Selasa, 31 Desember 2013

Disiplin dan Hukuman



Dalam rapat kerja, muncul sebuah usulan mengenai perubahan cara kerja kami selama ini. Isi dari usulan itu adalah agar kami membuat semacam catatan harian mengenai aktivitas apa saja yang telah dilakukan selama jam kerja. Dalam catatan harian itu, dicantumkan berapa lama durasi kami bekerja, dan seperti apa proses yang kami alami selama durasi tersebut.

Latar belakang mencuatnya usulan itu adalah karena tempat kami bekerja tidak mengenal adanya bonus ekstra atas karya yang telah kami hasilkan. Dalam pengupahan, tempat kerja kami hanya mengenal gaji pokok, tunjangan, biaya foto serta artikel yang dicetak diluar rubrik yang menjadi tanggungjawab kami.

Bagi pihak yang mengusulkan catatan harian, cara pengupahan seperti itu membuat "penghargaan" bagi pekerja yang malas dan pekerja yang giat menjadi sama. Buat mereka, hal seperti itu tidak adil.

Pihak yang mengusulkan catatan harian itu menambahkan, tunjangan yang telah ada selama ini bukan berarti dihilangkan dengan adanya bonus ekstra. Hanya saja, bonus ekstra itu dianggap sebagai pengisi atas kosongnya insentif bagi pekerja yang memang rajin.

Namun demikian, bila sistem seperti itu dilaksanakan, konsekuensinya upah untuk foto dan artikel yang dicetak di luar rubrik yang menjadi tanggungjawab kami menjadi hilang. Anggaran untuk itu dialihkan ke dalam pos bonus ekstra itu tadi. Usulan yang ada saat itu, insentif dari karya yang dimuat dalam rubrik di luar pos peliputan sehari-hari akan digantikan dalam bentuk poin, dan diakumulasikan sebagai penilaian ketika memberikan bonus ekstra.

Usulan itu masih belum matang, dan masih ada sejumlah pihak yang menentangnya. Terutama soal poin pengalihan insentif pencantuman karya di luar pos liputan sehari-hari. Hal seperti itu dikhawatirkan menghilangkan salah satu penghasilan di luar gaji pokok dan tunjangan. Selain itu, penentuan poin dan catatan harian juga dianggap masih belum jelas.

Untuk catatan harian saja misalnya, bagaimana mekanisme pengawasannya? Bagaimana bisa mengetahui bahwa kami tidak berbohong ketika menuliskan catatan harian seperti itu?

Kemudian soal poin yang diakumulasikan. Bagaimana metode penentuan poin untuk menjadi "pemenang" yang berhak meraih bonus ekstra? Apakah dengan cara itu akan ada pihak yang tidak bisa mendapatkan bonus ekstra, karena seleksi yang kuotanya terbatas? Bagaimana kemungkinan seseorang yang sudah jumpalitan bekerja keras, namun tetap saja tidak bisa mendapatkan bonus ekstra? Bila begitu keadaannya, tentu lebih baik insentif yang telah berlaku selama ini: kamu telah berkarya, dan kamu dibayar pada saat itu juga.


***


Menyimak usulan tersebut, saya menangkap poin utamanya, yakni berupaya mencari keadilan dari waktu kerja seseorang. Setiap orang tentu tidak ingin hasil kerjanya yang memakan waktu lama disamakan dengan mereka yang menghasilkan karya dengan waktu kerja yang sedikit.

Tapi, usulan mengenai catatan harian tiba-tiba membuat saya geli. Saya tiba-tiba saja teringat album band metal Isis berjudul Panopticon. Judul album band metal asal Boston itu rasa-rasanya cocok bila usulan catatan harian itu diterapkan.

Secara asal muasal, istilah Panopticon berangkat dari konsep menara pengawas yang ada di kompleks penjara. Diandaikan, menara pengawas itu mempengaruhi psikologi para narapidana yang ada di dalamnya. Hal itu bisa terjadi, karena narapidana merasa terus-menerus dipantau oleh seseorang (atau sesuatu) yang berada di dalam menara pengawas.

Pada akhirnya, terjadi pendisiplinan perilaku para narapidana yang berada di bawah pemantauan Panopticon: narapidana tidak berlaku anonoh, tidak bertindak di luar norma yang berlaku. Para narapidana itu akan bertindak yang "sewajarnya" di bawah pemantauan seseorang atau sesuatu yang bersemayam di dalam menara pengawas bernama Panopticon.

Kondisi seperti itu membuat suatu tatanan menjadi tertib; tidak ada pemberontakan, tidak ada gejolak-gejolak yang mengacaukan sebuah keteraturan. Hal itu bisa berarti juga melapangkan jalan bagi kekuasaan yang ada. Bagi penguasa, Panopticon adalah senjata yang mampu menundukkan para budaknya.

***

Usulan soal catatan harian itu bisa saja menjadi sebuah Panopticon. HRD, manajemen, atau apapun namanya akan memiliki alat pemantauan baru untuk mengawasi aktivitas para pekerja melalui catatan harian. Di sisi lain, para pekerja akan berusaha sebaik-baiknya untuk mengisi catatan harian tersebut.
Sistem pengawasan akan terbangun, dan terjadi pendisiplinan terhadap perilaku pekerja.

Bila skema itu berhasil, akan tercipta sebuah keteraturan kerja. Akumulasi kapital tergenjot dengan pekerja yang rajin mengisi catatan harian - pekerja rajin yang menggebu mendapatkan bonus ekstra untuk mengurus kebutuhan hidupnya yang tidak beres-beres.

Dari sini, Panopticon menjadi senjata yang mampu menundukkan para pekerja di hadapan altar akumulasi kapital yang maha agung; catatan harian mendisiplinkan pengisinya, catatan harian mengintensifkan kerja yang mengisinya. 

***

"Panopticon," ujarku bergumam, ketika mendengarkan atasan bercuap-cuap soal catatan harian. Sekaligus merasa geli membayangkan sebuah catatan harian diibaratkan sebagai Panopticon.

"Discipline and punishment tea nya, bo," ujar seorang kawan di sebelah yang kebetulan mendengarkan gumamanku.

Aku tersenyum mendengarkannya. Ternyata dia juga mengetahui soal ini. "Pernah denger konsepnya?" kataku menimpali.

"Pernah waktu masih kuliah," jawabnya setengah berbisik, "ketika lampu stopan masih merah, saya terabas saja. Saat itu memang lagi terpengaruh bacaan soal Panopticon. Waktu nerabas itu saya berpikir, masa bodoh juga. Toh, saya tidak diikutsertakan dalam kesepakatan (soal aturan lampu stopan), jadi buat apa mematuhinya (baca: mematuhi lampu stopan di perempatan jalan)."

Aku hampir ketawa ngakak mendengarkan ceritanya. Untungnya berhasil ku tahan. Ternyata tafsiran dia atas Panopticon lebih liar daripada tafsiranku.

Tidak ada komentar: