Tampilkan postingan dengan label capruk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label capruk. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Mei 2020

Catatan tentang Contagion (Bagian 1)



Sekelibat aku kerap mendengar tentang film ini, Contagion. Film yang dibuat tahun 2011 tentang pandemi virus global. Kata orang-orang, gambaran pandemi virus dalam film yang disutradarai oleh Steven Soderbergh itu mendekati peristiwa global yang terjadi akhir-akhir ini tentang pandemi virus corona.

Kamis, 16 Januari 2020

Sirkus Politik




Sirkus politik pemerintahan akhir-akhir ini sungguh luar biasa bikin migren. Mulai dari koalisi partai politik, bergabungnya gerbong Om Prabs, komposisi kabinet Om Joks sampai arah kebijakannya. Melihat semua dinamika itu, mulai dari penentuan koalisi sampai arah kebijakan, bagiku terasa cukup turun naik. Tapi, tetap saja ada benang merahnya: seakan-akan semuanya itu menjauh dari perspektif kerakyatan. 

Rabu, 27 Februari 2019

Eksil di Arus Utama




Rasanya ingin teriak sekeras-kerasnya. Tapi, hey, kau tahu? Umurku sudah mau beranjak ke angka 35 pada tahun ini. Berteriak sekeras-kerasnya dan membanting benda-benda, seperti gitar misalnya, tampak seperti bocah ingusan yang terlalu banyak teracuni lagu Pearl Jam zaman album Versus. Terlihat tidak pantas. 
                

Minggu, 29 Desember 2013

Kehidupan yang Layak


Sebelum natal, hujan selalu turun di Bandung. Curahnya sangat tinggi. Di wilayah Kabupaten Bandung Barat beberapa kali terjadi peristiwa longsor akibat hujan yang hampir setiap hari mengguyur dengan curah yang tinggi tersebut.

Minggu, 20 Januari 2013

Warung Mang Ade


Adakah tempat yang membuat mu merasa tenang? Seperti apa?


Dua pemuda di sebelah kananku asyik berbincang-bincang. Beragam topik mereka obrolkan. Mulai dari liga inggris, teman satu tongkrongan, pengalaman menjadi panitia pensi, sampai ospek kampus. Di sela-sela obrolan, mereka menyeruput kopi yang masih hangat buatan Mang Ade-penjaga warung kopi tempat kedua pemuda dan diriku berada. 

Sabtu, 05 Januari 2013

Kota Kecil


Kotaku yang kecil, dan begitu-begitu saja. Pada suatu waktu, aku mendapati diriku menekan tombol lantai 2 di lift Bank Indonesia, dan memasuki Aula Pasundan. Beberapa minggu, atau terkadang hari, setelahnya, aku mendapati lagi diriku menekan tombol tersebut. 

Sabtu, 24 November 2012

Menyedihkan



Seringkali asap ganja memenuhi kamar Roy yang redup dan pengap itu. Biasanya aku suka menghisap ganja dan berbicara apa saja di kamar Roy: mulai dari alasan, penyangkalan diri sendiri, melontarkan humor garing, atau sekadar melamun tak menentu karena efek ganja yang sudah semakin memberatkan. 

Kamis, 09 Februari 2012

Serba-serba...

Serba dadakan. Serba seadanya. Serba terburu-buru. Kondisi itulah yang kuhadapi akhir-akhir ini. Bagiku biasanya segala sesuatu diperlukan perencanaan serba matang dengan eksekusi yang terarah, terukur, dan cermat. Tapi, sekarang-sekarang tidak seperti itu. Semuanya serba mengikuti kondisi. Hasilnya? rontok.

Seperti biasa, pagi diawali dengan memikirkan rincian dari tema besar yang digagas malam sebelumnya. Lalu keluar dari rumah dengan pikiran kesana-kemari. Tidak hanya pikiran. "Buronan Mertua", motorku yang berumur lima tahun pun terbawa situasi: ia menjajal jl. pelajar pejuang, dago pojok, hingga ujung berung. Dibawah hentakan halilintar, ia menembus hujan deras. Melibas perapatan Gedebage yang dilanda banjir cileuncang. Tapi, seperti diriku, pada akhirnya ia pun ikut-ikutan rontok: mogok di tengah-tengah genangan air.

Semuanya menjadi serba dipaksakan, dan parahnya lagi, target tenggat waktu dilanggar hingga 45 menit. Ku ingat guyonan Armin, ketika mendengar cerita Ilham yang juga rontok seperti diriku saat memburu rincian tema besar. Katanya, "maneh teh rek ngabelaan naon atuh? (kamu tuh mau membela apa sih?)."

Guyonan Armin bagiku terdengar cerdas. Sebagai bahan untuk mentertawakan diri sendiri, guyonan Armin sangat pas. Apa yang sedang kubela sebenarnya hingga tubuh ini dan si Buronan Mertua harus rontok segala?

Aku kadang mengira-ngira, apakah orang-orang itu mempertanyakan kerja yang menjadi bagiannya?  Apakah semua ini semata-mata sebagai pembagian kerja belaka, dimana setiap orang memiliki perannya masing-masing dalam produksi sosial? Pembagian kerja demi apa?

Akhir-akhir ini aku sering berpikir mengenai aktivitas yang kulakukan. Berpikir mengenai kondisi serba dadakan, serba seadanya, serba dipaksakan, dan serba-serba lainnya, yang sering kuhadapi. Kenapa aku tetap saja menjalaninya? Apakah ada jalan lain? Bila ada, kenapa aku tak berjalan di sana?

    

Selasa, 10 Januari 2012

capruk: yangprofanyangsakral

Keabsurdan dunia. Kegoblokan sisifus. Misteri kematian. Lelucon semakin tidak lucu akhir-akhir ini, tapi terus-menerus direproduksi. Dari mulai pola duniawi: dilahirkan, dipaksa untuk bertahan, lalu tiba-tiba mati. Kemudian candu dari langit bernama agama yang memberi ranting untuk bertahan sejenak dari arus deras sungai kehidupan. Lelucon semakin absurd tatkala pola duniawi dioplos dengan candu agama dosis maksimum: terbang mabuk ke dunia mistik-spiritual yang berkabut dengan kaki lecet yang tetap menapak tanah bumi yang telah tercampur kotoran dan bangkai.

Imaji tentang kesucian, pelarian menuju janji penyelamatan dan penebusan dosa, nirwana, tanah tanpa keresahan, valhala, cinta murni…keabadian…sementara kulit semakin keriput, infeksi semakin menyebar, nafas semakin terengah, pandangan semakin memburam. Kehidupan, kematian, kelapangan nirwana, keresahan duniawi…pelarian dari yang profan ke yang sakral….mabuk keabadian dalam kegamangan siklus peradaban yang tumbuh, berkembang, lalu hancur berkeping-keping.

Bersulang, para pemabuk. Cheersh.

Selasa, 29 November 2011

Tentara Vs. Polwan

Waktu itu saya dengan teman-teman komplek sedang nongkrong di depan masjid sambil menunggu sholat Jumat. Tak beberapa lama, datanglah orang ini, temannya teman kami, Rizki. Sebut saja temannya teman kami itu dengan nama ‘Maman’. Si Maman ini postur tubuhnya besar, tegap, dan kekar. Rambutnya cepak seperti tentara.

Begitu mendatangi tempat kami nongkrong, dan menyapa teman saya, Maman lantas menyalami saya dan yang lainnya yang sedang nongkrong saat itu. Saat giliran saya bersalaman dengan Maman, saya hampir mau menjerit. Cengkraman tangan si Maman ini amit-amit kerasnya. Waktu itu saya lihat mukanya si Maman ini. Dia hanya tersenyum kecil. Kelihatan angkuh.

Itu orang memang sepertinya mau show off. Mau pamer kekuatan. Tapi jadinya malah menyebalkan. Kenal saja belum, tapi gayanya sudah mengintimidasi.

Teman saya yang lainnya pun sama. Tangan mereka jadi korban semua ketika salaman. Diremas keras sama si Maman. Saya dan teman-teman lainnya hanya bisa saling pandang. Merasa satu pemahaman dan penderitaan, tanpa berani protes terhadap kelakuan si Maman ini.

Setelah berbasa-basi dan nongkrong sebentar, Maman lantas masuk kedalam mesjid. Sedangkan kami tetap diluar. Merokok sambil menunggu sholat.

Selepas Maman masuk ke mesjid itu, yang tadinya suasana ‘tegang’, berubah jadi sedikit ramai oleh rasa kepenasaran. Kami mulai berani bertanya tentang orang yang punya cengkraman maut nan menyebalkan itu ke Rizki.

Ternyata si Maman ini adalah kepala staf sekuriti di salah satu ruko dekat rumah kami. Semacam kepala satpam. Pantas saja tangannya ‘besar’ dan keras berotot seperti itu. Tubuhnya juga tegap. Sepertinya tidak cukup kalau harus dipukuli oleh satu orang dengan standar fisik dan mental seperti kami yang lemah dan terlalu teracuni asap rokok.

Terus, setelah ngobrol ngaler-ngidul lagi, ternyata ada sisi yang menggelikan dari Maman. Jadi, sebelum bekerja sebagai kepala satpam, Maman terlebih dulu bergabung dengan TNI. Tentu saja ini aneh. Kalau dilihat dari sisi ‘karir’, perpindahan dari anggota TNI menjadi kepala satpam malah kelihatan seperti penurunan derajat.

“Enya, jadi baheula na pas di TNI, si Maman bobogohan jeung polwan. Apekteh pegat. Nah, tidinya si Maman jadi teu baleg di TNI na. Jadi we si eta (Maman) dikaluarkeun ti TNI. Terus weh jadi kepala satpam nepi ka ayeuna [Iya, jadi dulunya pas di TNI, si Maman pacaran sama polwan. Ga tau nya putus. Nah, dari situ si Maman jadi ga bener di TNI nya. Jadi aja si Maman dikeluarin dari TNI. Terus jadi kepala satpam sampai sekarang]” cerita si Rizki.

“Si Anjing! Hahaha!” Si Apo, teman saya yang juga mendengarkan cerita Rizki, mengumpat dan tertawa keras.

Pastinya Jumatan waktu itu adalah Jumatan yang berisik oleh kami yang mentertawai si Maman. Perduli Imam berkhotbah apa waktu itu. Pastinya, di waktu Jumatan itu kami menemukan orang yang menyebalkan sekaligus konyol. Dan orang itu adalah Maman sang kepala sekuriti ruko. He’s the man!

Dibalik sikapnya yang angkuh dan mengintimidasi. Dibalik otot-ototnya yang liat dan tubuhnya yang tegap seperti Rambo, ternyata Maman punya cerita yang menggelikan juga.

“Bener euy, satangguh-tangguh na tentara, pasti takluk ku awewe mah! Hahah! [Bener, setangguh-tangguhnya tentara, pasti takluk sama perempuan],” kata si Apo yang diamini oleh tawa kami yang puas.

Terus, masih dari cerita Rizki, ternyata saat ini Maman telah menikah. Tak tanggung-tanggung, dua perempuan telah dia nikahi. Kami berspekulasi saat itu, bahwa pernikahannya dengan dua perempuan itu adalah salah satu wujud ‘balas dendam’ dari kisah cintanya yang kandas dengan si Polwan. Spekulasi yang pastinya belum tentu benar. Tapi, cocok sebagai bahan tertawaan bagi kami waktu itu.

Hah. Maman-Maman…sang kepala sekuriti…he’s the man.

Sabtu, 18 Juni 2011

Cerita Lama

Tulisan di bawah adalah semacam cerita lama yang tidak sengaja ditemukan ketika saya "mengembara" secara ngalor-ngidul di dunia maya. Cerita ini diambil dari blog saya sendiri yang password maupun namanya sudah terlupakan (sehingga saya tidak bisa masuk ke akunnya). Di blog tersebut tertulis tanggal postingannya 23 Agustus 2007. Lumayan lama juga. Tapi, ketika melihat-lihat isinya, lucu juga. Semacam permasalahan-permasalahan romantika apeu jaman pertengahan kuliah...yah, lihat saja sendiri. Semacam gumaman orang linglung ketika saya melihat lagi tulisan itu sekarang. 

Banyak hal yang berubah semenjak itu, memang.


   Terlibat dalam Permainan Bodoh yang Tidak Pernah Ingin di Mainkan


Sinarnya menembus melalui jendela. Kelas sungguh terang karenanya. Dibelakang terdapat beberapa orang yang bercanda. Tawa mereka sungguh keras betul. Sedikit tidak nyaman sebenarnya. Konsentrasi jadi terganggu ketika mengerjakan soal ujian. Tetapi untunglah. Bersyukur kepada Tuhan, bahwa ini menjadi ujian terakhir. Soal-soalnya lumayan susah dan di siang ini, semuanya menjadi terasa berat juga. Mengingat tentang seorang teman yang dua bulan kemarin kuberi sesuatu.

Dua bulan yang lalu kuberi ia apa yang kukubur selama setahun ini. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Begitu menerima, ia pergi dari hadapanku tanpa mengucapkan beberapa patah kata, kecuali keterkejutan yang tergambar dari raut mukanya. Syukurlah ia tidak marah, buktinya pagi-pagi mengirimkan pesan singkat. Sekedar mengucapkan terima kasih atas sesuatu yang telah kuberi itu. Ada perasaan lega kala itu. Lega karena, untunglah, ia tidak marah. Terbayang dalam benakku bagaimana manisnya ia saat tersenyum.

Sebentar lagi aku akan melihatnya kembali. Ada perasaan takut, bagaimana reaksi dia saat bertemu nanti. Dalam benakku terbayang situasinya tidak akan jauh seperti dulu. Canggung luar biasa. Tetapi mudah-mudahan semua itu akan berubah. Hati masih memeluk harapan. Salah juga diri ini dari dulu, terlalu takut untuk bergerak. Seperti yang sudah-sudah. Kebiasaan yang luar biasa susah untuk dirubah. Saya ingat seorang teman yang mengirim pesan singkat ketika perayaan tujuhbelasan kemarin: sudah 63 tahun Indonesia merdeka, tetapi apakah selama 23 tahun ini anda sudah merdeka? Bebaskeun atuh euy, tong tolangan wae!hehehe….

Pesan singkat itu tidak kubalas. Tetapi pesannya sudah pasti kuterima. Menancap hingga tak bisa hilang dalam pikiranku. Merdeka…saya belum merdeka. Saya belum bebas. Keparat kau, teman. Sekali lagi kenyataan pahit harus kutelan mentah-mentah. Semuanya karena pesan bodoh itu. Sesuatu yang baik tidak selalu manis. Ia bisa menelanjangimu, mempermalukan dirimu sendiri. Dan itu sakit. Perih. Sesuatu yang baik itu bisa membuat luka.

****
Disebelah kananku ada perempuan ini, namanya Nu. Ia baru kukenal ketika memasuki kelas ini. Angkatan 2003, sedang menyusun skripsi. Ia memakai kacamata. Rambutnya panjang diikat. Cocok sekali. Matanya runcing, sedikit terlihat seperti orang Cina. Secara keseluruhan ia cantik. Lebih cantik lagi tatkala kulihat ia dikelas itu, ketika cahaya matahari menembus melalui jendela dan menyentuh wajahnya. Terang sekali. Sepertinya halus bila kusentuh. Dalam benakku terbayang wajah temanku itu, yang pernah kuberi sesuatu dua bulan yang lalu. Sedang apa dia saat ini? Oh, aku ingin bertemu dengannya.

Nu kebingungan mengerjakan soal ujian. Dia bertanya kepadaku dan kuberi tahu cara mengerjakannya…dengan pengetahuan saya yang minim tentunya. Ya, ia sungguh manis. Nyaman pula ngobrol dengannya. Ia menggerutu dengan manjanya. Mengetahui jawaban ujian yang dia kerjakan tidak tepat dengan rumus yang kuberikan. Lalu ia bertanya kepadaku apakah aku mempunyai type-x. Kujawab tidak punya. Ia melihat-lihat kebelakang, mencari-cari orang yang mempunyai type-x. Tidak ada, nampaknya. Lagipula orang-orang yang duduk dibelakang tidak ada yang dia kenal. Sepertinya malas juga dia untuk bertanya. Ia kemudian mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan mulai menghubungi seseorang. Mesra dan manja sekali terdengar pembicaraan Nu dengan seseorang yang ia hubungi itu. Pasti pacarnya, pikir saya. “Yang, ambilin alat tulis aku dong. Bawa ke atas, ya? Nanti kita makan-makan, deh, abis ini. Yah-yah…mau kan, Yang?”, kata Nu setengah berbisik dan…manja.

Waktu ujian sebentar lagi usai, saya sendiri sedikit panik karenanya. Rokok kunyalakan sebagai pereda stress. Ujian kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Tidak ada yang mengawasi. Dosennya sendiri tidak hadir, karena pergi ke luar kota. Ada urusan, katanya. Mahasiswa bebas untuk membuka buku dan nyontek. Walaupun begitu, soalnya minta ampun susah! 45 menit mengerjakan, baru dua soal yang selesai. Masih ada tiga lagi yang harus dikerjakan. Isinya panjang-panjang. Saya sendiri tidak yakin bisa mengisi ketiga soal itu dengan tuntas.

Tidak lama kemudian, ada seseorang diluar yang melihat ke arahku. Ia menunjuk-nunjuk ke orang disebelahku yang tidak lain adalah Nu. Ah, ini sepertinya pacar Nu. Ku senggol tangan Nu, memberitahukan ada seseorang yang mencarinya. Nu melongok ke arah pintu dan tersenyum, lalu menghampiri orang tersebut. Pacarnya botak dan nampak subur sekali. Tentram lahir-batin, tidak heran bila tubuhnya sangat subur, pikir saya. Nu kembali ke tempat duduknya sembari membawa cepuk. Saya menundukkan kepala, menghisap rokok dan pura-pura serius mengerjakan soal ketika ia lewat kehadapanku. Padahal saya tidak ingin ketahuan oleh Nu, bahwa saya memperhatikan ia dan pacarnya. Canggung juga.

Waktu terus bergulir dan terasa lama. Tetapi saya merasa hanya mengerjakan soal yang itu-itu saja. Berkutat di situ-situ saja. Sialan, kenapa rumusnya harus begini panjang? Sudahlah lebih baik nyontek saja untuk masalah perhitungan seperti ini. Ada temanku duduk dibelakang, namanya Annel. Ia gadis yang baik. Ia menawarkan kertas jawabannya kepada ku. “Ini, mau liat ga,” katanya sembari tersenyum. Saya senang bila melihat wanita tersenyum. Mereka selalu terlihat manis.

“Makasih ya,” kubalas senyumnya dan mengambil kertas jawaban dari tangannya. Saat itu siang menjelang sore, tetapi kelas terasa makin terang oleh sinar mentari. Orang-orang terlihat jelas di kelas itu.

“Gimana mau nyontek ga? Nih, mumpung ada yang nawarin kertas jawaban?” saya berkata pada Nu.

“Terserah lo aja, deh. Pokoknya gua nyontek dari lo,” jawabnya.

Waktu ujian sudah jelas habis dan seharusnya sudah saatnya jawaban ini untuk dikumpulkan. Benar saja, tidak lama kemudian, datang orang SBA. Mengumumkan bahwa waktu ujian telah habis dan bagi mereka yang tidak cepat-cepat mengumpulkan tidak akan diterima kertas jawabannya. Orang SBA itu mengambil aba-aba untuk keluar kelas, meninggalkan kami. Beberapa mahasiswa mulai mengejarnya. Betapa brengsek orang itu. Bahkan saya belum sempat mencontek jawabannya Annel. Saya dan Nu hanya bertatapan. Kami berdua sudah pasrah. Biarlah hanya dua soal yang terjawab. Saya pun mengejar orang SBA itu dan mengumpulkan kertas jawaban saya berikut kertas jawaban Nu.

Brengsek. Dari kelima ujian yang kuhadapi, ujian yang terakhir inilah yang paling menyita pikiran. Semua yang ada di dalam benak berseliweran. Rumus, teman yang sangat kurindukan kehadirannya, Nu dan betapa menyebalkannya menjadi diri sendiri; semuanya berputar-putar di otak.

Di luar kelas kunyalakan rokok. Terasa lemas tubuh ini melangkah. Benar kata orang-orang, bila tenaga pikiran yang terkuras, maka pengaruhnya bisa terasa ke seluruh tubuh. Kuperhatikan Nu, masih cantik. Dengan gontai kuberjalan menuju tangga bersama Nu. Ada seorang teman yang mengatakan kalau Nu ini mirip seorang teman yang sejurusan denganku, namanya Imeh. Saya perhatikan wajahnya. Mirip darimana? Jauh gitu. Dandannya jurnal banget, sih, kata temen saya lagi. Saya perhatikan cara dia berdandan. Ah, biasa saja. Lebih bronx si Imeh malah kalau kata saya.

“Berarti si Imeh itu beruntung bisa dimiripin sama gue,” katanya sembari tertawa lepas. Ceria sekali perempuan ini. Saya ingin sekali bisa ceria seperti dia.

Saya hanya tersenyum tidak berkata apa-apa mendengar jawabannya, karena saya sendiri tidak tahu harus menjawab dengan kata apa yang lebih pantas.

Di bawah tangga terlihat pacarnya yang botak dan bertubuh subur itu duduk menunggu kedatangan Nu. Melihatnya, Nu langsung menghampiri lelaki itu lalu memeluknya dengan mesra. Saya sendiri mendadak canggung. Mau pamitan, tapi tak tahu caranya harus gimana? Mereka berdua asyik ngobrol dan tetekbengek lainnya yang biasa dilakukan orang saat pacaran. Sudahlah, tinggalkan saja mereka berdua tanpa basa-basi, pikirku. Tetapi, ketika ku akan menuruni tangga lantai dua, Nu memanggilku dan mengucapkan terima kasih. Saya pun tersenyum dan menjawab, “sama-sama.”

Sampai diluar gedung, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di kampus. Sepi. Seperti yang sudah-sudah, pikirku. Bingung sendiri jadinya. Harus kemana lagi dari sini? Pulang ke rumah malas. Ingin nongkrong sebentar, tapi sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Rokok ku sambung lagi dan kuputuskan untuk pulang ke rumah. Tidur dan berusaha melupakan kehidupan ku yang sebelumnya, walaupun itu adalah hal yang mustahil. Dari arah gedung kuliah, Nu dan pacarnya baru saja keluar. Sekilas Nu menatapku dan aku cepat-cepat mengalihkan pandangan darinya. Pura-pura tidak melihat. Langkah ini kuteruskan menuju tempat parkir motor di depan.

Ah, Nu, di kelas tadi mungkin seperti pertemuan terakhir. Perkenalan yang tergolong singkat juga. Semester yang baru nanti mungkin tidak akan pernah berjumpa lagi. Beda dunia lagi. Ketika kau mau melihatnya lagi, ia sudah tidak ada. Orang yang menyenangkan kamu itu, Nu.

Lalu temanku ini…yang sangat kurindukan kehadirannya. Bagaimana pikiran dia terhadapku? Apakah ia masih ingat? Lalu apa yang akan dia lakukan nanti? Sebaiknya sikapku harus bagaimana? Jadi ini yang dinamakan putus asa. Patah arang. Saya sendiri sudah mulai kehilangan kepercayaan dan keyakinan terhadap diriku sendiri. Sudah tidak tersisa apa-apa. Hal apa yang bisa ditonjolkan dari diriku selama ini? Tidak ada. Ah, aku ingin pergi sejauh-jauhnya. Melupakan apa yang sudah pernah kujalani selama ini. Menghapus wajah teman-teman yang pernah melintas dalam pikiranku. Menghapus dia yang kusukai selama ini. Menjalani kembali semua dari titik nol.

Sungguh aku merindukannya. Tetapi disisi lain, sungguh takut juga bila aku memikirkan orang yang satu itu. Tentang reaksinya nanti saat bertemu denganku lah yang sangat ku takutkan. Teringat-ingat ketika bertemu ia di kantin dahulu. Tatapannya itu maut. Di satu sisi membuatku merinding. Tetapi disisi lain, kedua mata itu sungguh indah. Tidak akan pernah kulupakan. Kini kau sudah mengetahuinya, teman. Aku menunggumu.

==========================================================

This entry was posted on Thursday, August 23rd, 2007 at 11:00 pm and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.


Rabu, 08 Juni 2011

My Mom Is The Best

Aing      : Mah, beli garpit setengah.... *nyorongin uang Rp 5.000

Mamah  : Nih, ambil aja sebungkus...

Aing      : ;) *dalem hati.

Senin, 23 Mei 2011

Jagat Maya

Jagat maya. Suatu dunia yang menjadi bagian diriku kini. Berjuta-juta bit yang membentuk gugusan informasi tersaji didepan pelupuk mataku setiap harinya. Dan entah apakah jagat ini merupakan hal yang baik atau buruk bila berada di tataran individu, seperti diriku. Namun seringkali beragam wacana berkembang dikumandangkan oleh para pengkhotbah dunia baru: ini adalah cahaya terang bernama efisiensi yang akan membuat lonceng kematian bergema bagi dunia lama yang selalu berjalan lambat karena kotoran tikus-tikus koruptor di dalam birokrasi. Jagat maya pada saatnya akan membasmi tikus-tikus korup yang menggerayangi gedung kumuh birokrasi dan selalu menjadi penyumbat dalam kanal arus kapital. “Tidak ada alternatif bagi dunia lama, kecuali membuka tangan pada satu-satunya keniscayaan dalam hidup. Suatu keniscayaan yang akan menguapkan negara-bangsa, ras, teritorial, hingga waktu!” ujar sang Pengkhotbah.

Seseorang yang penuh semangat, Thomas L. Friedman (2006), memaparkan kasus yang berkaitan dengan jagat maya ini. Friedman menggambarkan mengenai suatu pelayanan jasa yang disebut dengan “pelayanan asisten pribadi” di Bangalore, India, bagi para eksekutif perusahaan global yang bertempat di Amerika. Pelayanan jasa yang digambarkan Friedman ini mengacu pada salah satu keunggulan dari jagat maya, yakni penekanannya atas daya dobrak terhadap batas ruang dan waktu. Seperti telah diketahui, terdapat perbedaan waktu yang tajam antara Amerika dengan India. Bila di Amerika waktu sudah larut malam, maka di India sebaliknya, dan vice versa. Dan jagat maya, pada gilirannya, mengatasi hambatan ruang dan waktu tersebut.

“Katakanlah sementara memimpin perusahaan, Anda dalam waktu dua hari diminta untuk memberikan pidato dan presentasi Power Point. Dalam waktu satu malam ‘asisten eksekutif jarak jauh’ Anda di India yang disediakan oleh Brickwork akan melakukan pencarian bahan, menyusun presentasi Power Point, dan meng-email semuanya, hingga siap tersedia di atas meja kerja Anda saat akan disampaikan,” papar Friedman, “sebelum meninggalkan kantor pada sore hari di New York City, Anda bisa memberikan tugas kepada asisten eksekutif jarak jauh Anda. Keesokan harinya bahan presentasi sudah siap.”

Jagat yang efisien, memang.

Friedman lantas memaparkan pandangannya mengenai jagat maya yang turut membentuk perubahan pada cara kerja masyarakat ini dengan nama “Globalisasi 3.0”. Penamaan itu dibuat oleh Friedman (2006: 10) untuk menggambarkan sebuah “dunia konvergensi antara komputer pribadi yang memungkinkan setiap individu dalam waktu singkat menjadi penulis materi mereka sendiri secara digital, serat optik yang memungkinkan mereka untuk mengakses lebih banyak materi di seluruh dunia dengan murah juga secara digital, serta perangkat lunak alur kerja yang memungkinkan individu-individu di seluruh dunia untuk bersama-sama mengerjakan suatu materi digital dari manapun, tanpa menghiraukan jarak antar mereka”.

Pada intinya, Friedman melihat, bahwa berkembangnya jagat maya telah merubah wajah dunia saat ini menjadi lebih datar. Penggambaran ‘datar’ dalam konteks ini lebih kepada penggambaran mengenai bagaimana sekat-sekat (seperti birokrasi, tapal batas geografis, negara-bangsa) yang sebelumnya eksis diandaikan menghilang, dan sebagai konsekuensinya, kegiatan perekonomian, seperti bisnis antar perusahaan akan semakin fleksibel dan efisien. Dengan dunia yang datar ini pula, Friedman beranggapan, bahwa setiap individu maupun kelompok dari beragam suku bangsa dapat berpartisipasi di dalamnya. Dari titik ini, Friedman terlihat menaruh harapan akan suatu benih pemberdayaan bagi individu-individu.

Jagat maya ramai diperbincangkan terkait dengan dampaknya dalam merubah struktur yang ada di masyarakat, dan bagaimana pola kehidupan di level individu berubah karenanya. Mike Wayne (2003), tanpa meremehkan perubahan yang diakibatkan oleh jagat maya terkait pemberdayaan bagi individu maupun kelompok, memiliki pandangan, bahwa jagat maya memiliki posisi didalam kapitalisme itu sendiri. Dalam artian, kemunculannya merupakan bagian dari logika kapitalisme yang terkait dengan krisis overproduksi.

Dalam hal ini Wayne merunut ke masa awal jagat maya mulai diperkenalkan dan berkembang pada awal dekade ‘90an. Setelah browser komersial pertama,  Netscape, diluncurkan di AS, terjadilah suatu investasi besar-besaran dari industri telekomunikasi swasta di AS. Dan mengiringi tingginya skala investasi itu, maka kapasitas serat optik internet pun semakin bertambah. Namun, di sisi lain, investasi dengan skala yang besar itu justru menimbulkan suatu paradoks yang dikenal dengan krisis bernama “dot.com crash” pada pertengahan tahun ‘90an. Ini adalah suatu keadaan dimana suatu tingkat laba yang dihasilkan dari investasi dengan skala besar dari industri-industri telekomunikasi swasta itu terus-menerus mengalami penurunan secara drastis, sehingga menyebabkan banyak perusahaan telekomunikasi yang berinvestasi mengalami kebangkrutan. Tingkat laba menjadi berbanding terbalik dengan tingginya tingkat skala investasi.

Selain itu, Wayne juga memiliki pandangan, bahwa krisis ‘investasi’ ini pula berkaitan dengan tidak selarasnya aktivitas di level produksi dengan level konsumsi. Maksudnya, ketika semua perusahaan telekomunikasi yang berinvestasi dalam bisnis internet ini masing-masing menawarkan layanan telekomunikasi dengan membangun infrastrukturnya sendiri sehingga terjadi keberlimpahan kapasitas internet, namun pada saat bersamaan, tingkat “konsumen on-line” tidak meningkat secara selaras dengan peningkatan di level produksi tersebut.

Turunnya tingkat laba tentu merupakan suatu malapetaka bagi perusahaan yang mengalaminya. Namun dalam beberapa hal, krisis dot.com crash itu justru membawa berkah tersendiri bagi perusahaan-perusahaan yang datang kemudian. Berkah itu berkaitan dengan keunikan kabel serat optik dari internet yang bersifat permanen. Dalam artian, sekali serat optik itu terpasang, maka tidak ada yang membongkarnya kembali, sehingga kelebihan kapasitas dari hasil investasi massif yang sebelumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang telah bangkrut itu tidak akan hilang.

Pada saat yang bersamaan, aset-aset yang berasal dari perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang mengalami kebangkrutan itu dijual kembali dengan harga yang murah oleh bank. Dengan begini, ibaratnya perusahaan baru yang akan memberi aset dari perusahaan yang sudah bangkrut itu tentu akan mengalami keuntungan berlipat.

Dari titik ini aku berpandangan, bahwa mungkin inilah yang dimaksud oleh Wayne dengan keberadaan jagat maya yang berposisi di dalam kapitalisme; bahwa segala proses yang digambarkan oleh Wayne menunjukan bagaimana populernya internet di masyarakat didahului dulu oleh sebuah proses krisis yang menjadi ciri kapitalisme, yakni semacam kelebihan ‘beban’ akibat investasi yang terlalu massif dalam sarana kekuatan produksi baru. Dan juga disebut berada di dalam kapitalisme, karena pada gilirannya krisis dot.com crash dapat memberi kemungkinan menuju konsentrasi maupun sentralisasi kapital. Dalam artian, seketika terdapat banyak perusahaan-perusahaan berguguran, pada saat bersamaan pula, berkembang suatu perusahaan yang memiliki sumber daya terkuat dan mampu melebarkan sayapnya tanpa kenal batas ruang maupun waktu demi meraup kapital yang tiada habisnya. Pada intinya, alur perkembangan internet dilihat masih berada dalam dinamika perputaran kapital. Kehadirannya belum mendobrak struktur fundamental kapitalisme secara radikal.

Keseharian: Jagat Maya dalam Sudut Mikro

Akhir-akhir ini aku sering mendengarkan lagu dari band bernama Scale the Summit. Mereka merupakan band yang berasal dari Texas, AS, yang memainkan musik sejenis progresif metal. Seluruh lagu Scale the Summit dimainkan tanpa adanya vokal. Total instrumental. 

Mengapa saya menulis tentang mereka? Karena sudah hampir dua minggu ini saya selalu intens mendengarkan musik yang mereka tawarkan dalam albumnya yang ketiga, the Collective (2011). Pada suatu waktu, saat mendengarkan Scale the Summit, aku mengalami suatu perasaan sentimental yang mungkin terdengar sangat tidak perlu. Suatu perasaan yang terasa hangat sekaligus haru, ketika melodi-melodi megah dan syahdu dari Scale the Summit mampu kutangkap dan kuikuti seolah-olah dengan gerakan lambat. Nadanya yang menyedihkan dibalik tampilan soundnya yang gahar, yang seolah-olah memancarkan suatu ketenangan, ternyata masih mampu kucerna secara jernih. Bahkan setelah kudengarkan berulang-ulang, aku masih tetap menikmati musik mereka. Sesuatu yang jarang sekali kuperoleh akhir-akhir ini dibalik berlimpahnya timbunan mp3 dan informasi lainnya dalam jagat maya.   

Buatku, intensitas dalam mendengarkan musik di jaman sekarang merupakan sesuatu yang istimewa. Dari sekian banyak musik yang bergelimangan di dunia maya dan siap untuk di unduh sebanyak mungkin, mengandaikan pula suatu kelimpahan informasi yang tidak akan bisa diimbangi oleh kemampuan manusia untuk menyerap semua kelimpahan itu sekaligus. Tentu saja semua ini bukan berarti aku menyalahkan tiap band yang ada dalam jagat maya, hanya saja ini semua hanyalah masalah kebingunganku atas jagat maya itu sendiri. 

Sudah menjadi umum sekarang ini bagaimana suatu musik didengarkan secara sambil lalu, karena pada saat bersamaan, begitu banyak sekaligus cepatnya sebuah band muncul dan tenggelam dimungkinkan dalam jagat maya ini. Kondisi seperti ini juga membuatku berpikir mengenai cita-cita seorang musisi pada masa lampau yang memimpikan karyanya bisa dikenal seluas mungkin. Bagaimana perasaan musisi itu sekarang bila melihat kehidupan saat ini, ketika suatu album dapat dengan mudah diproduksi melalui perangkat lundak dan di unduh dari situs yang terdapat dalam internet? Karena industri musik di jaman sekarang kupikir sedang berada di titik terendahnya bersamaan dengan meluasnya penggunaan internet; toko cd/kaset banyak yang ambruk, lagu banyak yang dibajak, bahkan musisi-musisi itu sendiri banyak yang protes terkait masalah pembajakan karya.

Perubahan wajah dunia musik ini membuat pikiranku mengira-ngira tentang wajah jagat maya yang sesungguhnya. Kupikir jagat maya merupakan jagat yang penuh ketidakjelasan didalamnya. Di satu sisi seseorang seperti Friedman menaruh harapan terhadap pemberdayaan individu maupun kelompok, serta efisiensi dalam aktivitas bisnis. Namun kupikir pandangan Friedman tersebut merupakan pandangan yang cocok diterapkan bagi mereka yang saat ini duduk dalam level setingkat CEO. Belum lagi, ketika seringkali kumerasa Friedman hanya melihat peranan internet dalam mengakomodasi perusahaan agar dapat berekspansi ke negara yang masih memiliki tingkat upah rendah sebagai hal nomor dua ketimbang penekanannya terhadap bagaimana internet yang dapat  membebaskan manusia dan menyumbangkan kekayaan pada suatu masyarakat (baca: perusahaan). Mungkinkah Friedman seseorang yang tergolong sebagai determinis-teknologi? Entahlah. Pastinya dia wartawan.

Hanya saja, aku masih mengalami kebingungan ketika memikirkan dunia seperti apa yang kualami saat ini. Seolah-olah semuanya berputar sangat cepat, dan tahu-tahu, segalanya telah hilang dan  digantikan dengan sesuatu yang baru. Sesuatu yang bahkan prosesnya tak kuketahui sedikit pun.  Pada suatu momen, kadang aku merasa seperti kehilangan diriku sendiri. Tidak mengetahui apakah sesuatu itu baik ataukah sebaliknya.

Rabu, 15 September 2010

H +2

"Ga ada hubungannya lebaran sama pacaran...siapa cepat dia dapat," ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya yang terakhir.

Api rokok yang sudah menyentuh filternya itu lantas buru-buru dia matikan. Kemudian dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Sebatang rokok dia ambil lagi, lalu menyalakannya dengan menggunakan korek api batangan.

"Yah, mumpung masih dalam rangka bulan keramat umat muslim," ujarku "kait-kaitkan saja momentum itu dengan peristiwa jadiannya."

"Wasweswos...euweuh. Euweuh hubunganna!" bales dia lagi. Keukeuh.

Sayapun tidak ingin mendebatnya, karena memang dia betul. Tidak ada kaitannya hari raya Idul Fitri dengan seseorang yang disukai tiba-tiba sudah menjalin hubungan dengan orang lain. Kait-mengkaitkan itu hanya pikiran iseng saya saja. Pikir saya saat itu, mungkin yang sudah jadi pacarnya saat ini bisa menganggap momen ini sebagai berkah Ramadhan. Seperti di iklan-iklan itu, yang mengaitkan berkah Ramadhan dengan kuis berhadiah jutaan rupiah. Namun bedanya kali ini, hadiahnya lebih menarik dari doorprize berupa uang. Hadiahnya seseorang yang kamu sukai. Tidak ada yang lebih menyenangkan, ketika seorang individu bebas, yang memiliki pikiran dan hidupnya sendiri, mau masuk menuju kehidupanmu, dan berbagi kehidupannya denganmu. Membuka rahasia hidupnya kepadamu, tidak kepada orang lain.

Tapi, Iya tak tertarik melihat hal-hal sentimentil semacam itu. Pikiran dia simpel dan memiliki batas: tak ada hubungan antara perayaan Idul Fitri dan cerita bagaimana seseorang yang disukai tiba-tiba sudah memiliki hubungan dengan orang lain. Semua hanya masalah kecepatan. Perasaan sentimentil tak perlu dilebih-lebihkan melampaui beberapa "hukum pokok" yang ada di dunia ini, seperti hukum "kecepatan" itu, misalnya.

Namun, sebagai seseorang yang sedang sentimentil mengetahui bagaimana seseorang yang disukainya sudah bersama dengan orang lain, saya hanya ingin berbicara apa saja. Termasuk kait-mengaitkan masalah berkah Ramadhan ini. Walaupun memang omong kosong juga. Tetapi sebagai pelipur lara mungkin bisa berguna. Setidaknya sebagai bahan lelucon.

Sebagai hiburan bagi diri sendiri, hukum "kecepatan" yang dilontarkan Iya juga kuterima-terima saja. Tanpa beban, tanpa sesuatu apapun. Toh, bila dipikir-pikir, saya juga memang baru saja memulai. Kurang lebih dua minggu sebelum lebaran, aku baru saja bisa kenal. Namun setelah perkenalan itu, tidak ada tatap muka. Hanya sebatas melalui omong kosong "pesan elektronik".

Baru saja kenal, mungkin mulai perlahan dulu. Jangan langsung mengajak keluar, pikirku saat itu. Toh, akupun tidak bisa memulai bila aku merasa belum siap.

Tetapi, kadang semuanya selalu berjalan rancak. Ada saja kejutan disana-sini. Seperti yang kualami hari ini. Semuanya tiba-tiba lepas tak menentu.

"Hikmahnya...untung belum terlalu jauh," ujarku pada Iya.

"Tah eta pisan...untung belum terlalu jauh!" balasnya. Akhirnya sepakat dengan pikiranku.

Tentu saja Iya sepakat dengan pikiranku. Setelah menjalani hubungan selama empat tahun, sang pacar memutuskan secara sepihak hubungannya dengan Iya. Tentu saja Iya uring-uringan. Tentu saja Iya paham betul, ketika berkata, "tah eta pisan...untung belum terlalu jauh!"

Aku baru mengetahui Iya sudah putus minggu-minggu ini. Sedangkan kejadiannya sendiri sudah lewat dua bulan. Selama hampir sebulan penuh dia galau tak menentu. Malamnya selalu dihabiskan dengan berjam-jam mengeluh kepada Arya, seorang teman lainnya. Kubayangkan bagaimana keluhan Iya itu menjadi keluhan yang panjang. Terbayang bagaimana raut wajah Iya yang terlihat bolon, ketika dia duduk berhadap-hadapan dengan Arya. Terbayang suasana kamar Arya menjadi serius, sembari kepulan asap rokok mengepul disana-sini. Pasti akan menjadi keluhan yang tidak ada habisnya, kalau boleh disebut. Dan selama keluhan itu tidak ada habisnya, makin tidak berguna jadinya, karena terus-menerus diulang.

"Sekarang mah sudah rada mendinganlah. Ga kaya kemarin-kemarin," kata Iya, ketika kutanya keadaannya.

Hmm, masalah hubungan-hubungan semacam ini sebenarnya masalah yang cukup mengesalkan juga buatku. Walaupun selama ini aku mencoba menyederhanakan semuanya, namun, ketika gilirannya, ada saja hal yang membuatnya terlihat rumit. Mungkin, sebenarnya semuanya bisa berjalan dengan sederhana, namun kesederhanaan itu seringkali tertutupi oleh pikiran-pikiran tertentu yang tumbuh di dalam kepala. Membuatnya terlihat rumit. Sehingga membuatku kesal sendiri.

"Sabar ajalah," kata Iya, "lain kali, kalau ketemu seseorang lagi, langsung hajar aja. Ga usah nyari tetek bengek semacam timing-timing segala," katanya.

Aku hanya tersenyum. Tidak tahu harus berbicara apa lagi.

Dalam hati aku tak sependapat dengannya. Bagaimanapun, bila aku yang memulai...aku harus merasa yakin. Dengan begitu, aku bisa mantap memulai. Sehingga pada waktunya nanti, tak ada kebimbangan-kebimbangan yang tak perlu. Aku dapat menjalani keyakinanku.

Namun, tampaknya, seperti semua hal yang berjalan di dunia ini, konsekuensi-konsekuensi selalu ada bagi setiap pilihan dan tindakan. Seperti hari ini, ketika cuaca mendung, ketika waktu berputar sedemikian cepatnya, ketika sebuah niat tak lagi terealisasikan, ketika rasa cemas menggelayuti hati, ketika ada ruang kosong yang eksis dalam harapan yang menguap, ketika dia pada akhirnya pergi bersama orang lain.

Rabu, 01 September 2010

Bersolek dan Nilai-Kerja

"Jika Anda pergi ke tukang cukur buat pangkas rambut, cuma perlu 15 menit. Jika Anda tidak suka potongan rambut standar di tukang cukur dan ingin mengekspresikan individualitas melalui gaya rambut aneh-aneh, maka Anda pun pergi ke salon. Di sana perlu 1 jam. Anda juga harus membayar empat kali lipat - dan ada alasannya. Memang harus lebih mahal pergi ke penata rambut, karena Anda menyita waktu seseorang lebih lama."
- Joseph Heath & Andrew Potter: the Rebel Sell -


Membaca omongan Heath & Potter diatas, tiba-tiba saja teringat teori nilai-kerjanya si Om Petromarks. "Bagaimana sebuah komoditi dinilai?" katanya, "dengan melihat waktu kerja rata-rata secara sosial yang diperlukan dalam membuat komoditi itu."

Sabtu, 21 Agustus 2010

Raja di Era Mesir Lama (2686 - 2160 sM)

"[...] Raja menganggap diri sebagai ilahi, pemberi segala hal yang baik dan penjamin kesuburan serta kesuksesan. Namun, barangkali dia tidak dapat memelihara perdamaian dan melindungi kota-kota dari para perampok."
(Daniell C. Snell, Kehidupan di Timur Tengah Kuno 3100-332 sM, hlm. 74.)

Selalu ketawa ngakak pas baca kalimat diatas. Ga tau penulisnya memang sengaja memaparkan ironi tentang raja dan kota yang dipimpinnya itu atau bagaimana. Tetapi, dari jaman dulu sampai sekarang, apa yang ada di dalam pikiran (fantasi), memang harus seringkali dicek kesesuaiannya dengan dunia materi. Biar singkron :D  

(sumber gambar lihat disini)

Selasa, 17 Agustus 2010

Nonsens*

Sebuah catatan kecil tentang percakapan tidak betul yang terjadi antara dua orang yang, sayangnya, tidak betul juga. Semuanya terjadi di penghujung senja. Di ujung tanduk harapan dan ketakutan.

Di bawah ini adalah percakapan-percakapan yang masih bisa diingat. Karena masih mengkonsumsi ganja dan nonton film porno, jadi sori-dori kalo ada pihak yang merasa ditipu karena kalimatnya ada yang hilang atau ga tepat susunan katanya. Maklum, manusia biasa yang masih berusaha menegakkan sholat lima waktu.

 
KAMAR BERANTAKAN DENGAN ASAP ROKOK MENGEPUL SEPERTI DI DALAM MEIN KAMPF. PENGHUNI KAMAR, JIM MORRISON DAN SISIFUS, DUDUK MENJULURKAN KAKI MENGHADAP RADIO. SISIFUS MENGOCOK GITAR KOPONG. NADA-NADA ANCUR DAN SUMBANG KELUAR DARI GITAR KOPONG LADUK YANG KEENAM SENARNYA MATI. MUSIK PUNK ROCK DENGAN SOUND RAW NAMUN MELODIUS KELUAR DARI SPEAKER RADIO.

WALAUPUN PUNK ROCK, HATI TETAP MAWAR. KARENA YANG DINYANYIKAN BUKANLAH TENTANG REVOLUSI, MELAINKAN: AMONG EVERY BITTERNESS, LONELINESS HURT ME MOST. STILL I'M NOT AWARE AND FALL THERE'S SO MUCH I HAVE LOST…

JIM MORRISON:
Rokok?

SISIFUS:
Kalem. Nanti dulu…. (masih ngocok gitar, tak perduli suaranya busuk tiada dua).

JIM MORRISON:
Udah lama Bandung ga hujan.

SISIFUS:
Iya. Kangen juga…emh…

JIM MORRISON:
Kenapa?

SISIFUS:
Hah? Ga. Ga ada apa-apa.

JIM MORRISON:
Hahah (garuk-garuk kepala).

SISIFUS:
Kenapa ketawa?

JIM MORRISON:
Kenapa? dirimu itu tuh, kenapa. Selalu seperti itu. Tipikal. Kalau ada sesuatu yang mau diucapkan, ya, tuntaskanlah. Jangan didorong lagi ke tenggorokan. Haha, dasar (menyambung lagi sam soe).

SISIFUS:
(Berhenti ngocok gitar. Mengambil sebatang sam soe dan menghisapnya) lho, emang ga ada yang harus diucapkan, kok?!

DIAM. HUJAN MENGGUYUR DI LUAR KAMAR. ASBAK PENUH DENGAN ABU DAN PUNTUNG ROKOK. AIR KOPI DI GELAS TINGGAL SEPEREMPAT. SMS MASUK KE HP JIM MORRISON; WOI..GI NGAPAEN LO? NEBENG GRTIS M3 UY…BTW, KMH KBRNA DUNIAMU KAWAN?PLES. TIDAK DIBALAS OLEHNYA.

JUDUL LAGU BERGANTI. BEAT-BEAT PUNK ROCK MASIH KERAS MENGGEMPUR. TAPI, KALI INI VOKALISNYA BENAR-BENAR BERADA DALAM SUASANA YANG, SAYANGNYA, MENDEKATI KOLAPS. …PASSING HOURS, SAME OLD PICTURES CROWDING ALL MY DAY. TAKE MY LESSON IN EVERY SECOND BUT I WILL NEVER LEARN, KELUAR DARI KERONGKONGANNYA.

SISIFUS & JIM MORRISON:
Every time I try to look back. Try to find what went so wrong. Cuz I don't wanna turn my face from every whining faces in my world…

SISIFUS:
Lagunya enak-enak.

JIM MORRISON:
Haha, iya (lalu menenggak kopi). Jadi inget lagu 'Nina'.

SISIFUS:
Haha, iya. Sweet good old song.

JIM MORRISON:
(ngambil gitar kopong dari tangan Sisifus) jadi…tadi mau ngomong apa?

SISIFUS:
Ngomong? Ga…ga ada yang mau diomongin, kok. Masih dipikirin yang tadi? Udah, ga ada apa-apa, kok. Jadi dianggap serius gini?!

JIM MORRISON:
Ga sih, ga nganggep serius (Jim Morrison mengocok gitar. Memainkan lagu entah apa dengan bunyi yang masih busuk)…hanya saja kita berteman udah lama. Dari jaman kita sembunyi-sembunyi ngerokok di wc sekolah. Jadi…kalo ada sesuatu yang pengen diomongin, omongin aja. Dari dulu kamu kan gitu, selalu menyimpan segala sesuatunya di benakmu sendiri. Bagilah dengan orang lain, jangan didiemin sendiri.

SISIFUS:
(menyimpan rokok di asbak lalu merewind kaset) heheh…

JIM MORRISON:
Gimana, masih suka ngedorong batu ke atas bukit, lalu menggelindingkannya kembali?

SISIFUS:
Masih.

JIM MORRISON:
Bagaimana rasanya, melakukan pekerjaan itu setiap hari?

SISIFUS:
Entahlah. Hal kaya gitu udah seperti tuntutan profesionalisme. Bukan sesuatu yang harus dipertanyakan lagi. Hanya tinggal menjalaninya saja. Apapun yang terjadi.

JIM MORRISON:
Pasti membosankan.

SISIFUS:
Mungkin, sudah tidak bisa membedakannya lagi.

JIM MORRISON:
Sebenarnya apa pekerjaanmu itu?

SISIFUS:
Apa yang saya kerjakan ini tidak lebih sebagai cermin dari keabsurdan manusia, jadi…ya, itu.

JIM MORRISON:
Keabsurdan manusia?

SISIFUS:
Ya, seperti yang terjadi pada teman saya, Momen.

JIM MORRISON:
Kenapa dia?

SISIFUS:
Ya…entahlah, hanya saja, dia pernah ngomong, tiap kali bertemu temannya, Memori, mendadak segala peristiwa yang selama ini memutarinya membeku seperti es. Bagi teman saya, Momen, semua peristiwa yang bergerak memutarinya itu sudah seperti generator bagi dirinya. Sesuatu yang membuatnya merasa ada (aku ada karena kau ada, selip Jim Morrison, meniru judul lagu RADJA) hehe, iya…nah, sekarang bisa dibayangkan bila tiba-tiba peristiwa itu berhenti memutarinya. Ibaratnya, sesuatu hal yang selama ini berjalan dengan sangat biasanya hingga menjadi suatu rutinitas yang tidak disadari, mendadak tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pola yang selama ini berputar teratur dengan sistematis dalam hidupnya, menjadi kacau. Momen jadi kelabakan karenanya. Setiap peristiwa yang tadinya hanya berbentuk kilasan sesaat dan tidak terlihat, sekarang terpampang dengan jelas dihadapannya dan dengan terpaksa ia harus memelototi semua itu. Segala kecemasan, ketakutan, harapan dan keberanian yang ada dalam setiap peristiwa yang selama ini mengelilinginya begitu saja mencuat keluar. Menukik tepat menuju dirinya. Menamparnya.

JIM MORRISON:
Cih! Jatuh cinta maksudmu? Sepele.

SISIFUS:
Entahlah, saya hanya seseorang yang mendorong batu ke bukit dan menggelindingkannya kembali. Buram bagi saya berurusan dengan hal diluar itu. Lagipula, mudah bagimu mengatakan sepele. Kau adalah penyanyi terkenal. Mempunyai lagu yang kelak akan dikenang sepanjang masa. Semuanya akan mendatangimu; popularitas, ketenaran, kemewahan, bahkan mungkin, apa namanya…ng…yang menimpa teman saya tadi (cinta, sambung Jim Morrison) ya, cinta itu sendiri.

JIM MORRISON:
Ah, saya prefer mabuk. LSD adalah cinta. Penyanyi terkenal hanyalah tempelan yang diberikan oleh media (lalu menghembuskan asap rokok) …jadi, gimana temen kamu itu nasibnya sekarang?

SISIFUS:
Belum pernah ketemu lagi.

JIM MORRISON:
Memori. Seperti apa dia?

SISIFUS:
Belum pernah melihatnya. Tapi, ya begitulah, menurut teman saya, ia membuka suatu celah dan ruang tersendiri diantara rentetan peristiwa yang berputar mengelilinginya. Sebelumnya teman saya itu tidak pernah sadar bahwa setiap kepingan-kepingan peristiwa itu selama ini mengelilinginya. Tidak berbeda dengan pekerjaanku sebenarnya, selama ini segala peristiwa terlalu menjadi hal biasa baginya. Momen telah melebur bersama peristiwa dan menjadikannya sebagai rutinitas belaka. Baginya selama ini, semua berjalan serba apa adanya. Hingga Memori berpapasan dengannya. Hingga Memori menghentikan putaran peristiwa dan membentangkan ribuan gambar yang selama ini tak terlihat didalam setiap peristiwa kehadapan Momen. Menyadarkannya, bahwa dalam setiap peristiwa yang mengelilinginya itu tidak seharusnya dilewatkan begitu saja. Setiap kepingan yang membentuk peristiwa itu ternyata menyimpan sebuah makna.

JIM MORRISON:
Wow…sepertinya sakti…

SISIFUS:
Begitulah yang dikatakan Momen. Absurd memang, padahal semuanya bermula dari hal remeh-temeh. Berpapasan.

JIM MORRISON:
Jadi, dengan pekerjaanmu itu sekarang, menunjukkan pada manusia bahwa sebenarnya mereka adalah makhluk absurd. Makhluk yang segala tindak-tanduknya tidak bisa dipisahkan lagi antara mana yang logis dan tidak logis? Begitu? Seperti yang terjadi pada temanmu itu? Bagaimana dalam satu titik tertentu perilakunya, entah bagaimana, sudah tidak bisa dijelaskan oleh pikiran yang logis lagi?

SISIFUS:
Kurang lebih begitu. Dewa ku, Sartre, yang mengintruksikan seperti itu.

JIM MORRISON:
Ya, cukup menjelaskan sih. Dari dulu kamu emang absurd, hehe. Ga beres.

SISIFUS:
Haha, kamu juga sama aja. Apalagi pola hidup kamu, abstrak. Belum lagi wajahmu itu, artistik!

JIM MORRISON:
Wah, bercandanya udah nyambung ke fisik…dasar Edi Suseno!

SISIFUS:
Hei, jangan bawa-bawa nama Ayah saya! (mendegungkan kepala Jim Morrison dengan tangannya)

JIM MORRISON:
Hehe, disitu, menyulut pertempuran.

DIAM. RANTING POHON DI LUAR BERGOYANG KARENA DORONGAN ANGIN. GESEKAN ANTAR DAUN KERAS TERDENGAR. HAWA DINGIN MERAYAP MELALUI CELAH JENDELA YANG SEDIKIT TERBUKA. AIR KOPI DI GELAS HABIS. JIM MORRISON MENGOCOK GITAR. SISIFUS MENGANGKAT TUBUH, MENGINTIP SUASANA DILUAR KAMAR DARI BALIK JENDELA.

SISIFUS:
Hujan yang lebat. Udah lama ga hujan, sekalinya hujan…(kembali duduk disebelah Jim Morrison) …ah…gimana dengan lagu-lagu dan puisi-puisi mu, ada yang baru?

JIM MORRISON:
Ya, begitulah.

SISIFUS:
Isinya tentang apa kali ini?

JIM MORRISON:
Ah, hal-hal sepele. Seperti yang sudah-sudah, keterbatasan.

SISIFUS:
Keterbatasan? Apa maksudmu, keterbatasan?

JIM MORRISON:
Ya…keterbatasan. Apakah engkau pernah merasakan bagaimana dalam pikiranmu kau mempunyai segudang ide dan cita-cita? Menggenggam setumpuk keinginan di benakmu yang terdalam. Kau sangat tidak sabar ingin merealisasikan semua itu, ingin menghamparkannya di atas bumi. Kau ingin menunjukkan pada orang-orang, "hei, inilah rencana-rencana yang telah saya susun selama ini."

Kau melangkah tertatih-tatih dan jungkir balik untuk mewujudkan semua itu. Hingga suatu saat, teman lama hadir; waktu dan rutinitas, membuat semua cita-cita dan mimpi itu mentah dihadapannya. Segala langkahmu menjadi terhenti karenanya. Tubuhmu sudah tidak bisa melanjutkannya lagi. Tapi disisi lain, benakmu terus meronta, membutuhkan sebuah realisasi. Ide dan cita-cita yang memenuhi pikiranmu tidak begitu saja mudah surut oleh tekanan waktu dan rutinitas.

Kebutuhan itu terus hadir dalam hidupmu. Kunci-kunci nada gitar kau jalin menjadi sebuah lagu untuk sedikit meredakan mimpi yang meluap-luap dalam dirimu itu. Kertas kosong kau lukis dengan jalinan kata-kata yang paling dekat dengan mimpi yang butuh kau realisasikan. Kau buat semua itu sebagai usaha lain untuk melangkah lebih dekat dengan mimpimu itu. Tapi nyatanya, kau tidak melangkah kemana-mana. Kau hanya berputar-putar dalam kehidupan mu sendiri saja. Hanya berkutat pada cara menjalin nada dan merangkai kata. Seperti itu.

Dari berpuluh-puluh judul lagu dan puisi yang telah saya buat selama ini, semuanya hanya bersumber pada satu titik, keterbatasan. Semua itu seperti menjadi pengingat akan segala keterbatasan yang saya miliki dalam melangkah mencapai mimpi yang selama ini saya butuhkan.

SISIFUS:
Saya tidak sampai berpikir sejauh itu.

JIM MORRISON:
Bagus untukmu.

SISIFUS:
Menurutku semua karyamu selama ini jujur. Kau menyuarakan apa yang ada di dalam benakmu.

JIM MORRISON:
Cih! Bahkan saya sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang jujur dan menipu diri sendiri. Garis pembatas yang memisahkannya sungguh buram bagi saya.

SISIFUS:
Setidaknya melalui lagu dan puisi yang kau buat, orang-orang menjadi tahu apa yang selama ini kau impikan.       

JIM MORRISON:
(mengambil sam soe, menyulutnya dan menghisapnya dalam. Mendongkakkan kepala keatas sambil menghembuskan asap rokok. diam.)

SISIFUS:
Banyak orang yang terinspirasi oleh karya-karya mu itu.

JIM MORRISON:
Bagus untuk mereka…saya juga membaca dari sebuah tabloid, ada seseorang yang hidupnya begitu terinspirasi oleh karya-karya saya. Oleh tabloid itu Ia sampai dijuluki 'penggemar militan'. Hidupnya berubah total ketika membaca dan mendengar karya saya. Ia menjadi lebih berani melakukan hal-hal yang selama ini tidak pernah terbayang olehnya. Kenekatan-kenekatan yang selama ini terlalu takut untuk ia simpan di benaknya.

SISIFUS:
Dan bagaimana perasaanmu mengetahui ada orang yang terinspirasi seperti itu?

JIM MORRISON:
Bagus untuk dia. Tapi tetap…bagi saya, karya-karya yang saya lahirkan tidak lebih sebagai pengingat keterbatasan, ketidakberdayaan yang saya miliki selama ini. Mimpi yang tertuang dalam setiap karya saya adalah cermin ketidakberdayaan saya sendiri dalam meraihnya. Kasarnya, karya yang saya buat adalah tempat bagi saya untuk menelan ludah sendiri...

Mau teh manis?

JIM MORRISON KE DAPUR MEMBUAT TEH MANIS DAN KEMBALI LAGI KE KAMAR MEMBAWA DUA GELAS THE MANIS YANG MENGEPUL PANAS. HUJAN MEREDA. SENJA TELAH DIGANTIKAN OLEH MALAM TEMARAM. LAMPU-LAMPU RUMAH MULAI MENYALA. SISIFUS MENGGANTI LAGU DENGAN YANG LEBIH SANTAI, LEBIH AKUSTIK; NEIL HASTEID.   

SISIFUS:    
Mungkin…(ragu-ragu)…mungkin…selama ini kau belum memberikan yang terbaik bagi mimpimu itu. Maksudku, setelah selama ini kau melangkah dan jungkir balik meraih mimpi, penghambat yang sebenarnya bukan terletak pada waktu dan rutinitas seperti yang telah kau sebutkan tadi. Keterbatasanmu sendirilah yang menjadi penghambat sebenarnya. Keterbatasan itu melebur dalam segenap totalitas pikiranmu sendiri. Menjadikannya seakan-seakan semua itu adalah hal yang sudah menyatu dengan dirimu sendiri. Secara tidak sadar, engkau telah menciptakan keterbatasan bagi dirimu sendiri. Mungkin…eng…mungkin selama ini kau belum melangkahi keterbatasan itu. Selama ini kau masih berkutat didalamnya. Kau belum selangkah lebih maju darinya…

(meminum the manis dan mengambil sam soe untuk kemudian menyulutnya)

maksudku, seperti waktu. Ia memang melaju cepat. Tapi, di dunia ini waktu hanyalah kumpulan angka yang terdiri dari 1 sampai 12. Seperti statistik, hanya menunjukkan kuantitas, tidak mencerminkan kualitas. Ng…maksudku, tidak tepat juga bila kita menyalahkan waktu ketika mimpi kita gagal untuk direalisasikan. Mungkin selama ini kita hanya berkutat dengan diri sendiri, sehingga kita lupa untuk melangkah. Kita disibukkan oleh keterbatasan yang kita anggap sebagai darah daging sendiri. Sebaliknya, kita lupa mempercepat langkah agar bisa menyusul waktu…

JIM MORRISON:
Hahah, saran bagus yang keluar dari mulut seseorang yang setiap harinya mendorong batu…

SISIFUS:
Engga-engga…bukan begitu maksudku. Saya bukan berniat menceramahi…hanya saja…

JIM MORRISON:
Ya-ya-ya, saya ngerti. Bercanda, kok. Saya paham maksud kamu. Maksud kamu itu, bisa jadi selama ini saya salah sasaran, gitu kan? Bisa jadi, segala kemampetan ini disebabkan karena saya berkutat dengan diri saya sendiri saja, sehingga-disadari atau tidak-saya ikut bertanggung jawab melahirkan keterbatasan diri saya sendiri, gitu kan maksudmu?

SISIFUS:
…ng…ya, seperti itu…duh, saya bukannya mau nyeramahin kamu ya…

JIM MORRISON:
(merangkul Sisifus) tenang saja, kawan. Sebaliknya, itu adalah saran yang bagus. Boleh juga dijadikan sebagai bahan pertimbangan, haha. Atau mungkin…akan saya jadikan pokok pemikiran saya dalam membuat karya selanjutnya? Sepertinya ide yang bagus…

SISIFUS:
Ng…ya…baguslah…terserah kamu, sih…

JIM MORRISON:
Hei, tau ga, sebenernya saya iri juga sama apa yang kamu lakukan sekarang. Setiap hari mendorong batu dan menggelindingkannya lagi kebawah. Kau melakukannya seperti tanpa tekanan. Terlihat seperti orang merdeka. Santai. Mendorong batu, menggelindingkannya lagi, mendorong lalu menggelindingkannya lagi. Ingin juga saya seperti itu. Menjalani hari tanpa harus dipusingkan oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu…

SISIFUS:
Ya, udah. Berhenti aja mempertanyakan segala sesuatunya.

JIM MORRISON:
Nah, itu…keterbatasan saya tuh, haha.

SISIFUS:
Haha, iya sih, dari dulu kamu mah kaya gitu. Orang yang selalu terjebak dalam masalah yang dibuatnya sendiri, haha.

JIM MORRISON:
Haha, bisa-bisa. Engga…kadang saya suka mikir gitu, ya. Apakah dunia yang saya tempati sekarang ini ga beres, banyak masalahnya atau saya nya aja yang emang ga beres, terjebak dalam masalah melulu? Soalnya ngeliat kamu tuh, seperti orang santai gitu. Hari-hari dijalanin aja kaya yang ga ada masalah. Everything seem flow on the right track.

SISIFUS:
Nah…yang kaya gitu…yang kaya gitu itu, seharusnya ga perlu dipertanyakan sih, haha.

JIM MORRISON:
Ah, haha. Sia goblok, haha (memoles kepala Sisifus).

HUJAN REDA. SAM SOE HABIS. TEH MANIS KANDAS. LAGU DARI NEIL HASTEID MEMASUKI LAGU TERAKHIR.  ESOKNYA, BERITA PAGI MEMBERITAKAN TELAH TERJADI HUJAN BADAI DI DAERAH KOTA SEPERTI CIHAMPELAS, TAMAN SARI DAN JALAN SUNDA. POHON-POHON BANYAK YANG TUMBANG, MENGHANTAM SEGALA YANG ADA DI BAWAHNYA. SEDANGKAN SISIFUS MASIH TETAP MENDORONG BATU DAN MENGGELINDINGKANNYA KE BAWAH SEPERTI SEDIA KALA. JIM MORRISON MABUK. MABUK PARAH. HAMPIR LEWAT. NAMUN BEGITU NYAWANYA MASIH BISA DITOLONG. IA MASUK PANTI REHABILITASI BAGI ORANG-ORANG KETERGANTUNGAN OBAT BIUS DAN TIDAK PERNAH KELUAR LAGI DARI TEMPAT ITU.

====================================================================
* arsip dari 25 Juli 2006

Rabu, 21 Juli 2010

Organized Konfusion

Suatu waktu, temanku ini mengaku sebagai cenayang, dan dia terlihat sungguh-sungguh dengan perkataannya itu.

“Jadi kamu cenayang?” kataku.

“Aku kan Mama Loreng,” katanya.

“Soklah…jadi, gimana karier gua dimasa depan?”

“Kamu mah ga cocok sama elemen air,” jawabnya.

“Berarti gua ga bisa buka usaha kolam renang dong?” balasku.

“Pokoknya kamu ga cocok jadi perenang, buka usaha depot air minum. Pokoknya yang berhubungan sama aer.”

O, ya sudah. Masa bodoh juga.

Sekarang waktunya bertanya ramalan yang menyangkut perkara hati, alias perjodohan. Maklum, sudah berkepala dua. Otomatis penasaran juga masalah jodoh. Walaupun temanku itu diragukan kredibilitasnya dalam hal ramal-meramal, tetap saja saya penasaran mengenai ‘ramalan’-nya tentang nasib perjodohan ini.

“Terus, sekarang perjodohan. Kalau jodoh gua gimana menurut ramalan kamu?”

“Bukannya merendahkan nih…,” dia menjawab.

Sebenarnya untuk pertanyaan ini sedikit aneh, karena dia cukup lama membalasnya.

“Tapi untuk masalah jodoh, kamu mah susah. Susah sregnya,” katanya lagi.

Disitu saya ketawa ngakak. Saya ingat cerita-cerita perkara hati yang dulu-dulu. Bila dia meramal seperti itu, bisa jadi memang benar seperti demikian.

Alasan yang menjadi penyebab perjodohan tidak pernah beres-beres selama ini, seperti yang telah diramalkan oleh perempuan itu, yaitu ‘tidak sreg’ jadi terpikirkan juga olehku. Mungkin juga perempuan itu, sekali lagi, benar. Selama ini saya memang tidak pernah yakin bila menyangkut hubungan dengan perempuan. Saya selalu berpikir, mungkin ini ada kaitannya dengan kebiasaan sehari-hari yang selalu terbiasa memikirkan diri sendiri. Seringkali melakukan apa-apa dengan sendiri, sehingga ketika menyangkut hubungan dengan ‘kehidupan’ yang lain, terasa canggung.

“Bener kaannn?!” kata perempuan itu lagi.

“Hmm, ga tau juga deh,” balasku kemudian.

Suatu ketika, saya chatting melalui YM dengan temanku yang lain. Kali ini temanku itu laki-laki. Suasana saat itu sudah larut malam. Suasana larut malam ini kiranya patut ditulis, karena temanku itu sedang dikantor. Kerja shift malam. Berada di kantor sendirian larut malam tentunya akan berpengaruh juga secara psikologis.

“Galau euy, kudu cari pacar ini mah,” tulis temanku itu di YM.

“Hahah. Iya, bung. Cari jodoh yang sreg dan belum punya pacar,” balasku.

“Ga usah yang sreg, yang penting kita ngebonceng perempuan di motor,” timpal temanku itu.

Rupanya masalah sreg atau tidak sreg tidak berpengaruh besar buat temanku itu. Saya hanya membalas omongan dia dengan emoticon 'big laugh' saja, karena saya tidak tahu harus berbicara apa lagi.

Tidak beberapa lama, dia menulis lagi melalui YM. “Nyari soulmate mah lama dan susah. Sekarang mah yang penting ada dulu.”

Saya iyakan saja perkataannya itu, ditambah tulisan ‘he-he-he’ setelahnya. Saya tidak tahu apa lagi yang harus dibicarakan.

Ada orang yang pernah berkata padaku perihal masalah jodoh ini, bahwa selalu pilih-pilih seringkali menjadi penyebab mengapa seseorang selalu mentok disitu-situ saja. Menurut orang itu, saya memang terlalu pilih-pilih bila menyangkut hubungan dengan perempuan.

Sebenarnya saya tidak ingin pilih-pilih, tetapi seringkali perasaan tidak sreg itulah yang selalu dominan bila sudah mulai berhubungan dengan perempuan. Terlalu banyak pertimbangan ini-itulah. Dalam satu titik, saya sendiri mulai ragu…apakah memang hubungan saya dengan seseorang itu tidak nyambung, atau memang saya nya saja yang memang tidak ada keberanian? Dari sini saya lebih baik merokok.

Tetapi, suatu waktu, orang yang berkata tentang masalah ‘pilih-pilih’ ini mengucapkan sesuatu yang, bagiku, terasa kontradiktif dengan perkataannya yang terdahulu. “Tapi, kalau masalah jodoh mah si emang ga bisa dipaksain. Kalau memang ga yakin mah, ya, masa mau dipaksain?”

Mendengar omongannya sekali lagi saya menjadi tambah bingung. Jadi, setidaknya ada dua hal disini…jangan pilih-pilih, dan jangan dipaksakan.

Hmm, saya tidak tahu apa lagi yang mau ditulis. Sudah bingung sendiri.

Tetapi, dulu sekali saya ingat, pernah ada seorang teman perempuan yang bertanya kepadaku perihal jodoh ini. “Jadi, kriteria cewe yang kamu suka tuh yang kaya gimana?” katanya.

“Yang komedian,” jawab saya.