Selasa, 05 Juli 2011

Capruk: Shitlist Reviews

Musik mungkin ga bisa menyelesaikan masalah personal atau sosial, tapi setidaknya bisa lah itu kalau sekadar dijadiin soundtrack dalam keseharian. Sekadar pengiring di saat saat santai atau sedang tetirah. Yah, sekadar iseng, sekadar capruk…saat ini saya hanya ingin menulis tentang artis yang saya sering dengarkan akhir-akhir ini. Here we go…

Sepultura – Kairos (2011)
Hem..band old skull dengan formasi yang tidak old skull sebenarnya. Setidaknya untuk album mereka yang teranyar ini. Saat ini personel lama yang ada di Sepultura hanya dua orang, Paulo Jr dan Andreas Kisser. Saya baru tahu kalau drummer mereka, Igor Cavalera, juga ternyata sudah keluar pada tahun 2004. Haha. Benar-benar ketinggalan info. Terakhir kali saya menyimak Sepultura adalah pada album Nation (2001). Album itu adalah album yang kedua pasca keluarnya Max Cavalera dari Sepultura. Album Nation inilah yang pada saat itu saya sukai dari Sepultura pasca keluarnya Max. Album sebelumnya, Against (1998), sangat jelek menurut saya. Vocal Derrick Green terasa aneh dan tidak pas. Di album Nation justru baru pas. Musiknya juga lumayan. Semacam metal yang ‘kemodernan-modernan’ gitu lah (males ngedeskripsiin lebih detailnya).

Nah, akhir-akhir ini saya semacam searching di internet dan melihat di suatu blog, bahwa Sepultura mengeluarkan album baru.  Isenglah saya mengunduh dan melihat-lihat kabar tentang Sepultura sekarang. Yah, sekalian beromantisme juga. Saat sedang melihat-lihat kabar. Tertera itu suatu intermezzo, bahwa ini kali ketiganya Sepultura mengeluarkan album tanpa Igor Cavalera. Desh. Tentu saja diri ini tak dinyana kaget. Waw. Bagaimana itu kabar Sepultura sekarang di album Kairos kalau begitoe??

Kalau saya lihat di review-review, rata-rata komentarnya banyak yang ngomong kalau album ini jelek. Saya pikir, buat Sepultura, komentar seperti itu bukan hal yang mengejutkan. Semenjak Max Cavalera keluar, hampir tiap album yang dikeluarkan Sepultura selalu mendapat nilai yang jelek. Album-album yang rada mending dapat komentar yang “rada bagus” hanyalah Dante dan A-Lex sejauh penelusuran saya terhadap review-review album sepultura. Rada bagus itu juga dengan nilai rata-rata “3,5” dari “5” poin. Itu artinya, bukan sesuatu yang istimewa-istimewa amat. Nah, baru ditinggal Max saja Sepultura sudah dianggap kehilangan greget, maka bagaimana jadinya bila salah seorang co-founder Sepultura, yakni Igor, juga sudah tidak ada di Sepultura? Komentar seperti apa lagi yang bisa mereka dapat?

Sejauh penilaian saya sendiri, pas pertama kali mendengar lagu pembuka di album Kairos ini, Spektrum… busyeet, sepintas denger lagunya emang seperti ga ada yang klimaks. Part-partnya kok monoton gitu. Bener. Track pertama bikin ga mood waktu pertama kali denger.

Tapi, sebenarnya album Kairos ini terjangkiti oleh semacam sindrom “kudu didengerin berulang-ulang”. Buat saya, pas didengerin berulang-ulang, baru kerasa part-partnya, dan groove-groove nya. Yah, lama-kelamaan, terasa ngeh, ada yang kocokan gitarnya yang nyerempet-nyerempet Slayer. Seperti di lagu “Mask”, misalnya. Sedikit kerasa itu riff-riff ala Slayer-nya. Yah, intinya, setelah kelamaan ngedenger, jadi terbiasa juga ngedengerin Sepultura yang sebenarnya terasa aneh kalau pertama kali didengarkan. Tapi…yah, metal lah Sepultura \m/. 3,5 poinnya. Haha.


Cavalera Conspiracy: Inflikted (2007)
Nah, kalau yang ini sebenarnya kelanjutan dari nyari-nyari info tentang Sepultura, seperti yang sebelumnya di atas. Jadi, ketika Igor Cavalera keluar dari Sepultura, dia bergabung dengan Max Cavalera dan mendirikan Cavalera Conspiracy. Aksi tidak saling berbicara kakak-beradik selama bertahun-tahun ini akhirnya terselesaikan dengan sebuah proyek baru: Cavalera Conspiracy. Dari sinilah saya penasaran mendengarkan lagu-lagu mereka.

Inflikted ini sebenarnya album lama. Tahun 2007 keluarnya. Yah, lagi-lagi ketinggalan info. Hehe. Sebenarnya saya sempat baca di majalah Revolver dulu, kalau mereka berdua akur lagi dan bikin band. Tapi saya tidak berhasrat untuk mengetahui lebih dalam waktu itu. Entahlah, waktu itu saya memang mengalami kejenuhan pada metal yang bertempo cepat. Saya sedang gandrung-gandrungnya mengulik doom metal (musik fav. Saya hingga saat ini!). Jadi, info tentang Cavalera Conspiracy ini saya skip, dan malah mendalami doom metal. Berita tentang Cavalera duo itu pun terlupakan.

 Nah, baru saat inilah, ketika saya dapat mood untuk mencari-cari lagi metal geber. Metal yang nge-trash. Sampailah pada Cavalera Conspiracy.

Berbeda dengan Sepultura yang lebih ‘abstrak’, Cavalera Conspiracy ini lebih simpel dan nge-trash. Sepertinya mereka mencoba menggali-gali lagi semangat awal Sepultura seperti Beneath the Remains. Yah, tampaknya semakin tua, duo ini masih tetap bisa membawakan lagu geber (jadi iri) *Iyalah. Biasa tiap hari bermain musik, bagaimana pun skill dan feeling pasti terlatih. Tak perduli mau seberapa tua umur kamu. He.

Kalau dilihat dari review tentang Cavalera Conspiracy…rata-rata mereka mendapatkan review yang cukup positif. Ya, cukup positif bila dibandingkan dengan review-review terhadap Sepultura. Walaupun dari segi penilaian, mereka juga seringkali digolongkan sebagai biasa-biasa saja.

Kalau menurut penilaian sendiri, musik mereka memang lebih agresif sih ketimbang Sepultura. Agresif dan simpel. Campuran antara trash metal dan hardcore/punk. Ibarat kata, kalau Sepultura seperti mencoba bereksplorasi dalam segi, ehm, ‘metal yang berestetika’, sehingga terdengar rumit dan ‘intelek’, sedangkan Cavalera Conspiracy lebih kepada gaya hantam kromo sampai babak belur. Seek and destroy to the max. Haha.

Satu hal yang paling saya suka dari Cavalera Conspiracy ini adalah karakter vokalnya Max. Damn. Masih tetap harsh. Apalagi lirik-liriknya sepertinya masih tipikal dengan gaya menulis Max: semua yang perlu kamu ketahui tentang kemarahan, kebencian, dan..uaarrgggh, PAIN!!! Yup. Good ol’ Max Cavalera style!

NB: oya, tahun 2009 konon Cavalera Conspiracy juga mengeluarkan album bertitel Blunt Force Trauma.


V/A Modal Soul Classics by Nujabes (2008)
Saya tidak terlalu ngeh dengan soul, triphop, hiphop, funk dan semacamnya. Hanya saja teman saya, pegiat demonstrasi dan organisatoris handal jaman sekolah dulu, menyukai musik-musik seperti itu, dan sering memperdengarkannya kepada saya bila kami main bersama. Biasanya bila kami menghisap weed, dia selalu memutar lagu-lagu bernuansa hiphop, soul, funk, dan lain-lain. Beat dan betotan bas musik soul dan funk pada satu titik memang terasa nendang bila otak dimanipulasi asap weed. Yah, begitulah.

Nah, suatu waktu teman saya itu mampir ke rumah. Dia bawa lah itu playlistnya. Di playlistnya itu kemudian dia memutar salah satu lagu yang ada di kompilasi Modal Soul Classics ini; To Impress the Empress dari Scott Matelic. Saya langsung suka begitu pertama kali mendengarnya. Pada dasarnya musiknya adalah semacam musik elektronik instrumental. Yang saya sukai dari lagu Matelic ini adalah mood lagunya. Entahlah, terasa “adem”. Pada intro piano berdenting, lalu secara perlahan ambience naik, terdengar beat drum hiphop, dan kemudian muncul suara terompet. Melodi-melodinya galau abis. Tapi, dengan beat yang cukup groovy, sehingga atmosfir lagunya tidak terasa galau, tidak juga ceria. Berada di pertengahan.

Pertamanya, kalau kata teman saya itu, lagu yang sedang di putar tadi adalah lagunya Nujabes. Tapi, ternyata bukan ketika saya cari-cari lagunya di internet. Itu hanyalah salah satu lagu dari pilihan Nujabes yang dimasukan ke dalam kompilasi yang dinamakan Modal Soul Classics. Nujabes itu sendiri produser hiphop asal Japon yang saat ini sudah tiada. Dia meninggal pada tahun 2010, karena kecelakaan. Kompilasi Modal Soul Classics ini adalah beberapa rilisannya yang dibuat sebelum beliau wafat.

Untuk lagu Nujabesnya sendiri, saya kurang begitu menyukainya. Saya memiliki album Methamoporical Music dari Nujabes ini. Pada dasarnya di album itu Nujabes menawarkan semacam Jazz yang dicampur dengan hiphop. Polanya sama seperti grup hiphop jazz dari Jepang juga, yakni Nomak. Namun, untuk beberapa alasan, saya lebih menyukai Nomak ketimbang rilisan Nujabes.

Ok. Kembali lagi ke Modal Soul Classics.

Saya harus bilang, bahwa artis-artis yang ada di album ini bisa dibilang tidak mengecewakan. Semuanya menawarkan musik yang berada dalam garis hiphop, jazz, soul, elektronik, ambience, hingga prog-pop. Mood yang ditawarkan juga mantep-mantep. Bila kamu senang jalan-jalan menggunakan kendaraan di kotamu ketika senja tiba, saya sarankan pakai album ini sebagai soundtracknya. It works, man. Melihat orang-orang lalu lalang sehabis seharian kerja di kantor, awan yang memerah, suasana jalan raya, lampu-lampu gedung yang mulai dinyalakan dan soundtrack dari Modal Soul Classics. Beuh, mantep!

Beberapa track lainnya yang “sangat” saya sukai dari Modal Soul Classics ini adalah Goldlix – “Atoll Moao”, DSK – “Winter Lane”, Blue Asia – “Mourn, Sob & Cry”, dan terutama Todd Rundgren – “A Dream Goes On Forever”, Clammbon – “Folklore”, Lava – “Vem Para Vicar”, serta Omar Sosa – “Iyawo”. Saya habis kata-kata sekaligus hoream buat mendeskripsikan musik-musik mereka. Pastinya ga akan rugi didengarkan. Top Notch!

Todd Rundgren – Something/Anything (1972)
 
Nah, kalau yang ini saya menelusuri juga dari Modal Soul Classics. Lagu “A Dream Goes On Forever” yang ada di Modal Soul Classics benar-benar maut. Durasinya pendek, tidak lebih dari 2,5 menit. Tapi, sungguhpun…unik dan sangat-sangat renyah. Di lihat dari struktur lagunya, bisa dibilang cukup rumit. Banyak perpindahan-perpindahan chord yang terdengar aneh bagi saya. Namun, anehnya lagi, tidak membuat lagu itu menjadi rumit. Justru sangat unik dan renyah. Ngepop. Mantep lah.

Sebenarnya lagu “A Dreams Goes On Forever” ini ada di album Todd yang dirilis pada tahun 1974. Mendengarkan keseluruhan album Todd itu dari satu sisi membuat saya takjub. Penyanyi pop, tetapi musik mirip-mirip Yess dan Pink Floyd dengan karakter vokal yang terasa seperti Neil Young. Mungkin Neil Young versi prog-pop. Haha. Brutal.

Dari situ saya mencari-cari lagi album Todd Rundgren lainnya, dan sampailah pada album Something/Anything ini. Album yang saya sukai dibandingkan dengan album Todd pada tahun 1974 itu. Bila di album Todd, dia lebih banyak mengeksplorasi bunyi-bunyian aneh, dan terkadang nyerempet-nyerempet eksperimental. Berbeda dengan album Something/Anything. Musiknya tidak tergolong eksperimental. Pure pop, err, prog-pop kalau boleh saya bilang. Aransemennya aneh-aneh, tapi ya itu tadi, sangat-sangat renyah di telinga. Salut lah buat beliau. Sangat jenius. Apalagi, sama seperti album Todd, di album Something/Anything ini beliau langsung “menggelontorkan” lagu-lagunya sebanyak dua cd. Edan. Musisi jaman jadul memang berbahaya.

Nick Drake – Bryter Lyter (1970)
 
Review terakhir. Dari musisi yang konon di jamannya tidak banyak diketahui, namun justru menjadi popular setelah dirinya meninggal. Pertama kali saya mengetahui Nick Drake dari band noise drone metal Jepang, Boris. Di album Akuma No Uta, Boris membuat kover CD yang sama seperti kover Nick Drake di Bryter Lyter (lihat di sini). Pertamanya saya memang suka dengan kover album Boris itu, karena terlihat misterius, unik, dan sangat ‘jadul’. Belakangan saya mendapat info, bahwa ternyata kover Boris terinspirasi oleh album penyanyi jadul bernama Nick Drake. Dan setelah saya googling, ternyata memang itu terlihat Boris mencoba mengikuti desain kover Nick Drake, walaupun tentunya ada perbedaan di sana-sini.

Dari situ saya mencoba menelusuri Nick Drake. Dan ternyata…waw. Musiknya bolehlah itu untuk jadi semacam soundtrack buat bersantai-santai sama pacar atau sendirian sekalipun. Mungkin pop ala swedia gitu kali ya, dengan sedikit sentuhan jazz di sana-sini. Satu lagu favorit saya di album ini adalah “Northern Sky”. Moodnya itu sendu abis. Bahaya ini lagu kalau kata saya. Bawaannya jadi ngelamun mulu. Makanya, saya ga pernah memutar Nick Drake pas pagi atau siang. Lebih baik malam. Soalnya takut ngerusak mood. Hehe.

Tidak ada komentar: