Lapangan jurnalistik
tengah berubah kini. Berubah menjadi sesuatu yang belum diketahui benar. Tapi,
satu yang pasti, tuntutan bisnis yang melingkupi perkembangan teknologi digital
menjadi pendorong kuat perubahan itu. Kajian Ross Tapsell, dalam Media Power in Indonesia, menunjukkan adanya perubahan konfigurasi
perusahaan media arus utama ke arah oligarki dan kaitan para elitnya dalam
relasi-relasi politik, seiring teknologi digital diadopsi dalam industri media.
Arah yang mengkhawatirkan bila mengingat media massa selama ini dipandang
sebagai sarana yang efektif menyebarluaskan pesan simbolik yang dapat
mempengaruhi khalayak.
Sabtu, 08 Februari 2020
Kamis, 16 Januari 2020
Sirkus Politik
Sirkus politik pemerintahan
akhir-akhir ini sungguh luar biasa bikin migren. Mulai dari koalisi partai
politik, bergabungnya gerbong Om Prabs, komposisi kabinet Om Joks sampai arah
kebijakannya. Melihat semua dinamika itu, mulai dari penentuan koalisi sampai
arah kebijakan, bagiku terasa cukup turun naik. Tapi, tetap saja ada benang
merahnya: seakan-akan semuanya itu menjauh dari perspektif kerakyatan.
Rabu, 17 Juli 2019
Semua Orang Berbohong
Davidowitz
melihat fakta bahwa penetrasi internet ke dalam kehidupan bisnis dan sosial
memunculkan kemungkinan baru dalam mengamati perilaku manusia. Kesan yang
muncul dari tulisannya mengenai perilaku manusia sebelum era internet adalah
bahwa manusia itu sumber segala bias. Manusia cenderung berbohong kepada orang
lain, bahkan kepada dirinya sendiri.
Minggu, 30 Juni 2019
Politik Jatah Preman
Bila disebut “mind blowing”,
mungkin buku Politik Jatah Preman karya Ian Douglas Wilson bisa dibilang
demikian. Tulisannya mengenai dinamika jejaring preman di perkotaan, khususnya
Jakarta, sangat membuka pandangan tentang seluk-beluk kehidupan kota di level
yang sangat bawah. Aku tekankan sekali lagi, kota di level yang sangat bawah. Buatku, penelitian sosial yang
benar-benar meneropong dinamika kuasa dari aras “rakyat kebanyakan” di
Indonesia sangatlah jarang.
Kamis, 06 Juni 2019
Menari Di Dalam Pusaran Kabut (Pikiranmu)
Sekitar
tahun 2018 aku memberanikan diri ikut ujian saringan masuk ke Kampus Salemba.
Itu berarti untuk yang kedua kalinya aku mengikuti ujian setelah tahun 2017
gagal. Bila dipikir-pikir lagi, aku terlihat cukup ngotot untuk bisa kembali
kuliah, meskipun telah gagal dalam ujian saringan pertama yang diselenggarakan
pada tahun 2017. Entah kenapa, tapi sepertinya memang ada dorongan dari
berbagai arah.
Langganan:
Postingan (Atom)
