Senin, 23 Agustus 2010

BXI EP

Rating:★★★
Category:Music
Genre: Rock
Artist:Boris
Saya kira saya sedang mendengar David Bowie, tapi ternyata bukan. Ternyata ini adalah album EP Boris yang sedang berkolaborasi dengan Ian Astbury, frontman dari band post-punk era '80an, the Cult, dan juga pengganti Jim Morrison di the Doors era 'millenium'. Di album ini mereka memakai nama album "BXI" (Boris multiplies Ian).

Sungguhpun, bermacam-macam saja Boris ini kelakuannya. Dulu-dulu, mereka membuat eksperimen noise/drone berdurasi kurang lebih 60 menit. Lalu berkolaborasi dengan suhu noise dari Japan, Merzbow. Kolaborasi lagi dengan Michio Kurihara, gitaris eksperimental dari Japan juga. Tahun kemarin mereka juga proyekan dengan Sunn O))). Sekarang dengan Ian Astbury...betapa kayanya mereka. Kaya pengalaman, dan kaya finansial pastinya. Saya jadi iri berat sama Boris. Sungguhpun...

Heup. Fokus ke BXI.

Saya suka vokal Mas Ian di album ini. Karakternya rendah dan berat. Sungguh galau teramat sangat atmosfirnya. Apalagi ketika Mas Ian bernyanyi di lagu 'Theeth and Claws' dan 'Magickal Child'. Saya jadi teringat puisinya Chairil Anwar berjudul Derai-derai Cemara:

"hidup hanya menunda kekalahan/tambah terasing dari cinta sekolah rendah/dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah"

Sungguhpun. Emosional teramat sangat buat saya pribadi. Sepertinya kedua lagu itu bakal jadi memorable song di bulan puasa yang penuh rahmat dan karunia ini. Subhanallah.

Di album ini, mereka (Boris & Ian Astbury) hanya menyuguhkan empat lagu. Dibandingkan album-album sebelumnya, Boris menyajikan jenis musik yang tergolong 'ramah' . Unsur noise dan raw tidak menempati porsi yang berlebih di album ini. Tidak seperti album "Pink" atau "Smile" yang 'berantakan' dan 'gaduh'. Ini album yang sendu, saudara-saudara. Terutama bagi saya pribadi...yang langsung terbawa melankolia begitu mendengarnya pertama kali di larut malam menjelang sahur.

Di album ini juga Boris mengcover lagu the Cult berjudul "Rain" yang dinyanyikan oleh gitaris cewenya, yakni Wata. Cukup indah. Sedikit-sedikit nyerempet Shoegaze juga. Terutama ketika mendengarkan efek gitar yang khas My Bloody Valentine. Tapi ada satu kejanggalan di album ini, khususnya di lagu "We Are Witches". Nampaknya Mas Ian tidak cocok bila dibawa ke arah heavy metal. Soalnya di lagu ini Mas Ian, kalau kata saya, seperti terdengar 'terengah-engah' mengikuti ritme yang dibawa oleh Boris. Tetapi ga apa-apa. Soalnya saya hanya senang dengan lagu 'Theeth and Claws' dan 'Magickal Child'. 'We Are Witches' mah sepertinya ga akan saya dengerin :D

========================================================
Buat yang tertarik mendengarkan BXI, monggo ini linknya:
http://www.megaupload.com/?d=STS8TERB



Minggu, 22 Agustus 2010

Raja di Era Mesir Lama (2686 - 2160 sM)

"[...] Raja menganggap diri sebagai ilahi, pemberi segala hal yang baik dan penjamin kesuburan serta kesuksesan. Namun, barangkali dia tidak dapat memelihara perdamaian dan melindungi kota-kota dari para perampok."
(Daniell C. Snell, Kehidupan di Timur Tengah Kuno 3100-332 sM, hlm. 74.)

Selalu ketawa ngakak pas baca kalimat diatas. Ga tau penulisnya memang sengaja memaparkan ironi tentang raja dan kota yang dipimpinnya itu atau bagaimana. Tetapi, dari jaman dulu sampai sekarang, apa yang ada di dalam pikiran (idea), memang harus seringkali dicek kesesuaiannya dengan dunia materi. Biar singkron :D

Sabtu, 21 Agustus 2010

Raja di Era Mesir Lama (2686 - 2160 sM)

"[...] Raja menganggap diri sebagai ilahi, pemberi segala hal yang baik dan penjamin kesuburan serta kesuksesan. Namun, barangkali dia tidak dapat memelihara perdamaian dan melindungi kota-kota dari para perampok."
(Daniell C. Snell, Kehidupan di Timur Tengah Kuno 3100-332 sM, hlm. 74.)

Selalu ketawa ngakak pas baca kalimat diatas. Ga tau penulisnya memang sengaja memaparkan ironi tentang raja dan kota yang dipimpinnya itu atau bagaimana. Tetapi, dari jaman dulu sampai sekarang, apa yang ada di dalam pikiran (fantasi), memang harus seringkali dicek kesesuaiannya dengan dunia materi. Biar singkron :D  

(sumber gambar lihat disini)

Jumat, 20 Agustus 2010

Konsumed

Musik bisa dinikmati, tetapi tidak akan mengungkap dirimu yang utuh. Bahkan berharap muluk, bahwa sesuatu yang disebut dengan 'identitas', yang sesungguhnya sungguh kabur dalam pembatasannya itu, bisa diraih dari musik. Just calm down, man. It's only music. Something that we enjoy in our leisure time.


============

Membicarakan musik dalam titik tertentu menjadi bualan yang semakin bau tiap harinya. Terlebih lagi bila pembicaraan itu menyangkut referensi-referensi musik tertentu dengan tendensi melecehkan lawan bicara. Seperti, "oh kamu tau ben ini, atau kamu sudah dengar ben anu?!" Seringkali perbincangan seperti itu akan jatuh kepada masalah gengsi tingkat tinggi. Apalagi bila lawan bicaramu tidak mengetahui apapun tentang yang kamu bicarakan. Hal itu akan membuat nilai seseorang seolah-olah terdongkrak naik hingga melampaui kebesaran kepalanya.

Tetapi, jujur, manfaat apa sebenarnya bila dirimu mengetahui suatu topik musik dengan detail, dan disisi yang lain, lawan bicaramu menjadi seseorang bak keledai yang dungu, karena tidak mengerti apapun yang dibicarakan oleh mu? Dalam penyangkalan-penyangkalan naif, seseorang boleh beralasan demi penyebaran informasi semata-mata. Tetapi, alasan seperti itu sudah sering kulahap tanpa pernah selalu kusetujui. Tergantung siapa yang mengumbar alasan seperti itu terlebih dahulu.

Akuilah, selalu ada gengsi yang hadir, ketika kita mendapatkan akses yang orang lain tidak bisa mendapatkannya semudah kita. Selalu ada pikiran superior, ketika kita dengan fasih mengumbar silsilah sebuah genre musik, atau pengaruh-pengaruh musik historikal dari sebuah rilisan album band. Disitu akan selalu muncul sebuah rasa bangga, kecongkakan yang menopang anggapan, bahwa kita berbeda dengan 'mayoritas'. Oleh sebab itulah, kita harus bangga. Setidaknya masalah identitas menjadi dipertaruhkan disini. Identitas dengan pembatasan-pembatasan yang sangat kabur. Tetapi secara tersirat, intinya hanyalah masalah kecongkakan yang timbul dari pembedaan-pembedaan antara 'self' dan 'the other'. Hanya itu. Bukan identitas dengan makna terdalamnya.

Namun, yang paling menyedihkan diantara semuanya adalah kenyataan, bahwa 'identitas' yang dicari hanya berkutat diseputar benda dagangan (komoditi). Dengan 'membeli-mendapat-mengetahui' suatu musik/band, dimana orang lain tidak 'membeli-mendapat-mengtahui'nya seperti yang kita lakukan, maka disitulah identitas hadir. Dan dari sini, masalah identitas hanyalah turunan dari masalah lainnya: perilaku konsumtif. Dan ini menyedihkan. Pencarian identitas malah menemukan kanalnya dalam jagat konsumerisme. Identitas...kita beranggapan telah mengetahui identitas, hanya ketika kita berhubungan dengan komoditi yang diperjual-belikan. Berada dalam lingkup 'individu-benda'. Bukan hakikat yang melandasi hubungan 'individu-benda' tersebut. Ini menyedihkan.