Sabtu, 26 Juli 2008

God is Awesome

Ada seorang kawan saya semasa SMP, namanya Rizky Harta Cipta. Ia berbeda dengan kebanyakan orang di SMP saya dulu. Perbedaannya juga sangat menyolok. Jadi, saat Rizky masih duduk di bangku SD, ia mengalami kecelakaan. Mukanya terkena semacam cairan kimia yang ngebuat wajahnya penuh bekas luka bakar dan matanya juga jadi ga bisa ngeliat jarak jauh, nyaris buta. Sampai-sampai, untuk berangkat kesekolah harus ada seseorang yang menuntunnya supaya  bisa berjalan. Si Rizky ini selalu make kacamata buat nutupin bekas luka bakar di matanya. Saya pernah ngeliat mata Rizky yang tanpa kacamata, dan jujur saja, bagi saya bekas luka pada matanya itu cukup mengerikan. Memang lebih baik bagi Rizky memakai kacamata untuk menutupi lukanya itu.

Untuk seukuran anak SMP, kendala fisik seperti itu pasti-sedikit banyak-meninggalkan luka mental juga. SMP itu masa-masanya ‘beger’, kan? Main lagi semangat-semangatnya, bergerak juga lagi lincah-lincahnya, lagi pengen ganteng atau cantik-cantiknya. Tapi, Rizky ga bisa jadi anak SMP yang normal pada masanya.

Ada satu memori yang masih saya ingat tentangnya. Jadi, kalo udah saatnya waktu istirahat dan anak-anak kelas pada berhamburan semua ke luar, si Rizky ini ga pernah beranjak dari tempat duduknya. Dia duduk aja sendiri gitu di kelas. Mungkin karena terhalang oleh keterbatasan matanya yang nyaris buta dan tidak ada seorangpun yang menuntunnya untuk istirahat, jadinya dia diam ga kemana-mana. Kadang-kadang ada satu-dua teman yang menemaninya di kelas saat istirahat, walaupun ga pernah lama (entahlah, pada pengen maen di luar kelas, kali).

                Walaupun gitu, ada juga kelebihan yang dia miliki. Kelebihannya juga sangat menyolok di antara kawan-kawan yang lainnya, khususnya kawan-kawan sekelas (termasuk saya, berarti). Untuk urusan nilai, Rizky selalu berada di peringkat tertinggi. Itu berarti selalu rangking pertama untuk urusan Rapor dan Ia selalu konstan dalam masalah rangking pertama itu: dari kelas 1 sampai lulus tidak pernah beranjak sedikitpun. Untuk masalah kepintaran, jelas Rizky punya kelebihan.

Kepintaran tanpa semangat sama aja bohong. Orang hanya pintar saja, tanpa punya semangat, buat saya pasti ga akan kepake nantinya. Nah, untuk urusan semangat ini juga, Rizky punya kelebihan tersendiri dan unik.  Khususnya dalam hal militansi semangat belajarnya yang tinggi. Contohnya, seperti dalam proses belajar mengajar di kelas. Orang-orang yang tidak mempunyai kendala fisik seperti Rizky, hanya cukup mencatat apa-apa yang diberikan oleh guru di kelas. Tapi Rizky ga begitu caranya. Setiap hari dia selalu bawa recorder ke sekolah. Jadi, ia merekam apa-apa yang dibicarakan oleh guru di kelas. Ngeliat papan tulis tidak memungkinkan baginya. Pulangnya ia akan memutar kembali di rumah. Mendengar ulang recorder-nya buat nge-review pelajaran yang diterima di sekolah. Begitulah caranya belajar. Kebayang ga, dalam hal belajar, kalo dia bakal ngelakuin hal itu selama 3 tahun…atau mungkin seterusnya? Harus ngehabisin berapa kaset coba kalau kaya gitu terus? Maka dari itu, kenapa saya sebut si Rizky ini punya militansi semangat belajar yang tinggi. Kalo misalnya lagi ujian, si Rizky ini metodenya juga ga ngisi soal-soal kaya yang laen. Tapi, selalu tanya jawab. Biasanya untuk Rizky, ujian selalu ada waktu khususnya.

Saat SMA, kebetulan Rizky satu sekolah lagi dengan saya di SMA 19, dan untuk setahun masa SMA kelas 3, Rizky sekelas lagi dengan saya. Polanya si Rizky juga masih ga berubah, gitu-gitu aja: tetep bawa recorder dan ga pernah keluar ketika waktu istirahat tiba. Dalam hati pernah terbesit pikiran, sebenernya. Coba, gimana caranya dia bisa bertahan di masa-masa SMA seperti itu. Masa-masa, yang konon, penuh dengan kesan yang mendalam (walaupun buat saya sama sekali tidak!). Masa-masa, yang katanya, dimana lelaki mengajak kencan seorang perempuan untuk yang pertama kalinya, masa-masa dimana kamu mabok di wese, ketauan ngerokok di kantin, mabal sekolah, berantem dengan orang lain…hell, gimana caranya dia bisa bertahan tanpa mengalami masa-masa SMA seperti itu, coba? Masa-masa ketika gelora jiwa muda sedang berada di tingkat maksimum. Pengen nyoba macem-macem. Dalam hati, saya berani taruhan, dia juga pasti ada keinginan menjadi seperti “teman-teman yang lainnya”…menjadi “pada umumnya”. Gimana coba ngehadepin pikiran-pikiran kaya gitu? Tapi, Ia nyatanya memang bertahan. Setidaknya ia lulus masih dengan nilai tertinggi dibandingkan yang lain dan juga, ia lolos SPMB. Masuk Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Hukum. Hellyeah, brother.

 Semenjak masuk kuliah di tahun 2002, terakhir kali saya bertemu dengannya, kalo ga salah, adalah pada tahun tahun 2003. Di saat teman-teman kelas SMP dulu ngadain  acara buka puasa bareng. Setelah itu, saya hilang kontak. Nah, kemaren-kemaren (Kamis, 24 Juli ’08), saya baca Kompas suplemen Jabar. Di rubrik Forum saya terkejut juga pas ngeliat ada artikel Rizky yang mengangkat tentang masalah SMS premium. Entahlah, saya ga ngerti masalah yang ditulisnya apa. Pokoknya dikait-kaitkan dengan bidang hukumlah. Cuman, waktu ngeliat artikelnya, saya semakin kagum sama orang ini. Edan, ni orang jadi melek hukum, pikir saya. semakin kagetnya lagi pas saya ngeliat catatan akhir penulis di artikelnya itu. Di situ tertulis: “Rizky Harta Cipta, Praktisi Hukum; Lulusan Hukum Pidana dan Master Hukum Bisnis Universitas Padjadjaran Bandung”. Haha, gila. Ni orang militan. Dengan segala keterbatasan fisiknya, ia masih terus melesat.

Tiba-tiba juga saya jadi inget Tuhan. God is Awesome. Dalam setiap keterbatasan atau kegagalan pasti ada hikmah. Itu yang terbesit pertama kali setelah saya ingat Tuhan. Ga percuma Tuhan nyiptain sesuatu di alam ini. Walaupun, seringkali sesuatu itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Menyisakan kesusahan atau penderitaan yang seringkali terasa menyengsarakan, tapi selalu saja ada hal baik yang menyertai di dalamnya. Memberi karunia tersendiri. Walaupun, memang tidak sedikit juga orang-orang yang ga sabaran ngehadepinnya, sehingga jatuh-jatuhnya jadi ‘aral sendiri’. Like me, for example. Hehe.

Ah, hal yang baik sepertinya memang ada di setiap sudut kehidupan. Segelap apapun sudut itu. God is fukkin awesome, indeed.    

14 komentar:

sandrie justsandrie mengatakan...

oh my god...
gua sampe merinding baca tulisan lu
temennya emang pinter banget!
tuhan selalu memberikan jalan untuk sukses...
btw lu temennya dinda ya?
salam kenal...

the great princess mengatakan...

edan pisan ya rizky
keren2
salut lah
geli geli
saya udh lama ga ktm rizky
eh emang rizky anak smp7 gitu?
anjiss aing bnr teu gaul uy
btw saya eksis juga ya di foto nyah nyah nyah
heheheh

Aji Hutomo Putra mengatakan...

Waduh keren amat bo ky d film...

Ardhy Ahahaha mengatakan...

Wah tulisan yg bagus...salute!

afwan albasit mengatakan...

bo babaturan mah geus jadi praktisi,,mneh iraha bo?hahahaha

era we ku nu teu ningali.....

abo si eta tea mengatakan...

hehe, beda Ji. kalo di film mah pake skenario, ini mah engga. heu.

abo si eta tea mengatakan...

urang geus jadi praktisi, Wan. praktisi hedon. hehe.

abo si eta tea mengatakan...

meureun...kata kamu gimana? hehe.

abo si eta tea mengatakan...

tiba-tiba inget pepatah orang barat, Dhy. katanya, words don't mean, but people does.

afwan albasit mengatakan...

kan mneh agen chaos....hahaha

joker emang edan,,,

abo si eta tea mengatakan...

why so serious?hehe.

madoen laszlow mengatakan...

'gimana caranya dia bisa bertahan di masa-masa SMA seperti itu. Masa-masa, yang konon, penuh dengan kesan yang mendalam (walaupun buat saya sama sekali tidak!)'

maneh teu boga awewe sih bo..!!

tapi yang penting mah militansi belajar!!! HEAVEN YEAH!!!..
good story, it's so inspire.. hhahaha

ta

abo si eta tea mengatakan...

abong-abong pernah deukeut jeung adi kelas, beul!haha.

feni freycinetia mengatakan...

militansi belajar..gelo siah.si rizky kudu asup ka oprah siah bo.biar org2 ky qt jd rajin kuliah :kita?elo kali dor.huhu..era urg jdny