Jumat, 12 Agustus 2011

Catatan Mengenai Proses Kerja Dalam Kapitalisme


Setiap orang sudah mahfum dan memahami, bahwa dalam dunia kerja saat ini tujuan satu-satunya adalah meraih penghargaan dalam bentuk bayaran. Katakan saja bayaran di sini adalah upah. Satu-satunya yang ingin diraih adalah uang yang didapat di akhir bulan, ketimbang proses dalam aktivitas kerja dalam rentang waktu sebulan. Tentu upah menjadi sesuatu yang esensial, karena upah merupakan perantara bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan mendasarnya: mencari makan, memakai busana yang pantas, dan membayar tagihan-tagihan lainnya yang menyangkut permasalahan “papan”.

Memang, manusia tidak selalu sedangkal hanya mencari sandang, pangan, dan papan saja dalam kehidupan ini. Manusia juga bertendensi untuk berkebudayaan: mencari kenikmatan estetika dalam seni, pemuasan jiwa dalam spiritualitas, dan lain-lain. Namun, hal seperti itu takkan berkembang sebelum kebutuhan utama dalam hal sandang, pangan, dan papan teratasi. Dan inilah permasalahannya. Dalam sistem kapitalisme, kondisi dunia kerja sebagai suatu sarana manusia memperoleh modal untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya dikondisikan dalam keadaan yang memberikan sedikit ruang untuk pengembangan diri di luar permasalahan sandang, pangan, dan papan. 


Kapitalisme bertendensi untuk menekan serendah-rendahnya biaya produksi dan meningkatkan perolehan laba. Hal itu dicapai dengan cara penurunan nilai tenaga-kerja  melalui peningkatan investasi dalam sektor teknologi. Namun di sisi lain, hal itu akan membuat waktu kerja menjadi lebih intensif. Dengan intensifikasi yang semakin keras, berarti proses kerja dimampatkan ke level yang paling padat. Proses kerja berputar dengan semakin cepat.  Hal ini membuat beban kerja menjadi semakin berat bagi pekerja, dan menyita energi fisik dan mental mereka dengan sangat besar.  Intensifikasi yang seharusnya dapat digunakan untuk mengurangi waktu kerja-perlu sehingga waktu luang untuk mengembangkan potensi diri di luar permasalahan kebutuhan sandang, pangan, dan papan menjadi lebih besar, malah tidak terjadi di dalam kapitalisme.


Belum lagi investasi dalam sektor teknologi, membuat pembagian kerja semakin meluas dan kompleks, sehingga akibatnya manusia menjadi semakin terspesialisasikan. Dengan spesialisasi keahlian di dalam intensnya proses kerja yang menyita sebagian besar waktu hidup manusia, maka hal itu rentan membuat manusia terjebak menjadi individu yang berorientasi teknis-praktikal tanpa disertai wawasan filsafati yang berguna sebagai pemerkaya jiwa manusia serta fondasi dalam memaknai dan meningkatkan kualitas kehidupan itu sendiri.


Penentuan distribusi kekayaan yang berada di tangan pemilik modal, bukan mereka yang menghasilkannya, serta tendensi persaingan di dalam kapitalisme, menjadi faktor utama yang memungkinkan intensifikasi dan pembagian kerja memiliki dampak yang merugikan bagi pekerja, seperti beban kerja yang seringkali di luar batas kemanusiaan, dan represi atas potensi kreativitas manusia.

Tidak ada komentar: