Baru saja mulai membaca buku Sejarah Pemikiran Politik dari Martin
Suryajaya. Tampaknya isi buku ini akan komprehensif dan lumayan ambisius.
Martin akan membentangkan sejarah pergulatan pemikiran politik dalam rentang
waktu yang sangat panjang dan hal itu tidak main-main, karena dibutuhkan
ketekunan yang ekstra dan penalaran yang mumpuni untuk bisa melakukannya.
Buku yang kini sedang kubaca merupakan bagian pertama dari rentetan sejarah
pemikiran politik yang akan dipaparkannya dalam empat bagian. Secara
keseluruhan, akan ada empat jilid buku yang ditulisnya mengenai sejarah
pemikiran politik. Setiap jilidnya akan menandakan sejarah pemikiran politik
yang dibatasi dalam suatu periode tertentu dan disusun secara kronologis. Untuk
buku bagian pertama, paparan sejarah pemikiran politik dibatasi pada rentang
waktu periode klasik, yakni dari masa prasejarah sampai abad ke-4 Masehi.
Adapun ketiga jilid lainnya belum diterbitkan, setidaknya pada saat aku
mengunggah catatan ini ke blog. Namun dalam pengantar buku pertama, ada
keterangan bila jilid kedua akan berisi sejarah pemikiran politik abad
pertengahan, yakni dari abad ke-4 sampai ke-16. Lalu jilid ketiga akan berisi
sejarah pemikiran politik modern, yakni dari abad ke-16 sampai ke-19 dan jilid
terakhir akan berisi sejarah pemikiran politik kontemporer, yakni dari abad
ke-19 sampai abad ke-21.
Melihat periode sejarah yang akan dipaparkan Martin, tentu ini adalah hal
yang sangat luar biasa. Pergulatan beratus-ratus tahun di antara para pemikir
dunia akan dicoba dianalisa dan dipaparkannya ke dalam empat jilid buku.
Membicarakan satu pemikir saja seringkali banyak orang belum tuntas
membahasnya. Katakanlah kita bicarakan satu pemikir, seperti Karl Marx,
misalnya. Marx memiliki satu karya besar berjudul Das Capital. Buku itu terdiri
dari 3 volume. Untuk buku volume I saja, memakan sampai 900 sekian
halaman. Belum volume II dan III. Itu untuk karya besarnya. Di luar Das
Capital, Marx juga setidaknya telah mempublikasikan ratusan artikel.
Sekarang bayangkan, bila ide-ide para pemikir politik yang ada dalam
periode tertentu dianalisa satu per satu. Jumlah pemikir yang ada dalam rentang
waktu, katakanlah, 13 abad tentu tidak hanya 1-2 orang saja. Sistem pemikiran
yang kompleks dari banyak orang itu kemudian diambil saripatinya dan dituangkan
dalam sebuah tulisan yang tebalnya “hanya” 325 halaman. Masalahnya, setiap
pemikir juga memiliki sistem pemikiran tersendiri yang seringkali berkebalikan
dengan pemikir lainnya. Belum lagi ketika berupaya memahami konteks yang
melingkupi pemikir, terutama kondisi lingkungannya secara luas, baik dalam hal
ekonomi, sosial dan politik. Memahami konteks seperti itu dan menganalisanya
tentu harus ditopang literatur yang kuat.
Bila melihat daftar pustaka, Martin membagi bahan bacaannya dalam menyusun
buku jilid pertama ini ke dalam dua bagian, yakni daftar pustaka primer dan
sekunder. Daftar pustaka primer itu artinya adalah karya-karya “tangan
pertama”. Di daftar primer ini, Martin mencantumkan 70 judul buku. Sementara
untuk daftar sekunder atau karya-karya “tangan kedua, dst”, Martin mencantumkan
119 judul buku.
Untuk daftar primer, lantaran jilid pertama fokus di periode prasejarah
sampai abad ke-4 M, rujukannya berasal dari karya-karya filsuf era Yunani kuno
dan sedikit di antaranya juga ada yang berasal dari karya-karya pemikir
“Timur”, yakni India dan Cina. Beberapa nama filsuf Yunani Kuno mungkin sudah
cukup dikenal di Indonesia. Sebutlah Aristoteles, Epicurus, dan Cicero,
sepertinya sudah banyak disebut di sana-sini. Meskipun, nama-nama itu, bagi
kebanyakan orang di Indonesia, sepertinya hanya cukup berseliweran saja.
Tergolong jarang bila karya-karya mereka dibaca secara mendalam oleh
orang-orang di sini.
Martin juga menyisipkan karya-karya langsung para pemikir dari daratan Cina
dan India. Dari India, tercatat ada buku karangan Kautilya berjudul The
Arthashastra dan dari Cina, tercatat ada buku karangan Confucius yang
diterjemahkan oleh Edward Slingerland berjudul Analects, dan buku Mo Tzu
yang diterjemahkan oleh Wing-Tsit Chan berjudul A Sourcebook in Chinese Philosophy.
Dalam buku ini, Martin tidak hanya mengupas pemikiran politik zaman Yunani
Kuno dan Romawi saja. Namun dia juga mencoba memaparkan tradisi pemikiran
politik dari “Timur”. Bahkan, dalam awal-awal pembahasannya, Martin juga
berupaya menjelaskan politik di zaman prasejarah. Zaman dimana belum
ditemukannya tulisan. Bahasan politik pada zaman prasejarah cukup unik, menurut
saya. Sepertinya diperlukan satu tulisan tersendiri untuk mengomentarinya.
Kemudian untuk daftar sekunder, jenis buku yang dicantumkan seperti
pengantar terhadap suatu pokok persoalan oleh seorang komentator. Topik-topik
yang ada dalam daftar sekundernya seperti menjadi gambaran yang memandu
pembacaan atas buku-buku di daftar primer. Beberapa contoh di antaranya adalah
buku Matthew Dillon & Lynda Garland berjudul Ancient Greece: Social
and Historical Documents from Archaic Times to the Death of Alexander the Great,
atau buku Victor Ehrenberg berjudul From Solon to Socrates: Greek History
and Civilization During 6th and 5th Centuries BC. Buku-buku seperti itu
akan berguna sebagai pendamping ketika membaca langsung karya-karya para
pemikir zaman Yunani Kuno. Minimal untuk memberikan gambaran konteks
pemikiran-pemikiran yang berkembang di era itu.
Bila melihat daftar pustaka, total 189 buku yang menjadi rujukan Martin
untuk menulis tentang sejarah pemikiran politik klasik. Dengan catatan,
semuanya merupakan buku yang ditulis dengan bahasa inggris dan 70 buku di
antaranya merupakan karya-karya langsung dari para pemikir politik klasik,
terutama filsuf Yunani kuno.
Mengapa pembacaan langsung terhadap karya-karya pemikir yang menjadi topik
pembicaraan penting? Dengan berupaya mendekati langsung karya seorang pemikir,
setidaknya kita menjadi tahu persis apa yang dikatakan seseorang.
Berbeda bila kita ingin mengetahui pokok pikiran seseorang, tetapi kita mencari
tahunya lewat karya pengantar dan karya itu pun sudah dialih bahasakan
sedemikian rupa. Akan ada bagian-bagian yang tidak tertangkap dan kadang
menghilangkan maksud utama sang penulis dengan cara pembacaan seperti itu.
Dampaknya, penulisan kita bisa saja melenceng jauh dari apa yang dimaksudkan
oleh penulis aslinya. Paling berbahaya, tulisan yang melenceng itu bisa
menimbulkan kesesatan berpikir bagi orang-orang yang datang kemudian hari untuk
membacanya.
Pembacaan langsung ke karya-karya pemikir juga menandakan kegigihan penulis
dalam mencoba mengupas suatu karya pemikir. Secara personal, pembacaan langsung
ini menjadi penting terutama bila berkaca kepada pengalamanku ketika jaman
penulisan skripsi. Banyak mahasiswa (termasuk aku) yang mengandalkan buku-buku
berjenis pengantar ketika membahas suatu teori yang berasal dari tokoh
tertentu. Kala itu, kami sudah cukup puas membahas suatu teori dengan hanya
mengandalkan rujukan buku pengantar yang sudah dialihbahasakan oleh sarjana
lokal. Itu artinya, kami bukan hanya mengandalkan buku dari tangan kedua,
tetapi juga buku-buku dari tangan ketiga dan seterusnya. Cara-cara
seperti itu beresiko. Tidak hanya beresiko menghilangkan bagian-bagian dari
sebuah gagasan, tetapi juga beresiko melencengnya pemahaman kita atas teori
yang dimaksud. Dan hasilnya, isi skripsi itu pun jauh dari jernih dan
komprehensif.
Selain itu, menjadi catatan pula, penerbitan buku ini berbarengan dengan
karya Martin yang lain, yakni Sejarah Estetika. Buku Sejarah Estetika lebih
tebal lagi, penulisannya hampir mencapai 1.000 halaman. Pengerjaan Sejarah
Estetika tergolong cepat, hanya 1 tahun. Tergolong cepat terutama bila melihat
daftar pustaka yang semuanya menggunakan bahasa inggris dan merupakan
karya-karya langsung dari pemikirnya. Bisa dibilang, Martin adalah penulis yang
produktif dan brilian. Sejenis spesies langka di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar