Minggu, 04 Oktober 2009

Megadeth

Bahkan kini kamu takut mati. Cuplikan-cuplikan suasana pasca bencana alam di layar kaca itu menjadi dasar, katamu, bahwa kematian itu ada…atau setidaknya sesuatu yang ternyata ‘hadir setelah absen selama ini’. Seperti mereka yang keluar dari kantor-kantornya, dari lubang persembunyiannya, dari zona kenyamanannya sendiri, tentu adalah air mata yang menjadi isyarat. Kepanikan di jalan raya dan kompleks perkantoran, ketika kaki-kaki sebelumnya berderap tergesa-gesa menuruni tangga: dengan sengaja, atau tidak sengaja meninggalkan apapun, selain jasadnya sendiri. Kamu panik, kita panik. Dan diatas segala-galanya, adalah imaji tentang kematian yang bersemayam dibalik kepanikan kita.

Setelah sekian tahun masuk-keluar kantor, setelah sekian lama kamu naik-turun elevator, setelah sekian lama kamu terlarut dalam kertas-kertas laporan keuangan…kamu baru tahu ada bahasa Indonesia yang namanya “kematian”? Cih. Jangan-jangan kamu baru tahu juga gerigi-gerigi roda mesin di pabrikmu itu berhenti berputar, karena sang operator juga sudah kelabakan mencari perlindungan. Lari terbirit-birit meninggalkan mesin. Meninggalkan apapun yang ada, hanya demi keselamatan. Keselamatan. Bukan kematian.

Ternyata kehidupan memang pantas untuk dicintai, ya? Jauh lebih pantas dicintai, ketimbang laporan keuangan dan gerigi-gerigi roda mesin mu itu.

Tidak ada komentar: