Tampilkan postingan dengan label Keterlambatan dan Kecemasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keterlambatan dan Kecemasan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2019

Menari Di Dalam Pusaran Kabut (Pikiranmu)



Sekitar tahun 2018 aku memberanikan diri ikut ujian saringan masuk ke Kampus Salemba. Itu berarti untuk yang kedua kalinya aku mengikuti ujian setelah tahun 2017 gagal. Bila dipikir-pikir lagi, aku terlihat cukup ngotot untuk bisa kembali kuliah, meskipun telah gagal dalam ujian saringan pertama yang diselenggarakan pada tahun 2017. Entah kenapa, tapi sepertinya memang ada dorongan dari berbagai arah.

Rabu, 05 Juni 2019

Berjudi dengan Nasib di Salemba


Semester 2 telah terlewati dengan cukup susah payah. Kubilang susah payah karena sebenarnya banyak urusan di luar perkuliahan yang harus dihadapi dan ditangani. Di satu sisi, ada tuntutan pekerjaan dan segala problematika di dalamnya. Kemudian, di sisi lain, ada tuntutan tugas-tugas perkuliahan yang harus diselesaikan supaya uang Rp 13,5 juta per semesternya tidak tersia-siakan. Di samping itu, persoalan pribadi pun tidak luput dari hal-hal yang harus diatasi. Bila dipikir-pikir, semua itu terasa tidak mudah untuk dijalani. Tapi, entah kenapa aku bisa melaluinya. 

Selasa, 31 Oktober 2017

Sudut Pandang




Setiap kali menyeberang Jalan Raya Soekarno-Hatta, Bandung, rasa-rasanya lebar jalan itu semakin sempit.  Berbeda ketika masih mengenakan seragam merah-putih dulu, pertengahan dekade 1990. Menyeberang jalan itu terasa menyeramkan. Laju kendaraan jarang ada yang pelan. Truk besar hilir-mudik dengan kecepatan yang tinggi dan menyeramkan bila membayangkan terlindas olehnya. Untuk bisa menyeberang jalan itu, dulu, selalu saja ada rasa deg-degan. Rasa-rasanya harus berlari jauh untuk bisa menyeberang sampai tujuan.  

Kamis, 26 Oktober 2017

Hidup Adalah Narkotik*




Masalahnya, realitas itu memiliki banyak wajah. Ia tidak sesederhana pemaparan yang tercetak dalam buku. Menghadapi realitas yang berlapis-lapis menjadi masalah kita, orang kebanyakan. Dan dalam menghadapinya, asumsi orang-orang pun beragam: ada yang menanggapi kehidupan sebagai cermin ilahi, bahkan ada yang menanggapinya sebagai bentuk nihilisme yang paling primitif, yakni sebagai bentuk dari benturan evolusi yang berproses tanpa maksud. Semua tanggapan itu kemudian bercampur aduk, dan orang-orang yang memiliki versi masing-masing kemudian membentuk realitas. 

Sabtu, 14 Oktober 2017

Hidup Dalam Ironi






Rasa-rasanya seperti mengetahui seluruh isi dunia ketika masa remaja dihabiskan di Bandung. Hitamnya kehidupan rasa-rasanya telah dimasuki ketika mengingat kawan yang meninggal karena putaw, kawan yang babak belur karena perkelahian, kulit punggung yang terkelupas karena dihantam balok, menggelandang tengah malam di Jalan Ambon...dan setumpuk kenangan lainnya yang terlalu banyak untuk dituangkan di sini.

Senin, 27 Maret 2017

Menabur Arang di Jalan Tanpa Nama (1)





Jalan di pinggir Masjid Istiqamah, Bandung, 2003 silam, akan menjadi saksi sekelompok pelajar SMA melakukan demonstrasi pertamanya. Puluhan pelajar saat itu turun ke jalan dalam sebuah barisan yang hanya ditandai oleh tali rapia.

Menabur Arang di Jalan Tanpa Nama (2)





Tulisan sebelumnya lihat di sini 
.
Tahun 1998 adalah tahun-tahun yang terasa campur aduk. Di satu sisi ada semangat dan optimisme ketika penguasa otoriter Soeharto menyatakan pengunduran dirinya setelah mengalami tekanan demonstrasi yang luar biasa. Elit-elit politik oposisi Soeharto ditayangkan sebuah stasiun televisi tengah berjingkrak-jingkrak dan saling memeluk ketika Soeharto membacakan surat pernyataan pengunduran diri. Ratusan mahasiswa yang menduduki gedung parlemen ditayangkan di semua saluran televisi.

Menabur Arang di Jalan Tanpa Nama (3-Selesai)




Tulisan sebelumnya lihat di sini.  

Musim berganti, tahun-tahun terlewati. Ragam dinamika kehidupan tak henti-hentinya bergejolak seiring usia para pelajar bertambah. Realita sehari-hari membenturkan segala idealisme, harapan, optimisme, cita-cita, yang sempat tertanam. Kenyataan sehari-hari telah menjadi guru terbaik bagi para pelajar itu.

Selasa, 21 Maret 2017

Menolak Bala



Frekuensi menulis blog sudah tidak sesering dulu. Sepertinya sudah menjadi permasalahan basi kenapa frekuensi menulis blog menurun drastis: persoalan mood. Meskipun, dalam beberapa bulan terakhir, banyak hal-hal yang menyita pikiran. Tapi, untuk menuangkannya ke dalam tulisan, aku merasa kepayahan untuk memulainya. Tidak tahu harus memulai dari mana.

Minggu, 13 Maret 2016

Imajinasi


 
Kita punya kesenangan sendiri yang berawal dari imajinasi. Kita menghidupinya sampai hari ini. Ada bagian dari imajinasi yang kita buka ke orang-orang. Namun ada juga bagian lainnya yang kita dekap erat. Hanya kita yang memegangnya, bukan siapa-siapa. 

Minggu, 06 Maret 2016

Kilas

 
 
Mungkin semua bermula dari tiga tahun lalu, ketika penugasan pertamaku ke Indramayu. Kabupaten yang sejauh ini paling berkesan. Di sana aku meliput selama setahun lebih. Dalam prosesnya, banyak kutemui peristiwa-peristiwa yang unik, pemandangan yang eksotik, dan memberiku wawasan baru.

Rabu, 23 September 2015

Demi Masa


Sudah berapa lama? 7 bulan? Apa saja yang terlewati dan teralami? Apakah kamu mengingatnya? Apakah kamu meresapinya? Bagaimana hidupmu, kawan? Kuharap masih ada asa dari sanubari mu.

Minggu, 07 Juni 2015

Di Luarnya Sih Tenang, Di Dalam Bergejolak


"Di luarnya sih tenang, tapi di dalamnya bergejolak," ujarnya sambil lalu. Di balkon kala itu, merokok, ngalor ngidul ala kadarnya sambil menunggu waktu pulang. Kami bertiga yang berumur rata-rata 30 ke atas. Dua lainnya sudah berkeluarga, hanya aku yang belum.

Senin, 01 September 2014

Ingatan Lama



Bandung Sabtu sore. Hujan baru saja turun. Curahnya tidak terlalu besar, namun angin berhembus sedikit lebih kencang. Membuat hawa menjadi lebih dingin dari biasanya. 

Minggu, 29 Desember 2013

Kehidupan yang Layak


Sebelum natal, hujan selalu turun di Bandung. Curahnya sangat tinggi. Di wilayah Kabupaten Bandung Barat beberapa kali terjadi peristiwa longsor akibat hujan yang hampir setiap hari mengguyur dengan curah yang tinggi tersebut.

Minggu, 08 September 2013

Bintang Mati

 

Sudah sampai di sini rupanya dirimu. Di momen seperti ini, kamu masih berpikir, ada sebuah titik hitam di jarak yang tak terkira jauh di belakang. Kamu tidak mengingat apa itu. Hanya saja, rasa-rasanya seperti yang pernah diutarakan Stephen Hawking; seperti ada sebuah lubang hitam yang menghisap segala sesuatu yang berada di sekitarnya. 

Sabtu, 10 Agustus 2013

Bandung Hardcore


Saat masih tinggal di Jakarta awal '90-an dulu, aku sempat murung seharian. Orang tuaku memutuskan pindah ke Bandung. 

Minggu, 20 Januari 2013

Warung Mang Ade


Adakah tempat yang membuat mu merasa tenang? Seperti apa?


Dua pemuda di sebelah kananku asyik berbincang-bincang. Beragam topik mereka obrolkan. Mulai dari liga inggris, teman satu tongkrongan, pengalaman menjadi panitia pensi, sampai ospek kampus. Di sela-sela obrolan, mereka menyeruput kopi yang masih hangat buatan Mang Ade-penjaga warung kopi tempat kedua pemuda dan diriku berada. 

Selasa, 01 Januari 2013

Tahun yang Baru dan Kebahagiaan


Di koran The Jakarta Post beberapa waktu lalu terdapat sebuah tulisan bertema besar tahun baru. Dari tema besar itu, The Jakarta Post mengambil sisi resolusi dalam tulisannya. Ada sejumlah tokoh yang menceritakan berbagai resolusi, mulai selebritis, perancang busana, musisi...rata-rata adalah mereka yang bergerak di bidang hiburan.

Minggu, 11 November 2012

Jumud

Menyelami dan memahami sesuatu yang rumit, adalah cara agar sesuatu yang sederhana bisa dihargai. Setidaknya pikiran seperti itu yang menyelimuti benakku akhir-akhir ini.