Minggu, 09 Maret 2014

journalism/lonerism



Sail Away karya Sahrul Haetamy Ananto

Cecep antusias. Dia menemukan bahan yang dianggapnya bagus untuk dibuat tulisan feature. Pertemuan dengan anak buah kapal yang bertugas di Trinidad-Tobago, Kepulauan Karibia, menggugah dirinya untuk mengajukan sebuah tulisan feature berseri. 

Dia sudah merancang arah cerita mengenai salah seorang ABK yang ditelantarkan oleh perusahaan perlayaran di kepulauan Trinidad-Tobago itu dalam salah satu seri tulisan feature-nya. Bagaimana seorang ABK itu, ketika pertama kali bekerja di kapal, disambut dengan kata-kata;  “selamat datang di neraka” oleh ABK lainnya yang telah lama bekerja. Sungguh terasa seperti punchline yang gahar.

Kemudian, Cecep juga sudah mulai merancang, bagaimana perjuangan sekelompok ABK yang ditelantarkan itu mencari keadilan, mulai dari mendatangi dinas tenaga kerja di daerah Indramayu hingga ke kementrian ketenagakerjaan di pusat. 

Berangkat dari bahan-bahan dan rancangan tulisan itu, Cecep mulai mengirimkan pesan singkat ke redakturnya. Memberitahu redakturnya itu bahwa dia berniat membuat tulisan feature berseri. “Ya sudah, kirimkan saja tulisannya,” kata Cecep kepadaku, menirukan balasan pesan singkat redakturnya itu.

Waktu berselang, dan tulisan feature seri pertamanya rampung. Tulisan itu pun langsung dia kirimkan via surel. “Eh, pas liat koran besoknya, tulisan itu ga dimuat,” kata Cecep sambil cengengesan. Dia memang suka cengengesan orangnya. 

“Terus, kamu tanyain kenapa tulisan itu ga dimuat,” kataku menimpali. 

“Engga. Udah kadung malas,” katanya sambil tersenyum (lagi-lagi) cengengesan.

Mencari tahu kenapa sebuah tulisan tidak dimuat, terkadang seperti berupaya melihat rambu-rambu di tengah gunung yang sedang berkabut tebal. Meraba-raba, dan seringkali tidak jelas. Aku pun pernah bertanya kepada redaktur tentang sebuah tulisan yang tidak dimuat. Padahal, redaktur ku itu yang menyuruhku membuatnya. Saat ditanya kenapa, dia hanya menjawab enteng, “ga kenapa-kenapa.”

Dari jawaban itu, aku tidak ngotot, dan juga tidak memperpanjangnya. Hanya saja, aku sudah mencatat dalam benak kelakuan dia, dan aku tidak akan melupakannya. 

Kalau kita paranoid, kita bisa dengan mudah menyalahkan diri kita sendiri soal tulisan yang tidak dimuat ini. Bahkan sampai sangat rendah diri kita dibuatnya; tulisan kita jelek, dan kita kita tidak berkompeten untuk membuatnya, misalnya. Tapi, terkadang ada alasan lain di luar itu, seperti halaman yang penuh, sampai kealpaan redaktur, bisa saja terjadi. Tapi, aku sendiri tidak bisa menganalisis secara akurat dari sekian kemungkinan itu, manakah yang paling benar. 

Seorang wartawan (Andreas Harsono) pernah menulis, bahwa menciptakan suasana demokratis di media massa itu perlu. Bagaimana antara wartawan dan redaktur bisa saling diskusi dan berdebat mengenai suatu persoalan, itu perlu. Tapi, lanjut dia lagi, menciptakan suasana seperti itu tidak mudah. Menurutnya, membolehkan tiap individu wartawan menyuarakan hati nurani pada dasarnya membuat urusan manajemen jadi lebih kompleks. Sementara, media massa selalu dibayang-bayangi oleh deadline. 

Kapitalisme.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

duet maut penulis dan ilustrator :D