Kamis, 25 Juni 2009

ketidakpuasan

yang ada seakan-akan hanyalah sejarah ketidakpuasan
dan hanya hadir dalam ranah pikiran kamu dan saya.
celakanya, selalu ada cerita bagaimana kamu atau saya
berlalu begitu saja dengan nada tidak kerasan...
atas nama ketidakpuasan...
dan atas nama ketidakpuasan juga
dalam skala besar, selalu terbuka kemungkinan untuk menjadi pembantaian massal.

ketidakpuasan...

lalu apa yang harus dilakukan terhadapnya?
sejarah manusia, ironisnya, adalah sejarah ketidakpuasan itu sendiri, bukan?

walaupun karena ketidakpuasan, Adam dan Hawa harus mengalami keterpencaran ke sisi dunia yang berbeda...
tetapi ketidakpuasan sepertinya adalah kerinduan juga.

kerinduan akan sebuah kesempurnaan.

Bisakah, ketika ketidakpuasan itu mulai tumbuh, tidak harus menjadi sebuah mala
bagi keterikatan kita...
bagi tubuh dan pikiran ini?

Minggu, 21 Juni 2009

Monoliths and Dimensions

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Other
Artist:Sunn O)))
Setidaknya, ada beberapa album sunn yang selalu bercokol di playlist, karena saya anggap album-album itu bagus, seperti Grimmrobe Demos, 00 Void, Black One, Domkirke, dan terakhir adalah album paling teranyar mereka, yakni Monoliths and Dimensions. Dari pengalaman mendengarkan album sunn yang telah ditulis di atas, pada album Monoliths and Dimensions ini saya merasakan adanya suatu peningkatan yang cukup 'keren' dalam materi-materi lagunya. Album Monolith and Dimensions ini terasa lebih variatif tanpa meninggalkan hawa dingin dan soundnya yang berat.

Bayangkan saja, ada paduan suara perempuan dan lelaki, trombone, violin, trompet...pastinya sebuah orkestra apokalips. Orkestra itu membuatnya tidak semegah seperti, katakanlah, Metallica dengan S&M nya, tetapi orkestrasi itu melebur dalam tiap aransemen lagu, sehingga menghasilkan sebuah atmosfir yang dingin, kelam, dan bernuansa abad kegelapan. Coba saja cek track ketiga, yakni Hunting and Gathering (Cydonia). Kamu pikir hanyalah High on Fire saja yang bisa menabuh genderang perang dalam album Death is This Communion? Tidak. Hunting and Gathering bahkan bisa menabuhkan sebuah himne perang ke level yang lebih kelam lagi...ketika Attila Csihar (vokalis Mayhem) selesai 'membacakan mantra', dibelakangnya lamat laun terdengar seperti sorakan orc yang haus akan darah dan daging manusia yang lembek dan rapuh. sorakan itu sebenarnya hanya dari vokal Attila, tetapi vokalnya itu terasa seperti raungan Orc yang
jumlahnya ribuan. Bikin merinding. Asli. Belum lagi dentingan bel gereja seperti Black Sabbath disusul paduan suara dan trompet...beuh.

Dalam album teranyar sunn O))) ini terdapat empat lagu. Total durasinya adalah sekitar 55 menit. Dari keempat track yang ada di Monoliths and Dimensions, tentunya yang paling banyak diperbincangkan adalah track terakhir, yakni Alice. Sebuah lagu yang didedikasikan bagi Alice Coltrane. Seorang musisi jazz yang meninggal pada tahun 2007 dan juga merupakan istri dari John Coltrane, seorang musisi kulit hitam yang juga bermain jazz dan telah meninggal pada tahun 1967. Di lagu Alice ini, kita tidak akan menemukan pola Sunn O))) yang seperti biasanya. Tidak ada distorsi berat dengan volume maksimum. Sound gitarnya malah terdengar crunchy. Atmosfirnya pun tidak sekelam seperti lagu-lagu sebelumnya. Ya, cukup memberi kesegaran terhadap progres bermusik Sunn O))). Beberapa media di internet, menyebutnya sebagai wujud ekspremintasi free jazz Sunn O))). Entahlah. Tetapi, yang saya rasakan, Alice merupakan lagu dengan komposisi yang cerah dan menenangkan...cocok buat terapi mental, ketika didengarkan jam dua pagi. hehe.

Seperti biasanya, Sunn O))) selalu membawa beberapa musisi untuk berkolaborasi. Kali ini pun begitu, dengan lebih banyak lagi musisi malah. Coba saja kita cek beberapa kolaborator dalam Monoliths and Dimensions yang berkontribusi dan memberi pengaruh terhadap sunn O))) kali ini. Ada Oren Ambarchi, seorang pemain gitar eksperimental asal Australia, dan Dylan Carlson (Earth) yang ikut bermain gitar. Ada Jessika Kenney (vokalis perempuan yang juga pernah bernyanyi dalam salah satu lagu Wolves in the Throne Room, Cleansing), Julian Priester (yang memainkan trombon pada lagu Alice), Stuart Dempster (bermain trombon juga pada lagu Alice), Eyvind Kang (pemain violin dan juga yang mengaransemen orkestra pada Monoliths and Dimensions),belum paduan suaranya yang saya tidak tahu siapa, hehe. Sebuah sumber di internet, menyebutkan ada sekitar tiga puluh musisi yang terlibat dalam Monoliths and Dimensions....

Dan diantara keriuhan orkestrasi yang dingin itu, seperti biasa ada sebuah atmosfir kelam yang dirancang dan dimainkan melalui gitar dan bas dengan low tuned strings oleh dua orang yang menjadi inti sunn O))), yakni Greg Anderson (oya, dalam album ini, Greg bermain bas), dan Stephen O' Malley. Permainan mereka sebenarnya sama saja dengan yang sudah-sudah (riff-riff doom yang repetitif), tapi yang membedakannya kali ini adalah kepiawaian mereka merancang sebuah atmosfer yang terasa sangat 'abad kegelapan'. Sepertinya mereka mendapat ilmu baru dari pengalamannya bermain dalam katedral. Hehe. Intinya, Monoliths and Dimensions adalah album yang direkomendasikan.

Kamis, 28 Mei 2009

Bahasa Daerah Terancam Punah? Biar Saja Punah Bila Tidak Praktis

Pusat Bahasa telah menghasilkan beberapa kesimpulan awal mengenai eksistensi bahasa daerah di Indonesia. Salah satunya adalah penemuan bahasa daerah yang ternyata telah punah karena minimnya penutur. Kesimpulan itu keluar setelah sebelumnya Pusat Bahasa melakukan penelitian mengenai bahasa daerah di Indonesia. Kesimpulan yang dikeluarkan Pusat Bahasa itu bisa dibaca di Kompas edisi 27 Mei 2009.

Terkait dengan adanya bahasa daerah yang telah punah itu, Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono berkomentar, seperti yang di ambil dari Kompas, hilangnya bahasa daerah akan menghilangkan akar kebudayaan suatu daerah. Selain itu, Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika juga berkomentar, kepunahan bahasa daerah merupakan kerugian besar bagi pertumbuhan suatu bangsa.

Di sisi lain, pakar capruk ga jelas: abo si eta tea, berpendapat hilangnya bahasa daerah tidak harus berarti hilangnya kebudayaan suatu daerah atau kerugian besar bagi pertumbuhan suatu bangsa. Hal itu bila dikaitkan dengan posisi bahasa daerah bagi penuturnya.

Bahasa adalah sekadar alat untuk berkomunikasi di antara manusia. Pikiran manusia adalah sesuatu yang abstrak, dan bahasa hadir untuk mengkonkretkan pikiran abstrak tersebut. Pikiran yang abstrak itu memang tidak akan utuh, ketika dikonkretkan dalam sebuah bahasa. Ada saja makna yang masih terdengar samar-samar. Contohnya: apa pengertian utuh dari pemikiran “aku cinta kamu”? atau apa pengertian utuh dari pemikiran mengenai “neoliberalisme” yang sedang hip akhir-akhir ini? Saya mah rieut. Tetapi dengan bahasa, manusia yang berkomunikasi setidaknya dapat ‘mendekati’ pengertian yang sama.

Nah, bila ada bahasa daerah yang punah, karena jumlah penuturnya minim hal itu bisa jadi disebabkan bahasa daerah itu terlalu ribet, ketika digunakan oleh penuturnya. Misalnya, bahasa Sunda halus yang konon bagi anak jaman sekarang terlalu rumit. Ada saja cerita bagaimana mayoritas anak muda sunda saat ini “blah-bloh” ketika berkomunikasi menggunakan bahasa sunda dengan orang sunda yang juga menjadi saksi hidup Bandung Lautan Api. Karena tingkatan bahasa sunda yang tidak banyak diketahui dan beberapa kata yang memang terdengar asing di telinga anak muda sunda saat ini, maka perlahan bahasa sunda “karuhun” itu mulai ditinggalkan. Sehingga hasilnya adalah seperti saat ini, bahasa sunda pasar. Campur sari dengan bahasa daerah lainnya atau bahasa “slank”. Tetapi itulah yang umum digunakan oleh kebanyakan orang sunda saat ini. Sebabnya, karena bahasa sunda pasar itu yang ternyata praktis dan mudah dimengerti. Walaupun, di satu sisi, ada saja “budayawan garda terdepan penjaga adat istiadat nenek moyang berumur 50 tahun ke atas” yang selalu mengeluh dan mengeluh tentang tiadanya kesadaran anak muda menjaga tradisinya. Budayawan-budayawan bangkotan itu seringkali mengeluh dengan berpijak dari perasaannya ketika melihat banyaknya pemakaian bahasa sunda pasar oleh mayoritas anak muda saat ini.

Saya pikir, sang budayawan bangkotan setidaknya harus belajar menerima kenyataan, bahwa bahasa sunda karuhun yang dia gemari itu ternyata tidak digemari oleh anak muda sunda di jaman sekarang. Jaman berubah, semuanya tidak akan sama lagi.

Dokumentasi dan Minat Baca

Daripada banyak mengeluh mengenai ketakutan akan hilangnya “akar tradisi dan adat istiadat suatu daerah” disebabkan punahnya bahasa daerah, lebih baik dilakukan sebuah langkah aktif. Setidaknya, ada dua masalah yang cukup penting terkait dengan masalah bahasa daerah ini, yakni dokumentasi dan minat baca.

Seperti telah ditulis di atas, bahasa hanyalah sebuah alat untuk berkomunikasi. Seperti manusia yang selalu mengalami perubahan, begitupun dengan bahasa. Seiring perubahan yang terjadi dalam diri manusia, tidak tertutup kemungkinan sebuah bahasa akan hilang atau sebaliknya, berkembang. Maka dari itu, pengenalan akan kegiatan dokumentasi menjadi penting disini. Salah satu contoh kecilnya, sebutlah kamus bahasa daerah. Kamus berperan penting untuk mendokumentasikan kosakata-kosakata yang terdapat dalam bahasa daerah. Biarlah bahasa daerah musnah, karena jumlah penuturnya berkurang atau tidak ada, asalkan kosakata bahasa daerah tersebut sudah tercetak dalam sebuah kamus, sehingga dapat menjadi pengetahuan bagi generasi selanjutnya. Dengan begitu, walaupun sebuah generasi baru itu tidak lagi paham mengenai bahasa daerah yang sudah atau hampir punah, namun generasi itu masih bisa mengetahui tentang eksistensi sebuah bahasa daerah yang dulu pernah ada.

Dokumentasi itu tidak hanya dalam bentuk kamus saja, bisa juga dalam bentuk karya sastra dan kebudayaan. Kiprah Pusat Bahasa yang berhasil memetakan 442 bahasa dari 2.185 daerah, seperti yang diberitakan juga oleh Kompas, merupakan hal yang patut diapresiasi. Walaupun masih jauh dari sempurna, karena nyatanya masih ada sekitar 304 bahasa daerah di Indonesia belum selesai dipetakan.

Kesadaran akan pentingnya dokumentasi dikalangan masyarakat menjadi hal yang penting di sini. Untuk menumbuhkan kesadaran dokumentasi tersebut, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah menumbuhkan minat dan cinta membaca. Siapapun tahu, dengan membaca, maka cakrawala dunia terbuka. Para nelayan di pulau Madura bisa mengetahui sebuah gua bernama Hira di daratan Arab jauh di sana, karena ia pernah membaca terjemahan kitab al quran yang salah satu isinya menceritakan tempat yang biasa dipakai Nabi Muhammad untuk merenung. Seorang mahasiswa dari Indramayu mengetahui ada sebuah aliran kristen bernama Mormon di daratan Amerika sana, setelah sebelumnya dia membaca laporan seorang wartawan yang meliput mengenai kelompok yang mempunyai dua kitab suci ini di sebuah majalah.

Intinya, punahnya bahasa daerah disebabkan tidak ada lagi penutur bukanlah sebuah masalah. Tetapi masalah sebenarnya adalah ketika tidak ada lagi kesadaran serta pengetahuan mengenai pentingnya dokumentasi dan membaca. Dua hal itulah yang berpotensi menyebabkan hilangnya akar sebuah kebudayaan daerah. Bukan penutur yang tidak ada lagi.

Senin, 25 Mei 2009

Milarian Landong Kanggo Manah

Abo
sare lur. geus subuh
3:03am

Arrie
sare wae ath lieur
wkwkwkw
3:03am

Abo
enya
3:03am

Arrie
mimpi wae mah
heu
ker naon brad?
3:04am

Abo
hehe. teu bisa sare euy
3:04am

Arrie
sami
3:04am

Abo
loba nu hilir mudik di jero hulu
raribut
3:04am

Arrie
hehehehe.....
ho oh... mikiran hirup uink ge
pararusig lah
wuuffff
:P:P
3:05am

Abo
enya bray
teu pararuguh
di imah ente?
3:05am

Arrie
d bumi
hayng sare ngan sien ngimpi uy
ke lamun teu kasapean sien gelo
wkwkwkwwkw
3:06am

Abo
eta pisan lur
unggal peureum...bray raribut
beunta asa sepi da geus subuh
3:07am

Arrie
nya pisan..,,,
peureum nyampak na hareupeun,
beunta ngadon jadi ling-lung uy.
heu
3:08am

Abo
landong na naon atuh kira-kira?
maenya cikohol mah
beuki teu puguh
3:09am

Arrie
wkwkwkwkw..
jigana mah, marley rada bisa poho saeutik mah lur
hehe
3:10am

Abo
hakhakahak
sok atuh ri
aya meureun sapaket mah
meh jempe nu ya di otak
3:10am

Arrie
si odonk ker OL..
tanyakeun lur
3:11am

Abo
naha teu kaciri ol si udunk di urang mah euy
3:11am

Arrie
lain udunk, odonk,, s dony
3:12am

Abo
dony saha?
teu apal urang?
3:12am

Arrie
budak 7 oge...
baheula na mah bageur
3:12am

Abo
ayeuna beuki ganja kitu?
hakahakahak
3:13am

Arrie
ho oh
pisan
eleh lah urg ge
tuh brad bgajakan sum2
3:14am

Abo
sok atuh rada merapat ka palih dinya urang na
3:14am

Arrie
ke gampang, mun aya mah dikabaran
3:15am

Abo
teu sare kalahka melototoan facebook nya euy
dasar
3:16am

Arrie
ho oh..
coba ada marley, dah tidur dari tadi deh...
wkwkw
ke kemis cenah brad
3:16am

Abo
enya lah. kabari we
eh, jigana urang rek offline
nyobaan peureum
doakeun nya?
3:17am

Arrie
okay lur.. ke dikabaran

Sabtu, 23 Mei 2009

Refleksi Job (Bag. 2)

Tidak beberapa lama, terlihat lagi ambulans datang dan bergerak menuju ke arah belakang RS Salamun. Hugo meminta saya untuk mengikuti dan memotret ambulan yang baru datang itu. Saya patuhi perintahnya dan segera balik lagi ke belakang RS Salamun. Namun demikian, ambulan itu tidak terkejar. Mobil itu keburu masuk ke dalam. Lagi-lagi saya terdiam di balik pagar. Berbeda dengan pertama kali saya mendatangi tempat itu, kali ini tidak seramai saat pertama kali. Sudah sepi dari kerumunan wartawan dan warga sekitar. Saya lalu berteduh di pos satpam yang terletak di dekat situ. Hari sudah gelap. Hujan tidak sederas seperti sore. Saat itu saya benar-benar kedinginan dan juga lapar. Saya melamun, memikirkan peristiwa-peristiwa yang terasa cepat dan menegangkan ini. Tiba-tiba Hugo menelepon. Dia akan kembali ke kantor. Sedangkan saya disuruh standby di RS Salamun dan mencari keluarga korban bernama Amalia itu. Jantung saya kembali berdegup kencang. Bagaimana saya mencarinya. Pintu masuk masih dijaga ketat.

    “Tidak tahu bagaimana caranya, pokoknya kamu cari keluarga korban itu!” kata Hugo lewat telepon. Saya iyakan perintahnya, walaupun dalam hati, saya bingung dan gugup luar biasa.

    Setelah menerima telepon itu, saya kembali ke pintu masuk depan RS Salamun. Waktu itu, saya meminjam motor Hendro. Jarak antara bagian belakang dan depan RS Salamun cukup jauh bila ditempuh dengan jalan kaki. Namun demikian, tidak akan terasa jauh bila ditempuh memakai motor. Tetapi, hujan gerimis saat itu, membuatku kerepotan juga ketika mengendarai motor. Pada akhirnya, saya harus merelakan seluruh badan saya basah kuyup.

    Saat itu sekitar pukul 20.00 WIB. Hugo sudah kembali ke kantor untuk menulis berita. Saya masih diam di RS Salamun bersama Hendro dan Pinto. Kang Handri menelepon saya. Menyuruh untuk diam di RS Salamun dan mewawancarai keluarga korban yang datang. Saya amini. Suasana malam itu di RS Salamun cukup berbekas bagi saya. Kebingungan dan ketegangan yang saya rasakan saat itu benar-benar sebuah pengalaman baru bagiku. Saya cukup kesal, karena tidak diperbolehkan masuk saat itu. Saya terus saja melihat pintu masuk yang dijaga oleh perwira TNI AU tersebut. Disela-sela penantian, Pinto bercerita padaku, ada seorang wartawan Kompas yang berhasil masuk ke RS Salamun. Saya tidak mengerti, bagaimana wartawan Kompas itu bisa melewati penjagaan perwira TNI AU di pintu masuk. Mungkin perkataan Hendro ada benarnya. Bila saja pakaian yang kukenakan saat itu tidak basah kuyup dan berantakan amat, mungkin aku bisa masuk.

    Tidak beberapa lama, terlihat ada beberapa keluarga korban yang datang. Keluarga korban yang sedang berjalan menuju pintu masuk RS Salamun itu langsung dikerubungi oleh wartawan. Blitz dan cahaya sorot dari kamera, ditambah riuh wartawan yang mengajukan pertanyaan, membuat suasana semakin hectic. Saya hanya diam saja dan mengikuti kerumunan wartawan itu. Saya hanya mendengarkan apa-apa saja yang dibicarakan oleh keluarga korban dan yang ditanyakan oleh wartawan. Ada perasaan takut untuk bertanya juga, ketika melihat wajah para keluarga korban yang sendu. Pikiran mereka pastinya sedang kacau, mengetahui ada orang terdekat meninggal karena kecelakaan. Dan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para wartawan itu tidak akan mengurangi kesedihan mereka. Sekeras apa pun para wartawan mencoba untuk bersimpati.

    Sebenarnya, saya tidak ingin mengerjakan tugas mewawancarai keluarga korban ini. Selain akses yang sulit, suasana saat itu juga bagi keluarga korban tentunya merupakan suasana yang sulit. Mereka sedang berduka. Ada perasaan yang mengganggu pikiran saya, ketika saya misalnya mewawancarai mereka dan menggali perasaan mereka yang sedang berduka itu. Lalu setelahnya, dicetak di sebuah suratkabar untuk dibeli oleh pembaca. Walaupun bisa memakai alasan “it’s public right to get the information”, tetapi rasanya hanya seperti menjual kesedihan orang lain untuk meningkatkan tiras surat kabar. Menjual duka demi keuntungan koran. Pikiran seperti itu yang ada didalam benak selama peristiwa berlangsung.

    Tidak beberapa lama, Kang Handri menelepon. Menanyakan apakah saya sudah mendapat wawancara keluarga korban. Saya bilang saja belum, karena akses yang sulit. Kang Handri bertanya lagi mengenai berita apa saja yang didapat selama saya diam di RS Salamun. Saya bilang padanya, bahwa saya hanya mendapat statement dari gubernur yang menjenguk ke RS Salamun dan seseorang yang kebingungan mengenai daftar nama korban yang rupanya mirip dengan saudaranya. Kang Handri lalu menyuruh saya kembali ke kantor. Saat itu pukul 22.00 WIB. Hendro dan Pinto masih diam di RS Salamun. Saya lalu pamitan pada mereka dan segera merapat ke kantor untuk menulis berita.

    Di kantor, saya bertemu dengan Hugo yang masih menulis berita. Ada perasaan tidak enak juga padanya, mengingat saya tidak berhasil mewawancarai keluarga korban. Saya sampaikan pada Hugo, bahwa saya tidak berhasil mendapatkan keluarga korban. Hugo hanya memandang saya dan mengangguk. Dia lalu kembali mengetik. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Hugo tentang saya. Tetapi, saya sudah tidak memikirkan apa-apa. Saya hanya ingin menyelesaikan tulisan dan kembali ke rumah untuk istirahat. Saya belum istirahat betul dari pagi. Tubuh benar-benar lelah. Saat itu pukul 22.30 WIB. Tulisan diselesaikan, kira-kira pukul 23.00 WIB.

    Rekan saya, Damar, juga ternyata ditugaskan untuk meliput kecelakaan Fokker 27. Dia ditugaskan bersama wartawan BE, Donny Wahyu Ramdani, ke RSHS. Sama seperti saya, mereka tidak mendapat hasil apa-apa, kecuali statement dari pihak TNI AU. Damar mengatakan pada saya bahwa suasana di RSHS saat itu benar-benar tegang. Dia sendiri hingga takut. Mungkin karena saat itu pihak tentara yang memberikan statement, sehingga memberi pengaruh secara psikologis juga.

    Setelah merokok dan ngobrol sebentar dengan yang lainnya, saya lalu pulang dan tiba ke rumah sekitar pukul 01.00 WIB. Besoknya jam delapan pagi saya sudah berada di kantor lagi. Hari itu cukup sial juga, berita yang saya tulis mengenai statemen gubernur dan seseorang yang kebingungan mencari saudaranya tidak dimuat. Ada berbagai dugaan dalam benak saya mengapa berita tidak dimuat: ruang yang terbatas atau memang berita yang saya dapatkan tidak penting bagi koran tempat saya job training. Saya tidak memikirkan lebih jauh lagi mengapa berita yang saya tulis tidak dimuat. Saya cukup lelah untuk memikirkannya.

   Di kantor saat itu sudah ada asisten redaktur, Nanang Sungkawa. Hari itu giliran Pak Nanang yang piket pagi di kantor untuk memberikan proyeksi pada para wartawan dan mahasiswa job training. Saya beserta Pak Nanang dan Damar membicarakan tentang tindak lanjut dari kecelakaan Fokker 27. Pada awalnya, Pak Nanang menyuruh kami untuk mencari keluarga korban. Dalam hati, saya sudah malas mendengar tugas itu. Saya mencoba menelepon Amy, teman saya yang bertemu di RS Salamun kemarin malam. Telepon tidak di angkat-angkat olehnya. Entahlah, mungkin dia juga malas menerima telepon saya, karena mengetahui bahwa saya pasti ingin mengejar Amalia. Berkali-kali saya telepon tetap tidak diangkat. Akhirnya Pak Nanang menugaskan kami untuk mencari ahli penerbang yang bisa mengomentari kecelakaan ini. Dalam hati saya lega mendengarnya.

    Lebih baik mencari tahu mengenai sebab-musabab kecelakaan Fokker 27, daripada menggali duka para keluarga korban. Dari satu sisi, human interest yang ada dalam duka para keluarga korban itu tentunya memiliki daya jual. Tapi di sisi yang lain, saya ragu, apakah mengekspos duka keluarga korban merupakan hal yang etis untuk dilakukan.

    Akhirnya, saya dan Damar mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Nanang. Damar langsung merapat ke ITB mencari pakar aeronautika, sedangkan saya merapat ke Universitas Nurtanio yang terletak dekat Bandara Husein Sastranegara. Saat itu saya mewawancarai dosen Fakultas Teknik Penerbangan Unnur, Godfried Suprianto. Berita mengenai kecelakaan Fokker 27 ini nantinya disatukan dengan tulisan Damar dan juga tulisan lainnya dari jaringan Jawa Pos Grup.    

....(Bersambung).