Minggu, 27 Desember 2009

Fiksi: Mengenang Iqbal (Bag. 4 - Habis)

Mata Iqbal menerawang di ruangan itu. Lalu, seperti megap-megap. Sebentar-sebentar mulutnya terbuka lalu tertutup. Ia kepayahan, seperti kehabisan nafas. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, namun tidak sanggup untuk dikeluarkannya. Suaranya tidak jelas. Dudi mencoba menenangkannya.

“Sabar…Bal, sabar…,” Ia mengusap-usap lengan Iqbal. Sementara Iqbal meronta lemah memohon sebuah pertolongan. Sebuah pemandangan yang miris.

Saya bertanya kepada Ibunya yang ada di ruangan rawat itu. Ia hanya berkata, ‘sakit panas.’ Jawaban yang tidak memuaskan dan, bagiku, tidak masuk akal. Buat apa bila sekadar sakit panas, Iqbal harus menginap di rumah sakit sampai memasuki hari kelima. Satu lagi hal yang tidak masuk akal adalah keadaan tubuhnya yang seakan-akan menyusut dan kering kerontang itu. Semuanya hanya karena sakit panas.

Tiba-tiba Iqbal berkata kepadaku dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Ri, saya udah ga betah disini.”

Mendengar itu saya hanya bisa menenangkannya. Mengusap-usap lengannya,  seperti yang telah Dudi lakukankan sebelumnya. Sebenarnya saya tidak kuat melihat pemandangan seperti itu.

“Ri, Ga bisa kemana-mana. Saya udah ga betah. Ri, ayo kita maen keluar,” Berulang kali Iqbal berbicara seperti itu. Ia tidak mau diam.

“Kalem, Bal, sabar. Dirawat dulu aja, biar sembuh. Kalau udah sembuh baru kita maen bareng lagi,” kata saya seperti berbicara ke anak kecil.

Teman-teman yang lain diam mencerna peristiwa yang tidak biasa ini. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin sama dengan saya, kilasan-kilasan masa lalu kembali berkelibatan dalam pikiran teman-teman. Terlihat pada setiap mata mereka yang tertuju ke Iqbal yang meronta-ronta, namun tidak berdaya.

***
Malam begitu menghipnotis dengan segala kegelapannya. Lalu mencekam saat orang-orang di dalam rumah membaca ayat-ayat Quran. Perumahan dimana aku berada kini begitu padat. Sesak berdempet-dempetan. Begitu kumuh, dan didalam salah satu rumah itu, berbaring Iqbal yang ditutupi oleh kain kafan.

Dua hari setelah mengunjungi Iqbal di rumah sakit, Dudi meneleponku dan mengabarkan, bahwa Iqbal tidak tertolong lagi. Aku tidak terkejut mendengarnya, karena saat melihat kondisinya yang mengkhawatirkan di rumah sakit itu, aku sendiri mempunyai firasat, bahwa Ia akan menyusul Tanto. Firasatku ternyata benar. Namun, penyebab kematiannya masih menjadi misteri bagiku. Aku yakin Dudi dan Yudha mengetahui penyebabnya. Namun, mereka lebih memilih merahasiakannya.

“Gosipnya, sih, sama kaya si Tanto,” Jawab Matoy, ketika kutanyakan tentang penyebab sakit Iqbal, “tapi, ga tau juga.”

Ah, sudahlah. Aku memang tidak ingin tahu amat tentang apa penyebabnya. Malah, aku juga tidak begitu berminat untuk ikut duduk mengelilingi Iqbal di dalam rumahnya bersama yang lain. Aku dan Matoy lebih memilih duduk di teras. Merokok. Mendengar ayat Quran yang dibaca oleh orang-orang didalam. Merasakan malam yang dingin dan berupaya menepis pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran.   

“Tapi, sekalinya kita ngumpul lagi…cukup aneh juga, ya, suasananya,” Matoy berkata seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri. Ia menghisap rokoknya. Aku tidak merespon perkataannya.

Di sela-sela pembacaan ayat-ayat Quran yang terasa sendu pada malam itu, keheningan menyeruak bersama dengan angin malam yang berhembus pelan.
 
 

Fiksi: Mengenang Iqbal (Bag. 3)

Dari arah sebelah kanan kios terdengar suara knalpot motor yang memekakkan telinga. Teman-teman, seperti Yudha, Aryo, dan Adi, beranjak dari tempat duduk yang ada di sebelah kios. Melihat ke arah suara knalpot motor yang bising itu. Semakin dekat, suara knalpot sialan itu semakin memekakan telinga.

“Sialan. Bising amat tuh motor. Siapa? Anak-anak, bukan?” kata Aryo.

Kedua motor itu menghampiri kios dan berhenti tepat dihadapan kami. Keempat orang yang naik motor itu semuanya mengenakan helm full face, sehingga sulit untuk mengindentifikasikan siapa-siapa saja mereka itu. Hingga salah seorang yang mengendarai motor dengan knalpotnya yang super bising itu menanggalkan helmnya, terlihat wajah teman lama yang familiar: Eldhi. Disusul ketiga orang lainnya yang juga menanggalkan helmnya masing-masing. Terlihat, Dudi, Jaka dan…haha, ya, teman sebangku dulu: Matoy. Sialan, mereka semua berubah. Setidaknya dalam hal ukuran tubuh. Semuanya seakan-akan serba membesar. Terutama di bagian perut.

“Wey, edan. Koboy berkumpul! Hehe,” Eldhi berkata sambil menyalami anak-anak. Suasana tambah hangat, ketika mereka datang. Saling menanyakan kabar dan perubahan yang terjadi selama ini. Seperti menunaikan kekangenan yang lama terpendam.

Sekarang, berkumpullah semua sudah. Matoy, Eldhi, Dudi, Jaka, Yudha, Aryo dan Adi. Mereka adalah teman-teman terdekatku selama SMP dulu. Masa-masa segala gejolak berkecamuk. Kami tumbuh bersama disaat sedang ‘haus-hausnya’. Kami haus dengan hal-hal baru, haus akan hal-hal yang kami anggap aneh. Kami ingin mencoba segalanya. Mulut kami selalu mangap, menunggu tetesan demi tetesan air kehidupan mengalir lewat kerongkongan. Kasarnya, apa saja yang hinggap di mulut, niscaya akan kami telan sampai habis saat itu. Ya, kami ingin menjalani hidup dan ingin merasakannya hingga titik terjenuh.

Dimasa ingin menjalani hidup dan merasakannya hingga titik terjenuh itulah, salah seorang kawan, Tanto namanya, berbaring di kedalaman tanah kurang lebih lima meter di usianya yang masih sangat muda. Tanto meninggal karena sering mengkonsumsi putaw. Saat itu tahun 1999. Di tahun itu, putaw sedang sangat popular.

Tanto diketemukan di kamarnya oleh seorang adik kelas (entah siapa lupa namanya) tergeletak tidak bernyawa dengan mulut membusa. Padahal, saat itu kami baru lulus SMP. Kematiannya sungguh disayangkan. Semenjak kematiannya itu, Adi dan Yudha buru-buru bertobat. Di kelompok kami, mereka bertiga itulah yang memang sering mencoba-coba putaw. Sementara Saya, Eldhi, Dudi, Matoy, Aryo dan Jaka hanya berhenti pada ganja. Saya memang tidak pernah punya cukup uang untuk membeli putaw. Untuk menghisap ganja saja, seringkali saya patungan dengan anak-anak. Tiga ribu perak perorang. Tidak pernah membeli satu paket murni memakai uang sendiri. Terlalu mahal.

Seharusnya ada sepuluh orang bila kelompok kami utuh berkumpul. Namun, ya, itu tadi. Satu orang telah berbaring di dalam tanah dan Iqbal…semenjak dia dikeluarkan dari sekolah, kami kehilangan kontak. Beberapa bulan setelah Iqbal dikeluarkan, Ia memang masih sering berkunjung ke kios. Tetapi, kira-kira menginjak bulan keempat, Ia tidak pernah datang lagi ke kios. Ditelepon ke rumahnya pun, Ia malah seringkali tidak pulang ke rumah.

Sebenarnya ada sebuah peristiwa yang kembali menyatukan kami, sebuah alasan kenapa kami harus menginjakkan kaki kembali di kios ini. Entah bagaimana, tetapi aku merasa seperti ada kekuatan yang menarik semua kawan-kawan untuk kembali bertemu. Untuk sedikit meluangkan waktu ditengah padatnya aktivitas masing-masing. Peristiwa itu berkaitan dengan Iqbal. Kami akan menemuinya hari ini.

“Gimana, semua sudah berkumpul. Kita pergi sekarang?” Yudha berkata pada kami.

“Memang sekarang dia berada di Immanuel?” kata Adi.

“Ya, dapet kabarnya, sih, gitu. Kemaren pas nelepon ke rumahnya, gitu,” Dudi membalas.

“Siapa yang ngangkat telepon?” tanya Aryo.

“Kakaknya, gitu…ga, taulah. Suara cowok.”

“Emang sebenernya kenapa, sih, Iqbal?” Saya penasaran, karena kabar mengenai dirinya sungguh simpang siur. Saya hanya mendapat kabar, bahwa dia terbaring sakit kritis di rumah sakit. Namun, tidak ada penjelasan mengenai apa penyebabnya hingga Ia harus dirawat. Teman-teman juga sama tidak tahu.

“Entahlah, katanya sakit,” jawab Dudi dengan sikap yang terasa tidak biasa. 

Saya merasa ada yang disembunyikan.

“Ya, udahlah. Hayo kita cabut. Keburu Magrib!” kata Yudha.

(bersambung)

Fiksi: Mengenang Iqbal (Bag. 2)

Begitulah. Seakan-akan momentum di kelas dua caturwulan pertama itu berkelibatan di dalam benak. Seperti masa lama lampau yang telah terlewati itu tiba-tiba mewujud lagi. Hadir setelah sebelumnya mengendap dalam. Di saat seperti ini, ketika teman-teman berkumpul lagi, duduk-duduk lagi di kios yang sama seperti tiga tahun lalu, memori itu menemukan kanalnya. Mengalir deras memenuhi relung pikiran ini.

Lama tidak terdengar kabar dari Iqbal. Ada satu kejadian mengenai dirinya di masa SMP dulu yang cukup membuatku merasa kehilangan hingga saat ini. Jadi, tidak beberapa lama, masih dalam hitungan bulan setelah kejadian hukuman skorsing itu, Iqbal terlibat perkelahian dengan salah satu teman kami, Tama. Masalah sepele. Mengenai hutang. Tapi, berujung perkelahian maut di depan kelasku saat jam istirahat. Suasana menjadi begitu hiruk pikuk saat itu. Melihat bagaimana kedua orang itu saling melancarkan serangan terkerasnya. Wajah Tama menjadi tak karuan karena darah yang mengucur dari hidungnya. Begitupun dengan kelopak mata sebelah kiri Iqbal yang membengkak dihantam bogem mentah Tama. Begitu keras perkelahian itu.

Tama adalah seseorang dengan perawakan tinggi besar. Bila aku bercanda dengannya, kadangkala aku memukul-mukul badan atau punggungnya. Ketika memukul-mukul itu, terasa, bahwa tubuh Tama liat seperti kuda. Kencang. Lalu, tulang-tulangnya yang besar pun terasa keras. Mengerikan memang bila mendapatkan pukulan darinya. Bila sedang bercanda, aku sering mendapatkan pukulan darinya. Langsung terasa linu. Itu bila bercanda, apalagi bila berantem serius. Mungkin rasanya akan lebih dari linu, seperti batu bata keras dilempar kencang tepat ke tulang kaki keringmu. Coba bayangkan rasanya seperti apa.

Di sisi lain, Iqbal adalah seseorang dengan perawakan kecil dengan tubuh yang tidak terlalu kurus, tidak juga gendut. Gempal. Namun, Ia mempunyai nyali yang jauh di atas rata-rata bila dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Pernah, suatu kali ada segerombolan preman yang sering memalak siswa-siswa sekolah kami. Preman itu adalah siswa-siswa dari SMA yang reputasinya terkenal cukup angker dan berlokasi tidak jauh dari sekolah kami. Mulai dari anggota geng hingga pemasok ganja semuanya ada di SMA itu. Suatu kali Iqbal mendatangi kios tempat nongkrong gerombolan berandalan SMA itu. Kebetulan ada lima orang yang sedang nangkring saat itu dan Iqbal tanpa pikir panjang mulai menghajar kelima orang itu dengan menggunakan balok. Walaupun Iqbal membawa balok, tetap saja perkelahian itu tidak seimbang. Lima lawan satu. Belum lagi tubuh Iqbal yang kecil membuat perkelahian tidak seimbang. Hasilnya Iqbal babak belur kena hajar berandalan SMA itu. 

Perkelahian antara Tama dan Iqbal itu ternyata menjadi kesalahan fatal bagi Iqbal sendiri. Guru-guru langsung berdatangan, diantaranya ada Wawan yang langsung melerai perkelahian. Tama dan Iqbal dibawa ke ruang guru dan mulai diinterogasi.

Kesalahan fatal itu terjadi, ketika Wawan menyuruh salah satu siswa untuk membawa tas Tama dan Iqbal ke ruang guru untuk digeledah. Dari tas Iqbal ternyata ditemukan sebungkus rokok. Itulah yang menjadi malapetaka. Berbeda dengan Tama yang, seperti biasa, hanya disuruh membuat surat pernyataan tidak akan melakukan lagi kesalahan serupa yang ditandatangani oleh orang tua. Hukuman untuk Iqbal lebih parah. Gara-gara kepergok membawa sebungkus rokok, Ia dibawa oleh Wawan memasuki setiap kelas, mulai dari kelas satu hingga kelas tiga. Setiap angkatan terdiri dari delapan kelas. Jadi, total kelas satu hingga kelas tiga berjumlah dua puluh empat. Di kelas sebanyak dua puluh empat itu, Iqbal disuruh memasukinya satu-satu dan berdiri di depan selama kurang lebih lima menit sambil dipaksanya Ia untuk merokok. 

Ketika giliran masuk ke kelasku, Iqbal terlihat begitu berantakan. Beberapa kancing bajunya terlepas. Terlihat dadanya yang dilapisi oleh kaos kutang. Rambutnya acak-acakan. Matanya yang sebelah kiri lebam. Di sakunya tersembul sebungkus rokok yang dirampas dari tasnya oleh Wawan. Saat itu Iqbal kebanyakan menunduk, tidak berani menghadapkan wajahnya sendiri ke arah para siswa. Ia menangis.

“Ampun, Pak. Jangan ngerokok, Pak. Malu…,” katanya putus-putus sembari cecegukan.
Disebelahnya, Wawan merangkul Iqbal dan menatapnya dengan matanya yang dingin. “Kamu kan suka ngerokok. Sekarang Bapak kasih kamu kesempatan buat ngerokok. Kenapa kamu harus malu?”

Iqbal masih saja cecegukan dan sesekali mengusap matanya yang bercucuran air mata dengan tangan kirinya. Sementara tangan yang satunya lagi memegang rokok. Terlihat tangannya begitu gemetaran saat memegang rokok itu. “Ampun, Pak. Ampun…,” katanya lagi.

Kelas senyap mencekam.  Hanya terdengar cegukan dan suara Iqbal yang memelas minta ampun saat itu. Guru pelajaran Biologi, Bu Neneng, hanya duduk di mejanya tidak berkata apa-apa. Teman sebangku, Matoy, selama ‘adegan’ itu hanya mengeluarkan dua buah kata, “anjis, edan.”

Sisanya, sepanjang ‘adegan’ itu, Matoy hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.
Wawan menoleh ke arah kami. Para siswa yang terbengong-bengong menyaksikan pemandangan yang cukup miris di depan kelas. Lalu Ia berkata, “Nah, di depan kalian ini adalah sebuah contoh. Contoh bagaimana seorang siswa yang tidak terdidik dan tidak mematuhi aturan,” Wawan kembali menolehkan pandangannya ke Iqbal, “padahal, baru-baru ini si Iqbal ketauan ngerokok. Sudah di skorsing pula. Tapi, eh…tetap saja kelakuan kamu seperti ini.”

Saat Wawan mengungkit tentang perkara skorsing itu, beberapa kawan yang berada di baris sebelah menolehkan pandangannya padaku. Ku balas lagi pandangan mereka dengan tatapan  mengancam.

“Nah, hari ini menjadi peringatan bagi kalian. Bila ada di antara kalian yang melanggar aturan akan mendapatkan hukuman. Seperti pelanggaran membawa rokok ke sekolah, misalnya. Kalian bisa melihat hukuman yang akan ditimpakan seperti apa,” kata Wawan dengan nada penuh penekanan. Sambil mengatakan hal itu, seakan-akan Ia melempar pandang ke seluruh ruangan dengan matanya yang dingin. Seperti menandai siapa-siapa saja siswa di kelas yang kira-kira berpotensi membuat ulah seperti Iqbal. Kebanyakan siswa di kelas, khususnya yang sering ‘bermasalah’, buru-buru menatap mejanya masing-masing. Tidak berani menatapnya langsung.

Iqbal lalu dibawa lagi keluar kelas untuk dipertontonkan dihadapan para siswa. Terbayang bagaimana perasaan malu itu bila aku menjadi Iqbal. Memasuki kelas yang jumlahnya dua puluh empat dengan kondisi yang tidak karuan. Belum lagi dipermalukan oleh Wawan dengan omongannya. Sungguh mimpi buruk.

Kejadian itu menjadi topik hangat diantara para siswa untuk beberapa minggu. Nasib Iqbal sendiri menurutku naas. Setelah proses ‘dipermalukan di depan publik’ itu, Ia harus menghadapi kenyataan, bahwa Ia dikeluarkan dari sekolah. Ini benar-benar kesialan beruntun baginya. Sementara itu Tama cukup beruntung. Ia tidak dikeluarkan dari sekolah, karena ia baru sekali berurusan dengan para guru. Iqbal, saya akui, posisinya memang tidak menguntungkan dimata para guru, khususnya Wawan. Iqbal selama ini dikenal sebagai pembangkang. Sering kasus. Dari kelas satu Ia memang biang masalah. Nilainya pun selalu pas-pasan. Tetapi, walaupun begitu, Iqbal adalah seseorang yang mengasikkan untuk diajak bermain. Ia solider dan perhatian terhadap teman-temannya. Itu yang paling utama. Oleh karena itulah, aku merasa nyaman bermain dengannya. Tidak perduli pandangan para guru terhadapnya seperti apa.

Keputusan para guru untuk mengeluarkan Iqbal benar-benar dikutuk oleh aku dan teman-teman. Walaupun begitu, kami benar-benar merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai bentuk kekecewaan, aku dan beberapa teman, seperti Matoy dan Adi, mencoret-coret tembok toilet. Mengata-ngatai Wawan. Adi yang jago menggambar, melukis wajah Wawan di tembok toilet. Walaupun lukisannya tidak mirip-mirip amat dengan wajah Wawan, tapi lumayanlah untuk bisa disebut menyerupai. Di bawah gambar Wawan itu, Matoy lalu menulis dengan huruf-huruf besar: WAWAN BEDEBAH.

Saya teringat ucapan Matoy, ketika Ia sedang menulis kata-kata itu di toilet. Matoy sangat geram, “nyebut Iqbal ga terdidik, kenapa malah dia yang dikeluarin? Bukannya sekolah tempat ngedidik orang?! Sekali ada yang dianggap ga terdidik, malah di D.O., goblok!” katanya.

(bersambung)

Fiksi: Mengenang Iqbal (bag. 1)

Sudah lama kami tidak berjumpa. Tiga tahun tidak terasa terlewat begitu saja semenjak kami berpencar dari bangku SMP dan sekarang, hari ini, semuanya berkumpul kembali. Masih tetap berkumpul di kios yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Kios dimana kami menghabiskan waktu, ketika pulang sekolah.

 “Pada kemana yang lain? Gimana, kita pergi sekarang aja?” Aryo bersuara dan membuat semua perhatianku dan teman-teman tertumpah padanya.

 “Sebentar, tunggu aja dulu. Masih pada di jalan,” Yudha menimpali.

Jalanan di depan kios sangat lengang, terlalu lengang malah. Hembusan angin sore mengingatkan kembali masa-masa menghabiskan waktu saat ku remaja di tempat itu. Sekolah yang menjemukan itu. Biasanya sepulang sekolah aku dan teman-teman langsung mendatangi kios ini. Merokok. Sesuatu yang kami anggap keren. Keren, karena ancamannya bukan main-main bila kepergok oleh guru. Bisa sampai di skorsing selama lima hari. Karena ancamannya yang tidak main-main itulah, bagi kami, merokok menjadi suatu kegiatan yang sekaligus mendebarkan. Kami merasa menantang bahaya. Merasa keren sebagai lelaki karena menantang bahaya dengan merokok sembunyi-sembunyi.

Konyol, memang. Tetapi itulah momen bagiku untuk dikenang. Dahulu, bila waktunya untuk istirahat di sekolah, aku dan seorang teman, Iqbal Anak Adam namanya, sering melarikan diri sejenak dari rutinitas sekolah yang membosankan dengan merokok sembunyi-sembunyi di toilet. Bila diisi oleh dua orang sekaligus, toilet itu begitu sumpek. Apalagi bila ada dua orang yang  merokok. Asap mengepul tebal dan membuat hawa menjadi semakin pengap. Namun, saat itu aku menikmati setiap kali berada di ruangan kumuh yang dipenuhi oleh coretan-coretan siswa lain yang tertera di dindingnya itu. Sekadar menikmati coretan-coretan di dinding toilet yang seringkali berisi tulisan-tulisan jorok dan konyol, ngobrol ngaler-ngidul dan merokok, sudah lebih dari cukup bagiku untuk tidak mengeluh dan menikmati apa yang terhampar dihadapan mata, walaupun memang ala kadarnya.
 

Begitulah. Toilet sekolah seakan-akan menjadi katarsis bagiku dan Iqbal. ‘Sarana pelepasan’ atas monoton dan menjemukannya rutinitas sekolah. Namun, disuatu masa saat kami duduk di kelas dua, ‘sarana pelepasan’ itu harus kami tinggalkan dengan perasaan terpaksa.

Ceritanya, ketika itu kami beres merokok. Saat aku membuka pintu toilet, begitu saja Wawan sudah berdiri dihadapan kami. Menyilangkan lengannya dan menatap angkuh. Sontak aku dan Iqbal kaget, tidak menyangka ada kehadiran orang lain di luar toilet, karena sebelumnya tidak terdengar ada gerak-gerik apapun.

“Lagi ngapain, Ri?” saya masih ingat Wawan bertanya seperti itu.

“Eh, abis kencing, Pak,” saya jawab. Gugup.

“Kencing berdua?” 

“Eu…eh, iya Pak, biar cepet, ga harus ngantri,” Iqbal menimpali. Gelisah.

“Terus, itu asap…asap apaan?” tanyanya lagi dengan menunjuk asap bekas rokok yang masih memenuhi toilet.

Pertanyaan ini benar-benar mematikan dan apapun jawabannya pasti akan terdengar bodoh, “Euh, ga tau, Pak.”

“Alah, banyak alesan. Ayo, sini, ikut ke kantor,”

Singkat cerita, aku dan Iqbal akhirnya terkena skorsing tidak boleh masuk sekolah selama lima hari. Bagi kami, masalah skorsing ini sebenarnya sepele. Bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan, karena, toh, kami akan menganggapnya sebagai liburan. Namun, keputusan skorsing itu menjadi masalah, ketika waktu pelaksanaannya bertepatan dengan praktek olah raga. Dimana, praktek olah raga itu akan mempengaruhi nilai akhir pelajaran olah raga kami selama caturwulan kesatu.

Saat mengetahui, bahwa keputusan skorsing mulai berlaku ketika praktek olah raga digelar, yaitu besok, kami setengah mati mencoba untuk membujuk Wawan agar tidak menghukum kami.

“Pak, ampun. Saya bakal berhenti ngerokok. Plis, Pak, jangan di skorsing. Besok kan ada praktek olah raga?!” Iqbal memelas.

Saya amini juga, “heeuh, Pak. Ga akan diulang-ulang lagi!”

Wawan - selain memegang pelajaran olah raga, sialnya merangkap juga sebagai ketua BK (Badan Konseling) - hanya tersenyum kecut mendengar permohonan kami. Sebuah permohonan, yang mungkin dianggapnya, hanya sebagai ocehan anak kecil yang setengah hati. Sebuah permohonan yang angin lalu, karena mungkin sebelum kami, ada banyak siswa lain yang juga memohon dengan kalimat yang sama persis seperti yang kami pakai, sehingga ia merasa, bahwa pada satu titik, tabiat kami – yang dianggapnya tidak taat aturan - akan kembali ke asalnya: melanggar kembali semua aturan yang ada. Sama seperti siswa bermasalah lainnya yang pernah ada sebelum kami.

“Alah, masalah praktek olah raga itu kan, kalian-kalian ini penyebabnya. Udah, sekarang jalanin aja hukumannya. Lagian, ini kan konsekuensi dari tindakan kalian yang melanggar peraturan sekolah,” jawabnya serasa yang terunggul, karena mendengar permohonan mentah yang keluar dari mulut kami.

“Tapi, Pak, nanti ga bisa lulus dong kalo ga ikut praktek. Ampun, Pak, jangan di skorsing. Saya nyesel ga akan diulang-ulang lagi!” saya tetap memaksa Wawan agar tidak menghukum kami.

“Iya, Pak, apapun deh bakal kita lakuin, asal ga di skorsing!” Iqbal menimpali.

Sekali lagi Wawan tersenyum sinis melihat kami memohon-mohon serasa patah arang. Bila aku bisa kembali lagi ke masa itu dan melihat bagaimana kelakuan kami ketika memohon-mohon seperti dua bocah bodoh, sangat mungkin bila aku pun akan ikut tersenyum sinis bersama Wawan. Bahkan, mungkin aku juga akan tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah dua bocah bodoh yang sedang memelas itu.

“Ya, sudah. Ya, sudah. Masalah nilai, Bapak akan beri keringanan, asalkan kalian nanti bikin perjanjian tertulis yang isinya tidak akan mengulangi lagi kelakuan kalian yang suka ngerokok di WC itu dan ditandatangani oleh orang tua kalian,” ujar Wawan seolah-olah memberi sebuah solusi atas permohonan bodoh kami.

Saat mendengar jawaban Wawan itu kami begitu kegirangan dan mengucapkan terima kasih padanya, karena akhirnya bisa mengikuti praktek olah raga. Namun, kegirangan itu menjadi sesuatu yang mengganjal, ketika tidak lama kemudian Wawan melanjutkan kembali omongannya.

“Lalu, menyangkut masalah praktek olah raga…kalian tetap tidak boleh mengikutinya. Itu sudah final, hukuman harus tetap dijalankan,” Wawan diam dan melihat sambil menakar ekspresi kami terhadap ucapannya itu.

Tentu saja kami bingung dan masih mencerna apa yang baru disampaikannya. Lalu, Ia melanjutkan ucapannya, “sebagai gantinya kalian harus beli bola basket, voli sama bola sepak masing-masing sebuah. Untuk masalah surat pernyataan, harus orang tua kalian yang menyerahkannya pada Bapak. Bukan kalian. Ini sudah final, Bapak ga mau dengar komentar lagi dari kalian. Udah, sekarang masuk kelas!”

Diluar ruangan kami pasrah. “Mau gimana lagi, Ri. Udah susah dibujuk si Wawan,” kata Iqbal yang terlihat sudah malas memikirkan hukuman omong kosong macam itu.

Pada akhirnya, selama lima hari aku berdiam diri di rumah. Sesekali mendengarkan amarah dan protes orang tua tentang kelakuanku. Praktek olah raga pun tidak kami jalani. Untuk masalah hukuman, Wawan memberi kami waktu selama sepuluh hari untuk membeli bola voli, basket dan bola sepak. Lalu, masalah dana untuk pembelian peralatan olah raga itu, kami patungan dengan menyisihkan uang jajan masing-masing dan meminta sumbangan pada teman-teman. Seratus lima puluh ribu perak terkumpul waktu itu.  

(bersambung)

Rabu, 23 Desember 2009

Ride feat. Buronan Mertua

Ada saja yang terlupakan. Ada saja yang baru disadari kemudian. Selepas malam tiba, dan matahari muncul dari timur...dari arah Cibiru. Sebenarnya ada kehangatan yang mengingatkan banyaknya kasih sayang yang mengalir alami dari orang-orang lama. Mereka yang sederhana, dan sebenarnya selalu terbuka. Namun, seperti gedung-gedung yang menjulang tinggi di Asia-Afrika itu...sinar matahari tidak pernah berhasil menembus bata, beton, besi dan baja yang menjadi fondasinya. Pada akhirnya, hanya menyisakan bayang-bayang bangunan yang menjulang tinggi. Sama seperti mata ini yang selalu tertutup akan realitas...hanya memburu bayang-bayang: tak ingin menginjak muka bumi dimana kaki benar-benar menapak di tanah yang sederhana. Selalu mengharapkan kehidupan yang sempurna dari ketinggian imaji yang semu dan goyah.

Di Cileunyi sorot sinar matahari begitu hangat. Bersamaan dengan motor yang melaju di kecepatan 60 km per jam, angin berhembus menerpa kulit. Terasa hangat. Rasakan sinar matahari. Tidak terlalu menyilaukan seperti siang. Resapi pagi yang tersisa: bukalah mata, hati, dan pikiran. Mudah-mudahan.