Rabu, 05 Juni 2019

Berjudi dengan Nasib di Salemba


Semester 2 telah terlewati dengan cukup susah payah. Kubilang susah payah karena sebenarnya banyak urusan di luar perkuliahan yang harus dihadapi dan ditangani. Di satu sisi, ada tuntutan pekerjaan dan segala problematika di dalamnya. Kemudian, di sisi lain, ada tuntutan tugas-tugas perkuliahan yang harus diselesaikan supaya uang Rp 13,5 juta per semesternya tidak tersia-siakan. Di samping itu, persoalan pribadi pun tidak luput dari hal-hal yang harus diatasi. Bila dipikir-pikir, semua itu terasa tidak mudah untuk dijalani. Tapi, entah kenapa aku bisa melaluinya. 

Meskipun sudah bisa melewatinya, namun aku berpandangan masa bodoh dengan nilai akhirnya. Aku tidak terlalu ngotot untuk masalah nilai. Biarkan ia menjadi urusan belakangan. Aku tidak memasang target tinggi untuk nilai karena yang penting semua tugas dan ujian sudah bisa dikerjakan dengan baik. Proses dan pengetahuan yang terpenting. Bukan nilai akhir.  

Ada kesenangan juga sebenarnya ketika ku menjalani perkuliahan ini. Bertemu dengan teman baru yang memiliki beragam latar belakang, ada obrolan-obrolan tentang kehidupan yang belum tentu bisa kudapatkan dalam keseharian, dan juga ada masa-masa bermain yang menyenangkan.

Bila kupikir-pikir lagi, entah menakjubkan atau ironis, tapi dengan fakta bahwa aku bisa mendapatkan kesenangan, pertemanan dan gaya hidup yang baru itu, aku harus mengeluarkan uang sebesar Rp 64 juta (dan ada kemungkinan lebih besar nilainya bila tesis tidak lancar). Hal seperti ini membuatku berpikir lagi, apakah memang segala hal yang diraih di dunia ini harus didahului dengan uang?  Apakah uang telah menjadi pintu masuk yang krusial bagi setiap hal di kehidupan ini? 
 
No pain no gain, kata orang-orang. Tidak ada hasil yang memuaskan bila tidak ada usaha yang keras. Bisa jadi, dari sudut pandang ini, uang yang kukeluarkan adalah suatu bentuk usaha untuk tujuan yang ingin kucapai. Uang menjadi semacam tampakan luar dari upaya manusia. Dalam kehidupan, ada hal-hal yang memang tidak tampak. Misalnya saja, keinginan manusia. Keinginan tidak akan tampak bila hanya di dalam benak saja. Keinginan tidak akan menjadi apa-apa ketika dia hanya berada di dalam benak manusia. Keinginan  tidak akan terlihat oleh siapapun karena ia tidak berwujud. Namun ketika keinginan itu diwujudkan melalui serangkaian upaya, maka keinginan itu kemudian tampak oleh yang lainnya. Dan begitulah, engkau hadir di Kampus Salemba dan kehadiranmu membawa kehidupan ke serangkaian cerita lainnya: engkau bertemu dengan orang-orang baru, berbincang-bincang dengan topik yang ringan dan berat, menyempatkan minum kopi bersama di sebuah warung pinggir jalan, menenggak minuman keras di sudut gedung perkotaan Jalan Thamrin pada suatu malam bersama mereka. Semua itu berawal dari keinginan yang mewujud ke dalam sebuah upaya, dimana didalamnya uang memegang peranan yang tidak kecil. Ibarat katalisator, uang memungkinkan keinginan itu mewujud. Ia tidak sekadar potensi di dalam benak sendiri saja. 

Namun bagaimana dengan mereka yang tidak mempunyai uang? Apakah keinginan itu akan selamanya hanya menjadi potensi yang hanya diketahui dirinya sendiri saja? Selamanya tidak akan terwujud bila ia belum juga menggenggam uang? Kenyataannya, sebagian besar orang mengalami hal seperti itu. Banyak orang yang bahkan mengubur keinginannya untuk kuliah karena tidak memiliki uang. Kemudian, bila ditarik kepada peranan uang sebagai pintu masuk yang krusial untuk setiap pengalaman hidup, maka tidak akan semua orang bisa mendapatkan suatu pengalaman hidup. Dengan demikian, ketimpangan akses terhadap pendidikan itu tentu nyata adanya.  

Tentu saja, dalam konteks dunia pendidikan ini, ada beragam cara untuk menghilangkan halangan uang ini. Pemerintah dan lembaga swasta kerap mengucurkan dana beasiswa. Tapi, aku sangsi bila jumlah beasiswa yang ada itu bisa mewujudkan seluruh potensi orang-orang yang memang ingin kuliah.

Di titik ini, aku merasa hidupku adalah sebuah anomali. Aku masih sering tidak mempercayai bila kuliah yang kujalani ini dibiayai dari tabunganku sendiri. Kuhitung-hitung, tabungan selama 6 tahun bekerja bisa membiayai kuliah di universitas yang tergolong nomor satu di negeri ini. Di satu sisi, aku takjub sendiri. Tapi di sisi lain, aku was-was juga. Setidaknya uang simpananku terkuras oleh kuliah ini dan aku sebenarnya sudah berada di garis kemiskinan. Apalagi, akhir-akhir ini pencairan gajiku sudah mulai terlambat. Aku seperti berjudi dengan nasib. Dan di atas semua itu, muncul pertanyaan yang kerap berputar-putar di dalam benak: sebenarnya, tujuan kuliah itu apa?

2 komentar:

Narratur mengatakan...

Membahagiakan orang tua. Matak berat jeung mahal pisan ��

michelle mengatakan...

ayo segera bergabung dengan kami hanya dengan minimal deposit 20.000
dapatkan bonus rollingan dana refferal ditunggu apa lagi
segera bergabung dengan kami di i*o*n*n*q*q