Kamis, 09 Februari 2012

Serba-serba....

Serba dadakan. Serba seadanya. Serba terburu-buru. Kondisi itulah yang kuhadapi akhir-akhir ini. Bagiku biasanya segala sesuatu diperlukan perencanaan serba matang dengan eksekusi yang terarah, terukur, dan cermat. Tapi, sekarang-sekarang tidak seperti itu. Semuanya serba mengikuti kondisi. Hasilnya? rontok.

Serba-serba...

Serba dadakan. Serba seadanya. Serba terburu-buru. Kondisi itulah yang kuhadapi akhir-akhir ini. Bagiku biasanya segala sesuatu diperlukan perencanaan serba matang dengan eksekusi yang terarah, terukur, dan cermat. Tapi, sekarang-sekarang tidak seperti itu. Semuanya serba mengikuti kondisi. Hasilnya? rontok.

Seperti biasa, pagi diawali dengan memikirkan rincian dari tema besar yang digagas malam sebelumnya. Lalu keluar dari rumah dengan pikiran kesana-kemari. Tidak hanya pikiran. "Buronan Mertua", motorku yang berumur lima tahun pun terbawa situasi: ia menjajal jl. pelajar pejuang, dago pojok, hingga ujung berung. Dibawah hentakan halilintar, ia menembus hujan deras. Melibas perapatan Gedebage yang dilanda banjir cileuncang. Tapi, seperti diriku, pada akhirnya ia pun ikut-ikutan rontok: mogok di tengah-tengah genangan air.

Semuanya menjadi serba dipaksakan, dan parahnya lagi, target tenggat waktu dilanggar hingga 45 menit. Ku ingat guyonan Armin, ketika mendengar cerita Ilham yang juga rontok seperti diriku saat memburu rincian tema besar. Katanya, "maneh teh rek ngabelaan naon atuh? (kamu tuh mau membela apa sih?)."

Guyonan Armin bagiku terdengar cerdas. Sebagai bahan untuk mentertawakan diri sendiri, guyonan Armin sangat pas. Apa yang sedang kubela sebenarnya hingga tubuh ini dan si Buronan Mertua harus rontok segala?

Aku kadang mengira-ngira, apakah orang-orang itu mempertanyakan kerja yang menjadi bagiannya?  Apakah semua ini semata-mata sebagai pembagian kerja belaka, dimana setiap orang memiliki perannya masing-masing dalam produksi sosial? Pembagian kerja demi apa?

Akhir-akhir ini aku sering berpikir mengenai aktivitas yang kulakukan. Berpikir mengenai kondisi serba dadakan, serba seadanya, serba dipaksakan, dan serba-serba lainnya, yang sering kuhadapi. Kenapa aku tetap saja menjalaninya? Apakah ada jalan lain? Bila ada, kenapa aku tak berjalan di sana?

    

Kamis, 02 Februari 2012

Kesaksian

Permasalahan uang sebagai alat penimbun kekayaan seringkali memunculkan rupa-rupa cerita aneh. Seperti yang kusaksikan pada peristiwa yang menimpa Kokom, seorang karyawati sebuah perusahaan air, beberapa waktu silam.

Suatu waktu perempuan berusia 39 tahun itu harus duduk di depan hakim, dan mendengarkan dakwaan jaksa di Pengadilan Negeri Bandung. Dia didakwa menyalahgunakan posisinya sebagai koordinator sales dan kolektor dengan cara menggelapkan uang perusahaan sebesar Rp 103juta. Uang hasil tagihan para kolektor, dan sales yang seharusnya diserahkan Kokom ke bagian kasir, diambil sebagian olehnya untuk kepentingan pribadi.

Mirisnya, saat ditanya oleh hakim mengenai penggunaan uang yang diambil oleh Kokom untuk kepentingan pribadinya itu, perempuan yang telah bekerja selama 22 tahun di perusahaan air itu menjawab, bahwa dia menggunakan uang tersebut untuk membayar arisan suaminya. Lalu, saat ditanya oleh hakim mengenai keberadaan suaminya sekarang, Kokom menjawab, bahwa suaminya kabur.

Cerita yang sungguh aneh. Entah Kokom bercerita seperti itu hanya untuk beralasan belaka, demi mencari empati hakim, atau memang demikian adanya, aku sungguh tak tahu.

Di lain kesempatan, ku sempat melihat berkas perkara Kokom. Dalam salah satu berkas tertulis: Kokom, bekerja di perusahaan air semenjak 1991 dengan upah sebesar Rp 2juta.

Rp 2juta? 22 tahun bekerja?

Kemudian aku teringat saat jaksa selesai membaca dakwaan. Saat itu, hakim bertanya kepada Kokom perihal apakah ada bantahan atas dakwaan yang telah dibacakan. Kuingat jelas Kokom saat itu menggelengkan kepala.