Selasa, 13 Juni 2017

War and Peace: Asmara (1)





I
 
Membaca War and Peace karya Leo Tolstoy di satu sisi cukup membingungkan. Perlu ada gambaran mengenai dataran Rusia untuk mengimajinasikan medan pertempuran yang dipaparkan Leo Tolstoy. Manuver-manuver prajurit di bawah pimpinan Kutuzov dan Napoleon di Borodino, misalnya, akan cukup sulit dibayangkan. Gambaran seperti apa Rusia dan lebih spesifik, kawasan yang bernama Borodino, cukup sulit menumbuhkannya di dalam benak bagi seseorang yang seumur hidupnya tinggal di negara yang berjarak 6.963 kilometer dengan Rusia. 

Dan yang dirasa-rasa lebih melelahkan, novel War And Peace bersandar kepada suatu peristiwa yang nyata. Latar belakang novel itu berdasarkan sebuah peristiwa yang kini menjadi sejarah Rusia, yakni invansi Napoleon Bonaparte ke Moskow sekitar tahun 1812. Jujur saja, pengetahuan mengenai sejarah negara sendiri belumlah tuntas, dan kini muncul pengetahuan baru mengenai sejarah negara lain yang sangkut pautnya dalam keseharian tidak ada. Sangat banyak tokoh diceritakan dalam War and Peace.  Saya malas juga mencari tahu apakah tokoh-tokoh itu memang benar ada dalam sejarah Rusia atau rekaan Tolstoy.

War and Peace tidak hanya melulu menceritakan perang antara Rusia dan Perancis. Tapi, ada bumbu-bumbu lain di kisahnya, salah satunya asmara. Kisah-kisah asmara muncul dari kehidupan keluarga-keluarga ningrat yang hidup di Rusia pada masa itu.  Ada 5 keluarga ningrat yang diceritakan, yakni keluarga Bezhukovs, Kuragins, Bokonskys, Rostovs, dan Drubetskoys. Dari setiap keluarga, ada cerita dari tiap-tiap anggotanya. Kisah asmarapun muncul dari anggota-anggota keluarga tersebut.

Terdapat informasi yang berlimpah mengenai anggota setiap keluarga itu, mulai dari tabiat atau karakter seseorang, atau posisi sebuah keluarga di tengah-tengah keluarga aristokrat lainnya. Anggota-anggota keluarga ini, entah apakah mereka memang benar-benar ada di Rusia pada zaman dulu atau tidak. Atau, entah apakah Tolstoy menggambarkan realitas keluarga-keluarga aristokrat Rusia yang memang dulu ada, riil, namun dengan orang-orangnya yang diceritakan secara fiktif. Yang kuketahui sejauh ini hanya Napoleon dan Kutuzov yang memang benar-benar ada dalam sejarah Rusia.

Yang menakjubkan dari novel Tolstoy ini adalah halamannya yang sangat tebal, mencapai 1.417 halaman. Kisah beberapa anggota keluarga ningrat dipaparkan oleh Tolstoy dan yang diceritakan bukan hanya 1-2 orang saja. Tapi, banyak. Percayalah, banyak. Mungkin karena itu juga novel ini menyita halaman yang sangat tebal. Di satu sisi kamu harus memaparkan tentang alur peperangan Rusia dan Perancis beserta dinamika di dalamnya. Di sisi lain, kamu juga memaparkan tentang kisah-kisah personal dari para anggota keluarga ningrat yang ada di Rusia: bagaimana dikisahkan seseorang memutuskan bergabung dengan militer dan bertempur, lalu di sisi lain, dikisahkan seseorang mengalami konflik batin dan memutuskan bergabung dengan Freemason, atau seseorang yang lainnya dilanda kegelisahan yang ditimbulkan oleh perkara asmara. Masih banyak segi-segi kisah yang dipaparkan oleh Tolstoy dan ini membuat novelnya menjadi kaya warna.  

Tidak bisa dibayangkan bagaimana usaha Tolstoy dalam menyusun novel ini. Riset, merangkai imajinasi, menyusun plot, merancang tokoh, menuangkan gagasan dalam tulisan, pastilah membutuhkan energi yang sangat besar. Apalagi bila jumlah halamannya sudah mencapai ribuan seperti itu. Benar-benar luar biasa. Dan yang lebih luar biasanya lagi, War and Peace bukanlah satu-satunya karya yang dihasilkan Tolstoy.Tercatat Tolstoy telah mengeluarkan sampai 40 buku, mencakup cerita pendek, esai, dan novel. Setahuku, ada novel tebal lainnya selain War and Peace, yakni Anna Karerina.  

Dulu saya pernah membaca terjemahan Indonesia Anna Karerina. Tapi, saya curiga terjemahan itu telah melalui beberapa editing di sana-sini sehingga ceritanya tidak utuh seperti yang aslinya. Saya curiga ceritanya telah diringkas sedemikian rupa. Dugaan itu muncul ketika melihat jumlah halaman novel terjemahan Anna Karenina yang lebih sedikit dibandingkan novelnya berbahasa inggris. Meski demikian, melihat gambaran umum cerita Anna Karerina melalui novel terjemahan itu, saya tidak terlalu menyukainya. Ceritanya suram dan terlalu melankolis. Apalagi gambaran ceritanya tentang seorang perempuan yang bunuh diri karena alasan cinta.

Ini berbeda dengan War and Peace. Sesuai dengan judulnya, novel ini tidak melulu bercerita perang. Ada juga persoalan asmara. Tapi, persoalan asmara ini menarik karena menggambarkan pula kondisi sosiologis masa Rusia yang masih aristokratik. Masa-masa sebelum komunisme bangkit sehingga muncul tokoh-tokoh populer semacam Lenin sampai Stalin.

Membaca persoalan asmara di War and Peace, tampaknya konsep asmara di Rusia zaman aristokrat dulu tidak seperti saat ini, dimana hubungan asmara semata-mata adalah persoalan antar individu. Bagiku, kisah asmara di War and Peace mencerminkan hubungan yang dipengaruhi oleh status sosial keluarga. Pantas-tidaknya seseorang tertarik kepada lawan jenisnya tidak hanya mempertimbangkan perasaan semata-mata, tetapi juga mempertimbangkan posisi yang ditaksir di tengah-tengah keluarga aristokratik. Awalnya memang bermula dari rasa ketertarikan, tapi dalam prosesnya, status sosial keluarga yang menjadi pertimbangan dominan.

Ada dalam suatu kisah, ketika Pangeran Andrei Bolkonsky menyukai Sophia, tidak disetujui. Alasannya, latar belakang sosial Sophia dianggap tidak sebanding dengan prince charming Andrei. Drama kemudian berjalan dari sini. 

Hal seperti itu jarang dijumpai di film-film ataupun cerita-cerita modern. Umumnya, pada zaman ini, saat dua pasangan saling tertarik, cerita fokus kepada romantisme melankolis kedua pasangan itu. Tidak pada bagaimana antar orang tua saling membicarakan pasangan yang tepat bagi anaknya dengan melihat posisi keluarga lain, baik dari segi politik, ekonomi, dan budaya, yang terefleksikan dalam percakapan-percakapan keseharian. 

Seorang teman yang kini tinggal di AS, menyampaikan mengenai kondisi sosial terkait dengan perkawinan di AS. Setidaknya bila sebuah pasangan memutuskan menikah, izin keluarga tidak terlalu diperlukan. Jadi, meskipun salah satu keluarga tidak menyetujui pernikahan itu, bukanlah ganjalan-ganjalan amat bagi pasangan tersebut. Mereka masih bisa melangsungkan pernikahan, dengan atau tanpa persetujuan orang tua. 

Menurut kawanku itu, muncul kesepahaman di antara orang-orang AS bahwa ketika mencapai usia dewasa (18 tahun ke atas), seseorang bertanggungjawab penuh terhadap pilihannya. Termasuk dalam hal memilih pasangan. Oleh sebab itu, kata kawanku lagi, orang-orang di sana tidak terlalu merecoki pilihan-pilihan yang diambil oleh anggota keluarganya dalam hal pernikahan. Terdengar sangat mengagung-agungkan kebebasan individual, setidaknya bagiku. 

Kebiasaan individualistis seperti itu, kupikir, ada kaitannya juga dengan sejarah terbentuknya negara tersebut. Awal mulanya AS berdiri, salah satunya sebagai bentuk perlawanan terhadap kerajaan Inggris. Para kolonis mencari peruntungan dengan mencari dataran baru, mencari lapak usaha baru yang tidak direcoki oleh tetek bengek monarki. Para kolonis itu hadir dengan semangat enterpreneurship-kemandirian dalam berusaha- yang menggelora dan menggebu-gebu.Dari gambaran besarnya, kehadiran para kolonis itu terkait dengan geliat ekspansi akibat akumulasi modal yang tercipta di Inggris. Semangat enterpreneuship itu menganggungkan kebebasan individu dalam memupuk kekayaan. Semangat itu berbeda dengan semangat monarki yang lebih mementingkan manner sebuah klan dalam mempertahankan eksploitasinya terhadap rakyat jelata.

II    

Hal lain yang kupetik dari kisah asmara yang terdapat dalam War and Peace adalah bahwa jalinan hubungan asmara yang didahului oleh proses menjodohkan, atau makcomblang, setidaknya tidak semata-mata produk “budaya timur” saja. Nyatanya, di Rusia pun  proses makcomblang ala hikayat Siti Nurbaya telah ada. Hal ini juga membawaku kepada kesimpulan lain, bahwa kondisi sosiologis masyarakat, atau corak produksi masyarakat, mempengaruhi munculnya kebiasaan makcomblang. Bukan semata-mata “adat timur” atau “adat barat” saja. 

Latar belakang masyarakat di novel War and Peace masih kental dengan corak feodal. Ikatan kekerabatan masih kental di masyarakat yang bercorak feodal. Penguasaan tanah dan lahan garapan oleh sebuah keluarga besar, merupakan hal yang umum di masyarakat feodal. Berbeda halnya dengan zaman kapitalisme, saat keluarga-keluarga besar yang menguasai tanah dengan jumlah yang besar jarang ditemui lagi.

Pada zaman ini kita menemukan lahan-lahan garapan yang dimiliki oleh korporasi- sebuah entitas yang coraknya jauh berbeda dengan keluarga. Korporasi dijalankan dengan aturan-aturan yang rigid, digerakkan oleh logika yang rasional-formal berbasiskan perhitungan untung-rugi, dan akumulasi modal menjadi panglimanya. Tidak ada hubungan kerja yang diistilahkan hamba sahaya dan tuan dalam kapitalisme, tetapi yang ada adalah hubungan kerja berdasarkan kontrak di atas hitam putih (meski benang merah eksploitasi masih ada, baik di masa feodalisme maupun kapitalisme. Eksploitasi yang sama itu hanya dijubahi oleh pakaian yang motifnya berbeda).   

Lantaran sebuah keluarga memiliki kekuasaan yang muncul dari kepemilikan atas tanah, tampaknya akan menjadi dasar yang “rasional” bila dalam hal perkawinan, latar belakang posisi keluarga (kekayaannya) calon pasangan sang anak sangat dipertimbangkan. Bisa jadi itu ada kaitannya juga dengan motif menjaga garis keturunan sebuah keluarga. Modal yang terakumulasi secara menahun oleh sebuah keluarga, dalam bentuk kepemilikan tanah dan akibat politis yang muncul darinya (jumlah hamba sahaya dan posisi politik di pemerintahan), sangat disayangkan bila tidak berkembang atau stagnan hanya karena penerus keluarga berpasangan dengan seseorang yang tidak memiliki apa-apa. Sementara bila calon pasangan itu berasal dari keluarga yang kekayaannya sama atau lebih tinggi, tentu  akan lebih bagus karena bisa mendongkrak akumulasi modal.

Tentang persoalan kepemilikan tanah sebuah keluarga ini, di novel War and Peace kita bisa membaca di sana-sini bagaimana seorang pangeran dari keluarga tertentu berurusan dengan kekayaannya dalam bentuk tanah itu. Ada seorang tokoh pangeran bernama Pyotr “Pierre” Kirillovich Bezhukov, misalnya, yang diceritakan sebagai seseorang yang pada awal mulanya menjadi kaum ningrat ibarat terkena ‘durian runtuh’. Saat Count Bezhukov tua sekarat, Pierre tidak masuk nominasi pewaris. Alasannya, Pierre tergolong anak tidak sah atau di kita disebutnya “anak haram”. Tapi, nyatanya Count Bezhukov tua memilih Pierre untuk menerima seluruh warisan kekayaan keluarga. Klan Bezhukov diceritakan sebagai keluarga dengan kekayaan berupa tanah (estate) paling berlimpah di Rusia. 

Atau di keluarga yang lainnya, kita akan bertemu dengan Andrei Bolkonsky. Berbeda nasibnya dengan keluarga Bezhukov, keluarga Bolkonsky mengalami kesulitan finansial. Salah satunya karena terdampak perang. Dalam War and Peace, kita akan membaca salah satu kisah Pangeran Andrei yang membereskan hutang-hutang dan penjualan aset lahan serta bangunan milik keluarganya. Pangeran Andrei sendiri kurang begitu bersemangat ketika masuk dalam urusan pengelolaan aset keluarganya itu. Dia sendiri lebih kerasan hidup di dunia militer.

III

Menyebutkan konsep pernikahan pada zaman sekarang berbeda dengan zaman feodal bisa jadi terlalu menggeneralisir. Di Indonesia, keluarga masih menjadi pertimbangan utama. Di negara-negara bercorak kerajaan di Eropa, masih ditemui adanya pernikahan yang dipengaruhi pertimbangan keluarga kerajaan. Lagipula, novel War and Peace banyak mengisahkan keluarga-keluarga elit di Rusia.  Kita tidak tahu bagaimana keadaan warga biasa di Rusia saat itu. Mungkin saja pertimbangan keluarga masih ada, meski dengan derajat berbeda (tidak terlalu ketat mempertimbangkan latar belakang sosial, politik, dan budaya, keluarga lain).

Setiap lapisan sosial masyarakat memiliki perilaku dan kondisinya sendiri-sendiri. Dalam satu titik, bisa jadi ada nilai-nilai yang mirip. Tapi di titik yang lainnya, bisa jadi ada nilai-nilai yang sama sekali bertentangan dan tidak bisa didamaikan.

Struktur masyarakat yang didominasi oleh corak tertentu (feodalisme atau kapitalisme) akan berpengaruh terhadap cara pandang masyarakatnya. Akan muncul etika-etika dari kelas yang menikmati surplus modal. Dan, etika-etika itu belum tentu sama dengan lapisan masyarakat dimana surplus modal itu diambil. Meskipun, ada Antonio Gramsci yang mengemukakan konsep hegemoni, dimana nilai-nilai suatu kelas yang berkuasa akan dianggap sebagai kewajaran oleh lapisan masyarakat yang dikuasai.  

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Saya sangat senang membaca ulasan kamu tentang War and Peace. Saya sendiri menamatkan buku ini tahun 2015, setahun sebelum BBC meluncurkan adaptasinya yang berdurasi 6 episode itu.

Yang paling membuat saya salut adalah bagaimana kamu bisa menghubungkan tulisan Tolstoy dengan Gramsci, terutama mengenai kelas elit. Pada masa pra-Revolusi Bolshevik, kaum elit Rusia memang terasingkan dari masyarakatnya sendiri karena kuatnya adopsi budaya Prancis, termasuk dalam penggunaan bahasa Prancis. Posisi bahasa sendiri secara sosiolinguistik memang tidak netral, dan karenanya menjelang serta dalam penguasaan Prancis (Napoleon) atas Rusia, terjadi kepanikan di kalangan bangsawan untuk melepaskan diri dari Bahasa Prancis.


Ulasan War and Peace saya ada di sini (jika kamu tertarik).

https://medium.com/@astridafn/the-peace-the-war-and-the-lives-in-between-e1a4fe2178f2

Narratur mengatakan...

All is fair in love and war 😁

Anonim mengatakan...

keren bang analisisnya.