Senin, 16 Juni 2014

Mengolah Mangrove di Tepian Pesisir Tandus


Menunggu cukup lama agar tulisan ini bisa dimuat. Menunggu hingga kurang lebih dua minggu. Tapi, akhirnya tulisan ini bisa dimuat juga di Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Senin, 16 Juni 2014. Meski banyak tulisan yang dipotong, karena keterbatasan halaman.

Secara personal, proses pembuatan tulisan ini sangat kunikmati: menyusuri perkampungan, melihat areal pertambakan, jajaran pohon mangrove di tepian sungai..pengalaman yang menyenangkan, dan tentunya berharga. 

Selamat membaca, dan menikmati tulisan ini, seperti saya menikmati proses pembuatannya :)


Sejak tambak udang booming sekitar akhir tahun 1990-an, wajah pesisir Kabupaten Indramayu berubah. Mayoritas wilayah pesisir pantai menjadi tandus, karena banyak pohon dan tumbuhan yang dibabat untuk kepentingan tambak udang. Kecenderungan pembabatan pun semakin meluas, karena dengan orientasi peningkatan produksi, diperlukan lahan tambak udang baru untuk bisa mewujudkannya.

Saat ini, persoalan ekologi menjadi salah satu hal yang mewarnai wilayah pesisir Indramayu. Abrasi karena minimnya vegetasi kerap terlihat, begitu juga dengan biota laut yang kehilangan habitatnya seiring vegetasi di pesisir pantai terus berkurang. Kantor Lingkungan hidup Kabupaten Indramayu mencatat, dari 147 kilometer panjang garis pantai Indramayu, 60 persen di antaranya tergerus abrasi.


Di tengah-tengah kondisi seperti itu, sekelompok kecil warga dari Desa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu, merintis penanaman dan pengelolaan pohon mangrove semenjak tahun 2008. Dalam upayanya tersebut, setidaknya ada dua tujuan besar yang hendak dicapai, yakni meningkatkan kelestarian lingkungan di wilayah pesisir, dan bersamaan dengan itu, membangun perekonomian warga melalui pemanfaatan buah serta daun mangrove.


Sekelompok kecil warga Desa Pabean Udik tersebut bergabung dalam Kelompok Tani Jaka Kencana. Semenjak tahun 2008, mereka aktif menanam pohon mangrove di desanya. Saat ini, luasan lahan yang telah ditanam mangrove oleh mereka sebesar 70 hektare. Lahan tersebut terletak di Blok Pancer Song, Desa Pabean Udik. Namun demikian, mangrove yang telah ditanam juga bisa terlihat bila menyusuri sungai yang melewati Desa Berondong, Kecamatan Pasekan, dan bermuara di Laut Jawa.


Ketua Jaka Kencana, Abdul Latief (43) menuturkan, lahan mangrove itu juga dimanfaatkan untuk membuat beragam produk, mulai dari kecap, sirup, bedak lulur, teh, dodol, rempeyek, sampai pakan ikan. Produksi olahan tersebut skalanya memang masih kecil, dan jalur distribusinya pun masih sangat terbatas. Untuk distribusi, mereka masih mengandalkan jaringan lembaga swadaya masyarakat yang berdomisili di Jakarta.


Akan tetapi, upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi yang mereka lakukan patut untuk diapresiasi. Terlebih, upaya tersebut dilakukan secara swadaya, murni timbul dari tataran akar rumput. "Kami jalan saja dari tahun 2008. Produk olahan mangrove pun berjalan setelah melalui proses panjang. Uji coba demi uji coba kami lakukan. Kebanyakan warga yang melakukannya," kata pria yang akrab dipanggil Latief ini.


Olahan Rumah


Bila menyusuri sejumlah tempat di Desa Pabean Udik, akan ditemui beberapa rumah yang dijadikan tempat produksi buah dan daun mangrove menjadi produk olahan. Tempat produksi memang sengaja dibuat terpisah-pisah sesuai dengan jenis produknya.


Seperti kediaman Yayah (50) dan Rama Kusmayadi (53) yang dijadikan sebagai tempat produksi olahan mangrove khusus teh, masker, serta ramuan luluran. Di halaman rumahnya terlihat daun mangrove sedang dikeringkan. Selain itu, terlihat juga kerang-kerang yang menumpuk dalam sebuah baskom. "Setelah dibubukkan, kerang dan daun mangrove itu kemudian diolah sebagai bahan baku lulur, bedak, atau masker," kata Rama.


Perkakas yang mereka gunakan untuk mengolah buah dan daun mangrove menjadi sebuah produk pun tergolong sederhana. Rama hanya menunjukkan sebuah blender ketika ditanya mengenai perkakas yang digunakan untuk mengolah mangrove.


Bila kediaman Rama dan Yayah digunakan sebagai tempat produksi teh dan ramuan kecantikan, kediaman Hirma Suryani (60) merupakan tempat untuk memproduksi sirup. Bersama-sama dengan ibu-ibu Desa Pabean Udik lainnya, Hirma mengolah buah mangrove jenis pidada di dapurnya untuk dijadikan sirup. Tidak hanya sirup, ampas buah mangrove pun diolahnya lagi untuk dijadikan selai.


Hirma menuturkan, untuk satu kilogram buah mangrove pidada, bisa menghasilkan sebanyak 2 liter sirup, atau setara dengan 5 botol sirup ukuran sedang. Sementara per harinya, dia mengaku biasa mengolah 3-5 kilogram buah mangrove untuk dijadikan sirup. Sementara per botolnya dijual seharga Rp 10.000.


Pengolahan buah dan daun mangrove di tempat-tempat yang berbeda sengaja dilakukan agar pengaturan bisa lebih mudah. Latief mengatakan, bila produksi olahan buah dan daun mangrove dilaksanakan di satu tempat, bisa menjadi sangat ruwet. Selain itu, tersebarnya tempat produksi juga diharapkan bisa menghasilkan diversifikasi produk serta sebaran penyerapan tenaga kerja yang meluas.


"Untuk setiap produk, bahan baku mangrovenya berasal dari jenis yang berbeda. Misalnya, untuk produk teh, bahan bakunya harus dari mangrove jenis Acanthus Ilicifolius L. Sementara untuk sirup, jenisnya Sonneratia Casealaris, begitu juga untuk kecap dan lainnya," kata pria yang sempat menjadi nelayan selama sepuluh tahun ini.


Cegah Penebangan


Dalam membuat produk olahan, Kelompok Tani Jaka Kencana hanya memanfaatkan buah serta daunnya saja. Hal seperti itu bukannya tanpa cerita, dan alasan. Dalam keseharian, sebenarnya banyak warga yang juga menebang pohon mangrove. Biasanya batang mangrove diambil sebagai kayu bakar, dan terkadang arangnya juga dimanfaatkan.


"Kalau sedang ada hajatan, biasanya banyak warga yang menebang mangrove untuk diambil batangnya. Kemudian, arang mangrove juga banyak dicari, karena kualitasnya memang bagus," ujar Latief.


Baginya, hal itu menjadi sesuatu hal yang ironis. Di satu sisi, daerah pesisir Indramayu wilayahnya gersang karena minim vegetasi. Sementara ketika penanaman mangrove diupayakan oleh berbagai pihak, penanamannya pun masih terbentur masalah. Oleh sebab itu, pemanfaatan buah dan daun mangrove dipandangnya sebagai upaya untuk menularkan paradigma tentang pemanfaatan vegetasi tanpa merusaknya.


Menurutnya, penebangan mangrove bisa dicegah secara bertahap bila pengetahuan mengenai produk olahan mangrove di luar batangnya menyebar di masyarakat luas. Namun demikian, upaya sistematis untuk mengarahkan pengetahuan masyarakat ke arah sana masih sangat kecil. "Di desa kami, pohon mangrove memang sudah banyak ditanam. Namun, itu hanya di satu desa. Sementara pesisir Indramayu itu sangat panjang, dan banyak daerah-daerah di sana yang masih gersang," tuturnya. 


Pengamat dari Perhimpunan Kelompok Pelestari Hutan, Susrianto menilai, upaya yang dilakukan oleh sejumlah warga Desa Pabean Udik itu ibarat penyegar di tengah-tengah problem ekologi yang melanda pesisir Indramayu. Namun secara bersamaan, hal itu menunjukkan ironi tersendiri. Terutama terkait pemanfaatan hutan.


Menurutnya, apa yang dilakukan oleh kelompok tani Jaka Kencana dilakukan di area hutan rakyat, sementara kerusakan lingkungan justru banyak terjadi di kawasan yang termasuk hutan negara yang dikelola oleh Perhutani. Dia menyebutkan, di Indramayu, khusus hutan payau milik negara yang dikelola Perhutani saat ini luasnya 8.000 hektare. Luas itu merentang mulai dari Kandang Haur sampai Pasekan. Namun demikian, sebanyak 80 persennya sudah dirubah menjadi lahan perikanan, khususnya diubah menjadi tambak.


"Seharusnya antara Perhutani dan pelaku perikanan bisa duduk bersama. Membuat langkah agar kepentingan lingkungan jalan, dan perikanan juga jalan. Pada dasarnya, alih lahan dari hutan payau ke tambak itu merupakan realisasi pemberdayaan masyarakat melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan. Akan tetapi, dalam praktiknya tidak terkontrol antara kepentingan lingkungan dan perikanan," ujarnya.


Sementara dia menilai, hutan yang dikelola oleh rakyat, kerusakannya justru minim. Pasalnya, dia melihat, ada rasa memiliki dari warga di sekitar hutan. Hal tersebut turut menjadi faktor yang mencegah meluasnya kerusakan lingkungan.

Tidak ada komentar: