Sabtu, 29 September 2012

Fragmen-fragmen yang Berpendar


Beberapa bulan terakhir ini aku tak pernah beribadah, memikirkan sesuatu bernama spiritual, atau bahkan tuhan. Beberapa bulan terakhir yang ku ingat hanyalah jalan raya, rentetan gedung, dan awan yang biru. Kendaraan dan manusia hilir mudik secara bergantian maupun acak dalam pandanganku....

Waktu bergulir, terus bergulir... Pagi yang hangat, senja yang pilu, dan malam yang dingin. Angin seringkali menerpa tubuh ketika ku berkendara dari satu wilayah ke wilayah yang lainnya. Kadang-kadang ia menerpa dengan lembut sehingga menyejukkan, namun tak jarang ia menerpa dengan keras, dan entah kenapa, terasa kering.

Seakan-akan sebuah ritme, pergantian demi pergantian suasana mengalun dengan cepat. Ingatan terasa seperti rentetan kilasan, dan serpihan, yang bergerak serba tergesa.

Seringkali terbesit dalam pikiran; aku ingin sebuah ketenangan. Namun, ide tentang ibadah spiritual yang seringkali dianggap sebagai penyejuk batin di tengah arus kehidupan yang keras, tak lagi menjadi sesuatu yang menarik bagi ku.

Aku tetap menjalani hari. Meski di sekelilingku berceloteh sesuatu hal yang membangkitkan semangat dan berbicara tentang sesuatu yang sedemikian klise. Aku tetap tak perduli dan menghindari pertengkaran yang tak perlu. Aku mengikuti alur. Mungkin aku lelah. Sudah tak kuasa lagi mencari tahu kemana ku terbawa arus.

Terbayang dalam benakku, sebuah potret senja di padang ilalang. Matahari merah di ufuk barat yang turut mewarnai gugusan awan dan langit, sinarnya yang hangat...lalu, kau merasa seakan-akan ada yang menyusuri kulit dengan sangat lembut, ketika semilir angin menyentuh dirimu...

Nuansa.

Tidak ada komentar: