Minggu, 31 Mei 2020
Kapital Sosial
Selasa, 19 Mei 2020
Catatan tentang Contagion: Perkara Kepercayaan Kepada Pakar dan Sains (Bagian 2-Rebes Bos)
Jumat, 15 Mei 2020
Catatan tentang Contagion (Bagian 1)
Kamis, 16 Januari 2020
Sirkus Politik
Jumat, 12 Agustus 2011
Catatan Mengenai Proses Kerja Dalam Kapitalisme
Selasa, 26 April 2011
Spiritual
***
Sebetulnya saya tidak terlalu fasih membicarakan hal-hal berbau spiritualitas. Terlebih karena sebenarnya saya memang tidak berminat mendalaminya betul. Benar apa yang dikatakan orang-orang suatu waktu, bahwa dunia spiritual merupakan dunia yang berkabut.
Senin, 13 Desember 2010
All the Rage

Sometimes i think about the rage that printed on mass media based on profit-making isn't "rage" after all...it's more like an attractive icon that have a possibility to attract bigger audience and advertiser for mass media itself in order to expanding the capital. There is no such thing as rebellion when it printed in headlines or whatever. Rage is only prevail on the streets. When all the particulars and workers around the globe: united.
Senin, 22 November 2010
Si Tangan Tak Terlihat
Sabtu, 04 September 2010
Industri Musik
Minggu, 22 Agustus 2010
Raja di Era Mesir Lama (2686 - 2160 sM)
Selalu ketawa ngakak pas baca kalimat diatas. Ga tau penulisnya memang sengaja memaparkan ironi tentang raja dan kota yang dipimpinnya itu atau bagaimana. Tetapi, dari jaman dulu sampai sekarang, apa yang ada di dalam pikiran (idea), memang harus seringkali dicek kesesuaiannya dengan dunia materi. Biar singkron :D
Minggu, 30 Mei 2010
Berita, Media Massa, Konglomerasi (Bag. 1)
Dilihat dari kepemilikan, khususnya kepemilikan tivi 'merah', asumsi saya untuk tivi 'merah' ini apes bila berurusan dengan segala sesuatu mengenai pemberitaan Lapindo. Soalnya, pemilik tivi 'merah', yaitu Bakrie, adalah pihak yang juga terkait dengan kasus Lapindo. Semburan lumpur itu terjadi di wilayah bisnisnya.
Rabu, 14 Oktober 2009
Ini Tidak Berhenti Hanya Pada Masalah Pendidikan
Pertanyaan-pertanyaan, seperti mengapa orang yang telah diberi asupan pendidikan di universitas, seperti Noordin M. Top, misalnya, tega melakukan pemboman yang melukai banyak orang, seolah-olah mengesankan, bahwa pendidikan menentukan jaminan baik-buruknya kualitas moral atau intelektual seseorang.
Untuk masalah pemboman ini, mungkin masalahnya bukan terletak pada apakah seseorang telah mengecap pendidikan tinggi atau tidak. Semenjak universitas di jaman sekarang juga tak ubahnya seperti korporasi. Hanya mementingkan iuran registrasi. Selain itu, universitas di jaman sekarang pun berfungsi layaknya aparat dari sistem yang dominan, yakni kapitalisme. Menjaga agar sistem dominan tetap utuh melalui ideologi-ideologi yang disebarkan secara halus dalam kelas maupun buku rujukan yang dibaca oleh mahasiswa. Universitas menjadi tempat percetakan manusia-manusia yang nantinya akan mengukuhkan sistem dominan yang sedang berjalan saat ini. Universitas tidaklah netral dari intervensi ideologi kekuasaan yang sedang dominan.
Lalu, bila begitu, lantas apa masalahnya sehingga pemboman di Indonesia bisa terjadi? Masalahnya itu tadi, sistem dominan saat ini. Sistem yang dibeberapa tempat memberikan limpahan kekayaan yang tidak terkira, tetapi di tempat lain, hanya memberikan kelaparan sekaligus tragedi. Bukan sekadar apakah pelaku mengecap pendidikan atau tidak.
Masalah pemboman yang terjadi di Indonesia ini erat kaitannya dengan masalah keagamaan. Masalah keyakinan yang personal. Pemboman terjadi sebagai wujud rasa frustrasi dari sekelompok gerakan keagamaan akan sistem yang berlaku dominan saat ini, dimana menurut mereka, sistem dominan tersebut hanya menghasilkan kemaksiatan dan kehampaan spiritual saja. Sistem itu tidak memberikan ruang untuk spiritualitas mereka.
Sebenarnya, rasa frustrasi yang dialami oleh kelompok gerakan yang berlandaskan agama ini memang wajar, dan malah bagus bila dikembangkan menjadi sebuah perlawanan. Tetapi, mereka keliru memasang target frustrasi mereka kepada negara Amerika Serikat yang mereka persetankan itu.
Contohnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam Samudra mengenai alasan mengapa ia mengebom Paddy’s Café di Bali pada tahun 2002 silam, dalam bukunya “Aku Melawan Teroris”. Di bukunya itu, Imam Samudra menulis, "Detik itu juga kemenangan dan kegembiraan Yahudi bersama salibis internasional membahana, karena memang itulah yang mereka harapkan. Kemenangan musuh itu, berlanjut terus hingga sekarang dengan negara Amerika sebagai panglimanya, diikuti Israel, dan para sekutunya.”
Alasan itulah yang membuat Imam Samudra terpacu untuk “jihad” melawan kaum “kafir”, dengan cara mengebom sebuah kafe di Bali dengan sasaran melukai sebanyak mungkin warga negara asing. Sebuah tindakan yang salah sasaran, menurut saya.
Inti masalah adalah kapitalisme, bukan AS. Di satu sisi, jantung kapitalisme memang AS, tetapi tentu saja tidak semua warga AS memiliki pandangan yang sama mengenai kapitalisme, kecuali, tentu, The Fed, dan Wall Street. Bila ingin membicarakan pemboman, mungkin The Fed dan Wall Street inilah yang harus dibom (bukan kafe atau hotel!).
Ketegangan Antara Modernitas dan Agama
Tarik ulur antara gerakan keagamaan dengan sistem yang berlaku saat ini, sudah berlangsung sejak lama. Dan bukan hanya muslim yang frustrasi dengan sistem dominan sekarang. Karen Armstrong dalam bukunya The Battle For Gods, memaparkan dengan bagus mengenai gerakan-gerakan fundamentalis keagamaan, mulai dari pemeluk Kristen hingga Yahudi, yang bersitegang dengan, Armstrong menyebutnya, “modernitas”. Setidaknya di tahun 1970-80 an, menurut Armstrong, gerakan fundamentalis ini berkembang dan tumbuh subur. Gerakan-gerakan tersebut terjadi di beberapa negara, seperti Mesir, benua Eropa, hingga bahkan di negara AS itu sendiri.
Inti dari munculnya pergerakan fundamentalis keagamaan itu dipicu oleh semakin terpinggirkannya spiritualitas oleh modernitas yang semakin mendominasi segala aspek kehidupan. Hal yang menjadi sebab mengapa, bagi sebagian orang, modernitas dipandang sebagai pemicu munculnya pergerakan fundamentalis itu adalah, karena karakter khas yang dibawa oleh modernitas itu sendiri: dia mempersetankan metafisika, dan berjalan sepenuhnya dengan mengandalkan ukuran-ukuran, serta logika empirik. Padahal, menurut Armstrong, manusia tidak bisa sepenuhnya hidup dengan mengandalkan logika, atau ukuran-ukuran tok semata. Tetapi manusia perlu memiliki keyakinan akan sesuatu diluar dirinya dan tak terjangkau oleh logika yang bersifat materialistis. Hal itu semata-mata untuk mengisi ruang spiritualitas dalam diri manusia agar tidak terasing dalam kehidupan. Agar manusia bisa memiliki keyakinan dan mampu memberikan makna terhadap eksistensinya di dunia fana ini. Perlu ada keseimbangan antara spiritualitas dan logika. Tetapi di jaman sekarang, moral atau spiritualitas sekalipun tidak akan dianggap bila tidak memberikan keuntungan dan laba bagi segelintir orang yang memiliki kekuasaan.
Permasalahan pun Bukan Hanya Berhenti Pada Konsep “Modernitas”
Bila Karen Armstrong menjelaskan, bahwa modernitas adalah pemicu dari munculnya pergerakan fundametalis keagamaan, maka saya beranggapan, bahwa kapitalisme adalah akar penyebab, mengapa beberapa orang bisa sedemikian frustrasinya, lantas mengebom menara atau hotel. Menurut saya, modernitas hanyalah bawaan dari kapitalisme itu sendiri.
Seperti yang diketahui, pola produksi kapitalisme yang umum saat ini, mencapai perkembangannya yang pesat pertama kali pada jaman revolusi industri di Inggris. Dengan ditemukannya mesin uap, maka berubah pula relasi-relasi sosial dan pola produksi. Sistem pabrik mulai marak saat itu, karena dengan penemuan-penemuan teknologi yang ada saat itu, semakin mudah untuk memproduksi barang secara massal. Namun demikian, teknologi yang ada tersebut tidak serta merta membuat semua orang bisa mengaksesnya, kecuali segelintir orang elit. Dan dari titik inilah, pemerasan dan perampokan tenaga kerja massal oleh segelintir elit dimungkinkan hingga sekarang.
Dalam bidang kebudayaan pun terjadi perubahan. Ketika perkembangan teknologi yang terjadi terbukti ampuh untuk memudahkan pekerjaan (selain merampok dan memeras tenaga kerja), timbul kepercayaan diri tentang ide, bahwa seorang manusia dapat menaklukan alam dengan pikirannya. Maka dari itulah mengapa filosofi “cogito ergo sum” (aku berpikir, maka aku ada) begitu popular pada masa itu. Dengan sepenuhnya menggunakan akal pikirannya, ternyata manusia tidak selalu harus tergantung oleh alam, dan bahkan otoritas gereja, seperti yang menjadi ciri khas abad pertengahan (sebelum abad pencerahan). Manusia ternyata bisa merdeka dan menjadi individu bebas dengan menggunakan akal pikirannya.
Namun demikian, pola pikir seperti itu menyisakan beberapa masalah. Ketika manusia mengklaim bisa bebas dan merdeka, maka perlu dipertanyakan lagi klaim seperti itu. Kebebasan dan kemerdekaan siapa yang dimaksud? Apakah kebebasan bagi seluruh umat manusia, atau hanya bagi segelintir elit yang memiliki akses, dan dengan sendirinya memiliki kekuasaan untuk menindas mereka yang sebagian besar tidak memiliki akses?
Lalu, masalah lainnya adalah, ketika manusia mengklaim dapat menaklukan alam dengan pikirannya semata. Sehingga dengan begitu, pikirannya sendiri dalam hal ini menjadi andalan utama. Dari sini, tentu saja peranan spiritualitas dalam memberikan makna kepada individu menjadi tergerus, dan bahkan punah sepenuhnya. Seringkali spiritualitas dengan logika kapitalisme tidak berjalan akur.
Bagi mereka yang tertindas dalam sistem pabrik, waktu kerja hingga lima belas jam sehari selama seminggu penuh, tentu tidak bisa memiliki waktu untuk dirinya sendiri (kontemplasi, ibadah, bahkan sekadar rekreasi). Penemuan teknologi bukannya memudahkan seseorang dalam bekerja, tetapi malah semakin menekannya. Bahkan hingga jaman sekarang. Dengan kerja lembur dan semacamnya, semakin sedikit individu memiliki waktu senggang yang berguna untuk pemenuhan kebutuhan spiritualnya. Dari situ juga mengapa, hingga sekarang manusia dekat dan mengenal betul konsep “hampa” dan “terasing”.
Di titik ekstrimnya, keterasingan dan kehampaan ini juga yang menjadi pemicu pergerakan keagamaan fundamentalis ini. Akar-akar agama yang dulunya menjadi dasar spiritualitas manusia dan memberikan makna terhadap eksistensi manusia, menjadi tercerabut. Yang ada sekarang hanyalah ukuran-ukuran, dan usaha peningkatan keuntungan. Semuanya dikomodifikasi. Diperdagangkan ala kapitalisme yang selalu memeras dan berorientasi profit. Tidak ada solidaritas sosial selama itu tidak menghasilkan keuntungan. Siapa yang tidak merasa frustrasi dan hampa, ketika interaksi sesama manusia tidak dilandasi niat tulus hanya untuk sekadar bersilaturahmi, tetapi malah dimanfaatkan untuk bisnis, bahkan seringkali penjarahan dan pencerabutan akar tradisi? Siapa yang tidak merasa jengah, ketika mempelajari sholat saja dikenai biaya hingga jutaan rupiah?
Saya merasa, yang diperlukan oleh masyarakat saat ini adalah ketulusan yang benar-benar murni, tanpa dilandasi oleh perhitungan-perhitungan untung atau rugi, layaknya saudagar di pasar. Ketulusan itu memang gampang diucapkan, tetapi dalam lingkup yang lebih besar, pola pikir seperti itu akan menjadi masalah. Siapa yang mau memberikan atau membagi sesuatu secara cuma-cuma dijaman sekarang? Apakah perusahaan seperti Free Port di Papua berani untuk membagi secara fair hasil garapannya dengan masyarakat lokal Papua, tanpa harus secara berlebihan memupuk keuntungan bagi segelintir CEO-nya? Pastinya hanyalah kerugian yang diterima bila pola pikir seperti itu diterapkan. Tetapi disitulah tantangannya. Apakah kita akan terus membusuk di jaman yang mempersetankan ketulusan hanya demi pemupukan kekayaan pribadi, atau kita mencoba melawan sistem dominan ini dengan segala cara dan di segala lini? Kehidupan tentu sangat berharga, dan layak untuk dijalani.
Sistem yang mempersetankan ketulusan seperti ini, sudah barang tentu tidak akan memperdulikan solidaritas sosial. Karena, seperti kapitalisme yang menjadi dasarnya, satu hal yang dikejar hanyalah bagaimana mencapai keuntungan dan laba yang setinggi-tingginya, dengan penjarahan dan perampokan sebagai cara kerjanya.
Pola seperti itu hanya menguntungkan segelintir elit yang memiliki akses sekaligus kekuasaan. Dampaknya tentu adalah perilaku individualistis yang akut, selain kesenjangan yang lebar antara mereka yang memiliki dan mereka yang tidak memiliki. Hal seperti ini juga, pada dasarnya yang bisa membuat orang yang tidak bisa mengikuti alurnya menjadi frustrasi. Dan dalam beberapa hal, muncul pemboman dan aksi-aksi yang otoritas sebut sebagai “aksi terorisme”. Sebuah wujud rasa frustrasi atas teror-teror korporasi dan para kapitalis yang selama ini menekan kehidupan mereka: orang-orang yang terpinggirkan itu.
Selasa, 15 September 2009
Hanya Omongan Kosong Tentang Kebudayaan
Begitupun dengan omong-kosong beberapa orang yang berkoar kembali ke 'budaya azali'. Semacam bullshit tentang 'revitalizing cultural heritage' thing ini. Apalagi sambil mengangung-agungkan bahwa budaya lokal jaman dulu lebih arif dari budaya modern saat ini. Omong-kosong. Perbudakan dan mentalitas feodal zaman lampau sama brutalnya dengan penghisapan di moda produksi kapital sekarang. Jadi, jangan berbicara moral dan etika dalam kaitannya 'kearifan manusia jaman dulu yang tertuang dalam budaya lokal' dihadapan muka saya. Tolong, sudah cukup saya dipusingkan oleh bau kentut kalian yang apek.
Ketika orang-orang lebih menyenangi memakai baju jas, ketimbang mengenakan busana lokal yang memakan waktu berjam-jam untuk memakainya, sudah barang tentu menjadi lumrah bila kemudian jas itu menjadi digemari. Karena, dengan moda produksi saat ini, efisiensi dan persaingan adalah hukum. Tentu adalah hukum. Dan hukum itu jugalah yang membuat sesuatu yang kamu sebut budaya lokal dan Mbok Bariah harus terbengong-bengong di pinggir jalan menyaksikan segala sesuatunya hilir mudik sangat cepat dan brutal di hadapannya. Setiap orang harus patuh dalam hukumnya, bila ingin bertahan di kehidupan seperti sekarang ini.
Ketika ada kebudayaan yang hilang dari peredaran, tentunya manusia yang hidup saat itu bukanlah yang harus disalahkan tok. Tetapi ada hal lain yang tentunya harus juga dilihat dan berpengaruh cukup besar: jenis moda produksi seperti apa yang berlaku di sebuah masyarakat. Mau tidak mau harus dilihat, karena moda produksi itu sudah barang tentu berpengaruh kepada gaya hidup masyarakat didalamnya.
Kamu kira kenapa harus muncul kata-kata, seperti “karyawan”, “pekerja profesional”, bahkan “pegawai”, bila sistem produksi yang berlaku adalah sistem yang memunculkan pembagian kerja yang memicu munculnya pembagian kelompok sosial berdasarkan prestise seperti itu. Walaupun, pada dasarnya kata-kata “karyawan”, “pekerja profesional”, dan “pegawai” itu tiada bedanya dengan “buruh”: tergolong mereka yang tidak punya apapun, kecuali tubuhnya sendiri yang dijual untuk keuntungan pribadi yang membelinya. Untuk mengatakan lebih jelas: pembagian kelompok sosial seperti itu hanya pelipur lara dari kenyataan, bahwa dalam hal penghasilan dirimu lebih baik dari ‘mereka’, tidak perduli realitas betapa besarnya derajat penghisapan atas tubuhmu sendiri oleh moda produksi yang berlaku dan dominan saat ini.
Begitupun bila kamu ingin berbicara tentang menggali “kearifan budaya lokal” di jaman moda produksi kapital seperti sekarang. Okelah, kearifan adalah sesuatu yang mulia dan luhur, sehingga pantas untuk ditiru. Tetapi moda produksi kapital tidak akan perduli yang namanya kemuliaan atau kearifan yang luhur, selain ejakulasi tanpa batas bernama akumulasi modal. Tidak akan pernah. Kecuali kearifan atau kemuliaan itu memang bisa mendatangkan profit, berupa kekayaan berbentuk penumpukan uang. Kenyataannya, bila kearifan atau kemuliaan budaya lokal itu adalah sesuatu yang tidak efisien, menjadi hal yang percuma bila terus-menerus dipertahankan. Karena moda produksi saat ini, lebih menyenangi kopi instan di starbuck yang bisa tersaji secara cepat dalam waktu kurang lebih lima menit, daripada racikan kopi nenek moyangmu yang harus memakan waktu hingga setengah jam untuk menyajikannya. Lima menit untuk membuat kopi di mode produksi seperti saat ini tentu adalah rata-rata secara sosial, dan dua puluh lima menit yang dihabiskan artinya sama saja dengan tidak efisien. Dan itu berarti kalah persaingan. Dengan kalah persaingan, tentu tidak akan ada keuntungan apa-apa.
Begitu juga, misalnya ketika kamu mengeluhkan tidak ada orang yang mau lagi membaca atau mengucapkan bahasa nenek-moyang jadul di “jaman modern” ini. Kamu mengira hal seperti itu adalah semacam gejala mulai “murtad dan berdosa”-nya suatu masyarakat. Iyalah, wajar bahasa nenek-moyang kamu itu tidak ada yang mau memakainya, semenjak bahasa dan aksara yang berlaku di moda produksi sekarang lebih efisien dan mudah dimengerti. Apalagi bila dipakai untuk berbisnis.
Jadi, bila kamu ingin menggali atau membangkitkan “budaya lokal” dari kuburannya, lebih baik tidak memakai motif demi embel-embel romantisme atau mencari nilai kemuliaan belaka. Apalagi bila budaya lokal yang ingin kamu hidupkan itu pada dasarnya tidak efisien untuk diterapkan di moda produksi seperti sekarang. Karena pada akhirnya, budaya lokalmu itu akan tetap mati juga. Kecuali dengan akal-bulus pedagangmu itu, kamu mengutak-atik budaya lokal tersebut dan menjualnya ke pasar. Masih ada kesempatan, bila memang caranya seperti itu. Lihat saja tren batik sekarang ini, atau scarf ala timur tengah itu. Entahlah apa namanya.
Eskapisme dari kehidupan urban yang semakin mengalienasi ini memang sah-sah saja dicurahkan ke berbagai tempat dan saluran oleh individu atau kelompok: mau itu menjalani eksperimen seks-bondage dengan munding, misalnya, atau kembali ke “kearifan manusia dan kebudayaan masa lampau” ini. Tetapi, saya kira akan lebih menyenangkan bila eskapisme itu dicurahkan dengan melemparkan batu ke roda-roda mesin yang berputar cepat. Roda-roda mesin yang membuat kekasihmu terus berada di kantor hingga larut malam ketimbang berada di sisi mu. Roda-roda mesin yang merenggut kegemaran mu akan sorabi ala Mbok Bariah, karena si Mbok pulang kampung dan tidak kembali lagi jualan seperti biasanya. Tentu akan menyenangkan, karena tidak pada tempatnya kehidupan harus terasing dari diri sendiri.
Kamis, 20 Agustus 2009
Bahasa Daerah Terancam Punah? Biarkan Saja Punah Bila Tak Praktis
Pusat Bahasa telah menghasilkan beberapa kesimpulan awal mengenai eksistensi bahasa daerah di Indonesia. Salah satunya adalah penemuan bahasa daerah yang ternyata telah punah karena minimnya penutur. Kesimpulan itu keluar setelah sebelumnya Pusat Bahasa melakukan penelitian mengenai bahasa daerah di Indonesia. Kesimpulan yang dikeluarkan Pusat Bahasa itu bisa dibaca di Kompas edisi 27 Mei 2009.
Terkait dengan adanya bahasa daerah yang telah punah itu, Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono berkomentar, seperti yang di ambil dari Kompas, hilangnya bahasa daerah akan menghilangkan akar kebudayaan suatu daerah. Selain itu, Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika juga berkomentar, kepunahan bahasa daerah merupakan kerugian besar bagi pertumbuhan suatu bangsa.
Di sisi lain, pakar capruk ga jelas: Siluman Tulen, berpendapat hilangnya bahasa daerah tidak harus berarti hilangnya kebudayaan suatu daerah atau kerugian besar bagi pertumbuhan suatu bangsa. Hal itu bila dikaitkan dengan posisi bahasa daerah bagi penuturnya.
Bahasa adalah sekadar alat untuk berkomunikasi di antara manusia. Pikiran manusia adalah sesuatu yang abstrak, dan bahasa hadir untuk mengkonkretkan pikiran abstrak tersebut. Pikiran yang abstrak itu memang tidak akan utuh, ketika dikonkretkan dalam sebuah bahasa. Ada saja makna yang masih terdengar samar-samar. Contohnya: apa pengertian utuh dari pemikiran “aku cinta kamu”? atau apa pengertian utuh dari pemikiran mengenai “neoliberalisme” yang sedang hip akhir-akhir ini? Saya mah rieut. Tetapi dengan bahasa, manusia yang berkomunikasi setidaknya dapat ‘mendekati’ pengertian yang sama.
Nah, bila ada bahasa daerah yang punah, karena jumlah penuturnya minim hal itu bisa jadi disebabkan bahasa daerah itu terlalu ribet, ketika digunakan oleh penuturnya. Misalnya, bahasa Sunda halus yang konon bagi anak jaman sekarang terlalu rumit. Ada saja cerita bagaimana mayoritas anak muda sunda saat ini “blah-bloh” ketika berkomunikasi menggunakan bahasa sunda dengan orang sunda yang juga menjadi saksi hidup Bandung Lautan Api. Karena tingkatan bahasa sunda yang tidak banyak diketahui dan beberapa kata yang memang terdengar asing di telinga anak muda sunda saat ini, maka perlahan bahasa sunda “karuhun” itu mulai ditinggalkan. Sehingga hasilnya adalah seperti saat ini, bahasa sunda pasar. Campur sari dengan bahasa daerah lainnya atau bahasa “slank”. Tetapi itulah yang umum digunakan oleh kebanyakan orang sunda saat ini. Sebabnya, karena bahasa sunda pasar itu yang ternyata praktis dan mudah dimengerti. Walaupun, di satu sisi, ada saja “budayawan garda terdepan penjaga adat istiadat nenek moyang berumur 50 tahun ke atas” yang selalu mengeluh dan mengeluh tentang tiadanya kesadaran anak muda menjaga tradisinya. Budayawan-budayawan bangkotan itu seringkali mengeluh dengan berpijak dari perasaannya ketika melihat banyaknya pemakaian bahasa sunda pasar oleh mayoritas anak muda saat ini.
Saya pikir, sang budayawan bangkotan setidaknya harus belajar menerima kenyataan, bahwa bahasa sunda karuhun yang dia gemari itu ternyata tidak digemari oleh anak muda sunda di jaman sekarang. Jaman berubah, semuanya tidak akan sama lagi.
Dokumentasi dan Minat Baca
Daripada banyak mengeluh mengenai ketakutan akan hilangnya “akar tradisi dan adat istiadat suatu daerah” disebabkan punahnya bahasa daerah, lebih baik dilakukan sebuah langkah aktif. Setidaknya, ada dua masalah yang cukup penting terkait dengan masalah bahasa daerah ini, yakni dokumentasi dan minat baca.
Seperti telah ditulis di atas, bahasa hanyalah sebuah alat untuk berkomunikasi. Seperti manusia yang selalu mengalami perubahan, begitupun dengan bahasa. Seiring perubahan yang terjadi dalam diri manusia, tidak tertutup kemungkinan sebuah bahasa akan hilang atau sebaliknya, berkembang. Maka dari itu, pengenalan akan kegiatan dokumentasi menjadi penting disini. Salah satu contoh kecilnya, sebutlah kamus bahasa daerah. Kamus berperan penting untuk mendokumentasikan kosakata-kosakata yang terdapat dalam bahasa daerah. Biarlah bahasa daerah musnah, karena jumlah penuturnya berkurang atau tidak ada, asalkan kosakata bahasa daerah tersebut sudah tercetak dalam sebuah kamus, sehingga dapat menjadi pengetahuan bagi generasi selanjutnya. Dengan begitu, walaupun sebuah generasi baru itu tidak lagi paham mengenai bahasa daerah yang sudah atau hampir punah, namun generasi itu masih bisa mengetahui tentang eksistensi sebuah bahasa daerah yang dulu pernah ada.
Dokumentasi itu tidak hanya dalam bentuk kamus saja, bisa juga dalam bentuk karya sastra dan kebudayaan. Kiprah Pusat Bahasa yang berhasil memetakan 442 bahasa dari 2.185 daerah, seperti yang diberitakan juga oleh Kompas, merupakan hal yang patut diapresiasi. Walaupun masih jauh dari sempurna, karena nyatanya masih ada sekitar 304 bahasa daerah di Indonesia belum selesai dipetakan.
Kesadaran akan pentingnya dokumentasi dikalangan masyarakat menjadi hal yang penting di sini. Untuk menumbuhkan kesadaran dokumentasi tersebut, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah menumbuhkan minat dan cinta membaca. Siapapun tahu, dengan membaca, maka cakrawala dunia terbuka. Para nelayan di pulau Madura bisa mengetahui sebuah gua bernama Hira di daratan Arab jauh di sana, karena ia pernah membaca terjemahan kitab al quran yang salah satu isinya menceritakan tempat yang biasa dipakai Nabi Muhammad untuk merenung. Seorang mahasiswa dari Indramayu mengetahui ada sebuah aliran kristen bernama Mormon di daratan Amerika sana, setelah sebelumnya dia membaca laporan seorang wartawan yang meliput mengenai kelompok yang mempunyai dua kitab suci ini di sebuah majalah.
Intinya, punahnya bahasa daerah disebabkan tidak ada lagi penutur bukanlah sebuah masalah. Tetapi masalah sebenarnya adalah ketika tidak ada lagi kesadaran serta pengetahuan mengenai pentingnya dokumentasi dan membaca. Dua hal itulah yang berpotensi menyebabkan hilangnya akar sebuah kebudayaan daerah. Bukan penutur yang tidak ada lagi.

