Kamis, 14 Mei 2009

Kenangan

Mau tidak mau, mungkin sesuatu yang bercokol di dalam kepala ini harus kusebut kenangan. Walaupun tidak menyenangkan. Tetapi, saya memang tidak mencoba untuk menghapusnya. Tenaga terbuang percuma. Karena seperti serangan dadakan, ketika misalnya kamu mengendarai motor dan berhenti di sebuah perempatan disebabkan lampu merah, tiba-tiba saja kilasan itu mencuat. Tidak bisa diprediksi, apalagi diperhitungkan. Bahkan tukang rokok asongan hingga peminta-minta pun bisa dongkol karena diacuhkan.

Bisa saja kilasan-kilasan itu dihempaskan, ketika lampu berubah warna menjadi hijau lalu kamu memasukan gigi pertama motormu dan mulai tarik gas. Tapi, seperti penyakit masyarakat: dari jaman Adam pun tidak akan hilang-hilang. Akan selalu muncul lagi-muncul lagi. Jadi, misalnya ada seorang Mario Teguh berkhotbah dihadapanku, mengenai pentingnya menatap masa depan dengan tidak terus melongok ke belakang, sebenarnya tidak akan berpengaruh. Tetap saja, kilasan bernama kenangan itu bisa muncul kapan saja. Jadi, mau dibilang menerima…ya, saya menerima. Biarkan terus berkubang di dalam batok kepala ini. Biarkan saya (dipaksa) melongok kebelakang.

Tapi memang, seperti yang pernah diutarakan Ganjar ada benarnya juga. Dia pernah menulis: “aku lebih takut lagu galau di tengah malam, daripada seribu bayonet yang siap menghunus”. Paling bahaya, bila sedang sendiri di sebuah tempat atau suatu waktu. Yang namanya kenangan itu bisa memberi kado yang paling pahit sekaligus ironis di saat-saat seperti itu. Pola pikir langsung terjebak pada pola berandai-andai: andai dulu begini-andai dulu begitu. Paling pahitnya bila sudah terjebak pikiran-pikiran yang cenderung menyalahkan atau mengasihani diri sendiri. Anjing, pikiran paling kacau. Paling enak ngomong ‘anjing’ memang kalau sudah begini.

Bila disebut oportunis, ya, untuk beberapa bagian kenangan itu ada juga yang bertabiat oportunis. Memberi kesenangan semu, tapi menguras tenaga otak sama hati. Ujung-ujungnya…merokok lagi-merokok lagi. Dari sini masalah melebar ke paru-paru sama jantung.

Hmm, kalau penyakit komplikasi memang repot juga. Tapi, biarlah. Kagok komplikasi. Mau jungkir balik bagaimana pun juga kenangan sepertinya memang sudah terpatri. Jadi, kalau realitas tidak singkron dengan kenangan yang dimiliki, ya, harap dimaklum saja lah. Kalau memang dia lebih senang bercengkrama dengan anjingnya yang dia anggap menggemaskan itu, daripada melihat saya mencoba mendekatinya, ya, saya tidak akan macam-macam. Biarlah tetap seperti itu. Kamu di sisi yang lain dan saya akan menyusuri jalan yang lainnya: berdamai dengan kenangan tentang dirimu dan berharap bertemu seseorang yang menjinjing kenangan baru untukku.

3 komentar:

Yas Dong mengatakan...

nulis ini sambil denger tembang kenangan tampak mantap, bo. Saya setuju kenangan itu harus ada, tapi kita ga boleh hidup untuk kenangan. Bener, "kenangan itu buat pelajaran"

baihaqi basya mengatakan...


hati2 ah flu anjing menggemaskan

abo si eta tea mengatakan...

aawww...nanti jadi meriang sama panas dingin.