Rabu, 14 Oktober 2009

Ini Tidak Berhenti Hanya Pada Masalah Pendidikan

Banyak orang menyayangkan dan juga mempertanyakan pelaku pemboman di Indonesia akhir-akhir ini yang beberapa diantaranya telah mengecap pendidikan di universitas. Contohnya seperti gembong teroris yang telah meninggal saat Densus 88 menggerebek tempat persembunyiannya di Solo, 17 Agustus 2009 silam, yakni Noordin M. Top. Sebelum mulai membom apapun yang menurut Noordin adalah simbol kafir, dia sempat mengenyam pendidikan di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Konon, universitas itu adalah tempat belajar yang cukup terpandang di negeri jiran. Sebuah universitas tertua di Malaysia dan fokus di bidang teknik dan teknologi. Bahkan partner in crime-nya yang duluan mendapatkan ajal, yakni Dr. Azhari juga adalah dosen di universitas itu.

Pertanyaan-pertanyaan, seperti mengapa orang yang telah diberi asupan pendidikan di universitas, seperti Noordin M. Top, misalnya, tega melakukan pemboman yang melukai banyak orang, seolah-olah mengesankan, bahwa pendidikan menentukan jaminan baik-buruknya kualitas moral atau intelektual seseorang.

Untuk masalah pemboman ini, mungkin masalahnya bukan terletak pada apakah seseorang telah mengecap pendidikan tinggi atau tidak. Semenjak universitas di jaman sekarang juga tak ubahnya seperti korporasi. Hanya mementingkan iuran registrasi. Selain itu, universitas di jaman sekarang pun berfungsi layaknya aparat dari sistem yang dominan, yakni kapitalisme. Menjaga agar sistem dominan tetap utuh melalui ideologi-ideologi yang disebarkan secara halus dalam kelas maupun buku rujukan yang dibaca oleh mahasiswa. Universitas menjadi tempat percetakan manusia-manusia yang nantinya akan mengukuhkan sistem dominan yang sedang berjalan saat ini. Universitas tidaklah netral dari intervensi ideologi kekuasaan yang sedang dominan.

Lalu, bila begitu, lantas apa masalahnya sehingga pemboman di Indonesia bisa terjadi? Masalahnya itu tadi, sistem dominan saat ini. Sistem yang dibeberapa tempat memberikan limpahan kekayaan yang tidak terkira, tetapi di tempat lain, hanya memberikan kelaparan sekaligus tragedi. Bukan sekadar apakah pelaku mengecap pendidikan atau tidak.

Masalah pemboman yang terjadi di Indonesia ini erat kaitannya dengan masalah keagamaan. Masalah keyakinan yang personal. Pemboman terjadi sebagai wujud rasa frustrasi dari sekelompok gerakan keagamaan akan sistem yang berlaku dominan saat ini, dimana menurut mereka, sistem dominan tersebut hanya menghasilkan kemaksiatan dan kehampaan spiritual saja. Sistem itu tidak memberikan ruang untuk spiritualitas mereka.

Sebenarnya, rasa frustrasi yang dialami oleh kelompok gerakan yang berlandaskan agama ini memang wajar, dan malah bagus bila dikembangkan menjadi sebuah perlawanan. Tetapi, mereka keliru memasang target frustrasi mereka kepada negara Amerika Serikat yang mereka persetankan itu.

Contohnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam Samudra mengenai alasan mengapa ia mengebom Paddy’s CafĂ© di Bali pada tahun 2002 silam, dalam bukunya “Aku Melawan Teroris”. Di bukunya itu, Imam Samudra menulis, "Detik itu juga kemenangan dan kegembiraan Yahudi bersama salibis internasional membahana, karena memang itulah yang mereka harapkan. Kemenangan musuh itu, berlanjut terus hingga sekarang dengan negara Amerika sebagai panglimanya, diikuti Israel, dan para sekutunya.”

Alasan itulah yang membuat Imam Samudra terpacu untuk “jihad” melawan kaum “kafir”, dengan cara mengebom sebuah kafe di Bali dengan sasaran melukai sebanyak mungkin warga negara asing. Sebuah tindakan yang salah sasaran, menurut saya.

Inti masalah adalah kapitalisme, bukan AS. Di satu sisi, jantung kapitalisme memang AS, tetapi tentu saja tidak semua warga AS memiliki pandangan yang sama mengenai kapitalisme, kecuali, tentu, The Fed, dan Wall Street. Bila ingin membicarakan pemboman, mungkin The Fed dan Wall Street inilah yang harus dibom (bukan kafe atau hotel!).


Ketegangan Antara Modernitas dan Agama

Tarik ulur antara gerakan keagamaan dengan sistem yang berlaku saat ini, sudah berlangsung sejak lama. Dan bukan hanya muslim yang frustrasi dengan sistem dominan sekarang. Karen Armstrong dalam bukunya The Battle For Gods, memaparkan dengan bagus mengenai gerakan-gerakan fundamentalis keagamaan, mulai dari pemeluk Kristen hingga Yahudi, yang bersitegang dengan, Armstrong menyebutnya, “modernitas”. Setidaknya di tahun 1970-80 an, menurut Armstrong, gerakan fundamentalis ini berkembang dan tumbuh subur. Gerakan-gerakan tersebut terjadi di beberapa negara, seperti Mesir, benua Eropa, hingga bahkan di negara AS itu sendiri.

Inti dari munculnya pergerakan fundamentalis keagamaan itu dipicu oleh semakin terpinggirkannya spiritualitas oleh modernitas yang semakin mendominasi segala aspek kehidupan. Hal yang menjadi sebab mengapa, bagi sebagian orang, modernitas dipandang sebagai pemicu munculnya pergerakan fundamentalis itu adalah, karena karakter khas yang dibawa oleh modernitas itu sendiri: dia mempersetankan metafisika, dan berjalan sepenuhnya dengan mengandalkan ukuran-ukuran, serta logika empirik. Padahal, menurut Armstrong, manusia tidak bisa sepenuhnya hidup dengan mengandalkan logika, atau ukuran-ukuran tok semata. Tetapi manusia perlu memiliki keyakinan akan sesuatu diluar dirinya dan tak terjangkau oleh logika yang bersifat materialistis. Hal itu semata-mata untuk mengisi ruang spiritualitas dalam diri manusia agar tidak terasing dalam kehidupan. Agar manusia bisa memiliki keyakinan dan mampu memberikan makna terhadap eksistensinya di dunia fana ini. Perlu ada keseimbangan antara spiritualitas dan logika. Tetapi di jaman sekarang, moral atau spiritualitas sekalipun tidak akan dianggap bila tidak memberikan keuntungan dan laba bagi segelintir orang yang memiliki kekuasaan.


Permasalahan pun Bukan Hanya Berhenti Pada Konsep “Modernitas”

Bila Karen Armstrong menjelaskan, bahwa modernitas adalah pemicu dari munculnya pergerakan fundametalis keagamaan, maka saya beranggapan, bahwa kapitalisme adalah akar penyebab, mengapa beberapa orang bisa sedemikian frustrasinya, lantas mengebom menara atau hotel. Menurut saya, modernitas hanyalah bawaan dari kapitalisme itu sendiri.

Seperti yang diketahui, pola produksi kapitalisme yang umum saat ini, mencapai perkembangannya yang pesat pertama kali pada jaman revolusi industri di Inggris. Dengan ditemukannya mesin uap, maka berubah pula relasi-relasi sosial dan pola produksi. Sistem pabrik mulai marak saat itu, karena dengan penemuan-penemuan teknologi yang ada saat itu, semakin mudah untuk memproduksi barang secara massal. Namun demikian, teknologi yang ada tersebut tidak serta merta membuat semua orang bisa mengaksesnya, kecuali segelintir orang elit. Dan dari titik inilah, pemerasan dan perampokan tenaga kerja massal oleh segelintir elit dimungkinkan hingga sekarang.

Dalam bidang kebudayaan pun terjadi perubahan. Ketika perkembangan teknologi yang terjadi terbukti ampuh untuk memudahkan pekerjaan (selain merampok dan memeras tenaga kerja), timbul kepercayaan diri tentang ide, bahwa seorang manusia dapat menaklukan alam dengan pikirannya. Maka dari itulah mengapa filosofi “cogito ergo sum” (aku berpikir, maka aku ada) begitu popular pada masa itu. Dengan sepenuhnya menggunakan akal pikirannya, ternyata manusia tidak selalu harus tergantung oleh alam, dan bahkan otoritas gereja, seperti yang menjadi ciri khas abad pertengahan (sebelum abad pencerahan). Manusia ternyata bisa merdeka dan menjadi individu bebas dengan menggunakan akal pikirannya.

Namun demikian, pola pikir seperti itu menyisakan beberapa masalah. Ketika manusia mengklaim bisa bebas dan merdeka, maka perlu dipertanyakan lagi klaim seperti itu. Kebebasan dan kemerdekaan siapa yang dimaksud? Apakah kebebasan bagi seluruh umat manusia, atau hanya bagi segelintir elit yang memiliki akses, dan dengan sendirinya memiliki kekuasaan untuk menindas mereka yang sebagian besar tidak memiliki akses?

Lalu, masalah lainnya adalah, ketika manusia mengklaim dapat menaklukan alam dengan pikirannya semata. Sehingga dengan begitu, pikirannya sendiri dalam hal ini menjadi andalan utama. Dari sini, tentu saja peranan spiritualitas dalam memberikan makna kepada individu menjadi tergerus, dan bahkan punah sepenuhnya. Seringkali spiritualitas dengan logika kapitalisme tidak berjalan akur.

Bagi mereka yang tertindas dalam sistem pabrik, waktu kerja hingga lima belas jam sehari selama seminggu penuh, tentu tidak bisa memiliki waktu untuk dirinya sendiri (kontemplasi, ibadah, bahkan sekadar rekreasi). Penemuan teknologi bukannya memudahkan seseorang dalam bekerja, tetapi malah semakin menekannya. Bahkan hingga jaman sekarang. Dengan kerja lembur dan semacamnya, semakin sedikit individu memiliki waktu senggang yang berguna untuk pemenuhan kebutuhan spiritualnya. Dari situ juga mengapa, hingga sekarang manusia dekat dan mengenal betul konsep “hampa” dan “terasing”.

Di titik ekstrimnya, keterasingan dan kehampaan ini juga yang menjadi pemicu pergerakan keagamaan fundamentalis ini. Akar-akar agama yang dulunya menjadi dasar spiritualitas manusia dan memberikan makna terhadap eksistensi manusia, menjadi tercerabut. Yang ada sekarang hanyalah ukuran-ukuran, dan usaha peningkatan keuntungan. Semuanya dikomodifikasi. Diperdagangkan ala kapitalisme yang selalu memeras dan berorientasi profit. Tidak ada solidaritas sosial selama itu tidak menghasilkan keuntungan. Siapa yang tidak merasa frustrasi dan hampa, ketika interaksi sesama manusia tidak dilandasi niat tulus hanya untuk sekadar bersilaturahmi, tetapi malah dimanfaatkan untuk bisnis, bahkan seringkali penjarahan dan pencerabutan akar tradisi? Siapa yang tidak merasa jengah, ketika mempelajari sholat saja dikenai biaya hingga jutaan rupiah?

Saya merasa, yang diperlukan oleh masyarakat saat ini adalah ketulusan yang benar-benar murni, tanpa dilandasi oleh perhitungan-perhitungan untung atau rugi, layaknya saudagar di pasar. Ketulusan itu memang gampang diucapkan, tetapi dalam lingkup yang lebih besar, pola pikir seperti itu akan menjadi masalah. Siapa yang mau memberikan atau membagi sesuatu secara cuma-cuma dijaman sekarang? Apakah perusahaan seperti Free Port di Papua berani untuk membagi secara fair hasil garapannya dengan masyarakat lokal Papua, tanpa harus secara berlebihan memupuk keuntungan bagi segelintir CEO-nya? Pastinya hanyalah kerugian yang diterima bila pola pikir seperti itu diterapkan. Tetapi disitulah tantangannya. Apakah kita akan terus membusuk di jaman yang mempersetankan ketulusan hanya demi pemupukan kekayaan pribadi, atau kita mencoba melawan sistem dominan ini dengan segala cara dan di segala lini? Kehidupan tentu sangat berharga, dan layak untuk dijalani.

Sistem yang mempersetankan ketulusan seperti ini, sudah barang tentu tidak akan memperdulikan solidaritas sosial. Karena, seperti kapitalisme yang menjadi dasarnya, satu hal yang dikejar hanyalah bagaimana mencapai keuntungan dan laba yang setinggi-tingginya, dengan penjarahan dan perampokan sebagai cara kerjanya.

Pola seperti itu hanya menguntungkan segelintir elit yang memiliki akses sekaligus kekuasaan. Dampaknya tentu adalah perilaku individualistis yang akut, selain kesenjangan yang lebar antara mereka yang memiliki dan mereka yang tidak memiliki. Hal seperti ini juga, pada dasarnya yang bisa membuat orang yang tidak bisa mengikuti alurnya menjadi frustrasi. Dan dalam beberapa hal, muncul pemboman dan aksi-aksi yang otoritas sebut sebagai “aksi terorisme”. Sebuah wujud rasa frustrasi atas teror-teror korporasi dan para kapitalis yang selama ini menekan kehidupan mereka: orang-orang yang terpinggirkan itu.

Tidak ada komentar: