hay dalam Sutarjo Adisusilo: 2005, 20).

Pada masa renaisans, esensinya adalah, bahwa manusia menjadi pusat dari alam semesta. Dalam hal ini, akal manusia meraih penghargaan yang tinggi. Manusia harus mempunyai pikiran yang bebas dan tidak boleh terkungkung oleh dogma-dogma moral agama, dalam hal ini gereja, yang saat itu memang mempunyai otoritas yang tinggi ditengah-tengah masyarakat. Itulah yang membedakan masa renaisans dengan masa sebelumnya, yakni masa abad pertengahan. Mengenai perbedaan antara Abad Pertengahan dan Renaisans, dalam bukunya “Sejarah Pemikiran Barat dari yang klasik hingga yang Modern”, Sutarjo Adisusilo menulis:

…pada zaman Abad Tengah, budaya klasik tersebut (Romawi dan Yunani Kuno – ST) sepenuhnya dibingkai dan bernafaskan relijiusitas Gereja serta dimanfaatkan bagi kepentingan Gereja. Sebaliknya pada zaman Renaisans, budaya klasik tersebut berada di bawah kekuasaan manusia dan bernafaskan keduniawian serta dimanfaatkan demi manusia itu sendiri.” (Sutarjo Adisusilo: 2005, 23).

Semangat dan optimisme akan kemampuan manusia untuk mengolah dan menikmati dunia dengan akal pikirannya sendiri, tanpa harus terkungkung oleh mentalitas takdir sebagai akibat doktrin serta dogma agama sebagai ciri abad pertengahan, dengan sendirinya menyisihkan peran agama dalam sendi kehidupan pribadi maupun masyarakat di sebagian besar benua Eropa saat itu. Karena dalam hal ini, nalar, kebebasan individual dan tanggungjawab pribadi yang penuh menjadi ciri khas sebuah zaman bernama renaisans. Ada proses sekularisasi disini, dimana peran agama tidak lagi memainkan peranan penuh dan bahkan sama sekali dipisahkan dalam setiap aktivitas sosial masyarakat maupun individu.

Pemisahan peran agama dalam kehidupan duniawi dengan menempatkan akal serta nalar manusia sebagai kekuatan utamanya di masa renaisans itu membawa pengaruh yang kuat bahkan hingga saat ini. Berangkat dari renaisans di abad ke-14, kita mengenal berbagai fase yang turut memberi corak pada perkembangan kehidupan manusia, seperti munculnya konsep kontrak negara, liberalisme, demokrasi, konsep mengenai hukum dan HAM, revolusi industri, kapitalisme, marxisme, serta perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, renaisans, dimana akal serta nalar manusia sepenuhnya dihargai, memberikan dampak yang tidak kecil dan positif bagi perkembangan hidup manusia.

Namun demikian, tidak semua orang di dunia ini yang bisa langsung begitu saja mengikuti nilai-nilai baru yang dibawa oleh modernisme. Dalam hal proses modernisme di Timur Tengah, biasanya mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan nilai-nilai modernisme ini adalah karena mereka dihadapkan terlalu cepat dengan nilai-nilai modernisme yang memang sangat agresif. Pengetahuan mereka mengenai modernisme itu sangatlah tidak memadai. Sedangkan di sisi lain, kebudayaan maupun nilai-nilai pramodern masih melekat kuat dalam keseharian dan pola pikir mereka. Bila ada yang sanggup menerapkan modernisme pun, seringkali penerapannya itu masih sepotong-sepotong dan dangkal. Penerapan modernisme hanya dilakukan pada tataran infrastruktur, seperti di bidang militer atau tata pemerintahan. Padahal, hal yang lebih krusial dari modernisme terletak pada permasalahan pola pikir. Hal seperti ini yang seringkali dilewatkan, hingga pada satu titik akan menciptakan kebingungan tersendiri. Seperti pola pikir yang terkait dengan perubahan cara pandang yang lebih menitikberatkan pada aspek manusia (antroposentris) dan kehidupan duniawi (materialistis) dalam modernisme. Pola pikir modernisme itu akhirnya selalu bertabrakan dengan cara pandang pramodern yang menitikberatkan pada doktrin ataupun dogma reliji.

Kebingungan pola pikir pramodern dalam alam modernisme itulah yang seringkali memicu sebuah pergerakan fundamentalisme agama. Proses modernisme seringkali agresif, hingga seseorang akan kesulitan menempatkan peranan agama dalam bingkai modernisme. Di satu sisi, relijiusitas adalah sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja oleh manusia. Karena dalam reliji terdapat spiritualitas, dimana tanpanya, kehidupan akan menjadi tidak bermakna. Kehidupan yang tidak memiliki makna sama saja dengan terasing dari kehidupan dunia. Akibatnya, manusia mulai mencari cara-cara baru untuk menjadi relijius ditengah zaman yang secara agresif mengikis mitos dan lebih mengedepankan logos.

Oleh sebab itulah, proses modernisme untuk sebagian orang dipandang sebagai proses yang mengerikan dan menyakitkan. Seringkali mereka yang tidak sigap beradaptasi dengan nilai-nilai modernisme akan tercabut akar-akar kepercayaan lamanya. Dengan tercabutnya akar-akar kepercayaan itu, maka yang tersisa adalah perasaan keterasingan dalam dunia dimana nilai-nilai baru begitu bertolak belakang dengan nilai-nilai yang sebelumnya telah ada dan dipegang erat oleh mereka. Dan pada akhirnya, fundamentalisme agama itu hadir sebagai sebuah bentuk ekspresi kekecewaan dan kemarahan terhadap nilai-nilai modernisme yang mengikis bentuk-bentuk kepercayaan lama tersebut.

Seperti yang bisa dilihat dari kondisi sosial pasca revolusi Iran. Revolusi yang terjadi adalah sebuah revolusi yang mengungkapkan ketakutan dan kemarahan terhadap nilai-nilai modernisme yang terlalu dipaksakan terhadap masyarakatnya sendiri dengan cara kembali ke kepercayaan yang telah mengakar kuat dengan cara menegakkan syariah secara ketat. Namun ketakutan dan kemarahan itu menjadi sebuah bumerang yang menggagalkan makna awal sebuah revolusi, yakni pembebasan dari belenggu. Fundamentalisme agama yang menjadi ‘ruh’ dari revolusi gagal untuk menandingi nilai-nilai modernisme. Pada akhirnya, sebuah kerinduan untuk kembali memurnikan ajaran agama itu malah jatuh menjadi sebuah praktek pemerintahan yang otoriter.

Dan untuk Marji, pada akhirnya remaja perempuan itu memang berhasil memperoleh poster Iron Maiden. Sebelum memasuki bandara Iran, sang Ibu menyobek bagian belakang jas milik sang Ayah dan menyelipkan poster tersebut disana. Taktik sang Ibu berhasil mengelabui pengawal revolusi yang berjaga-jaga di bandara Iran. Keberhasilan orang tua Marji mengelabui para pengawal revolusi seolah-olah menggambarkan proses modernisme itu sendiri. Modernisme sesungguhnya menjadi sebuah proses yang tidak bisa dihindari dari hidup manusia. Cepat atau lambat, menyakitkan atau tidak, kita dituntut beradaptasi dengan nilai-nilainya. Dan adaptasi inilah yang seringkali jadi biang masalah.

REFERENSI:

Adisusilo, Sutarjo. Sejarah Pemikiran Barat dari yang Klasik Sampai yang Modern. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2005.
Armstrong, Karen. The Battle for Gods. Bandung: Mizan, 2002.
Satrapi, Marjane. Revolusi Iran. Yogyakarta: Resist Book, 2005.
www.wikipedia.com

Tidak ada komentar: