Selasa, 07 Juni 2011

Kehendak



“Oh so strange...hanging out everytime to reach the end. You never know how anything will change.”

-Pathetic Waltz, PS-


 

I

Saya selalu teringat dengan pertemuan dengan seorang kawan akhir-akhir ini. Pertemuannya sendiri terjadi sudah bertahun-tahun yang lalu. Saat itu aku sedang mengantar seorang kawan, Heru, yang akan membeli hadiah untuk pacarnya di daerah Sulanjana, Dago. Saat di pelataran parkir toko gift shop di daerah Sulanjana itulah aku bertemu dengan kawanku itu, yakni Aji.

Pertemuan ku dengan Aji tergolong tidaklah terlalu sering. Bisa dihitung dengan jari kami bertatap muka. Oleh sebab itu, aku tidak begitu mengenalnya secara dalam. Hanya saja, Aji suatu waktu pernah aktif menulis dalam sebuah fanzine. Melalui tulisannya dalam fanzine itulah aku merasa seakan-akan telah mengenal Aji sejak lama. Melalui pandangan-pandangannya tentang kehidupan urban yang dia tulis dalam fanzine itu aku mengetahui kegemarannya akan musik, mazhab frankfurt (terutama Theodore Adorno yang sering diacunya), hingga keyakinannya akan ide anarkisme.


Tulisan-tulisan Aji dalam fanzinenya itu, tak kusangsikan, dalam beberapa hal memang mempengaruhiku. Setidaknya transfer ide-ide melalui tulisan di fanzinenya itu, dalam satu titik, dapat membuatku mengenal suatu pandangan-pandangan tertentu tentang kehidupan ini: bahwa kehidupan (masyarakat & negara) yang dihidupi oleh orang-orang didalamnya bukanlah sesuatu yang terberi begitu saja dan menjadi sebuah keniscayaan, namun semuanya itu merupakan suatu fase tertentu dalam sejarah hubungan manusia. Dalam artian, bentuk masyarakat (ataupun negara) saat ini dibangun oleh hubungan manusia dan kontradiksi dalam hubungan itu. Oleh sebab itu, bentuk masyarakat (ataupun negara) bukanlah sesuatu yang abadi atau niscaya, tetapi semuanya itu dapat dirubah tergantung kondisi-kondisi yang terdapat dalam (dan membatasi) masyarakat serta kesadaran individu-individu didalamnya.

Sebagian besar fanzine Aji memang membicarakan mengenai ide-ide alternatif mengenai negara dan perlawanan terhadap tatanan masyarakat dominan yang timpang seperti itu, sebagaimana seseorang yang mengamini ide anarkisme akan selalu berbicara. Bagiku saat itu yang tidak terbiasa dengan ide-ide “alternatif” (seperti anarkisme), pandangan-pandangan tersebut, dalam beberapa hal, menarik untuk terus diikuti. Saat itu aku selalu takjub bila ada seseorang yang berbicara lain, ketika mayoritas justru memiliki bahan pembicaraannya sendiri yang telah menjadi pembenaran umum (peduli setan pembenaran umum itu mau logis atau tidak). Pokoknya terasa seperti semangat “teenager” yang selalu ingin tampil ‘nyeleneh’ dan keliatan ‘rebel’saja.


II

Begitulah. Dipelataran parkir toko gift shop itu aku melihat Aji di parkiran motor sedang bersiap-siap untuk berangkat. Aku dan Aji lantas bertegur sapa sebentar. Dia katanya baru saja membeli sebuah perlengkapan untuk anaknya yang baru lahir. Saat bertegur sapa di lapangan parkir itu juga Aji menceritakan kegiatannya terakhir. Saat itu dia menceritakan, bahwa dirinya bekerja di suatu perusahaan finansial. Dia juga lantas menceritakan, bahwa setelah bekerja dan berkeluarga, dirinya juga lantas berangsur-angsur mulai meninggalkan aktivitas yang digelutinya: musik, aktivisme politik, hingga membuat fanzine itu sendiri. Dari pembicaraan yang kutangkap, dia tidak memiliki waktu untuk menggeluti semua “aktivitas politis” yang dulu sempat dilakukannya. Tersita oleh rutinitas demi “dapur ngebul”.

Ada kekecewaan mendengar cerita Aji saat itu. Terutama bila mengingat kemungkinan tidak ada lagi ide-ide menarik seputar perlawanan terhadap “tatanan masyarakat dominan” seperti yang biasa ditulisnya. Justru, cerita yang disampaikan Aji di pelataran parkir saat itu seperti menjadi suatu ironi bila dibandingkan tulisan-tulisannya. Alih-alih melawan tatanan dominan, Aji menjadi bagian dari tatanan dominan itu sendiri. Dari beberapa cerita yang kudengar dari kawan-kawanku yang lain, terdapat juga nada kekecewaan dan penyesalan terkait menghilangnya Aji dari aktivisme politis.

Saat ini entah dimana Aji berada dan sedang apa. Pertemuan di pelataran parkir itu menjadi pertemuan yang terakhir. Namun cerita Aji yang meninggalkan aktivisme politis itu selalu terngiang-ngiang dalam benakku akhir-akhir ini. Sebagaimana terdapat banyak cerita mengenai orang lain yang juga turut berubah seperti Aji yang mampir di telingaku. Cerita mengenai kegiatan perlawanan yang mintul ketika ditodong aktivitas “dapur yang harus ngebul”.

Ada memang rasa kecewa, namun kukira kecewa disini bukan lantas melanjutkannya dengan membenci seseorang secara personal hanya karena telah ‘berubah’. Kukira, di sisi personal, sangat tidak fair bila harus bertindak seperti demikian. Gerak individu memiliki batas. Batas itu terletak dalam lingkungan dimana individu itu hidup. Dalam hal ini, adalah tidak selalu mungkin seseorang selalu bisa memilih posisi yang dikehendakinya dalam hidup, sebab dalam kehidupan itu sendiri terdapat suatu relasi yang telah dibentuk oleh manusia di masa lalu, dan dalam beberapa hal, menjadi terlembagakan sedemikian rupa, sehingga hampir sulit bagi manusia yang datang kemudian untuk selanjutnya bergerak sebebas yang ia inginkan dalam relasi tersebut.

Terlebih lagi bila mengingat konteks yang digeluti oleh orang-orang seperti Aji, yakni perombakan tatanan sosial itu sendiri. Individu (baca: satu orang manusia) tidaklah memiliki kapasitas untuk merombak suatu tatanan sosial secara seorang diri bak Rambo di Afganistan dengan hanya mengandalkan apa yang dinamakan dengan kehendak. Tatanan sosial itu sendiri terdiri –dan dibangun- dari hubungan atas berjuta-juta (bahkan bermiliar) orang didalamnya. Oleh sebab itu, kupikir tatanan sosial dapat dirombak bila orang-orang mencapai suatu taraf kesadaran tertentu mengenai keadaannya, dan di sisi lain, kondisi-kondisi sosial orang-orang itu juga sudah mendukung untuk memfasilitasi kesadaran tersebut. Selama yang bergerak hanya satu orang atau segelintir, hal itu tidak akan ada pengaruhnya. Yang ada individu tersebut yang harus memasuki relasi dalam masyarakat dominan, bila dia tidak ingin mati.

Kupikir bila seseorang seperti Aji diberi pilihan dan kebebasan gerak, kuyakin dia akan memilih merombak suatu tatanan sosial dominan yang timpang ini sebagaimana orang yang mengimani anarkisme, ketimbang bekerja di sebuah perusahaan finansial. Namun, nyatanya kondisi sosial Aji tidaklah mendukung untuk pilihan seperti itu. Dilihat secara umum, dan dari fase personal, manusia – seperti Aji – dilahirkan dengan membawa ciri fisiologis: untuk bisa tetap hidup, manusia harus makan. Ciri fisiologis ini lantas membawa manusia kepada fase selanjutnya yang lebih sosial (yang lebih berhubungan dengan relasi sosial yang ada di masyarakat): untuk memperoleh makan, untuk hidup, manusia – seperti Aji – akan secara aktif bergerak memproduksi dan mereproduksi syarat-syarat material kebutuhan hidupnya itu. Fase ini juga membawa manusia – seperti Aji- memasuki hubungan-hubungan sosial tertentu dalam kehidupannya. Dalam memasuki hubungan sosial inilah kehendak, atau keinginan seorang manusia akan ditentukan pula (baca: dibatasi) oleh kondisi objektif yang ada sebagai akibat relasi sosial yang terbentuk dari pergulatan-pergulatan manusia sebelumnya yang telah tertentang dalam waktu yang lama dan terus-menerus bertransformasi hingga saat ini.

Aku bukanlah menganggap, bahwa kehendak seorang manusia tidak memiliki arti apapun seketika ia memasuki relasi sosial di masyarakat. Yang ingin kukatakan adalah kehendak itu benar ada dalam diri, namun dia dibatasi juga oleh keadaan diluar dirinya. Keadaan yang terbentuk dari akumulasi proses historis yang berlangsung lama (evolutif) oleh tindak-tanduk manusia itu sendiri.

Dari titik inilah, menyalahkan seorang manusia, karena menganggap dirinya ‘tidak konsisten’ dalam suatu perjuangan melawan tatanan masyarakat dominan yang timpang ini, dalam titik tertentu, menjadi suatu hal yang tidak fair juga (terlepas dari permasalahan konsep anarkisme itu sendiri). Terlalu berlebihan bila mengharapkan satu orang saja dapat merubah semua yang telah dibentuk dan ada di dunia ini.

Jadi, untuk membuatnya lebih jelas, aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku tidak pernah ingin mempermasalahkan apa yang dipermasalahkan orang-orang mengenai beralihnya seseorang dari aktivisme politis ke aktivisme “dapur ngebul” sebagai permasalahan “ketidak-konsistenan”, sejauh itu hanya permasalahan orang-per orang, atau personal. Sebabnya, ya itu tadi, relasi sosial dimana individu hidup didalamnya memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk sebuah pribadi. Bersamaan relasi sosial berubah, individu didalamnya pun ikut berubah (entah dengan rupa seperti apa). Hal ini mengandaikan, bahwa individu yang harus adaptif terhadap laku relasi sosial, bukan sebaliknya (walaupun relasi sosial itu juga dibentuk oleh pergulatan manusia-manusia). Manusia sendirian tidak akan bisa memancangkan kakinya kuat-kuat diatas tanah sosial semata-mata demi tujuan mulia seperti menggiring angin perubahan bila angin yang menerpa justru adalah angin yang berskala makro.

III

Sebuah relasi sosial terbentuk tak hanya sekejap, namun terdapat juga suatu pergulatan dalam proses sejarah yang terentang panjang. Dalam proses pergulatan yang berkelanjutan itu juga sebuah relasi sosial tidak mengambil bentuk yang tetap dalam kurun waktu keberadaannya. Relasi sosial jaman pertengahan di Eropa (orang-orang menyebutnya feodalisme) berbeda dengan bentuk relasi sosial jaman modern sekarang ini (kapitalisme).

Semua proses itu mengambil rentang waktu yang relatif lama bila melihatnya dari sudut pandang manusia yang terbatas. Relasi sosial ala feodalisme tercatat dimulai dari abad 8 hingga 18 M. Sepuluh abad feodalisme tercatat menjadi relasi sosial dominan dalam suatu formasi sosial. Sepuluh abad tentu merupakan rentang waktu yang sangat lama bila melihatnya dari sudut pandang seorang manusia yang rata-rata hanya memiliki harapan hidup hingga 80 tahun. Namun belum tentu bila melihatnya dari sudut evolusi alam semesta itu sendiri. Mungkin saja, dari sudut pandang evolusionistik seperti itu, sepuluh abad belumlah ada apa-apanya.

Lalu, jaman kapitalisme itu sendiri, yang merebak secara masif pertama kali pada abad 18, dan masih berjalan hingga sekarang. Bila kita membandingkan dengan rentang waktu ketika feodalisme masih menjadi relasi sosial dominan, umur kapitalisme tentu masih seumur jagung. Baru berjalan tiga abad. Bila dari sudut pandang perbandingan dengan feodalisme saja masih seumur jagung, apalagi bila dibandingkan dengan sudut pandang evolusi alam semesta? Mungkin umur kapitalisme ini masih tergolong sangat mentah!

Pada pokoknya, inti yang ingin kusampaikan adalah, bahwa suatu proses pergulatan dari sebuah relasi sosial, suka tidak suka, memakan waktu yang lama, hingga berabad-abad. Hal itu disebabkan, karena relasi sosial itu sendiri menurutku merupakan hal yang sangat ‘besar’ dan ‘luas’ cakupannya. Tidak hanya menyangkut teritori tertentu yang seakan-akan terisolasi dari teritori lainnya. Namun justru kesalingterkaitan antar teritori itu sendiri yang dibentuk oleh kekuatan dan kelemahan kondisinya sendiri. Belum lagi bila membicarakan tentang kesalingterkaitan yang juga muncul sebagai hasil proses sejarah yang terentang panjang.

Oleh sebab itulah, berbicara mengenai relasi sosial, bagiku bukan perkara sesimpel seorang manusia yang berniat merombak sekali-jadi-setelah-itu-langsung-revolusi.Peranan manusia memang sangat penting, namun kupikir peranan manusia itu sendiri akan mengambil rentang waktu yang cukup panjang - mengambil bentuk generasi demi generasi yang akan datang kemudian - hingga kekuatan di masyarakat tidak lagi selaras dengan bentuk relasi sosial yang ada.

Dari sudut pandang ini, ku pikir seorang manusia – seperti Aji – bisa saja hilang terhempas seperti jutaan debu lainnya dalam kehidupan profan. Manusia – seperti Aji – bisa saja tenggelam dalam lautan rutinitas duniawi dan berubah entah menjadi pribadi seperti apa didalamnya. Namun setidaknya, dari sisi personal, dari sisi ruang-waktu ku yang terbatas ini, sempat mengenal manusia – seperti Aji - seperti menjadi kesan tersendiri bagiku. Terlebih bila melongok pada jejak yang sempat ia tinggalkan, seperti pandangannya mengenai tatanan sosial di kehidupan ini (terlepas dari permasalahan yang ada mengenai konsep-konsep yang dianutnya itu). Dari titik ini, aku seperti melihat, bahwa ada pergulatan menyembul (walau tak seberapa) dalam sebuah relasi sosial di kehidupan yang sedang kujalani saat ini.

Tidak ada komentar: