Jumat, 16 Januari 2009

Another Morning Stoner

Ada awan hitam menggelayut jauh di atas atap-atap rumah. Begitu tebal awan itu, hingga sinar mentari harus merayap susah payah mencari celah agar bisa meluncur ke tanah bumi. Dan di bawah awan hitam itu, bayang-bayang manusia yang bergerak lincah di permukaan tanah semakin memudar. Padahal, saat itu siang seharusnya berada pada titik yang paling terang. Awan hitam yang menggumpal itulah penyebabnya. Yang menghalau sinar matahari untuk menghujam bumi. Menjadikan siang begitu temaram di bawah naungannya.

Beberapa tahun kebelakang, bila awan-awan hitam itu terlihat mulai menutupi langit dan setiap bayangan di permukaan bumi berangsur memudar, buru-buru kuseduh kopi dan segera duduk di teras rumah. Kunantikan tetesan air hujan pertama yang jatuh ke tanah. Kunantikan bagaimana jalan yang kering dan berdebu diguyur oleh air yang digiring oleh awan hitam itu. Lalu, bila hujan turun, akan terdengar bunyi yang menyatu seperti sebuah simponi. Ada orkestra, ketika air hujan itu menghantam seng, mengalir di pipa paralon, atau jatuh beradu dengan air hujan lainnya yang tertampung di sebuah ember. Suara-suara gemercik itu bisa mengantarkan imajinasimu untuk mengalun di alam pikiranmu sendiri.

Tetapi, akhir-akhir ini aku tidak menantikan datangnya sebuah hujan. Perasaanku terhadap hujan sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Berada di siang yang mendung bukanlah ide yang bagus buatku saat ini. Seperti ada fragmen-fragmen yang mencuat dari dalam benak bila awan hitam di atasku itu sudah mulai bergerak dan menghimpun kekuatan untuk menghalau sinar matahari. Fragmen-fragmen itu selalu merengek agar bisa dilekatkan dalam benak. Sekuat tenaga aku selalu berusaha membuang jauh-jauh fragmen-fragmen itu, tetapi seiring dengan semakin tebalnya gumpalan awan hitam, semakin pekat pula fragmen-fragmen itu di dinding alam pikiranku.

Seperti hari ini. Hari yang menjadi permulaan tahun. Ada awan hitam yang menghalau sinar mentari. Ada suara yang menggebu-gebu seperti gemuruh kecil, ketika angin berhembus kencang. Ranting-ranting pohon bergoyang gontai didera angin. Suara daun yang saling bergesekan terasa meringis bagai didera pilu karena terombang-ambing oleh kencangnya angin. Hujan memang belum turun jua, namun gumpalan awan hitam yang sedari pagi menggantung di bentangan langit itu membuat pikiran risau.

Ku bayangkan bagaimana langit begitu terang benderang di balik gumpalan awan hitam itu,. Kontras dengan keadaan permukaan bumi yang berada di bawah awan hitam yang terasa suram. Mungkin di balik awan hitam itu ada awan-awan putih sehalus kapas. Awan-awan yang halus dan polos. Kubayangkan bagaimana awan-awan putih itu sebagian bercampur dengan awan hitam. Sesekali juga mungkin nampak kilatan-kilatan petir dari awan hitam di bawah. Pastinya langit dibalik awan hitam itu akan terlihat lebih terang benderang dan menakjubkan. Berbeda dengan keadaan di permukaan bumi.

Kubayangkan Ikarus. Ia juga pernah memandang lurus kelangit. Ia malah berpikir untuk menembus langit itu. “Aku ingin bertemu Tuhan di surga,” katanya kepada diri sendiri. Dan ternyata terbanglah ia dengan sayap terbuat dari lilin yang menempel di punggungnya.

Tidak seperti diriku yang cukup melamun di bawah awan hitam, Ikarus berhasil menembus sang awan dan terus melesat menembus langit. Ia terbang melewati bintang-bintang. Terus melayang di angkasa raya yang megah. Hingga suatu saat, tak sadar Ikarus ternyata terbang mendekati sang surya. Sayap-sayap lilin yang menempel dipunggungnya pun perlahan meleleh. Terlambat bagi Ikarus untuk menyadari, bahwa sayap-sayap lilin itu tidak tahan terhadap tempaan panas sinar Sang Surya. Dan jatuhlah Ikarus ke permukaan bumi. Ia jatuh dan mendarat di sebuah danau. Danau yang indah dan menakjubkan. Begitu indah dan menakjubkan danau beserta pemandangan alamnya itu, sehingga Ikarus terlena untuk terus berdiam selamanya disana dan melupakan keinginannya untuk ke surga bertemu Tuhan.

“Toh, Tuhan ada juga disini. Di Danau ini. Kiranya diriku tak usah lagi mencari-cari surga,” Ia bergumam.


The Wedding Ruiner (Part I)




Hmm...foto ini sudah lama berkubang di draft juga. Saya baru sadar sekarang. Dokumentasi foto pas kawinan temen. Awal tahun ini sudah lima kali saya menghadiri undangan kawinan teman-teman sekolah dulu. Waw, haha, sepertinya untuk urusan kawin-mawin ini saya tertinggal. Hehe, tapi datang ke kawinan temen juga seperti mengadakan reuni. Beberapa teman-teman lawas hadir. Ujung-ujungnya nostalgia. Ha.

Senin, 15 Desember 2008

Lagu Apa yang Bisa Didengarkan Ketika Anda Patah Hati?

Baiklah. Anda jatuh cinta. Tiba-tiba saja hari Anda cerah terang benderang. Anda terus teringat tentang hari kemarin, ketika si do’i ternyata mengklaim menyimpan rasa suka juga kepada Anda. O, ya, ya…Anda pikir ini semua sudah sempurna. Timbal-baliknya bagus, Anda berpikir dalam hati sambil senyam-senyum sendiri di angkot. Kenek yang berasal dari Tapanuli yang tadinya mau nagih ongkos jalan pun jadinya urung menagih, karena mengira Anda adalah orgil yang salah masuk angkot. Si kenek sudah curi-curi pandang kepada Marpaung, sopir angkot Cicaheum-Cibaduyut yang Anda tumpangi itu. Si Marpaung tidak melihat ke kenek, karena Marpaung melihat ke jalan. Sedangkan kenek ada di ‘lawang panto’ belakang. Jadi, tidak mungkin bila Marpaung terus-terusan melihat ke ‘lawang panto’ belakang, karena bila begitu, siapa yang akan lihat ke jalan di depan?


Nah, sudahlah, pikir kenek itu. Biarkan saja orang yang senyam-senyum itu sendirian di pojok. Lalu, ketika angkot berada di daerah Kiaracondong…what the fuck? Anda melihat si do’i yang kemarin mengklaim menyimpan rasa suka juga terhadap Anda ternyata sedang berduaan sama ‘the other’. Ekspresi cengar-cengir Anda itu tiba-tiba berubah jadi raut wajah yang masam. Mereka sedang melihat-lihat ular sanca yang digelar di sisi jalan. Uh, tau gak apa yang bikin Anda panas? Mereka terlihat sangat mesra sekali. Saling melingkarkan lengan ke arah pinggul (itu berarti beberapa inci lagi mendekati pantat). Bluah….Anda panas. Anda berharap Anda adalah ular sanca yang ada di pinggir jalan itu, sehingga Anda bisa menerkam mereka berdua. Tapi, Anda bukan ular sanca. Anda adalah penumpang angkot jurusan Cicaheum-Cibaduyut yang disupiri oleh Marpaung dan dikeneki oleh Sirajagukguk. Anda cemburu buta disitu. Pacaran yang telah berjalan selama satu hari, ternyata sia-sia belaka. Bagian yang paling parahnya adalah: fakta bahwa Anda dipermainkan sekaligus diduakan oleh si do’i. Sudah, cukup. Ini brutal, saudara. Bila gelap mata, dunia pasti tidak kelihatan.


Ada baiknya, saudara-saudara, bila Anda patah hati, Anda bersikap tenang. Akan lebih baik, bila Anda mendengarkan beberapa lagu yang bisa mengendurkan syaraf, sehingga pada gilirannya pikiran Anda akan menjadi lebih rileks. Nih, saya kasih tau soundtrack bagi mereka yang sedang patah hati. Mau didenger, mangga. Ga juga ga apa-apa. Saya mah ga peduli. Hehe. Lagipula, ini mah keisengan belaka. Bukan sesuatu yang serius. Cheersh.



Judul Lagu :
Evil Woman (Don’t Play Your Games With Me)
Band :
BLACK SABBATH
Album :
Self Titled

Lirik
I see the look of evil in your eyes / women filling me is full of lies / sorrow will not change your shameful deals / you will pass someone else instead of me / evil woman don’t you play your games with me /
Komentar
No-no-no…saya turut prihatin mendengar kabar, bahwa Anda telah dipermainkan secara fisik dan batin oleh wanita yang Anda puja-puja selama ini. Tapi tetaplah tenang, karena Ozzy Osbourne pun pernah merasakan hal yang sama dengan Anda. Coba perhatikan lagu Evil Woman. Setidaknya Anda tidak sendirian dalam menjalani penderitaan cinta ini (oouuwww, ahahaha, penderitaan, bow!).


Lagu Evil Woman ini diambil dari album perdananya Black Sabbath yang keluar di tahun 1970. Album perdana Black Sabbath ini pada perkembangannya banyak mempengaruhi musisi-musisi, terutama heavy metal, yang datang sesudahnya, hingga saat ini. Riff bluesy rock and roll horornya memberi dampak yang bisa dibilang tidak kecil. Coba perhatikan riff-riff yang ada pada band rock n roll ataupun heavy metal saat ini, pasti saja ada pattern yang bermuara ke Black Sabbath. Seperti yang dikatakan oleh Rob Zombie, band heavy metal berjenis apapun, yang cepat ataupun lambat, mempunyai utang yang tidak akan bisa terlunasi pada Black Sabbath.


Bila wajah musik heavy metal bisa berubah dan banyak musisi heavy metal saat ini begitu terpenngaruh karena Black Sabbath, mungkin hal itu juga bisa terjadi pada Anda, seseorang yang sedang patah hati. Setelah mendengarkan Black Sabbath, bukan tidak mungkin Anda menjadi seseorang yang tangguh menanggung yang namanya ‘penderitaan cinta’. Ahahaha, saya make kata penderitaan cinta lagi. Kamana ateuh derita!heuheu.



Judul Lagu :
Just Friends (Empty Love)
Band :
ST. VITUS
Album :
Hallows Victim
Lirik :

I don't want your empty love
Just leave me alone
I have done OK so far
Living on my own
You said you could give me shelter
Underneath your wing
But all I ever got from you
Was hate and misery


Komentar:
Tuhan Maha Mengetahui, bagaimana Anda susah payah berenang dari Pulau Samoa langsung menuju Cicadas, Bandung, hanya untuk menemui pujaan hati yang selama ini memenuhi hati Anda. Tapi, apa lacur, ketika Anda berhasil menemui pujaan hati dan memberikan boneka Panda yang yang sudah susah payah Anda buat dari kumpulan kulit orok selama sebulan lebih itu, sang Pujaan Hati menerimanya dengan cara yang mengingatkan pada rektor Anda di kampus: begitu formal dan resmi. Dan diatas segalanya, membuat patah hati. Begini kira-kira kata yang keluar dari sang Pujaan Hati, ehm (bersiap-siap ngemiripin suara kaya si Ganjar rektor Unpad itu), “Terima Kasih atas kadonya yang sungguh mengesankan ini. Bersamaan dengan ini juga saya terima kado yang Saudara berikan kepada saya di hari yang cerah ini pada tanggal bla-bla-bla, hari ‘anu’. Peristiwa ini juga kiranya menjadi sebuah momentum yang akan semakin mengeratkan ikatan pertemanan kita selama ini. Dan maaf, saya tidak bisa lama-lama memberi sambutan, karena hari ini sebenarnya saya ada kencan dengan Boneng, itu, yang anaknya dokter spesialis penyakit kelamin itu. Mari. Assalamualaikum.”
Sesunggguhnya Tuhan memang Maha Membalas.




Judul Lagu :
Black Wedding
Band :
SUNN O)))
Album :
The Grimmrobe Demos
Lirik
tidak ada lirik
Komentar

Misalnya Anda menyukai seseorang yang akan menikah dengan orang lain. Tentu Anda tidak bisa melakukan apa-apa, karena, toh, kartu undangan sudah menyebar kemana-mana. Tapi, jangan khawatir…ada satu hal terakhir yang masih bisa Anda lakukan. Ketika resepsi pernikahannya sudah dimulai, coba Anda datang sambil bawa cd player. Daripada mendengarkan lagu-lagu sunda yang membosankan itu, lebih baik Anda ganti playlistnya dengan lagu SUNN O))) berjudul ‘Black Wedding’. Putar dengan volume maksimum (ditambah speaker surround akan lebih bagus). Dijamin, saya jamin, hati Anda akan terhibur dan tenang melihat bagaimana para tamu undangan dan bahkan pengantinnya sendiri lari terbirit-birit karena aroma teror audio dari band ambient doom ini begitu kuat. Apabila sudah begitu, mungkin Anda dan teman-teman yang Anda ajak ke pernikahan itu bisa mencicipi hidangan yang tersedia di perkawinan dengan sepuasnya tanpa harus repot-repot antri. Setidaknya ada dua keuntungan disini, pertama, Anda bisa tertawa ngakak ngeliat orang-orang yang lari terbirit-birit dan kedua, perut Anda pun kenyang.



Judul Lagu :
I Wanna Be A Sex Symbol On My Own Terms
Band :
BOTCH
Album :
We Are the Romans












Lirik
All I know I've seen through a lens
All I feel
I've learned through pages
She's a perfect ten
Here's the supermodel for you to follow
She's
bringing something new
Worked her for so long and we've lost
Komentar

Uh, Anda begitu kesal pada sang do’I akhir-akhir ini. Dia terlalu banyak menuntut dan tuntutannya pun memang benar-benar tidak masuk akal. Do’I nuntut supaya tubuh kamu dibikin sintal kaya artis Novia Kolopaking atau dibuat berotot dan gagah seperti bintang laga Advent Bangun. Anda pun sudah balik berargumen, “perut Akang yang buncit mah emang udah gini dari dulu, Neng?!” atau untuk kaum Hawa, “Gimana lagi atuh Kang, Eneng mah da waktu lahir juga prematur. Jadi, mau digimana-manain juga tetep aja kerempeng.”
Do’I memang ngerti sama alasan Anda, tapi keesokan harinya do’I langsung memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun. Selang berapa hari juga do’I sudah punya pacar baru yang tubuhnya sintal kaya Novia Kolopaking atau gagah kaya Advent Bangun itu. Anda lemas dan galau. Salah apa coba Anda. Padahal, Tuhan pun Maha Mengetahui, bahwa Novia Kolopaking dan Advent Bangun pun mempunyai bahan material yang sama dengan Anda ketika diciptakan, yaitu sperma. Tapi, ah, jangan dipikirin kelakuan absurd si do’I itu, coy. Tinggalin aja.


Tapi, sebelum ditinggalin itu si do’I, lebih baik Anda dengarkan dulu Botch, band asal Boston yang jadi pionir genre mathrock/posthardcore ini. Karena, Tuhan memang Maha Pembalas, Botch juga bisa menendang pantat mantan Anda dengan lagu chaotic surrealnya yang berjudul ‘I Wanna Be a Sex Symbol on My Own Terms’! dari judul lagunya yang panjang pun Anda sudah bisa menebak keseluruhan liriknya seperti apa. Tidak ada seorang pun, termasuk pacar Anda, yang bisa menuntut Anda berubah menjadi sesuatu yang bukan diri Anda seutuhnya. Karena Anda adalah si perut buncit yang humoris dan si kerempeng yang periang. Lagipula, lihat, banyak orang yang menyenangi Anda, walaupun perut Anda memang buncit atau perawakan Anda kerempeng sedari lahir. Di atas segalanya, Anda adalah sederajat dengan manusia lain, punya dan bisa berpendapat menurut sudut pandang Anda sendiri. Jadi, ayo, tendang pantat mantan Anda itu sekeras-kerasnya!ahaha.



Judul Lagu :
All Is Not Lost / In This Life
Band :
SEEMLESS
Album :
Untitled
Lirik

Watching the tide rise and fall / reminds me…of our mortality / Our days are few / So hold close to the time we have / In this life / Into your hands… / I commend my self a sacrifice / a path of life that pacifies / To reveal the beauty of this life….
Komentar
…engga, ini serius. Kalau Anda menghadapi musibah (atau patah hati) dan ingin mencari pencerahan layaknya siraman rohani ala Aa Gym tetapi dengan cara metal dan rock and roll…Anda bisa dengarkan lagu ini. Band stoner-metal yang penuh dengan lirik-lirik introspektif. Musiknya seperti CORROSION OF CONFORMITY, SOUNDGARDEN, KYUSS dan apapun yang bernuansa hardrock 90an. Lirik-liriknya pun mempunyai tendensi yang positif dan bersifat ‘membangun kepribadian’ ke arah yang lebih baik. Coba dengarkan. It’s like getting spiritualized, but in a good ol’ metal way.







Jumat, 28 November 2008

Pensiun

Oktober lalu saya mengunjungi kampung halaman di Karawang. Sudah lima tahun lebih tidak mengunjungi Karawang. Tentu banyak yang rubah. Apalagi kebun di depan rumah. Sekarang jadi banyak bebek. Ada sekitar dua puluh lebih. Penyebabnya adalah Wa Iban. Seseorang yang wajahnya mirip dengan orang tua yang saya kagumi: Goenawan Muhammad. Bedanya, Goenawan Muhammad itu penyair plus mantan pemred. Sedangkan Wa Iban adalah pensiunan pegawai kelurahan di Jakarta sana.

                Semenjak pensiun, Wa Iban sering menghabiskan waktu di Karawang daripada di Jakarta. “Di Karawang lebih tenang daripada di Jakarta”, kata Wa Iban suatu waktu kepada saya.

Selain mencari ketenangan, ia juga bisa bereksperimentasi ternak bebek di Karawang ini. Begitulah. Suatu waktu ketika nongkrong di teras rumah pagi-pagi, Wa Iban sudah stay tune di kebun. ‘Memonitoring’ situasi bebek-bebeknya. Sebagian lahan kebun dibuat menjadi kolam demi menampung bebek-bebek itu. Saya pun menghampirinya dengan niat agar bisa lebih akrab dengannya. Tetapi, basa-basi yang saya lontarkan seringkali tidak pernah nyambung. Penyebabnya, penyakit budek Wa Iban semakin menjadi-jadi. Jadinya lucu bila melihat kondisi Wa Iban sekarang. Kalo mau nyambung ngobrol, harus teriak keras-keras. Tapi volume suara harus dikontrol juga, karena Wa Iban suka protes kalau ada seseorang yang bicara kepadanya dengan suara yang terdengar seperti marah-marah. “Gua kaga budek-budek amat,” gitu katanya.

Penyakit budek itulah yang kadang membuat rungsing keluarga di Karawang. Suatu waktu Wa Ndas ngomong ke saya, “terkadang suka serba salah ngobrol sama si Iban,” katanya.

“Kalo ngomong keras…disangka marah. Tapi, kalo ngomong pelan…boro-boro nyahut. Kedengeran aja engga,” lalu, tambahnya lagi, “budeknya si Iban itu makin jadi pas pensiun. Waduh, ampun.”

Saya pengen ketawa ngedenger Wa Ndas ngomong gitu. Soalnya, di depan saya, tepatnya di depan rumah, ada Wa Iban yang nongkrong di kebun sedang memperhatikan bebek-bebeknya. Begitu tekun ia memonitor pergerakan bebek-bebeknya itu. Kata Wa Ndas, kelakuan Wa Iban semenjak pensiun makin tidak terprediksi. Tiba-tiba saja ia punya rencana ternak bebek.

“Masalahnya,” kata Bi Atam suatu waktu ketika saya nongkrong di warung kopinya, “Si Iban itu kagak punya pengalaman beternak bebek sebelumnya. Kok, dia ngedadak pengen ternak bebek?”

Bi Atam heran sama kelakuan Wa Iban. Geleng-geleng kepala terus kalau ngomongin Wa Iban si Bi Atam ini. Lucu. Saya sendiri tidak terlalu memikirkan kelakuan Wa Iban. Saya fokus ngegares bala-bala buatan Bi Atam sama nyeruput teh botol dingin. Sumpah. Karawang panas seperti neraka, walaupun saya belum bertandang ke neraka.  

Kata Bi Atam lagi, selain mendadak ternak bebek, tiba-tiba Wa Iban berniat untuk selamanya menetap di Karawang. Rumah yang ada di Jakarta direncanakan untuk dijual. Padahal, istri serta anaknya tidak mau pindah ke Karawang. Maklum, rumah di Karawang terletak di desa yang sangat terbelakang. Di desa ini, listrik saja baru masuk sekitar enam tahun yang lalu. Jalan pun belum di aspal. Malah, ketika ku jalan-jalan disekitar desa, banyak kutemui rumah yang pada pintunya ditempeli papan bertuliskan ‘keluarga miskin’. Jadi wajar, bila keluarga Wa Iban di Jakarta yang dianugerahi oleh listrik dan segala kemudahan lainnya yang ditawarkan oleh perkotaan, harus mikir dua kali bila ingin pindah ke desa yang tertinggal.

Tapi, intinya tersirat dalam cerita-cerita yang kudengar, bahwa Wa Iban menginginkan sebuah ketenangan dalam menjalani masa pensiun. Namun, penerjemahan ‘pencarian ketenangan masa pensiun’ ini ketika dipraktekkan seringkali menghasilkan cerita-cerita yang, bagiku, terdengar lucu dan terkadang aneh. Saya teringat kepada saudara yang lain, yaitu Wa Nurdin. Ia juga seorang pensiunan polisi. Bila Wa Iban memutuskan untuk berternak bebek semasa pensiunnya. Wa Nurdin lebih kepada pendalaman agama. Tiba-tiba saja buku-buku tentang agama terserak di rak bukunya. Bersanding dengan buku-buku tentang hukum yang selama ini dikoleksinya. Lalu, perilakunya juga ada yang aneh. Jadi, ia selalu mengikuti istrinya kemana-mana. Terkadang istrinya itu sering risih sendiri. Malah istrinya itu suka makin rungsing ketika keluar rumah kelewat batas. Telepon selularnya pasti terus-terusan bunyi. Begitulah. Semenjak pensiun, selain mendalami agama, Wa Nurdin juga mencari kesibukan baru. Kabar terakhir yang kudengar, ia sedang mencoba peruntungan di dunia politik. Baguslah, mungkin dengan begitu, saya bisa dapat koneksi politik.

Wa Iban, Wa Nurdin. Banyak yang rubah dari kedua orang itu. Dulunya gini, sekarang gitu. Sebelum pensiun, Wa Iban sama Wa Nurdin, kelakuannya begitu. Pas pensiun, kelakuannya jadi begini. Jadi, ada dua hal yang saya tangkap melihat kelakuan kedua orang itu. Bila menyangkut pensiun maka ada dua hal yang dibicarakan, yaitu mencari-cari ketenangan dan mencari-cari masalah baru.

  

   

 

               

Minggu, 23 November 2008

Lazarus Bird

Rating:★★★★★
Category:Music
Genre: Other
Artist:Burst (Relapse, 2008)
Track dimulai dengan lagu berjudul "I Hold Vertigo". Ini track pembuka yang gila sekaligus membingungkan. Temponya naik turun: ia bisa mengerikan, tapi di satu titik menjadi terdengar begitu mellow. "I Hold Vertigo" mempermainkan mood Anda dengan begitu kacaunya. Penuh tanda tanya. Kira-kira akan kemana lagi arah mereka setelah ini.

Ada delapan lagu di album terbaru mereka ini. Semuanya membingungkan dari segi struktur lagu. Mereka seolah-olah bergerak liar kesana-kemari, meninggalkan kekacauan yang berserakan di telinga kita. Sebenarnya dari kedelapan track itu, semuanya menjadi favorit saya. Namun, saya kira, track no tujuh, '(We Watched) The Silver Rain', patut disimak dengan lebih. Berhubung sekarang sedang musim hujan, saya kira komposisi '(We Watched)...' terbilang cukup menakjubkan dan brilian.

Saya tidak mencoba bermetafor disini...setidaknya coba dengarkan dulu album terbaru mereka. Butuh adaptasi yang lama untuk bisa mencerna kedelapan lagu ini buat saya. Musiknya bagus, bagus sekali. Hanya saja arah mereka benar-benar baru dan tergolong aneh bila dibandingkan dengan dua album sebelumnya, yaitu "Prey on Life" dan "Origo". Ketika pertama kali mendengar album "Prey on Life", saya kira arah musikalitas mereka akan bergerak ke arah 'post-metal' ala ISIS atau NEUROSIS...ternyata dugaan saya meleset. Ini benar-benar katarsis. Pengaruh NEUROSIS memang masih ada, tapi selebihnya adalah kekacauan. Seperti BOTCH, Cave In (era Beyond Hypotermia), MASTODON, DEP, ATHEIST, BARONESS, NOCTURNUS. Jazzy progresive metal sekaligus chaotic. Salut.


Track Listing:
1. I Hold Vertigo
2. I Exterminate The I
3. We Are Dust
4. Momentum
5. Cripple God
6. NineteenHundred
7. (We Watched) The Silver Rain
8. City Cloaked