Jumat, 04 Desember 2009

Peramalan, Perjodohan, Perbingungan

Suatu waktu, temanku ini mengaku sebagai cenayang, dan dia terlihat sungguh-sungguh dengan perkataannya itu.

“Jadi kamu cenayang?” kataku.

“Aku kan Mama Loreng,” katanya.

“Soklah…jadi, gimana karier gua dimasa depan?”

“Kamu mah ga cocok sama elemen air,” jawabnya.

“Berarti gua ga bisa buka usaha kolam renang dong?” balasku.

“Pokoknya kamu ga cocok jadi perenang, buka usaha depot air minum. Pokoknya yang berhubungan sama aer.”

O, ya sudah. Masa bodoh juga.

Sekarang waktunya bertanya ramalan yang menyangkut perkara hati, alias perjodohan. Maklum, sudah berkepala dua. Otomatis penasaran juga masalah jodoh. Walaupun temanku itu diragukan kredibilitasnya dalam hal ramal-meramal, tetap saja saya penasaran mengenai ‘ramalan’-nya tentang nasib perjodohan ini.

“Terus, sekarang perjodohan. Kalau jodoh gua gimana menurut ramalan kamu?”

“Bukannya merendahkan nih…,” dia menjawab.

Sebenarnya untuk pertanyaan ini sedikit aneh, karena dia cukup lama membalasnya.

“Tapi untuk masalah jodoh, kamu mah susah. Susah sregnya,” katanya lagi.

Disitu saya ketawa ngakak. Saya ingat cerita-cerita perkara hati yang dulu-dulu. Bila dia meramal seperti itu, bisa jadi memang benar seperti demikian. Soalnya cerita-cerita tentang perkara hati yang kualami selama ini memang tidak pernah ada yang sukses. Gagal semua. Tepat seperti apa yang perempuan itu ramalkan.

Dengan kegagalan demi kegagalan yang menimpa, tentu saja saya tertawa. Mentertawakan kebodohan diri sendiri tentunya. Dan alasan yang menjadi penyebab perjodohan tidak pernah beres-beres selama ini, seperti yang telah diramalkan oleh perempuan itu, yaitu‘tidak sreg’ jadi terpikirkan juga olehku. Mungkin juga perempuan itu, sekali lagi, benar. Selama ini saya memang tidak pernah yakin bila menyangkut hubungan dengan perempuan. Saya selalu berpikir, mungkin ini ada kaitannya dengan kebiasaan sehari-hari yang selalu terbiasa sendiri (saya memang dilahirkan sebagai anak tunggal). Seringkali melakukan apa-apa dengan sendiri, sehingga ketika menyangkut hubungan dengan ‘kehidupan’ yang lain, terasa canggung.

“Bener kaannn?!” kata perempuan itu lagi.

“Hmm, ga tau juga deh,” balasku kemudian.

Suatu ketika, saya chatting melalui YM dengan temanku yang lain. Kali ini temanku itu laki-laki. Suasana saat itu sudah larut malam. Suasana ini kiranya patut ditulis, karena temanku itu sedang dikantor: kerja shift malam. Berada di kantor sendirian larut malam tentunya akan berpengaruh juga secara psikologis.

“Galau euy, kudu cari pacar ini mah,” tulis temanku itu di YM.

“Hahah. Iya, bung. Cari jodoh yang sreg dan belum punya pacar,” balasku.

“Ga usah yang sreg, yang penting kita ngebonceng perempuan di motor,” timpal temanku itu.

Rupanya masalah sreg atau tidak sreg tidak berpengaruh besar buat temanku itu. Saya hanya membalas omongan dia dengan emoticon 'big laugh' saja, karena saya tidak tahu harus berbicara apa lagi.

Tidak beberapa lama, dia menulis lagi melalui YM. “Nyari soulmate mah lama dan susah. Sekarang mah yang penting ada dulu.”

Saya iyakan saja perkataannya itu, ditambah tulisan ‘he-he-he’ setelahnya. Saya tidak tahu apa lagi yang harus dibicarakan.

Ada orang yang pernah berkata padaku perihal masalah jodoh ini, bahwa selalu pilih-pilih seringkali menjadi penyebab mengapa seseorang selalu mentok disitu-situ saja. Menurut orang itu, saya memang terlalu pilih-pilih bila menyangkut hubungan dengan perempuan.

Sebenarnya saya tidak ingin pilih-pilih, tetapi seringkali perasaan tidak sreg itulah yang selalu dominan bila sudah mulai berhubungan dengan perempuan. Terlalu banyak pertimbangan ini-itulah. Dalam satu titik, saya sendiri mulai ragu…apakah memang hubungan saya dengan seseorang itu tidak nyambung, atau memang saya nya saja yang memang tidak ada keberanian? Dari sini saya lebih baik merokok.

Tetapi, suatu waktu, orang yang berkata tentang masalah ‘pilih-pilih’ ini mengucapkan sesuatu yang, bagiku, terasa kontradiktif dengan perkataannya yang terdahulu. “Tapi, kalau masalah jodoh mah si emang ga bisa dipaksain. Kalau memang ga yakin mah, ya, masa mau dipaksain?”

Mendengar omongannya sekali lagi saya menjadi tambah bingung. Jadi, setidaknya ada dua hal disini…jangan pilih-pilih, dan jangan dipaksakan.

Hmm, saya tidak tahu apa lagi yang mau ditulis. Sudah bingung sendiri.

Tetapi, dulu sekali saya ingat, pernah ada seorang teman perempuan yang bertanya kepadaku perihal jodoh ini. “Jadi, kriteria cewe yang kamu suka tuh yang kaya gimana?” katanya.

“Yang komedian,” jawab saya.

Kamis, 03 Desember 2009

Sudah Saatnya Kami Bangkit Kembali Setelah Terlelap Sekian Lama

Mungkin sudah saatnya kami kembali bermusik. Kembali dengan alasan yang klise: untuk menghajar kebosanan. Mencari katarsis melalui mediasi amplifier dan volume maksimum. Untuk sebuah kehidupan, terlalu dangkal memang untuk berharap menemukan katarsis hanya dengan amplifier dan volume maksimum. Kuakui, seakan-akan mencari pelarian melalui musik, dalam titik tertentu, tidak akan membawamu kemana-mana, selain menuju kehampaan itu sendiri.

Apa yang kamu dapat setelah memainkan musik yang keras? Kamu kembali lagi ke rutinitasmu yang seperti biasanya. Kamu masuk lagi menuju sistem yang mendesainmu untuk patuh terhadapnya. Pemberontakan melalui nada, dan lirik, dalam satu titik, tak ubahnya seperti waktu jeda dalam rangkaian penghambaan tanpa akhir. Hanya sedikit jeda untuk meredakan ketegangan. Hanya memberimu sedikit ruang. Karena setelahnya, kamu harus masuk ke dalam sistem: (dipaksa) menghamba kepada mereka yang mempunyai alat produksi, agar dirimu bisa bertahan hidup.

Apalagi dalam kasusku, musik yang kami mainkan bukanlah barang dagangan yang laku, seperti band-band top 40 kacangan itu. musik kami adalah doom metal. Musik yang kampring, dan hanya bahan ejakulasi kami sendiri saja. Dengan kata lain, dagangan kami tidak laku. Kami tidak akan terkenal. Kami tidak akan menjadi terkenal dan menghasilkan banyak uang, seperti band-band kacangan yang biasa kamu liat di teve. Dengan begitu, maka otomatis kami tidak bisa menghidupi diri kami dari band ini. Dan tenaga-kerja kami hanya berguna, bila kami kembali lagi ke rutinitas kami: membuka koran untuk membaca rubrik lowongan kerja. Kami akan mati bila hanya menggantungkan diri pada band ini.

Bagaimana aku mencapai sebuah katarsis, membebaskan diri dari keterpaksaan ini, bila pola kehidupanku seperti demikian? Untuk mencari sebuah titik balik kehidupan, tidak cukup hanya dengan musik. Diperlukan sebuah gerakan nyata. Pergerakan yang ibaratnya benar-benar sanggup meruntuhkan wall street. Berkoar tentang kedamaian dan keadilan, tidak akan kemana-mana, bila hanya sebatas teriakan melalui microphone. Kita butuh merebut alat produksi. Menguasainya untuk kepentingan kita yang tak memiliki akses terhadapnya.

Tetapi, berbicara perebutan alat produksi…dimungkinkan bila adanya massa yang secara sadar dan aktif mengorganisasi dirinya masing-masing untuk sebuah perlawanan. Untuk hal ini, jalan menuju kehidupan alternatif memang memungkinkan, tetapi untuk menempuhnya merupakan sebuah perjalanan yang berat…lebih berat daripada perjalananku tempo hari ke Gunung Semeru. Pertama, berapa milyar orang yang hidup di planet ini? Berapa milyar perbedaan persepsi yang ada dibenak orang-orang yang hidup di planet ini?

Kedua, karena kehidupan didalam sistem itu sendiri dipenuhi oleh ilusi-ilusi yang membuat orang-orang didalamnya mandul. Terlalu banyak ilusi yang membuat kita berpikir dunia memang baik-baik saja. Terlalu banyak ilusi yang membuat pikiran ini dipasifkan oleh intensitas dunia kerja. Terlalu banyak ilusi yang membuat pikiran ini diselimuti kesombongan-kesombongan akan jabatan dan kekuasaan. Padahal, dalam sistem ini, kita yang tak memiliki alat produksi hanyalah boneka seksual kapitalis untuk kepentingan valorisasi dirinya sendiri.

Betapapun seorang manajer merasa aman dengan gajinya yang puluhan juta, tetap saja ia adalah seorang rapuh, seorang yang terasingkan dari kerjanya sendiri…dan bagian dari dirinya tak ubah hanya setengah saja dari baut sebuah rangkaian mesin besar. Dia tetap seseorang yang tenaga-kerja nya dihisap untuk kepentingan seseorang yang lebih besar diatasnya.

Dan dunia sempit yang kuhidupi ini…aku hanya membutuhkan sebuah alasan untuk tetap menghidupinya ditengah-tengah masifnya pemaksaan-pemaksaan yang ada. Dan sebuah alasan untuk hidup, adalah sebuah alasan dimana kamu menikmati setiap momen yang dijalani. Menganggapnya itu adalah sesuatu yang begitu berharga. Dan musik…adalah sesuatu yang kujalani dengan segenap kerelaan: sedih, maupun senang akan kujalani. Dan untuk sebuah alasan yang dapat menolongku untuk tetap bertahan dan sadar, aku rela menjalaninya…menjalaninya, walaupun seakan-akan, seperti hidup dengan penyangkalan-penyangkalan. Tetapi, sepertinya disitulah hasratku, walaupun disatu titik, bisa menjadi sebuah akhir yang nihilistik.