Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2016

Imajinasi


 
Kita punya kesenangan sendiri yang berawal dari imajinasi. Kita menghidupinya sampai hari ini. Ada bagian dari imajinasi yang kita buka ke orang-orang. Namun ada juga bagian lainnya yang kita dekap erat. Hanya kita yang memegangnya, bukan siapa-siapa. 

Minggu, 08 September 2013

Bintang Mati

 

Sudah sampai di sini rupanya dirimu. Di momen seperti ini, kamu masih berpikir, ada sebuah titik hitam di jarak yang tak terkira jauh di belakang. Kamu tidak mengingat apa itu. Hanya saja, rasa-rasanya seperti yang pernah diutarakan Stephen Hawking; seperti ada sebuah lubang hitam yang menghisap segala sesuatu yang berada di sekitarnya. 

Minggu, 11 Agustus 2013

Gotong Royong? (I)




Warga negara Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kebiasaan bergotong royong. Dari mana istilah itu bisa muncul?

Kamis, 02 Februari 2012

Kesaksian

Permasalahan uang sebagai alat penimbun kekayaan seringkali memunculkan rupa-rupa cerita aneh. Seperti yang kusaksikan pada peristiwa yang menimpa Kokom, seorang karyawati sebuah perusahaan air, beberapa waktu silam.

Suatu waktu perempuan berusia 39 tahun itu harus duduk di depan hakim, dan mendengarkan dakwaan jaksa di Pengadilan Negeri Bandung. Dia didakwa menyalahgunakan posisinya sebagai koordinator sales dan kolektor dengan cara menggelapkan uang perusahaan sebesar Rp 103juta. Uang hasil tagihan para kolektor, dan sales yang seharusnya diserahkan Kokom ke bagian kasir, diambil sebagian olehnya untuk kepentingan pribadi.

Mirisnya, saat ditanya oleh hakim mengenai penggunaan uang yang diambil oleh Kokom untuk kepentingan pribadinya itu, perempuan yang telah bekerja selama 22 tahun di perusahaan air itu menjawab, bahwa dia menggunakan uang tersebut untuk membayar arisan suaminya. Lalu, saat ditanya oleh hakim mengenai keberadaan suaminya sekarang, Kokom menjawab, bahwa suaminya kabur.

Cerita yang sungguh aneh. Entah Kokom bercerita seperti itu hanya untuk beralasan belaka, demi mencari empati hakim, atau memang demikian adanya, aku sungguh tak tahu.

Di lain kesempatan, ku sempat melihat berkas perkara Kokom. Dalam salah satu berkas tertulis: Kokom, bekerja di perusahaan air semenjak 1991 dengan upah sebesar Rp 2juta.

Rp 2juta? 22 tahun bekerja?

Kemudian aku teringat saat jaksa selesai membaca dakwaan. Saat itu, hakim bertanya kepada Kokom perihal apakah ada bantahan atas dakwaan yang telah dibacakan. Kuingat jelas Kokom saat itu menggelengkan kepala.

Selasa, 06 September 2011

Ngaler-Ngidul: Ramadhan Tahun Ini

Secara personal, Ramadhan tahun ini terasa sedikit menenangkan bagiku. Bisa berada jauh dari rumah dan beraktivitas tanpa risau akan hal-hal mengenai pekerjaan yang belum kunjung didapat. Saban siang membaca buku Martin tentang Alan Badiou, nonton film sepuasnya dari laptop, ngobrol dengan saudara-saudara yang lama tak bersua, menghisap ganja sendirian di kamar pada malam hari, menunggu siaran bola Indonesia vs Iran bareng keluarga besar (berikut tidak jadi nonton, karena sinyalnya terganggu), bercanda dengan keponakan yang lucu-lucu. Semuanya terasa menyenangkan. Rumah almarhum Amih dan Apih di Tasikmalaya, tempatku tinggal selama Ramadhan, memang juara.

Berkunjung ke rumah di Tasikmalaya sudah seperti ritual yang wajib dilakukan setiap tahunnya bagi keluarga besar kami. Tanpa hadir ke Tasikmalaya setiap Ramadhan, rasa-rasanya seperti ada yang kosong saja. Entahlah, mungkin memang sudah faktor kebiasaan saja semenjak ‘kami’ kecil dulu. Selain itu, rumah almarhum nenek dan kakekku di Tasikmalaya itu juga bagiku selalu terasa nyaman. Rumahnya bergaya arsitektur jaman Belanda. Cukup besar ukurannya. Bahkan terdapat hingga dua puluh kamar kosan yang berjejer dari mulai bagian samping rumah hingga ke bagian belakangnya. Mungkin karena gaya arsitekturnya yang berasal dari jaman kolonial itulah mengapa rumah itu bisa nyaman. Biasanya rumah bergaya jadul seperti itu, hawa-hawanya selalu bikin adem. Walaupun siang hari terasa menyengat, tetapi bila berada di dalam rumah tetap saja terasa dingin. Entahlah, mungkin itu gara-gara pengaruh teknik membangun rumahnya. Tak tahu juga. 

Salah satu bagian dari rumah itu yang paling kusenangi adalah teras depannya. Sangat nikmat bila sore-sore kamu diam di teras depan rumah sambil menyeduh kopi dan berbicara apa saja dengan saudara lainnya sambil mata tertuju ke arah jalan raya yang ada di depan. Orang-orang lalu lalang, pedagang hilir-mudik, dan perempuan cantik kadang melenggang. Atau bila malam hari tiba, ketika jalanan kota sudah mulai sepi, dan keluargaku yang lain sudah terlelap tidur, aku menghisap ganja di teras itu. Mengambang lambat bersama asap herbal diantara senyapnya kota yang tertidur…

Aku teringat ucapan Mas Dede mengenai pengaruh hubungan kekeluargaan dan budaya mudik (pulang ke kampung halaman) di Indonesia ini bagi buruh-buruh. Dengan masih adanya hubungan kekeluargaan yang cukup mengikat, dan ikatan ini salah satunya tercermin dari budaya pulang ke kampung halaman setahun sekali, membuat kondisi buruh di Indonesia setidaknya lebih mending daripada kondisi buruh di sebagian besar daratan anglo-saxon sana. 

“Setidaknya kalau buruh-buruh itu dipecat, mereka punya tempat pelarian agar tidak menjadi depresi. Setidaknya memberi jeda atas rentetan masalah yang dihadapi. Ikatan keluarga yang masih kental cukup membantu dalam hal ini. Berbeda dengan orang-orang anglo-saxon yang ikatan keluarganya tidak seerat Indonesia. Rentan stress dan depresi bila ada buruh sana (Eropa) yang dipecat, karena tidak memiliki tempat pelarian, seperti kampung halaman dan ikatan keluarga yang kental,” katanya kepadaku suatu waktu.

Aku belum pernah ke luar Indonesia, dan sejauh ini belum merasakan seperti apa PHK itu. Bahkan akupun masih belum bekerja. Selain itu, ucapan Mas Dede mengenai kadar depresi antara buruh Eropa dan Indonesia terkait PHK dan ikatan keluarga itu pun perlu dibuktikan lebih lanjut kebenarannya. Hanya saja, ketika aku meninggalkan Tasikmalaya, dan berada kembali di Bandung, aku teringat ucapan temanku itu. Terutama mengenai pulang kampung yang memberikan jeda atas permasalahan yang sedang di hadapi. Kupikir memang terdapat perbedaan setibanya aku di Bandung: beberapa urusan menjadi terpikirkan kembali untuk segera dibereskan agar tidak menjadi kegelisahan yang terus berlanjut. Ini tidak seperti seminggu kemarin di Tasikmalaya, ketika berada di tempat dimana rasa-rasanya --- mengutip E.S Ito --- “tidak ada kemalangan, kesusahan, dan kesedihan."

Kamis, 26 Mei 2011

Pelepasan

"...Of the endless trains of the faithless--of cities filled with the foolish; what good amid these, O me, O life? Answer. That you are here - that life exists, and identity; that the powerful play goes on and you may contribute a verse." (John Keating).

***

Minggu, 28 November 2010

Balada Pengembara Wakatobi

                                                        (FOTO: KOMPAS/PRIYOMBODO)

Anak-anak bermain ayunan tali di pantai di Kampung Waha, Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sabtu (30/10). Wakatobi merupakan pusat segitiga karang dunia dan diresmikan sebagai taman nasional pada tahun 1996 dengan total area mencapai 1,39 juta hektar.


Oleh: Budi Suwarna

Betapa molek Wakatobi. Namun, sebagian besar penduduknya barangkali tidak sempat menghiraukan keindahan kepulauan itu. Pasalnya, sepanjang usia, mereka sibuk mengembara atau ”buang diri”.

Buat penduduk Wakatobi—baik suku Bajo, Buton, maupun Ciacia—mengembara merupakan episode wajib dalam perjalanan hidup mereka. ”Kalau tidak mengembara, kita malu, tidak punya cerita,” ujar Sahrudin (34), warga Kabupaten Wakatobi (kependekan dari Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko), Sulawesi Tenggara.

Ketika usia tujuh tahun pada tahun 1983, anak muda dari suku Buton ini telah diajak ibunya mengembara ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Mereka menyusul ayahnya yang pergi mengembara sejak Sahrudin lahir. ”Itulah pertama kali saya bertemu Bapak,” ujarnya.

Tidak lama hidup bersama, dia ditinggal ibunya yang bekerja di pabrik kayu lapis. Sementara ayahnya merantau ke Singapura. Sahrudin pun harus tinggal bersama tetangganya. Setelah tiga tahun, dia dibawa pulang ke rumah neneknya di Tomia. Ayah-ibunya merantau lagi dan Sahrudin tidak selalu tahu di mana mereka berada.

”Kami hanya bertitip kabar lewat tetangga yang kebetulan merantau. Kabar itu akan disampaikan berantai. Kadang, setelah enam bulan, kabar baru sampai. Maklum, dulu belum ada handphone,” ujarnya.

Ketika berusia 20 tahun, Sahrudin memulai pengembaraannya sendiri. ”Kami menyebutnya ’buang diri’, menyerahkan diri kepada nasib. Nanti di perantauan jadi pengusaha, buruh, atau penjahat, terserah saja.”

Pembajak kapal

Dan, pengembaraan Sahrudin ternyata penuh warna. Dia pernah bekerja di bengkel sambil meneruskan sekolah di Kendari, menjadi penjaga rumah di Jakarta, dan menjadi buruh tambang timah. Dia kemudian pulang tahun 2003 dan hidup tenang di Tomia hingga sekarang. Selama di pengembaraan, dia sempat bertemu orang-orang sepulau dengan berbagai profesi, dari buruh hingga perompak.

Kisah Sadar (30) tak kalah berwarna. Dia lahir di sope-sope (rumah perahu) ketika ayahnya sakai (mengembara) di tengah lautan. ”Sejak saat itu saya hidup di perahu dan belajar hidup dari lautan luas,” ujar Sadar, anak suku Bajo atau suku laut yang kini tinggal di permukiman Bajo di Mola, Wangi-Wangi.

Ketika Sadar berusia tujuh tahun, ayahnya mendorong dia mengembara untuk melihat dunia. Dia dititipkan ke sebuah kapal pengangkut hasil bumi. Di sana, dia mendapat peran sebagai tukang masak dan pelayan nakhoda. Selama setahun ikut kapal itu, dia melihat Poso, Manado, Maluku, Tanjung Pinang, Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Setelah setahun, Sadar pulang ke rumah. Ketika itu, ayahnya bertanya, ”Apa saja yang kau lihat di pengembaraan?”

Sadar menceritakan apa yang dia lihat, termasuk semua hambatan selama di pengembaraan. ”Saya bilang, ’saya belum mengerti navigasi alam’,” katanya.

Hari itu juga ayahnya membawa Sadar ke laut. Dia mengajarinya memahami cuaca, membaca rasi bintang, cuaca, angin, dan mengenali arus laut. ”Begitulah orang Bajo mengajari anaknya memahami dunia. Semua ilmu diturunkan dengan bahasa tutur,” ujar Sadar.

Sejak berusia 13 tahun, dia mengembara di darat selama bertahun-tahun. Dia mencari ilmu di sekolah hingga mampu meraih gelar sarjana Jurusan Bahasa Inggris dari Universitas Hasanuddin. Sekarang, Sadar menjadi peneliti suku Bajo, sukunya sendiri.

Ditinggal suami

Tradisi mengembara ini melahirkan kisah lain yang tidak kalah menarik. Salah satunya tentang nasib perempuan di kampung yang ditinggal suami ”buang diri”.

Di Kulati, Pulau Tomia, yang didiami orang-orang Buton, ada Wa Jania (40) yang telah 10 tahun ditinggal suami mengembara. ”Sejak dia pergi, tak pernah ada kabar. Mungkin dia sudah kawin lagi,” katanya kesal.

Wa Jania pun harus membesarkan empat anaknya seorang diri di sebuah rumah berlantai tanah, berdinding papan pinjaman tetangga. Untuk makan sekeluarga, dia mengandalkan kebun singkong dan meti (daerah pasang-surut) tempat gurita, kerang, dan bulu babi ditemukan.

Perempuan senasib Wa Jania mudah ditemukan di Tomia. Aminudin (42), warga Kulati, mengatakan, di sekitar rumahnya ada 10 perempuan yang ditinggal suami. ”Ada yang sudah 20 tahun ditinggal dan anak-anaknya tidak tahu wajah bapaknya.”

Barangkali, inilah kisah pahit dari tradisi mengembara meski, kata Sahrudin, soal ini dianggap jamak dan merupakan bagian dari perjalanan hidup keluarga-keluarga suku pengembara.

”Meski ditinggal orangtua merantau, hubungan kami tetap dekat,” ujarnya.

Orang-orang Bajo, Buton, dan Ciacia merupakan potret rakyat jelata yang tangguh dalam menghadapi kehidupan keras tanpa mengeluh.

(Sumber tulisan dari Kompas)

Sabtu, 25 September 2010

Kunci Rahasia George ke Alam Semesta

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Lucy & Stephen Hawking
"Semua saling jatuh ke arah satu sama lain di alam semesta" (Lucy & Stephen Hawking)

Kandang di halaman belakang rumah ternyata kosong melompong. Freddy, si babi berwarna pink telah hilang. George kecil tentu saja cemas mengetahui piaraannya telah raib. Sedangkan hanya babi itulah teman bermainnya selama ini. George memang tidak tumbuh dalam lingkungan yang sama dengan anak-anak seusianya. Kedua orang tuanya adalah aktivitis lingkungan radikal yang menjalani gaya hidup primitivisme. Dalam artian, kedua orang tua George seminimal mungkin menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-harinya. Mulai dari makanan sehari-hari yang diolah langsung dari alam tanpa perantaraan teknologi masak dan bumbu penyedap, hingga penolakan terhadap pemakaian komputer, dan penggunaan listrik. Alhasil bila malam tiba, rumah George hanya dihias oleh cahaya yang berasal dari lilin saja. Gaya hidup yang dijalani kedua orang tuanya itu membuat George terkucil dari lingkungannya, dan George sendiripun memendam perasaan kesepian. Keadaan terkucil dan kesepian itu diperparah lagi dengan hilangnya Freddy. Bagi George, hilangnya Freddy hanya akan membuat hidupnya semakin terasa membosankan, karena tidak ada teman dan hiburan lagi yang layak bagi dirinya.

Namun demikian, tepat dibelakang kandang, terdapat jejak kaki Freddy yang mengarah ke rumah tetangganya yang dikenal tak terurus dan misterius. Banyak mitos yang dialamatkan ke rumah itu, dan mitos itu tidaklah mengenakan untuk didengar. Namun, tergerak oleh keinginan untuk menemukan sumber kebahagiannya selama ini, George nekat untuk menerabas ke rumah yang tidak terurus itu. Berusaha menemukan Freddy kembali. Tak disangka, disitu George malah menemukan sebuah peristiwa yang mengubah perspektifnya. Dia mendapatkan pengetahuan mengenai rahasia alam semesta. Dari sinilah petualangan George dimulai. Petualangan dalam menguak misteri luasnya galaksi di alam semesta.


***
Stephen Hawking adalah nama yang membuat saya tergerak untuk membaca buku ini pada awalnya. Mas Hawking adalah seorang fisikawan yang diakui kehebatannya setelah Mas Einstein. Akhir-akhir ini dia baru saja menghebohkan publik luas, terutama kalangan agamawan, melalui statementnya dalam bukunya yang terbaru, yakni "the Grand Design". Dalam bukunya itu, Mas Hawking menyatakan, bahwa alam semesta terjadi dari serangkaian peristiwa hukum alam semesta , seperti daya tarik gravitasi. Karena adanya hukum gravitasi itu, setiap materi akan saling tarik-menarik, dan alam semesta akan tercipta dengan sendirinya. Mas Hawking menyebutkan, bahwa penciptaan yang spontanlah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta bisa ada. Tuhan tidak pada tempatnya harus dibawa-bawa dalam masalah penciptaan alam semesta ini. Bisa dibilang, dalam statementnya di "the Grand Design" itu, Mas Hawking "membangkitkan lagi dari kuburan abad medieval", suatu perdebatan antara ilmu pengetahuan dan agama.

Pertamanya, saya berniat mencari buku "the Grand Design" itu. Namun ternyata, harus dipesan terlebih dahulu, dan harganya pun cukup mahal. Tetapi, salah seorang pegawai toko buku itu menyorongkan novel Mas Hawking terbitan tahun 2007, yang ditulis bersama anaknya, Lucy Hawking, yakni "George's Secret Key to the Universe" atau "Kunci Rahasia George ke Alam Semesta" dalam bahasa Indonesia. Sebagai pengenalan terlebih dulu tentang Mas Hawking ini mungkin ada baiknya novel ini dibaca dulu, pikir saya.

Ternyata, novel untuk anak-anak ini sangat menarik. Hukum-hukum fisika dikemas dengan wajah yang ramah, dan mudah dicerna oleh orang awam. Didalam novel ini, kamu akan mendapatkan pengetahuan mengenai asal-usul alam semesta, materi-materi yang ada di alam semesta, pergerakan planet, hukum gravitasi, hingga, ini yang paling menarik, serba-serbi lubang hitam! Dalam seksi mengenai lubang hitam ini, dipaparkan sebuah fakta ilmiah baru mengenai lubang hitam. Dimana, tidak seperti anggapan orang kebanyakan mengenai lubang hitam, bahwa setiap benda yang masuk ke dalam lubang hitam akan terperangkap selama-lamanya. Ternyata, anggapan demikian tidak benar. Benda yang masuk kedalam lubang hitam bisa keluar, karena pengaruh fluktuasi dalam ruang dan waktu. Dengan fluktuasi tersebut, lubang hitam secara perlahan akan melepaskan benda-benda yang sebelumnya ditarik oleh daya gravitasi lubang hitam dalam bentuk radiasi. Pelepasan benda dalam bentuk radiasi itu akan tergantung dari ukuran massa lubang hitam itu sendiri. Semakin kecil massa lubang hitam, semakin cepatlah pelepasan benda itu terjadi. Sebaliknya, semakin besar massa lubang hitam itu, semakin lambat pelepasan benda dalam bentuk radiasi.

Bahkan, lubang hitam itu sendiri nyatanya tidaklah abadi. Seiring pelepasan benda-benda dalam lubang hitam dalam bentuk radiasi ini, perlahan lubang hitam itu akan menguap. Penguapan ini juga tentunya dipengaruhi oleh besar-kecilnya massa lubang hitam itu sendiri.

Edas. Mengagumkan ternyata, saudara-saudari....


***
Ada satu lagi cerita yang mengesankan dari buku ini. Yaitu, ketika membahas tentang asal-usul alam semesta. Salah satu tokohnya menyebutkan, bahwa kita - umat manusia - sesungguhnya merupakan "anak-anak bintang". Ungkapan ini bisa dibilang indah secara metafora, dan juga benar secara harfiah, bila kita melihatnya dari bagaimana alam semesta ini bisa terbentuk. Gunung, awan, pantai, diri kita (manusia), bulan, planet, hingga meteor, bisa terbentuk setelah melalui proses yang telah berlangsung jutaan bahkan miliaran tahun sebelumnya. Semuanya bermula, ketika setiap partikel-partikel yang ada di awan gas saling tarik-menarik dan membentuk suatu gumpalan awan gas yang padat, karena termampatkan oleh tarik-menarik antar partikel itu. Bersamaan semakin padat gumpalan awan gas itu, semakin panaslah dia. Sehingga pada akhirnya, menyebabkan lapisan terluar dari gumpalan awan gas yang padat itu meledak dan terlempar kesegala penjuru. Sedangkan lapisan inti dari gumpalan awan gas itu menjadi bintang, atau di bumi kita menyebutnya matahari. Lapisan-lapisan terluar dari gumpalan awan gas yang telah terlempar itu, dengan melalui proses yang memakan waktu triliunan tahun lamanya, perlahan membentuk sistem tata surya yang kita kenal selama ini.

Dilihat dari proses pembentukan alam semesta yang telah berlangsung lama itu, dapat dimengerti, ketika manusia dijuluki sebagai anak-anak bintang. Ada elemen-elemen dari bintang dalam diri manusia. Elemen-elemen yang tercipta dari ledakan awan gas di alam semesta bermiliar-miliaran tahun yang lalu. Sungguh menakjubkan.

Dari sinilah, saya baru 'ngeh' tentang bagaimana posisi manusia dan keterkaitannya dengan alam semesta. Bahwa manusia bukanlah spesies yang terisolasi, terpisah dari lingkungannya. Manusia itu sendiri adalah bagian dari hukum-hukum alam semesta. Kita terkoneksi dengan segala yang ada dilingkungan kita. Saling terpengaruhi. Kita dan lingkungan kita, memiliki satu genesis yang sama...yang tercipta dari suatu hukum alam semesta.

Brutal.

Kalau ada buku yang menggugah orang lain untuk mempelajari fisika dalam kaitannya dengan misteri alam semesta, dan juga buku yang mendidik manusia tentang siapa dirinya dan lingkungannya, saya kira buku ini patut disebut.

Rabu, 15 September 2010

H +2

"Ga ada hubungannya lebaran sama pacaran...siapa cepat dia dapat," ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya yang terakhir.

Api rokok yang sudah menyentuh filternya itu lantas buru-buru dia matikan. Kemudian dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Sebatang rokok dia ambil lagi, lalu menyalakannya dengan menggunakan korek api batangan.

"Yah, mumpung masih dalam rangka bulan keramat umat muslim," ujarku "kait-kaitkan saja momentum itu dengan peristiwa jadiannya."

"Wasweswos...euweuh. Euweuh hubunganna!" bales dia lagi. Keukeuh.

Sayapun tidak ingin mendebatnya, karena memang dia betul. Tidak ada kaitannya hari raya Idul Fitri dengan seseorang yang disukai tiba-tiba sudah menjalin hubungan dengan orang lain. Kait-mengkaitkan itu hanya pikiran iseng saya saja. Pikir saya saat itu, mungkin yang sudah jadi pacarnya saat ini bisa menganggap momen ini sebagai berkah Ramadhan. Seperti di iklan-iklan itu, yang mengaitkan berkah Ramadhan dengan kuis berhadiah jutaan rupiah. Namun bedanya kali ini, hadiahnya lebih menarik dari doorprize berupa uang. Hadiahnya seseorang yang kamu sukai. Tidak ada yang lebih menyenangkan, ketika seorang individu bebas, yang memiliki pikiran dan hidupnya sendiri, mau masuk menuju kehidupanmu, dan berbagi kehidupannya denganmu. Membuka rahasia hidupnya kepadamu, tidak kepada orang lain.

Tapi, Iya tak tertarik melihat hal-hal sentimentil semacam itu. Pikiran dia simpel dan memiliki batas: tak ada hubungan antara perayaan Idul Fitri dan cerita bagaimana seseorang yang disukai tiba-tiba sudah memiliki hubungan dengan orang lain. Semua hanya masalah kecepatan. Perasaan sentimentil tak perlu dilebih-lebihkan melampaui beberapa "hukum pokok" yang ada di dunia ini, seperti hukum "kecepatan" itu, misalnya.

Namun, sebagai seseorang yang sedang sentimentil mengetahui bagaimana seseorang yang disukainya sudah bersama dengan orang lain, saya hanya ingin berbicara apa saja. Termasuk kait-mengaitkan masalah berkah Ramadhan ini. Walaupun memang omong kosong juga. Tetapi sebagai pelipur lara mungkin bisa berguna. Setidaknya sebagai bahan lelucon.

Sebagai hiburan bagi diri sendiri, hukum "kecepatan" yang dilontarkan Iya juga kuterima-terima saja. Tanpa beban, tanpa sesuatu apapun. Toh, bila dipikir-pikir, saya juga memang baru saja memulai. Kurang lebih dua minggu sebelum lebaran, aku baru saja bisa kenal. Namun setelah perkenalan itu, tidak ada tatap muka. Hanya sebatas melalui omong kosong "pesan elektronik".

Baru saja kenal, mungkin mulai perlahan dulu. Jangan langsung mengajak keluar, pikirku saat itu. Toh, akupun tidak bisa memulai bila aku merasa belum siap.

Tetapi, kadang semuanya selalu berjalan rancak. Ada saja kejutan disana-sini. Seperti yang kualami hari ini. Semuanya tiba-tiba lepas tak menentu.

"Hikmahnya...untung belum terlalu jauh," ujarku pada Iya.

"Tah eta pisan...untung belum terlalu jauh!" balasnya. Akhirnya sepakat dengan pikiranku.

Tentu saja Iya sepakat dengan pikiranku. Setelah menjalani hubungan selama empat tahun, sang pacar memutuskan secara sepihak hubungannya dengan Iya. Tentu saja Iya uring-uringan. Tentu saja Iya paham betul, ketika berkata, "tah eta pisan...untung belum terlalu jauh!"

Aku baru mengetahui Iya sudah putus minggu-minggu ini. Sedangkan kejadiannya sendiri sudah lewat dua bulan. Selama hampir sebulan penuh dia galau tak menentu. Malamnya selalu dihabiskan dengan berjam-jam mengeluh kepada Arya, seorang teman lainnya. Kubayangkan bagaimana keluhan Iya itu menjadi keluhan yang panjang. Terbayang bagaimana raut wajah Iya yang terlihat bolon, ketika dia duduk berhadap-hadapan dengan Arya. Terbayang suasana kamar Arya menjadi serius, sembari kepulan asap rokok mengepul disana-sini. Pasti akan menjadi keluhan yang tidak ada habisnya, kalau boleh disebut. Dan selama keluhan itu tidak ada habisnya, makin tidak berguna jadinya, karena terus-menerus diulang.

"Sekarang mah sudah rada mendinganlah. Ga kaya kemarin-kemarin," kata Iya, ketika kutanya keadaannya.

Hmm, masalah hubungan-hubungan semacam ini sebenarnya masalah yang cukup mengesalkan juga buatku. Walaupun selama ini aku mencoba menyederhanakan semuanya, namun, ketika gilirannya, ada saja hal yang membuatnya terlihat rumit. Mungkin, sebenarnya semuanya bisa berjalan dengan sederhana, namun kesederhanaan itu seringkali tertutupi oleh pikiran-pikiran tertentu yang tumbuh di dalam kepala. Membuatnya terlihat rumit. Sehingga membuatku kesal sendiri.

"Sabar ajalah," kata Iya, "lain kali, kalau ketemu seseorang lagi, langsung hajar aja. Ga usah nyari tetek bengek semacam timing-timing segala," katanya.

Aku hanya tersenyum. Tidak tahu harus berbicara apa lagi.

Dalam hati aku tak sependapat dengannya. Bagaimanapun, bila aku yang memulai...aku harus merasa yakin. Dengan begitu, aku bisa mantap memulai. Sehingga pada waktunya nanti, tak ada kebimbangan-kebimbangan yang tak perlu. Aku dapat menjalani keyakinanku.

Namun, tampaknya, seperti semua hal yang berjalan di dunia ini, konsekuensi-konsekuensi selalu ada bagi setiap pilihan dan tindakan. Seperti hari ini, ketika cuaca mendung, ketika waktu berputar sedemikian cepatnya, ketika sebuah niat tak lagi terealisasikan, ketika rasa cemas menggelayuti hati, ketika ada ruang kosong yang eksis dalam harapan yang menguap, ketika dia pada akhirnya pergi bersama orang lain.

Rabu, 01 September 2010

Bersolek dan Nilai-Kerja

"Jika Anda pergi ke tukang cukur buat pangkas rambut, cuma perlu 15 menit. Jika Anda tidak suka potongan rambut standar di tukang cukur dan ingin mengekspresikan individualitas melalui gaya rambut aneh-aneh, maka Anda pun pergi ke salon. Di sana perlu 1 jam. Anda juga harus membayar empat kali lipat - dan ada alasannya. Memang harus lebih mahal pergi ke penata rambut, karena Anda menyita waktu seseorang lebih lama."
- Joseph Heath & Andrew Potter: the Rebel Sell -


Membaca omongan Heath & Potter diatas, tiba-tiba saja teringat teori nilai-kerjanya si Om Petromarks. "Bagaimana sebuah komoditi dinilai?" katanya, "dengan melihat waktu kerja rata-rata secara sosial yang diperlukan dalam membuat komoditi itu."

Sabtu, 14 Agustus 2010

Morning Glimpse

Tetapi apakah itu yang membayangi di depan sana? Apakah hanya sebuah tanda lain dari ketidakpastian? Suatu tanda dari ketidakjelasan lainnya? Tetapi ketidakjelasan itu juga yang sesegera mungkin harus disapa. Mau-tidak mau.

Entah kemana semua ini akan mengarah pada akhirnya. Tetapi ku tak pernah menyesal dan minta maaf atas segala hal yang telah terjadi dan dilalui. Yang kutahu, pada akhirnya setiap orang di muka bumi ini harus mengambil beberapa pilihan. Menemukan kemungkinan untuk dirinya sendiri...dengan terpaksa atau tidak. Mau-tidak mau. Dan dari sini, sudah bukan pada tempatnya penyesalan dan keinginan untuk meminta maaf mengambil tempat. Yang tersisa hanyalah kenyataan eksistensial mu sendiri yang menempati sebuah ruang dan waktu baru, dan bagaimana keputusan lain harus sesegera mungkin ditentukan dari situ.

Namun, dengan kesadaran maupun keterpaksaan yang telah dihadapi selama ini, dan beberapa pilihan yang harus diambil setelahnya...kuketahui dengan jelas bahwa aku bebas. Aku memilih didalam sebuah persimpangan ketidakjelasan. Pada akhirnya, semua kesedihan, dan semua rasa sakit, menjadi tak relevan dengan kenyataan, bahwa aku adalah individu bebas yang menjalani konsekuensi dari kebebasan yang telah kupilih selama ini.

"Karena dengan ketidakjelasan, kamu menemukan kemungkinan bagi dirimu sendiri dengan segala konsekuensinya", begitu suara sayup terdengar dari arah belakang.

Tidak ada penyesalan, dan tidak ada jalan memutar kebelakang. 

Senin, 05 Juli 2010

Master Yoda Has Spoken


"Fear of lost is a path to the darkside. Death is natural part of life. Rejoice for those surround you who transform life into the force. Mourn them do not. Miss them do not. Attachment leads to jealousy. The shadow of greed that is. Train yourself to let go...of everything you fear to lose."
- Master Yoda, "Revenge of the Sith" -

Selasa, 25 Mei 2010

ngalor-ngidul: kota

Kota bisa menjadi tempat yang asing bagi penghuninya. Padahal jajaran gedung yang menjulang serasa menembus langit beserta papan reklame yang terpasang di kiri dan kanan jalan perkotaan konon adalah simbol kemakmuran sebuah kota. Seperti yang pernah kudengar dari pepatah lama:  "kemakmuran sebuah masyarakat dimana corak produksi kapitalis muncul, menampakkan dirinya dalam wujud “an immense collection of commodities" atau mengoleksi komoditi sebanyak-banyaknya.”

Bila ku mengitari kota tempatku tinggal sekarang, begitu banyak papan reklame yang menawarkan produk maupun jasa tertentu. Belum lagi suatu altar bagi para manusia urban bernama mall. Bila melihat itu semua, kota memang terlihat makmur. Banyak produk yang ditawarkan (bahkan terlalu banyak), dan juga hiburan. Dari sisi yang lain, hal itu juga akan berarti ada kesempatan untuk sebuah pekerjaan. Dengan terbukanya kesempatan untuk bekerja, maka akan ada peluang untuk mendapatkan hidup ideal (rumah tipe 54/160, mobil pribadi, keluarga sakinah, dsb). Semakin beragam dan bertambah komoditi yang hadir di pasar, semakin terbuka kemungkinan akan lapangan pekerjaan dan juga harapan akan hidup yang lebih baik melalui kerja.

Kota adalah salah satu tempat dimana beragam komoditi  itu diproduksi dan didistribusikan. Dengan begitu, ada harapan di dalam kota. Dan itulah yang umumnya membuat kota selalu didatangi manusia yang mencari harapan setiap tahunnya.


Memenuhi harapan personal tiap individu akan kemakmuran adalah cetak biru untuk desain setiap kota. Namun demikian, kota juga sekaligus adalah sebuah ruang yang paling tidak manusiawi, karena setiap bagian yang ada didalamnya diselaraskan dengan intensifikasi kerja dunia industri; dengan pemampatan aktivitas yang semakin padat dan bergulir cepat. Jalan layang serta jalan tol yang memotong waktu tempuh dari rumah ke kantor, pembangunan apartemen di pusat kota yang dekat dengan area bisnis, hingga pelebaran jalan raya untuk memperlancar arus modal yang sempat tersumbat (truk kontainer yang sering lewat rupanya membuat arus jalan raya macet dan lahan warga yang harus dikorbankan melalui persuasi bernama kompensasi).  

Fasilitas dan kemudahan yang ada di kota pada akhirnya adalah fasilitas dan kemudahan yang didirikan dengan fondasi yang sakit. Tujuannya adalah melekatkan individu-individu kepada poros kapital yang berputar semakin cepat dan intens. Namun kecepatan dan intensitas yang bukan semata-mata untuk kemudahan manusia sendiri, melainkan penggenjotan nilai-lebih.

Di sisi lain, ada kita, manusia yang  bergerak mengikuti ritme kecepatan yang tiada habisnya itu.  Pada akhirnya, seringkali kehidupan di kota berputar menjadi terlalu asing. Jalan layang tidak menjadi jaminan perjalanan menjadi nyaman; pikiran melayang kepada tugas yang belum diselesaikan. Ada sebuah taman di tengah kota; tetapi kita begitu terburu-buru. Rumah menjadi tempat singgah, bukan rumah itu sendiri.     

Di dalam kota kita mengikuti arus. Terpana sekaligusterpengaruh oleh kemakmuran dalam wujud fisikal. Sementara begitu sulitnya untuk berusaha menembus wujud fisikal dan melihat relasi sosial yang rumit antara agensi dari dua kelas yang kontras, ketika pikiran kita sendiri dilelahkan dengan denyut nadi perkotaan.

Tetapi kita terus menghirup nafas kehidupan, menjalaninya dari hari kehari. Betapapun lelahnya.


===================================================================
Bandung, 24 Mei 2010. Ketika duduk bersama kawan di trotoar yang terletak di pusat kota sambil memilih menyeruput bajigur alih-alih kopi kapal api seharga Rp 10.000. Sebelum menikmati senja di Bandung, sebelum proyek "eksplorasi menempati ruang kota dengan cara pamalesan dan kontraproduktif untuk ukuran orang kantoran" ini dimulai, kami tidak pernah menyadari apa yang terdapat di sebuah daerah urban: bahwa ada fase yang berubah, dan kita mencari jalan untuk beradaptasi dengannya. Bahwa kesepian dan keterasingan yang hadir saat ini adalah sesuatu yang harus diterima, dan mulai belajar untuk mengenalinya.

Sabtu, 13 Maret 2010

Berteduh di Bawah Sepasang Mata

"…dan saat ini aku melangkah. Bukan untuk esok hari, maupun yang sudah lalu. Tapi, untuk tidak sekedarnya menjalani suatu fase ‘menjadi’". Revolution in everyday life.

Pertama kali kulihat sebuah foto dalam LCD Nikon D-70 temanku. Didalamnya terpampang sebuah wajah perempuan yang cantik dan, menurutku, mempunyai suatu daya tarik. Lama sekali kupandangi foto perempuan itu. Sebelumnya aku tidak begitu ‘ngeh’ dengan kehadirannya. Tapi, setelah kulihat fotonya dalam kamera itu, aku tersadar bahwa ia sebenarnya mempunyai daya tarik. Lama kupandangi wajahnya yang manis itu, kulihat bibirnya yang merah ketika dia tersenyum sambil menyandarkan wajahnya miring ke pintu. Pose yang memikat.

Dari semua bagian wajahnya yang paling menarik perhatianku adalah matanya. Adalah mata, sepasang mata, yang membuatku tidak bergeming ketika melihat wajahnya. Matanya begitu indah, seakan-akan aku terpayungi ditengah-tengah padang pasir yang gersang. Dan suatu waktu, aku mendapat kesempatan untuk bertatap muka dan berbincang-bincang dengannya. Ketika kuajak dia duduk dan mulai berbicara, pelan-pelan kutatap lekat-lekat matanya yang teduh itu. Aku tidak peduli lagi bila ia merasa aku suka kepadanya. Satu-satunya keinginanku adalah melihat matanya, menikmati tatapan matanya yang menentramkan itu. Ya, matanya bagiku memiliki daya tarik tersendiri. Sementara dia berbicara, aku menikmati sepasang mata yang sedang menatap wajahku.

Sekarang, aku berada di sudut kamar yang pengap oleh asap rokok, ditemani oleh sound Telephone Tel Aviv dari mp3 yang ada di komputerku. Di sudut kamar ini aku mengenang kembali mata-mata perempuan yang lewat dalam perjalananku. Dalam satu titik aku mengenang, bagaimana mata-mata yang mempesona itu membuatku tergoda untuk menyelaminya. Layaknya telaga rahasia yang tidak sengaja kutemukan di suatu bukit. 

Jumat, 08 Januari 2010

Sunset Mission

Beginilah jadinya. Berada di tengah kerumunan. Tak teridentifikasi…dan tanda pengenal yang kukenakan hanyalah menunjukkan bagaimana diri ini menjadi sebuah cadangan tenaga. Pasokan untuk kelangsungan hidup mereka. Hidup yang tidak ada sangkut pautnya dengan diriku. Dan orang yang hilir mudik dengan ekspresi hampa…aku berada di tengah mereka.

Perang yang ada seperti dalam hati. Gejolak batin seperti bara yang tak tuntas menemukan kanal pelepasannya. Sebenarnya siapa yang waras, seringkali ku bertanya pada diri sendiri. Bagaimanakah dunia harus dipahami…sementara orang-orang disisi kanan dan kiriku berbicara sesuatu yang tidak pernah ku mengerti. Bicara dan bicara tanpa jeda dalam rangkaian repetisi…sungguh membosankan.

Malam hari selalu memberiku kehangatan…dan juga kenyamanan. Jalanan sungguh sepi, dan para pedagang kaki lima sudah kembali tetirah. Ruas jalan sungguh lengang. Hanya ada satu-dua mobil yang melaju. Dan yang terpenting dari semuanya, tidak ada kerumunan. Orang-orang entah kemana. Menghilang. Hanya ada diriku dan kesunyian yang hangat dari sebuah malam. Tak ada lagi orang-orang yang berbicara sesuatu yang tidak kumengerti. Tidak ada lagi khotbah, betapa kebahagiaan adalah kulminasi dari etos dan loyalitas. Aku tidak pernah mengerti, mengapa tiba-tiba selalu ada mereka yang masuk kedalam kehidupanku, dan merenggut apa yang kumiliki.

Dan malam…pada akhirnya hanyalah pelarian. Pelarian dari ketidakmampuan ku sendiri. Ketidakberdayaan. Sesungguhnya tidak ada tempat untuk sembunyi...ditengah kerumunan, bahkan didalam keterasingan sebuah malam itu sendiri. Setiap diri telah menjadi target. Demi ekspansi, dan akumulasi. Kadang ku menghibur diriku sendiri, betapa bara tetaplah bara, walaupun didalam hati. Dan konon bara itu dapat membuatmu setidaknya tersenyum miris. Mentertawakan mereka yang mengingatkan ketidakmampuan dirimu sendiri. Bila itu terjadi, maka aku sungguh senang menyambut senyum yang lama kunantikan. Setidaknya aku ingin tersenyum, ketimbang menunjukkan ekspresi datar dari orang-orang yang berada dalam kerumunan itu.

Foto oleh Alexei Titarenko.

Rabu, 23 Desember 2009

Ride feat. Buronan Mertua

Ada saja yang terlupakan. Ada saja yang baru disadari kemudian. Selepas malam tiba, dan matahari muncul dari timur...dari arah Cibiru. Sebenarnya ada kehangatan yang mengingatkan banyaknya kasih sayang yang mengalir alami dari orang-orang lama. Mereka yang sederhana, dan sebenarnya selalu terbuka. Namun, seperti gedung-gedung yang menjulang tinggi di Asia-Afrika itu...sinar matahari tidak pernah berhasil menembus bata, beton, besi dan baja yang menjadi fondasinya. Pada akhirnya, hanya menyisakan bayang-bayang bangunan yang menjulang tinggi. Sama seperti mata ini yang selalu tertutup akan realitas...hanya memburu bayang-bayang: tak ingin menginjak muka bumi dimana kaki benar-benar menapak di tanah yang sederhana. Selalu mengharapkan kehidupan yang sempurna dari ketinggian imaji yang semu dan goyah.

Di Cileunyi sorot sinar matahari begitu hangat. Bersamaan dengan motor yang melaju di kecepatan 60 km per jam, angin berhembus menerpa kulit. Terasa hangat. Rasakan sinar matahari. Tidak terlalu menyilaukan seperti siang. Resapi pagi yang tersisa: bukalah mata, hati, dan pikiran. Mudah-mudahan.

Rabu, 09 Desember 2009

Space Monkey Astronauts: The Alien Intruders from Nebula Galactikon

Matahari menyelam semakin dalam ke arah barat. Senja menyapu jalan ambon yang selalu sepi. Jalanan basah setelah sebelumnya terguyur hujan yang nanggung. Daun yang jatuh tak jauh dari pohonnya yang terletak dipersimpangan Jalan Ambon itu nampak bersatu dengan sampah basah. Bercampur baur dengan sangat joroknya. Satu dua mobil melaju dari arah Jalan Lombok menuju Jalan Banda. Dan terasa angin dingin merembes hingga tulang. Kedua tangan mengepal semakin kencang didalam saku sweater. Terdengar sayup suara gonggongan anjing dari sebuah rumah yang terletak di sekitar Jalan Aceh.    

Uang mulai habis. Tidak punya kerja. Skripsi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Proyek tidak maju-maju. Teman terdekat entah dimana. Seseorang yang kucintai, tidak mencintaiku. Senar gitar sudah karatan. Hutang menumpuk sebanyak hampir lima bulan. Pulsa tak terisi selama hampir tiga minggu. Harapan orang tua tak terkabulkan. Komunikasi yang tak pernah nyambung. Mental yang turun ke titik nol. Harapan yang tidak terealisasi. Cobaan yang selalu saja datang tanpa bewara.    

well-well-well, mari-mari...semoga masih ada yang tersisa. Hufhhhh.

Bandung, Jl. Ambon, 7-12-09, menjelang akhir tahun. 

Minggu, 29 November 2009

Manipulate the Eclipse

“Replace my heart I'm no longer cold to
  a fallen beast inside of me
 We'll be the opposite of everything.

 Victor keep your head up, we don't
 Want to to see ourselves with tragedy
 Comes shifting of perspectives.”
-Manipulate the Eclipse by Hopesfall-


Hari seperti apa yang ingin kamu kenang, sementara waktu berlalu semakin cepat, meninggalkan apapun yang tak sempat teraih? Apa yang ingin kamu yakini, saat khotbah yang terdengar tak ubahnya seperti retorika yang semakin memberimu kehampaan? Ketulusan seperti apa yang ingin kau beri dan peroleh, ketika keintiman personal hanya menegaskan hubungan yang impersonal?

Life is worth when we can get closer enough to it’s essence, Boy.

Minggu, 22 November 2009

Ngacapruk: Progress Assault Zero, Bung!

Kadang saya berpikir, kami hanyalah seperti atom. Kecil. Namun demikian, ia terpecah-pecah dalam peta sub-urban dimana didalamnya setiap wilayah dibatasi dan dibagi oleh jalan raya dan petak-petak lahan bisnis. Dengan begitu, tiada keterkaitan antara satu atom dengan atom lainnya. Menjadi asing satu sama lain. Dan individu, dengan hanya menjadi atom saja, tanpa adanya keterkaitan dengan atom lain, dia tidak akan menjadi molekul, tidak akan menjadi siapa-siapa.

Dalam beberapa hal, selalu ada pengecualian. Ketika “atom-atom” yang kecil dan terpisah itu, entah bagaimana, terkoneksi satu sama lainnya atas dasar “kesamaan pandangan”. Terangkai menjadi sebuah molekul. Sebutlah itu komunitas, paguyuban, atau sekte sekalipun. Namun demikian, dalam sebuah peta sub-urban, dimana wilayah yang terpetakan bukanlah dimaksudkan untuk kepentingan para atom agar saling terkoneksi menjadi molekul, maka rangkaian molekul itu hanya bersifat sekadar “pelepasan di akhir pekan” saja. Karena esoknya (hari Senin), kami kembali terpetakan. “Pelepasan” itu tak ubah seperti ajang para filantropis bersosialiasi di hotel paling mewah di kotamu. Namun bedanya, tempat yang kami ambil adalah pelataran parkir gedung yang kosong, bukan hotel mewah.

Dalam peta sub-urban, kesamaan pandangan yang kami miliki, ternyata tidak relevan dengan kehidupan yang kami jalani, ketika sendiri. Bagaimana bisa kami menjalani sebuah alternatif kehidupan, bila ternyata yang kami perbincangkan di akhir pekan, seperti memperbincangkan “betapa-kerennya-kami”, atau betapa indahnya masa lalu. Dan sistem kemasyarakatan, kita semua tau, tidak sesederhana obrolan yang niatnya terbatas sekadar ingin memancing perhatian orang lain seperti itu. Membicarakan alternatif kehidupan, berarti berbicara tentang perombakan landasan dan institusi yang menopang kehidupan dominan yang kita jalani sekarang. Bukan sekadar bagaimana berkoar mengekspresikan kebebasan dengan membuat lubang sebesar Babon di telinga kiri mu. Seolah-olah dengan begitu, kamu telah melanggar norma masyarakat, dan bisa dipuji dengan label pembangkang yang disematkan kepada harga dirimu.

Apa gunanya menjadi “pemberontak-gaya hidup” yang dengannya kamu selalu banggakan itu, bila dalam keseharian, kehidupan yang kamu dan aku jalani sama seperti yang sudah-sudah? Apa yang alternatif bila transaksi dengan pegawai Circle K, landasannya masih sama seperti sebelumnya? Bedanya hanya dandanan kamu nyeleneh dibandingkan dengan yang lainnya.      

Mungkin problem yang sama terus menerus berulang. Ketidaksepahaman. Dan antara kamu dan saya, kehidupan ini selebihnya hanya saya saja yang menjalaninya. Begitu juga dengan mu. Kata yang lain, ketidaksepahaman seolah-olah memberikan ruang bagi tiap individu mengembangkan gagasannya. Memberdayakan dirinya masing-masing. Di sisi yang lain, ketidaksepahaman seperti jalinan benang yang kusut dan kacau balau. Selalu menghambat tiap kemajuan yang dicoba untuk dibuat. Dan untuk ini, saya muak untuk memilih kesepakatan yang mana yang akan saya ambil terhadap salah satu sisi yang berlainan seperti itu. Mungkin, selama ini saya memang tidak pernah akur berinteraksi dengan orang-orang. Mungkin. Mungkin. Mungkin. Ah, kemungkinan.

                                                                  ***

Secara metafor, atom mencerminkan inti. Dan inti, seperti akar. Dia menghujam ke kedalaman tanah. Dengan begitu, dia memberikan fondasi, menuntun gerak, dan layaknya metafor pohon yang memiliki akar kuat terpatri lurus ke inti bumi: dia kuat menahan ganasnya terpaan angin ribut.  Tetapi itu bila akar dipelihara secara simultan. Ada orang yang ibaratnya selalu mau menyiram apa yang dia miliki setiap hari. Penuh kesabaran dan intensitas. Bila tidak, mungkin gambaran gurun tandus di Nevada atau dataran gersang di Texas, Amerika, sana cocok untuk dijadikan perumpamaan. Sangat sedikit sekali air disana, sedangkan manusia, sebagian besar tubuhnya dipenuhi oleh air.


Minggu, 04 Oktober 2009

Megadeth

Bahkan kini kamu takut mati. Cuplikan-cuplikan suasana pasca bencana alam di layar kaca itu menjadi dasar, katamu, bahwa kematian itu ada…atau setidaknya sesuatu yang ternyata ‘hadir setelah absen selama ini’. Seperti mereka yang keluar dari kantor-kantornya, dari lubang persembunyiannya, dari zona kenyamanannya sendiri, tentu adalah air mata yang menjadi isyarat. Kepanikan di jalan raya dan kompleks perkantoran, ketika kaki-kaki sebelumnya berderap tergesa-gesa menuruni tangga: dengan sengaja, atau tidak sengaja meninggalkan apapun, selain jasadnya sendiri. Kamu panik, kita panik. Dan diatas segala-galanya, adalah imaji tentang kematian yang bersemayam dibalik kepanikan kita.

Setelah sekian tahun masuk-keluar kantor, setelah sekian lama kamu naik-turun elevator, setelah sekian lama kamu terlarut dalam kertas-kertas laporan keuangan…kamu baru tahu ada bahasa Indonesia yang namanya “kematian”?  Cih. Jangan-jangan kamu baru tahu juga gerigi-gerigi roda mesin di pabrikmu itu berhenti berputar, karena sang operator juga sudah kelabakan mencari perlindungan. Lari terbirit-birit meninggalkan mesin. Meninggalkan apapun yang ada, hanya demi keselamatan. Keselamatan. Bukan kematian.

Ternyata kehidupan memang pantas untuk dicintai, ya? Jauh lebih pantas dicintai, ketimbang laporan keuangan dan gerigi-gerigi roda mesin mu itu.