Selasa, 06 Desember 2016

Catatan Tentang Sejarah Pemikiran Politik




Baru saja mulai membaca buku Sejarah Pemikiran Politik dari Martin Suryajaya. Tampaknya isi buku ini akan komprehensif dan lumayan ambisius. Martin akan membentangkan sejarah pergulatan pemikiran politik dalam rentang waktu yang sangat panjang dan hal itu tidak main-main, karena dibutuhkan ketekunan yang ekstra dan penalaran yang mumpuni untuk bisa melakukannya.

Buku yang kini sedang kubaca merupakan bagian pertama dari rentetan sejarah pemikiran politik yang akan dipaparkannya dalam empat bagian. Secara keseluruhan, akan ada empat jilid buku yang ditulisnya mengenai sejarah pemikiran politik. Setiap jilidnya akan menandakan sejarah pemikiran politik yang dibatasi dalam suatu periode tertentu dan disusun secara kronologis. Untuk buku bagian pertama, paparan sejarah pemikiran politik dibatasi pada rentang waktu periode klasik, yakni dari masa prasejarah sampai abad ke-4 Masehi.

Adapun ketiga jilid lainnya belum diterbitkan, setidaknya pada saat aku mengunggah catatan ini ke blog. Namun dalam pengantar buku pertama, ada keterangan bila jilid kedua akan berisi sejarah pemikiran politik abad pertengahan, yakni dari abad ke-4 sampai ke-16. Lalu jilid ketiga akan berisi sejarah pemikiran politik modern, yakni dari abad ke-16 sampai ke-19 dan jilid terakhir akan berisi sejarah pemikiran politik kontemporer, yakni dari abad ke-19 sampai abad ke-21.

Melihat periode sejarah yang akan dipaparkan Martin, tentu ini adalah hal yang sangat luar biasa. Pergulatan beratus-ratus tahun di antara para pemikir dunia akan dicoba dianalisa dan dipaparkannya ke dalam empat jilid buku. Membicarakan satu pemikir saja seringkali banyak orang belum tuntas membahasnya. Katakanlah kita bicarakan satu pemikir, seperti Karl Marx, misalnya. Marx memiliki satu karya besar berjudul Das Capital. Buku itu terdiri dari 3 volume. Untuk buku volume I saja, memakan sampai 900 sekian halaman.  Belum volume II dan III. Itu untuk karya besarnya. Di luar Das Capital, Marx juga setidaknya telah mempublikasikan ratusan artikel.

Sekarang bayangkan, bila ide-ide para pemikir politik yang ada dalam periode tertentu dianalisa satu per satu. Jumlah pemikir yang ada dalam rentang waktu, katakanlah, 13 abad tentu tidak hanya 1-2 orang saja. Sistem pemikiran yang kompleks dari banyak orang itu kemudian diambil saripatinya dan dituangkan dalam sebuah tulisan yang tebalnya “hanya” 325 halaman. Masalahnya, setiap pemikir juga memiliki sistem pemikiran tersendiri yang seringkali berkebalikan dengan pemikir lainnya. Belum lagi ketika berupaya memahami konteks yang melingkupi pemikir, terutama kondisi lingkungannya secara luas, baik dalam hal ekonomi, sosial dan politik. Memahami konteks seperti itu dan menganalisanya tentu harus ditopang literatur yang kuat.

Bila melihat daftar pustaka, Martin membagi bahan bacaannya dalam menyusun buku jilid pertama ini ke dalam dua bagian, yakni daftar pustaka primer dan sekunder. Daftar pustaka primer itu artinya adalah karya-karya “tangan pertama”. Di daftar primer ini, Martin mencantumkan 70 judul buku. Sementara untuk daftar sekunder atau karya-karya “tangan kedua, dst”, Martin mencantumkan 119 judul buku.

Untuk daftar primer, lantaran jilid pertama fokus di periode prasejarah sampai abad ke-4 M, rujukannya berasal dari karya-karya filsuf era Yunani kuno dan sedikit di antaranya juga ada yang berasal dari karya-karya pemikir “Timur”, yakni India dan Cina. Beberapa nama filsuf Yunani Kuno mungkin sudah cukup dikenal di Indonesia. Sebutlah Aristoteles, Epicurus, dan Cicero, sepertinya sudah banyak disebut di sana-sini. Meskipun, nama-nama itu, bagi kebanyakan orang di Indonesia, sepertinya hanya cukup berseliweran saja. Tergolong jarang bila karya-karya mereka dibaca secara mendalam oleh orang-orang di sini.

Martin juga menyisipkan karya-karya langsung para pemikir dari daratan Cina dan India. Dari India, tercatat ada buku karangan Kautilya berjudul The Arthashastra dan dari Cina, tercatat ada buku karangan Confucius yang diterjemahkan oleh Edward Slingerland berjudul Analects, dan buku Mo Tzu yang diterjemahkan oleh Wing-Tsit Chan berjudul A Sourcebook in Chinese Philosophy

Dalam buku ini, Martin tidak hanya mengupas pemikiran politik zaman Yunani Kuno dan Romawi saja. Namun dia juga mencoba memaparkan tradisi pemikiran politik dari “Timur”. Bahkan, dalam awal-awal pembahasannya, Martin juga berupaya menjelaskan politik di zaman prasejarah. Zaman dimana belum ditemukannya tulisan. Bahasan politik pada zaman prasejarah cukup unik, menurut saya. Sepertinya diperlukan satu tulisan tersendiri untuk mengomentarinya.

Kemudian untuk daftar sekunder, jenis buku yang dicantumkan seperti pengantar terhadap suatu pokok persoalan oleh seorang komentator. Topik-topik yang ada dalam daftar sekundernya seperti menjadi gambaran yang memandu pembacaan atas buku-buku di daftar primer. Beberapa contoh di antaranya adalah buku Matthew Dillon & Lynda Garland berjudul Ancient Greece: Social and Historical Documents from Archaic Times to the Death of Alexander the Great, atau buku Victor Ehrenberg berjudul From Solon to Socrates: Greek History and Civilization During 6th and 5th Centuries BC. Buku-buku seperti itu akan berguna sebagai pendamping ketika membaca langsung karya-karya para pemikir zaman Yunani Kuno. Minimal untuk memberikan gambaran konteks pemikiran-pemikiran yang berkembang di era itu.

Bila melihat daftar pustaka, total 189 buku yang menjadi rujukan Martin untuk menulis tentang sejarah pemikiran politik klasik. Dengan catatan, semuanya merupakan buku yang ditulis dengan bahasa inggris dan 70 buku di antaranya merupakan karya-karya langsung dari para pemikir politik klasik, terutama filsuf Yunani kuno.   

Mengapa pembacaan langsung terhadap karya-karya pemikir yang menjadi topik pembicaraan penting? Dengan berupaya mendekati langsung karya seorang pemikir, setidaknya kita menjadi tahu persis apa yang dikatakan seseorang. Berbeda bila kita ingin mengetahui pokok pikiran seseorang, tetapi kita mencari tahunya lewat karya pengantar dan karya itu pun sudah dialih bahasakan sedemikian rupa. Akan ada bagian-bagian yang tidak tertangkap dan kadang menghilangkan maksud utama sang penulis dengan cara pembacaan seperti itu. Dampaknya, penulisan kita bisa saja melenceng jauh dari apa yang dimaksudkan oleh penulis aslinya. Paling berbahaya, tulisan yang melenceng itu bisa menimbulkan kesesatan berpikir bagi orang-orang yang datang kemudian hari untuk membacanya.

Pembacaan langsung ke karya-karya pemikir juga menandakan kegigihan penulis dalam mencoba mengupas suatu karya pemikir. Secara personal, pembacaan langsung ini menjadi penting terutama bila berkaca kepada pengalamanku ketika jaman penulisan skripsi. Banyak mahasiswa (termasuk aku) yang mengandalkan buku-buku berjenis pengantar ketika membahas suatu teori yang berasal dari tokoh tertentu. Kala itu, kami sudah cukup puas membahas suatu teori dengan hanya mengandalkan rujukan buku pengantar yang sudah dialihbahasakan oleh sarjana lokal. Itu artinya, kami bukan hanya mengandalkan buku dari tangan kedua, tetapi juga buku-buku dari tangan ketiga dan seterusnya.  Cara-cara seperti itu beresiko. Tidak hanya beresiko menghilangkan bagian-bagian dari sebuah gagasan, tetapi juga beresiko melencengnya pemahaman kita atas teori yang dimaksud. Dan hasilnya, isi skripsi itu pun jauh dari jernih dan komprehensif.

Selain itu, menjadi catatan pula, penerbitan buku ini berbarengan dengan karya Martin yang lain, yakni Sejarah Estetika. Buku Sejarah Estetika lebih tebal lagi, penulisannya hampir mencapai 1.000 halaman. Pengerjaan Sejarah Estetika tergolong cepat, hanya 1 tahun. Tergolong cepat terutama bila melihat daftar pustaka yang semuanya menggunakan bahasa inggris dan merupakan karya-karya langsung dari pemikirnya. Bisa dibilang, Martin adalah penulis yang produktif dan brilian. Sejenis spesies langka di Indonesia.

Tidak ada komentar: