Minggu, 15 Desember 2013

Menepi di Situ Cisanti



Sinar matahari pagi menyentuh permukaan air Situ Cisanti yang terletak di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Refleksi aktivitas manusia terlihat dari permukaan air situ yang juga merupakan hulu Sungai Citarum. 

Pagi itu, Ujang (45), sudah duduk-duduk di pinggiran Situ Cisanti. Dua buah alat pancing terletak di samping kiri dan kanannya. Sudah hampir satu jam setengah dari pukul 06.00 dia menunggu adanya ikan yang terjebak oleh kailnya. "Biasanya sehabis hujan, tangkapan suka besar. Mudah-mudahan saja sekarang begitu," ujar warga Kampung/Desa Cibeureum, Kec Kertasari, Kab Bandung itu. 

Tidak hanya Ujang yang memancing di sekitar Situ Cisanti saat itu, namun terdapat juga belasan warga lainnya. Beberapa di antara mereka ada yang bersama kawan-kawannya, dan ada juga yang sendirian, menikmati ketenangan suasana situ di pagi hari. Ikan-ikan yang diburu para pemancing di Situ Cisanti antara lain ikan mas, nila, dan nilem. 

"Sudah seumur hidup saya tinggal di Cibeureum. Sebelum tahun 2001, situ ini masih berupa leuweung. Tanahnya basah, karena air keluar dari mata air yang ada di sini. Baru setelah dibuat situ, warga jadi suka banyak yang mancing di sini," kata Ujang. 

Menurutnya, setelah Situ Cisanti ditata, aktivitas manusia di sekitarnya pun bertambah. Tidak hanya warga sekitar saja, akan tetapi oleh wisatawan. Mereka ada yang hanya sekedar berkunjung, ziarah ke makam yang terletak di sekitar situ, sampai berkemah. 

"Apalagi ketika jalan dari Cibeureum sampai situ ini dibenahi pada tahun lalu. Itu mempengaruhi juga terhadap meningkatnya perlintasan orang-orang. Setidaknya mereka yang ngeh akan adanya situ ini bertambah pula," katanya. 

Bertambahnya aktivitas manusia di sekitar situ, membawa dampak pula terhadap kebersihan di sekitarnya. Di sisi-sisi danau, mudah dijumpai sampah plastik berserakan. Bungkus makanan dan minuman kemasan terlihat di beberapa tempat.  

Endang Rukayat (65), Ketua Badan Permusyawaratan Desa Tarumajaya, mengatakan, perilaku manusia berdampak pada kebersihan di sekitar Situ Cisanti. Dia mengakui, bila kebiasaan membuang sampah sembarangan, baik itu dari warga sekitar maupun wisatawan, masih terjadi di Situ Cisanti. 

"Setiap hari ada petugas yang membersihkan sampah di situ. Akan tetapi, tampaknya tempat penampungan sampah yang ada selama ini tidak cukup," ujarnya. 

Selain itu, dia menuturkan, di sungai kecil yang terletak tidak jauh dari Situ Cisanti, kotoran sapi seringkali mencemari airnya. Menurutnya, peternak sapi di Desa Tarumajaya masih menggunakan aliran sungai sebagai tempat pembuangan limbah ternak. "Memang cukup sulit. Selama ini belum terpikirkan juga cara alternatif untuk mencegah limbah ternak agar tidak mencemari sungai," tuturnya. 

Situ Cisanti merupakan tempat yang penting bagi masyarakat banyak. Di tempat itulah terletak tujuh mata air yang kemudian menjadi sumber aliran air Sungai Citarum, sungai terbesar dengan panjang 269 kilometer, dimana alirannya membelah 12 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat. Kini banyak pihak mengeluhkan kondisi Sungai Citarum yang kotor karena aktivitas manusia. Limbah industri, usaha ternak, sampai rumah tangga di bantaran sungai berkontribusi menjadi penyebabnya.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Sangat keren situ itu, pengen suatu saat bisa liburan ke sana. Gan mampir yuk ke http://sebandung.com/2014/10/situ-cisanti/ ada banyak referensi tempat wisata lainnya juga loh