Minggu, 23 Agustus 2009

Not Allowed

I'll smile for you now 'cause you're sad
but I'm not allowed to be sad
I'll make a joke for you now, make you smile
but I'm not allowed to be sad

Kamis, 20 Agustus 2009

Pertemuan

Sebenarnya sore itu tubuh benar-benar sudah rusak. Pengganjal perut hanya kupat tahu di jam 8 pagi dan indomie rebus di jam 1 siang. Sisanya, hanya rute dan jadwal. Rute mulai dari Jalan Pasir Koja hingga jadwal rapat paripurna yang isinya tidak pernah kesampaian oleh otak yang kelewat sederhana ini.

Waktu itu jam 3 sore dengan latar gedung parlemen. Perut kerubukan. Pasokan indomie hanya bertahan dua jam kurang, tapi uang seribu di saku tinggal dua lembar. Kusundut garpit sebagai pengganjal lapar, walaupun hasilnya omong kosong. Malah lebih parah. Tenggorokan kering dan asapnya jadi terasa pahit. Perut masih nyakar.Tapi acuh, terus hisap. Terus hembuskan.

Mata juga sedari pagi susah diajak kompromi. Dihitung-hitung, tidur hanya empat jam. Makanya, beberapa kali cuci muka dan ngucek-ngucek mata, tetap saja terasa seperti ditusuk-tusuk. Jadinya berpengaruh juga ke lutut. Terasa lemas dan tremor. Apalagi salah seorang yang terhormat, karena masuk gedung parlemen, berbicara seadanya. Tidak cukup untuk dijadikan berita. Orang yang terhormat itu juga cepat sekali ngeloyor masuk ke dalam mobil dinasnya yang mewah sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Sialan.

Sudah tidak bisa lagi berpikir. Mengulik bahan agar layak disiarkan. Tapi saya ingin tidur. Ingin ketenangan. Otak juga nampaknya demikian, karena si otak tidak mau diajak kerja sama. Ya sudah, perduli setan berita. Bahan yang didapat tidak diolah. Toh, orang kantor tidak tahu apa yang saya lakukan diluar kantor. Mereka tidak tahu apa-apa, kecuali saya punya kewajiban muter-muter di bandung tengah. Lagipula, ada satu isu pegangan yang didapat tadi pagi. Sudah aman.

Berjalanlah saya ke tempat parkir. Ambil motor dan berpikir sebenarnya akan dibawa kemana kendaraan ini. Jam 5 sore ada reportase yang harus dilakukan. Buat pulang ke rumah, kagok. Ada rentang waktu dua jam yang menyebalkan. Tapi untunglah. Ketika ke luar gerbang gedung parlemen, ada orang ini, si Man. Dia sedang duduk di trotoar depan gedung parlemen. Buat saya, ini pertanda baik. Rentang waktu dua jam bisa dimanfaatkan bareng si Man. Saya hampirilah orang yang kelihatannya sedang khusyuk menelepon di trotoar itu. Man menoleh kearahku sebentar. Tersenyum kecil dan sibuk lagi berbicara lewat telepon dengan tangan kanannya yang sibuk mencatat.

Man duduk di trotoar yang biasa dijadikan tempat nongkrong bagi orang-orang yang suka nodong mikropon di depan wajah orang yang mereka suka. Di tempat itu hanya terlihat Man. Sudah sore memang. Orang-orang yang suka nodong mikropon itu juga memang sudah berkubang di tempatnya masing-masing. Meracik bumbu untuk besok pagi.

Melihat pose duduk si Man di trotoar saat itu, jadi ingin membuat pameran sculpture bertema “orang yang menodong dan menggarap”. Coba saja bayangkan. Kepala miring ke arah kiri. Lalu bahu kiri juga diangkat sedikit untuk menjepit telepon selular. Tangan kiri memegang buku kecil, sedangkan tangan yang satunya lagi menggoreskan tinta di atasnya. Kedua kaki merapat. Indah nian si Man. Begitu khusyuk.

“Aya naon ayeuna, Man?” tanya saya kemudian seusai dia menelepon.

“Ieu…biasa, teknologi tea. Bio gas kitu,” jawabnya sambil merogoh saku sweaternya dan mengeluarkan sebatang rokok kretek.

Ctak. Ceshh…api diujung rokok menyala, disusul hembusan asapnya yang keluar dari mulut Man. Rokok masih menempel di mulut Man. Sementara kedua tangannya sibuk memasukkan buku kecil dan korek api ke dalam saku sweaternya. Man nampak kewalahan. Gumpalan asap rokoknya semakin tebal, tetapi dia tidak ingin melepaskan rokok yang sebenarnya jadi sumber masalahnya sendiri.

“Bluah!!” jeritnya tidak lama kemudian. Tidak kuat juga dia diteror asap dari rokoknya sendiri. Dia jepit rokok yang menempel dimulutnya, lalu melepaskannya.

“Peurih euy, beunang panon,” katanya sambil mengucek-ucek matanya yang berair.

“Heheh. Ripuh, lur,” timpal saya.

Trotoar tempat kami duduk saat itu memang terasa menyenangkan. Setidaknya bagiku. Apalagi bila sedang nongkrong. Mobil berseliweran, manusia lalu lalang. Angin sepoi-sepoi. Tinggallah menyalakan sebatang rokok garpit ditambah es jeruk gelas yang berharga lima ratus perak. Dibumbui dengan sedikit percakapan tentunya juga akan terasa meriah.

Sore itu ada satu jam empat puluh lima menit kesempatan saya untuk nongkrong sambil menunggu waktu reportase rutin jam 5 sore. Kesempatan itu juga saya gunakan untuk ngobrol ngaler-ngidul dengan si Man. Dan memang kami ngobrol ngaler-ngidul. Mulai dari isu bandrek, layout, isu, sampai kerjaan.

“Kumaha gawe di tempat nu ayeuna euy? Resep teu kukurilingan,” kata saya.

“Sebenerna mah teu sih,” katanya sambil geleng-geleng kepala.

“Hehe, kunaon kitu?”

“Teuing…asa kucel we. Jeung asa teu boga waktu jang aktivitas nu lain. Jigana urang teu cocok gawe out door jiga kieu. Hayang na mah jadi dosen.”

Pertama kali saya kenal dengan Man, ketika ada kecelakaan pesawat di Bandara Husein Sastranegara. Saat itu dia baru satu bulan kerja di sebuah surat kabar lokal, dan saya sedang pkl juga di sebuah surat kabar. Pesawat Fokker milik militer yang jatuh di bandara Husein saat itu memang mengejutkan. Begitu pula suasana di Rumah Sakit Selamun, tempat dimana kami ditugaskan untuk memantau. Keluarga korban berdatangan, begitu juga petinggi militer. Suasana tegang sekali saat itu. Selama di RS itu saya kerap berdua dengan Man. Lama-kelamaan, akhirnya kami akrab juga. Sudah lima bulan berlalu semenjak perkenalan di RS Selamun itu.

“Sebenerna, pekerjaan nu ku urang tekuni ayeuna teh pilihan terakhir. Basa lulus kuliah, urang ngalamar gawe ka nu bidangna di luar jurusan urang. Tapi keterimanya di sini. Ya udah,” kata Iman lalu menghisap rokok kreteknya dan menopangkan dagunya.

***
Suatu saat saya pernah berbincang-bincang bersama seorang teman kuliah yang sejurusan denganku. Temanya tentang betapa memuakannya jurusan yang kami tinggali selama kurang lebih empat tahun ini. Teman saya itu orang pintar, dan juga kritis. Tapi ironisnya, dia bekerja untuk jurusan itu. Temanku itu juga menyadari betapa problematisnya hidup dengan pikiran yang berbeda ide dengan sebagian besar orang-orang di dalam jurusan.

Pikiran temanku itu, pada dasarnya sama dengan Man. Dia lebih memilih dunia akademik, dibandingkan dunia lapangan yang tak menentu ini. Alasannya, menurutnya, kenyataan yang dihadapi di lapangan begitu jauh berbeda dengan apa yang dicekoki oleh jurusan kepada para mahasiswanya. Di jurusan saya tersebut, doktrin tentang spesialisasi yang diajarkan memang begitu indah. Idealismenya luhur dan seolah-olah adi luhung. Tetapi, pada kenyataannya, jurusan saya itu hanya seperti mencetak manusia-manusia yang segenap pengetahuan dan tenaganya dipersembahkan untuk kepentingan industri semata dalam mengakumulasi keuntungan. Tidak ada himne, layaknya pejuang yang dikagumi orang. Tidak ada cerita kehidupan mahsyur bak kaisar Romawi. Sebagian besar hanya orang-orang yang berada di jalan sendirian dan kelelahan.

Maka dari itu, temanku memilih dunia akademik, karena bisa mendapatkan lebih banyak waktu luang dan ilmu pengetahuan. “Lagipula, selama ini hidup kita pada dasarnya tidak ada kebebasan. Ya, kita bisa memilih, tetapi hanya dalam koridor yang telah disediakan. Seperti ketika jaman SMA, kamu bebas memilih, apakah akan masuk IPA atau IPS. Ya, kamu bebas memilih, tetapi hanya sebatas pada jalur yang telah di sediakan. Lalu, begitu seterusnya hingga kuliah. Dan ketika kamu memilih, maka kamu hanya menekuni satu jalur pengetahuan yang telah disediakan. Hidupmu sudah dipatok. Tetapi, di dunia ini ‘kan ilmu pengetahuan tidak berada di satu jalur saja. Tetapi tersebar di mana-mana,” jelas teman kampusku itu suatu saat.

Ucapan teman kampusku itu juga ternyata mirip dengan ucapan Man, saat dia mengatakan keinginannya. “Sebenarnya saya ingin berkarya. Bikin buku. Tetapi waktu luang yang saya miliki sekarang habis oleh pekerjaan ini,” kata Man.

Pekerjaan yang Man jalani sekarang memang sangat menyita waktu. Bagaimana tidak, dalam sehari dia dituntut mencari tiga berita. Otaknya harus memutar-mutar waktu tiap hari untuk mendapatkan ketiga berita itu. Kesempatan mencari berita dalam sehari yang dimiliki Man juga sedikit. Jam 5 sore dia harus mengetik berita yang dia dapat, setelah sebelumnya mencari kesana-kemari di lapangan. Setelah itu, beres mengetik rata-rata jam tujuh hingga jam delapan malam. Habis beres segala urusan di kantor, pulang ke rumah sekitar jam sembilan malam. Tentunya otak dan tubuh terlanjur lelah untuk melakukan aktivitas lainnya di jam-jam itu. Makanya, lebih baik tidur dan bangun keesokan harinya dengan kembali melakukan aktivitas seperti kemarin, walaupun ada beberapa variasi yang membuatnya berbeda. Walaupun sedikit.

Man, bagaimanapun juga, berbeda dengan teman kampusku yang pintar dan kritis tersebut bila membanding-bandingkan. Teman kampus ku itu saat ini memasuki dunia yang diinginkannya dan aku memang iri terhadapnya. Bagaimana tidak, aku ingin pintar dan kritis, seperti dirinya. Memiliki pengetahuan yang dapat mengembangkan potensi diri. Di sisi lain, ada Man. Orang yang memilih dunianya sebagai pilihan terakhir dan paling terpaksa. Dan terkadang mengeluh, bagaimana ritme kehidupannya berjalan begitu cepat, sehingga menghasilkan pemikiran-pemikiran yang sepotong-potong dan tidak tuntas bagi dirinya. Tetapi aku kagum kepada orang-orang seperti Man ini. Mengetahui bahwa jalan raya adalah kehidupan yang dijalaninya, walaupun pada dasarnya memang kehidupan yang kesannya terpaksa. Tetapi, mengetahui setiap hari dia kembali ke jalanan dan menghidupinya, menjadi kekaguman tersendiri bagiku…kita memang orang-orang kesepian ditengah riuhnya jalan raya dan bertahan di dalamnya. Dan itu bukanlah perkara mudah. Tidak ada yang mudah.

***
“Mas, mau beli voucher pulsa gak? Lagi promosi nih,” kata seorang perempuan dengan sedikit merajuk. Senyum manisnya terkembang (mungkin disuruh oleh manajer SPG-nya).

Aku dan Man tidak berkata apa-apa. Selain terkejut, karena kehadiran perempuan itu yang tiba-tiba, kami terpaku cukup lama, mengetahui ternyata perempuan yang menawarkan pulsa itu memiliki paras yang sangat manis. Rambutnya sedikit kuning terurai sampai bahu. Pembawaannya ceria dan ramai. “Ayo dong, Mas. Pada mau ga, mumpung promosi,” katanya kembali merajuk.

Tetap tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku atau Man. Kami hanya memandang perempuan yang manis tersebut sambil meggelengkan lengan pertanda kami tidak tertarik.

“Yahh…ya udah deh. Makasi yaa,” katanya kecewa lalu meninggalkan kami.

Mata saya dan Man masih tertuju ke perempuan yang meninggalkan kami. Tubuhnya memang indah dipandang. Seolah-olah keceriaan dan lekuk tubuhnya yang bohay itu bisa menghilangkan kekucelan kami. Melupakan sejenak perutku yang perih, karena belum disokong sesuatu makanan yang layak.Cukup lama kami memandangi perempuan itu, hingga berjarak sekitar setengah meter.

“Kalau sama Mbak, saya mau,” Man akhirnya buka suara. Terlambat.

“Wahahah, enya Man!”

Perempuan yang manis itu telah pergi jauh (dan tentunya tidak mendengar apa yang diucapkan Man). Jam empat sudah lewat lebih sepuluh menit. Saatnya kembali ke tujuan masing-masing. Man kembali ke kantor untuk mengetik, sedangkan saya kembali ke Pasir Koja untuk reportase. Menaiki motor yang menjadi senjata kami dan menapaki jalan yang lain. Entah kapan kami akan bertemu lagi di jalan raya atau trotoar seperti ini.

Tetapi, sore selalu indah dengan segala keterasingannya dan menjadi sedikit pelipur lara. Seperti saat itu, ketika meninggalkan Gedung Sate.

Catatan akhir:
selama ini aku selalu menyepelekan segala sesuatunya. Menyederhanakan hal-hal yang sebenarnya tidak bisa disederhanakan. Semuanya hanya karena kepengecutan dan kemalasan. Dan saat ini aku benar-benar ketakutan memikirkan segalanya ternyata tertinggal dan tidak terkejar.

Memoria 2008: Sambolo, Ibu Kota, dan Heartbeat (Cornellius Remix)

Minggu, 25 Mei 2008, ia turun dari bus di Senayan. Kulihat ia sibuk menekan-nekan tombol telepon selularnya. Ingin dijemput, mungkin. Ibukota sekitar pukul 3 sore itu terasa terang-benderang sekaligus panas. Angin yang berhembus terasa kering saat pintu bus terbuka. Lalu, gedung-gedung yang tersebar di Senayan terasa ingin menohok keangkuhan langit: begitu megah, begitu tinggi.

Bus mulai pelan melaju setelah sebagian penumpang yang di-drop di Senayan turun. Saat itu, saya tidak peduli, saya tidak ingin menoleh. Hanya selintas saya melihatnya sedang menelepon seseorang. Masa bodoh…masa bodoh! Ayo cepat, Pak Supir, tancap gas pol-polan. Cepat bawa bus ini menuju Bandung!

Sebelumnya saya sudah punya niat: melupakan. Saya ingin pergi dari segala-galanya, saya ingin melupakan semuanya. Saya ingin berada di suatu tempat pada suatu hari dimana saya hidup hanya untuk saat itu saja. Tanpa harus dibebankan urusan yang belum selesai, dihantui kebodohan-kebodohan yang telah dilakukan di masa lalu. Maka dari itulah, undangan pesta di Sambolo dari angkatan 06 pada 24 Mei itu saya amini sepenuh hati. Hanya ada ombak, lamunan dan bodoran garing teman-teman. Sudah. Ini akan menjadi hari liburan saya satu-satunya saat ini. Itu yang ada di alam pikiran sebelumnya.

Malam hari, 23 Mei, Bus yang saya tumpangi melaju semakin cepat dan berada di samping bus 2. Seorang teman dari bus 2 mengacungkan jari tengahnya. Tentu saja, secara bobodoran garing, saya membalas acungan jari tengahnya. Bus melaju semakin cepat. Perlahan jendela demi jendela bus 2 dilalui dan terlihat aktivitas orang-orang didalamnya. Ada orang-orang yang mempunyai niat yang sama di dalam bus itu, liburan ke Sambolo. Ada yang main gitar, ada yang ketawa-ketawa, ada yang bengong, dan tiba-tiba di jajaran tengah tempat duduk bus 2 ada ia yang melambai-lambaikan tangannya. Oh, dia juga ikut rupanya. Baiklah. Setelah selama ini menghilang (entah menghindar), di malam itu dia melambaikan tangannya. Bus melesat dan meninggalkan bus 2.

24 Mei. Liburan di pantai. Bila elemen pendukungnya adalah ombak dan kehadiran teman-teman, maka hasilnya selalu sama saja. Seperti di Batu Karas tahun lalu. Seorang teman yang antusias berseru, “Hayu kita lihat cewe-cewe cantik!”

Saya kabulkan. Tetapi tahukah apa yang terjadi kemudian? Kami terpuruk. Tepar mabuk parah, hampir tidak ingat apa-apa dan nyeri di sekujur tubuh saat bangun. Tidak ada ‘cewe-cewe cantik’, tidak ada aksi. Dengan kata lain, sudah terlalu lama – kurang lebih 3 tahun – kami melakukan hal-hal nihilistik. Tiada guna, selain mengumbar banyolan-banyolan kosong melompong. Bagi saya, seperti lari dari masalah satu ke masalah lain dengan bersembunyi di dalam kerumunan orang anonimous. Identitas direduksi ke titik yang paling rendah.

Di Sambolo pun kurang lebih seperti itu. ombak, kehadiran teman, panitia yang kerepotan dan susunan acara yang mungkin inginnya menunjukkan “kekompakkan angkatan”-nya. Cih, Kamu ingin lihat yang namanya kompak? Coba lihat kami membawakan lagu Pure Saturday. Itu baru kompak namanya: seteman gitar saya dan Yoyon jauh dari kata sinkron. Intinya, ya, begitu itu. Liburan di pantai kembali seperti itu. Begitu lagi.

Pagi-pagi sekali, ada ‘rasa baru’ saat pertama kali menyusuri pantai. Melihat ke kejauhan laut, teringat Kono. Ia tidak ikut ke Sambolo, tapi ia begitu terobsesi dengan ‘pelaut yang mencintai’. Cinta Seorang Pelaut. Selalu kata-kata itu diulang jika ia berbicara tentang wanita. Saya angguk-angguk saja bila sudah begitu. Sebetulnya saya tidak mengerti juga apa yang dimaksud dengan ‘cinta seorang pelaut’. Saya pun tidak berminat untuk menanyakannya. Tapi saya amini saja.

Duduk-duduk di depan cottage. Di alam pikiran adalah ingin melupakan dan lari dari segalanya. Tetapi, kemarin malam ia kembali hadir. Bung Rull, yang emang dasarnya gelo, ngomong, “kumaha atuh euy?”

Saya bilang aja teu nanaon lah. Tapi, yang namanya dadakan mah emang perlu improvisasi. Dan itu yang saya ga punya. Saya malah keukeuh: liburan, liburan, pokoknya liburan! Tapi, tetep aja perlahan ada yang mencair seperti es batu ketika di simpan di tengah padang pasir. Sesekali mata jebol dari penjagaan dan memandang ia yang terlihat sedikit gemuk sekarang. Sesekali juga mata kami beradu pandang. Saya tahu dan Ia tahu, tapi itu saja belum cukup, kata orang-orang. Bah, omong kosong juga jadinya. Sempat terlintas pertanyaan bodoh: kenapa juga Tuhan harus menciptakan manusia berpasang-pasangan? Kenapa juga manusia tidak diciptakan seperti Godzilla yang bisa bikin anak sendiri tanpa harus ada pasangannya. Mungkin akan sedikit lebih damai dunia bila begitu: Shakespeare ga perlu nulis novel Romeo and Juliet dan ga perlu ada ‘Hikajat Sitti Nurbaja’ yang ditulis oleh Marah Rusli.

Masih di Sambolo, 24 Mei, dan memandang jauh ke laut. Laut itu luas dan lega. Kedua kata itu, ‘luas’ dan ‘lega’, bagiku mempunyai kedekatan dengan kata ‘lapang’ yang berkaitan juga dengan suasana hati. Lapang hati, ada di kamus. Artinya merasa lega. Sebelum berangkat ke Sambolo, perlahan hati ini dilapangkan juga oleh Mamed, Jurad, Jurve, KKN dan setumpuk rutinitas lainnya. Untuk itu, di alam pikiran awal, saya ingin menuntaskannya di Sambolo ini. Karena sudah lama saya tidak merasakan kelapangan hati yang seperti itu. Tetapi, tetap, setiap hal yang berbau dadakan memang membutuhkan improvisasi.

Melihatnya duduk-duduk di bawah pohon kelapa sembari tertawa, seakan-akan mengingatkan kebodohan yang berulang-ulang dilakukan. Seperti benar-benar menjelaskan, bahwa diri ini minim betul akan kapasitas dan kompetensi. Tidak berguna. Ah, rendah diri. Maut memang. Untunglah ada Bung Rull dan Ipen yang sedang meributkan daerahnya masing-masing: Pasir Koja versus Holis Kopo! Saya pun nimbrung dengan membawa daerah tempat saya tinggal selama ini: Margahayu Raya. Melupakan.

Ah, engkau ke ladang, aku kesawah. Aku ke sawah, engkau ke ladang. Tidak ada dialog diantara kita. Maaf.

Minggu, 25 Mei, ia berdiri di depan bus 3, bus yang saya tumpangi. “Mau sekalian pulang ke Jakarta,” katanya sambil berlalu masuk ke dalam bus.

Seperti dahulu rasanya. Engkau di depan, aku di belakang. Namun bedanya, ini bus bukan kelas. Sejarah berulang dan kebodohan pun tetap yang itu-itu saja. 666 kali terperosok di dalam lubang yang sama. Pembangkit listrik di Cilegon begitu indah. Mungkin akan sangat indah bila malam telah tiba. Saat melewati pembangkit listrik itu, saya pun sebenarnya sudah berulang kali menyadarkan dan meyakinkan diri sendiri: Oh, ini tidak akan berhasil. Dia membutuhkan seseorang yang benar-benar ia yakini dan saya benar-benar orang yang cupu. Lihat, ada dua tipe manusia yang kontradiktif secara akhlak dan mental disini. Ditambah, budaya yang berlaku di tempatku hidup adalah budaya yang men-superior-kan kaum lelaki. Berarti saya harus mahfum dan harus belajar untuk paham. Terakhir, dari kelakuannya selama ini pun, terasa, mungkin ini memang tidak akan berhasil. Kamu tau ini tidak akan berhasil.

Kelapangan yang sempat meliputi hati memang terusik. Apalagi melihat ketawa khas-nya di saat perjalanan pulang itu. Matanya yang bening. Tetapi, sudahlah. Liburan harus menjadi liburan. Tidak seperti apa yang ada di alam pikiran awal memang. Baiklah, mungkin ini semua hanya akan memakan waktu selama liburan ini saja…dan beberapa hari setelahnya, mungkin. Pastinya, kelapangan itu harus dikembalikan kembali ke tempat asalnya. Dipulihkan kembali.

Saat bus sudah meninggalkan Senayan, ada ke-tidak puguh-an. Semacam pikiran-pikiran: apa yang harus dilakukan, harus bagaimana, kenapa semua berjalan seperti ini. Semuanya seakan-akan mengingatkan inkompetensi yang sama, yang itu-itu saja. Walaupun tidak akan berhasil, namun tetap dorongan dan tuntutan itu selalu saja merongrong. Menambah ruwet pikiran, menekan, membuat hati dan otak lelah. Ia – yang sekarang mungkin sudah dijemput – seakan menutup pantai, teman dan acara yang telah terekam di dalam kepala. Ah, melelahkan memang….

Bangun dari tidur, terlihat papan reklame nama sebuah warung dengan huruf kecil dibawahnya bertuliskan: Purwakarta. Sudah cukup jauh juga meninggalkan Jakarta. Masih terasa hawa Senayan. Di sebelahku ada Bung Rull dan Bung Ganjar. Kompatriot selama ini. Di belakang ada Bung Auzan yang pendiam mendengarkan lagu dari telepon selularnya. Saya pinjam telepon selularnya. “Terlalu sepi ga ada musik,” kataku padanya.

Mataku langsung tertuju ke mp3 remix Heartbeat milik Tahiti 80.

Play.

Perlahan suasana hati berubah. Betapa cepat memang suasana hati bisa dibalikan. Jadi mengerti juga, kenapa suami yang kalah judi bisa gelap mata dan menggadaikan perhiasan milik istrinya sendiri tanpa bilang-bilang. Sorotan terik matahari sore menimpa muka kedua kompatriot yang sedang ketawa-ketawa tidak jelas di sampingku: Bung Rull dan Bung Njar. Mereka yang selama ini melakukan hal-hal nihilistik bersama. Begitu indah suasana sore saat itu. Saya pun ikut tertawa, walaupun tidak tahu dan tidak terdengar apa yang mereka obrolkan. Lagu Tahiti 80 memenuhi telingaku. Akhirnya aku bisa lari, bisa lupa sejenak dari segala-segalanya. Saya lihat ke depan, ada Bung Ndro yang tertawa-tawa juga. Ke belakang ku lihat Auzan yang sedang melihatku juga. Dari gerakan bibirnya ia seperti mengatakan, “naon?”

Saya tertawa dan menggelengkan kepala. Untuk sebuah kesenangan, sepertinya dibutuhkan setengah dosis kesedihan juga. Miris. Tetapi, sudahlah. Earphone saya lepas. Terdengar deru mesin bus dan tawa teman-teman yang mengeras. Pilih speaker on dan putar kembali Heartbeat remix. Terdengar kocokan gitar akustik yang tricky dan sample-sample yang unik. Ada yang bernyanyi: Enough for me is not much for you…volume maksimum. Saya acungkan tinggi-tinggi telepon selular agar musik itu terdengar ke seluruh bus. Saya menginginkan semua orang di bus itu mendengarkan lagu ini. Nada-nadanya yang membuat suasana, yang membuat semuanya berubah saat itu juga. Saya berharap semua yang ada di bus bisa merasakan juga moodnya yang ceria. Sebagaimana aku merasakan semuanya hari itu.

Di jajaran belakang bus, ada Bung Bach, Bung Njar, Bung Sahrull, Bung Praga, Bung Cakri, Bung Tio, Bung Ndro dan saya. Ada kami. Pastinya, ada bodoran-bodoran nihilistik yang super garing.

“Ndro, kumaha euy, Jakarta geus lewat. Teu sempet ningali Monas atuh?! Di Kopo mah euweuh bangunan nu jiga Monas pan?”

“Enya euy, Bo, urang ge hayang ningali BUSWAY tea geningan. Nu jiga kumaha sih?”

“BUSWAY teh belah mana PT. Inti, Ndro?” Bung Rull tiba-tiba bertanya.

Tawa meledak.

Lagu berganti ke Tears Drop yang dibawakan oleh Massive Attack.

Bahasa Daerah Terancam Punah? Biarkan Saja Punah Bila Tak Praktis

Pusat Bahasa telah menghasilkan beberapa kesimpulan awal mengenai eksistensi bahasa daerah di Indonesia. Salah satunya adalah penemuan bahasa daerah yang ternyata telah punah karena minimnya penutur. Kesimpulan itu keluar setelah sebelumnya Pusat Bahasa melakukan penelitian mengenai bahasa daerah di Indonesia. Kesimpulan yang dikeluarkan Pusat Bahasa itu bisa dibaca di Kompas edisi 27 Mei 2009.

Terkait dengan adanya bahasa daerah yang telah punah itu, Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono berkomentar, seperti yang di ambil dari Kompas, hilangnya bahasa daerah akan menghilangkan akar kebudayaan suatu daerah. Selain itu, Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika juga berkomentar, kepunahan bahasa daerah merupakan kerugian besar bagi pertumbuhan suatu bangsa.

Di sisi lain, pakar capruk ga jelas: Siluman Tulen, berpendapat hilangnya bahasa daerah tidak harus berarti hilangnya kebudayaan suatu daerah atau kerugian besar bagi pertumbuhan suatu bangsa. Hal itu bila dikaitkan dengan posisi bahasa daerah bagi penuturnya.

Bahasa adalah sekadar alat untuk berkomunikasi di antara manusia. Pikiran manusia adalah sesuatu yang abstrak, dan bahasa hadir untuk mengkonkretkan pikiran abstrak tersebut. Pikiran yang abstrak itu memang tidak akan utuh, ketika dikonkretkan dalam sebuah bahasa. Ada saja makna yang masih terdengar samar-samar. Contohnya: apa pengertian utuh dari pemikiran “aku cinta kamu”? atau apa pengertian utuh dari pemikiran mengenai “neoliberalisme” yang sedang hip akhir-akhir ini? Saya mah rieut. Tetapi dengan bahasa, manusia yang berkomunikasi setidaknya dapat ‘mendekati’ pengertian yang sama.

Nah, bila ada bahasa daerah yang punah, karena jumlah penuturnya minim hal itu bisa jadi disebabkan bahasa daerah itu terlalu ribet, ketika digunakan oleh penuturnya. Misalnya, bahasa Sunda halus yang konon bagi anak jaman sekarang terlalu rumit. Ada saja cerita bagaimana mayoritas anak muda sunda saat ini “blah-bloh” ketika berkomunikasi menggunakan bahasa sunda dengan orang sunda yang juga menjadi saksi hidup Bandung Lautan Api. Karena tingkatan bahasa sunda yang tidak banyak diketahui dan beberapa kata yang memang terdengar asing di telinga anak muda sunda saat ini, maka perlahan bahasa sunda “karuhun” itu mulai ditinggalkan. Sehingga hasilnya adalah seperti saat ini, bahasa sunda pasar. Campur sari dengan bahasa daerah lainnya atau bahasa “slank”. Tetapi itulah yang umum digunakan oleh kebanyakan orang sunda saat ini. Sebabnya, karena bahasa sunda pasar itu yang ternyata praktis dan mudah dimengerti. Walaupun, di satu sisi, ada saja “budayawan garda terdepan penjaga adat istiadat nenek moyang berumur 50 tahun ke atas” yang selalu mengeluh dan mengeluh tentang tiadanya kesadaran anak muda menjaga tradisinya. Budayawan-budayawan bangkotan itu seringkali mengeluh dengan berpijak dari perasaannya ketika melihat banyaknya pemakaian bahasa sunda pasar oleh mayoritas anak muda saat ini.

Saya pikir, sang budayawan bangkotan setidaknya harus belajar menerima kenyataan, bahwa bahasa sunda karuhun yang dia gemari itu ternyata tidak digemari oleh anak muda sunda di jaman sekarang. Jaman berubah, semuanya tidak akan sama lagi.

Dokumentasi dan Minat Baca

Daripada banyak mengeluh mengenai ketakutan akan hilangnya “akar tradisi dan adat istiadat suatu daerah” disebabkan punahnya bahasa daerah, lebih baik dilakukan sebuah langkah aktif. Setidaknya, ada dua masalah yang cukup penting terkait dengan masalah bahasa daerah ini, yakni dokumentasi dan minat baca.

Seperti telah ditulis di atas, bahasa hanyalah sebuah alat untuk berkomunikasi. Seperti manusia yang selalu mengalami perubahan, begitupun dengan bahasa. Seiring perubahan yang terjadi dalam diri manusia, tidak tertutup kemungkinan sebuah bahasa akan hilang atau sebaliknya, berkembang. Maka dari itu, pengenalan akan kegiatan dokumentasi menjadi penting disini. Salah satu contoh kecilnya, sebutlah kamus bahasa daerah. Kamus berperan penting untuk mendokumentasikan kosakata-kosakata yang terdapat dalam bahasa daerah. Biarlah bahasa daerah musnah, karena jumlah penuturnya berkurang atau tidak ada, asalkan kosakata bahasa daerah tersebut sudah tercetak dalam sebuah kamus, sehingga dapat menjadi pengetahuan bagi generasi selanjutnya. Dengan begitu, walaupun sebuah generasi baru itu tidak lagi paham mengenai bahasa daerah yang sudah atau hampir punah, namun generasi itu masih bisa mengetahui tentang eksistensi sebuah bahasa daerah yang dulu pernah ada.

Dokumentasi itu tidak hanya dalam bentuk kamus saja, bisa juga dalam bentuk karya sastra dan kebudayaan. Kiprah Pusat Bahasa yang berhasil memetakan 442 bahasa dari 2.185 daerah, seperti yang diberitakan juga oleh Kompas, merupakan hal yang patut diapresiasi. Walaupun masih jauh dari sempurna, karena nyatanya masih ada sekitar 304 bahasa daerah di Indonesia belum selesai dipetakan.

Kesadaran akan pentingnya dokumentasi dikalangan masyarakat menjadi hal yang penting di sini. Untuk menumbuhkan kesadaran dokumentasi tersebut, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah menumbuhkan minat dan cinta membaca. Siapapun tahu, dengan membaca, maka cakrawala dunia terbuka. Para nelayan di pulau Madura bisa mengetahui sebuah gua bernama Hira di daratan Arab jauh di sana, karena ia pernah membaca terjemahan kitab al quran yang salah satu isinya menceritakan tempat yang biasa dipakai Nabi Muhammad untuk merenung. Seorang mahasiswa dari Indramayu mengetahui ada sebuah aliran kristen bernama Mormon di daratan Amerika sana, setelah sebelumnya dia membaca laporan seorang wartawan yang meliput mengenai kelompok yang mempunyai dua kitab suci ini di sebuah majalah.

Intinya, punahnya bahasa daerah disebabkan tidak ada lagi penutur bukanlah sebuah masalah. Tetapi masalah sebenarnya adalah ketika tidak ada lagi kesadaran serta pengetahuan mengenai pentingnya dokumentasi dan membaca. Dua hal itulah yang berpotensi menyebabkan hilangnya akar sebuah kebudayaan daerah. Bukan penutur yang tidak ada lagi.

Keroncong Senja

Berikut ini adalah tulisan saya ketika meliput acara kerontjong di Sabuga tahun 2006 lalu. Sebenarnya sudah di posting di blog saya terdahulu, tapi karena lupa password dan semacamnya, saya tidak bisa lagi mengakses blog yang dulu itu. Jadi, semua barang-barang di blog itu akan saya pindahkan ke sini.

Alunan nada yang keluar dari ukulele, biola, cello, contrabass dan gitar di sore hari itu membawa ketenangan bagi siapapun yang mendengarnya. Sebuah lagu lawas berjudul “My Way” yang pernah dibawakan oleh penyanyi legendaris Frank Sinatra mengetuk telinga penonton yang telah hadir sejak pukul tiga sore. Sayatan biola pada bagian reffrain lagu membuat beberapa penonton menyanyi, walaupun lagu itu dibawakan secara instrumental saja. Lagu “My Way” sekaligus menjadi pembuka dari pagelaran musik “Kerontjong Sendja” di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) yang diisi oleh orkes keroncong bernama Little Keroncong.