Minggu, 27 Desember 2009

Fiksi: Mengenang Iqbal (Bag. 2)

Begitulah. Seakan-akan momentum di kelas dua caturwulan pertama itu berkelibatan di dalam benak. Seperti masa lama lampau yang telah terlewati itu tiba-tiba mewujud lagi. Hadir setelah sebelumnya mengendap dalam. Di saat seperti ini, ketika teman-teman berkumpul lagi, duduk-duduk lagi di kios yang sama seperti tiga tahun lalu, memori itu menemukan kanalnya. Mengalir deras memenuhi relung pikiran ini.

Lama tidak terdengar kabar dari Iqbal. Ada satu kejadian mengenai dirinya di masa SMP dulu yang cukup membuatku merasa kehilangan hingga saat ini. Jadi, tidak beberapa lama, masih dalam hitungan bulan setelah kejadian hukuman skorsing itu, Iqbal terlibat perkelahian dengan salah satu teman kami, Tama. Masalah sepele. Mengenai hutang. Tapi, berujung perkelahian maut di depan kelasku saat jam istirahat. Suasana menjadi begitu hiruk pikuk saat itu. Melihat bagaimana kedua orang itu saling melancarkan serangan terkerasnya. Wajah Tama menjadi tak karuan karena darah yang mengucur dari hidungnya. Begitupun dengan kelopak mata sebelah kiri Iqbal yang membengkak dihantam bogem mentah Tama. Begitu keras perkelahian itu.

Tama adalah seseorang dengan perawakan tinggi besar. Bila aku bercanda dengannya, kadangkala aku memukul-mukul badan atau punggungnya. Ketika memukul-mukul itu, terasa, bahwa tubuh Tama liat seperti kuda. Kencang. Lalu, tulang-tulangnya yang besar pun terasa keras. Mengerikan memang bila mendapatkan pukulan darinya. Bila sedang bercanda, aku sering mendapatkan pukulan darinya. Langsung terasa linu. Itu bila bercanda, apalagi bila berantem serius. Mungkin rasanya akan lebih dari linu, seperti batu bata keras dilempar kencang tepat ke tulang kaki keringmu. Coba bayangkan rasanya seperti apa.

Di sisi lain, Iqbal adalah seseorang dengan perawakan kecil dengan tubuh yang tidak terlalu kurus, tidak juga gendut. Gempal. Namun, Ia mempunyai nyali yang jauh di atas rata-rata bila dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Pernah, suatu kali ada segerombolan preman yang sering memalak siswa-siswa sekolah kami. Preman itu adalah siswa-siswa dari SMA yang reputasinya terkenal cukup angker dan berlokasi tidak jauh dari sekolah kami. Mulai dari anggota geng hingga pemasok ganja semuanya ada di SMA itu. Suatu kali Iqbal mendatangi kios tempat nongkrong gerombolan berandalan SMA itu. Kebetulan ada lima orang yang sedang nangkring saat itu dan Iqbal tanpa pikir panjang mulai menghajar kelima orang itu dengan menggunakan balok. Walaupun Iqbal membawa balok, tetap saja perkelahian itu tidak seimbang. Lima lawan satu. Belum lagi tubuh Iqbal yang kecil membuat perkelahian tidak seimbang. Hasilnya Iqbal babak belur kena hajar berandalan SMA itu. 

Perkelahian antara Tama dan Iqbal itu ternyata menjadi kesalahan fatal bagi Iqbal sendiri. Guru-guru langsung berdatangan, diantaranya ada Wawan yang langsung melerai perkelahian. Tama dan Iqbal dibawa ke ruang guru dan mulai diinterogasi.

Kesalahan fatal itu terjadi, ketika Wawan menyuruh salah satu siswa untuk membawa tas Tama dan Iqbal ke ruang guru untuk digeledah. Dari tas Iqbal ternyata ditemukan sebungkus rokok. Itulah yang menjadi malapetaka. Berbeda dengan Tama yang, seperti biasa, hanya disuruh membuat surat pernyataan tidak akan melakukan lagi kesalahan serupa yang ditandatangani oleh orang tua. Hukuman untuk Iqbal lebih parah. Gara-gara kepergok membawa sebungkus rokok, Ia dibawa oleh Wawan memasuki setiap kelas, mulai dari kelas satu hingga kelas tiga. Setiap angkatan terdiri dari delapan kelas. Jadi, total kelas satu hingga kelas tiga berjumlah dua puluh empat. Di kelas sebanyak dua puluh empat itu, Iqbal disuruh memasukinya satu-satu dan berdiri di depan selama kurang lebih lima menit sambil dipaksanya Ia untuk merokok. 

Ketika giliran masuk ke kelasku, Iqbal terlihat begitu berantakan. Beberapa kancing bajunya terlepas. Terlihat dadanya yang dilapisi oleh kaos kutang. Rambutnya acak-acakan. Matanya yang sebelah kiri lebam. Di sakunya tersembul sebungkus rokok yang dirampas dari tasnya oleh Wawan. Saat itu Iqbal kebanyakan menunduk, tidak berani menghadapkan wajahnya sendiri ke arah para siswa. Ia menangis.

“Ampun, Pak. Jangan ngerokok, Pak. Malu…,” katanya putus-putus sembari cecegukan.
Disebelahnya, Wawan merangkul Iqbal dan menatapnya dengan matanya yang dingin. “Kamu kan suka ngerokok. Sekarang Bapak kasih kamu kesempatan buat ngerokok. Kenapa kamu harus malu?”

Iqbal masih saja cecegukan dan sesekali mengusap matanya yang bercucuran air mata dengan tangan kirinya. Sementara tangan yang satunya lagi memegang rokok. Terlihat tangannya begitu gemetaran saat memegang rokok itu. “Ampun, Pak. Ampun…,” katanya lagi.

Kelas senyap mencekam.  Hanya terdengar cegukan dan suara Iqbal yang memelas minta ampun saat itu. Guru pelajaran Biologi, Bu Neneng, hanya duduk di mejanya tidak berkata apa-apa. Teman sebangku, Matoy, selama ‘adegan’ itu hanya mengeluarkan dua buah kata, “anjis, edan.”

Sisanya, sepanjang ‘adegan’ itu, Matoy hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.
Wawan menoleh ke arah kami. Para siswa yang terbengong-bengong menyaksikan pemandangan yang cukup miris di depan kelas. Lalu Ia berkata, “Nah, di depan kalian ini adalah sebuah contoh. Contoh bagaimana seorang siswa yang tidak terdidik dan tidak mematuhi aturan,” Wawan kembali menolehkan pandangannya ke Iqbal, “padahal, baru-baru ini si Iqbal ketauan ngerokok. Sudah di skorsing pula. Tapi, eh…tetap saja kelakuan kamu seperti ini.”

Saat Wawan mengungkit tentang perkara skorsing itu, beberapa kawan yang berada di baris sebelah menolehkan pandangannya padaku. Ku balas lagi pandangan mereka dengan tatapan  mengancam.

“Nah, hari ini menjadi peringatan bagi kalian. Bila ada di antara kalian yang melanggar aturan akan mendapatkan hukuman. Seperti pelanggaran membawa rokok ke sekolah, misalnya. Kalian bisa melihat hukuman yang akan ditimpakan seperti apa,” kata Wawan dengan nada penuh penekanan. Sambil mengatakan hal itu, seakan-akan Ia melempar pandang ke seluruh ruangan dengan matanya yang dingin. Seperti menandai siapa-siapa saja siswa di kelas yang kira-kira berpotensi membuat ulah seperti Iqbal. Kebanyakan siswa di kelas, khususnya yang sering ‘bermasalah’, buru-buru menatap mejanya masing-masing. Tidak berani menatapnya langsung.

Iqbal lalu dibawa lagi keluar kelas untuk dipertontonkan dihadapan para siswa. Terbayang bagaimana perasaan malu itu bila aku menjadi Iqbal. Memasuki kelas yang jumlahnya dua puluh empat dengan kondisi yang tidak karuan. Belum lagi dipermalukan oleh Wawan dengan omongannya. Sungguh mimpi buruk.

Kejadian itu menjadi topik hangat diantara para siswa untuk beberapa minggu. Nasib Iqbal sendiri menurutku naas. Setelah proses ‘dipermalukan di depan publik’ itu, Ia harus menghadapi kenyataan, bahwa Ia dikeluarkan dari sekolah. Ini benar-benar kesialan beruntun baginya. Sementara itu Tama cukup beruntung. Ia tidak dikeluarkan dari sekolah, karena ia baru sekali berurusan dengan para guru. Iqbal, saya akui, posisinya memang tidak menguntungkan dimata para guru, khususnya Wawan. Iqbal selama ini dikenal sebagai pembangkang. Sering kasus. Dari kelas satu Ia memang biang masalah. Nilainya pun selalu pas-pasan. Tetapi, walaupun begitu, Iqbal adalah seseorang yang mengasikkan untuk diajak bermain. Ia solider dan perhatian terhadap teman-temannya. Itu yang paling utama. Oleh karena itulah, aku merasa nyaman bermain dengannya. Tidak perduli pandangan para guru terhadapnya seperti apa.

Keputusan para guru untuk mengeluarkan Iqbal benar-benar dikutuk oleh aku dan teman-teman. Walaupun begitu, kami benar-benar merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai bentuk kekecewaan, aku dan beberapa teman, seperti Matoy dan Adi, mencoret-coret tembok toilet. Mengata-ngatai Wawan. Adi yang jago menggambar, melukis wajah Wawan di tembok toilet. Walaupun lukisannya tidak mirip-mirip amat dengan wajah Wawan, tapi lumayanlah untuk bisa disebut menyerupai. Di bawah gambar Wawan itu, Matoy lalu menulis dengan huruf-huruf besar: WAWAN BEDEBAH.

Saya teringat ucapan Matoy, ketika Ia sedang menulis kata-kata itu di toilet. Matoy sangat geram, “nyebut Iqbal ga terdidik, kenapa malah dia yang dikeluarin? Bukannya sekolah tempat ngedidik orang?! Sekali ada yang dianggap ga terdidik, malah di D.O., goblok!” katanya.

(bersambung)

Tidak ada komentar: