Kamis, 26 Maret 2009

.merapat.

Dan kesadaran akan “ide tentang cinta” itu terkikis habis saat pukul 07.30 WIB datang sebuah sms berisi ajakan untuk “merapat” di Dipati Ukur. Menristek hidup dan hadir disitu, pesannya. Tapi, motor si ‘buronan mertua’ kubawa merapat ke kamar mayat. Jalan, jembatan layang, trotoar…semuanya bertransformasi menjadi kilatan-kilatan sesaat. Sekadar cuplikan-cuplikan banal di jam 10 pagi yang tidak diguyur hujan seperti biasanya. Disinilah, saya pikir, kapal melepaskan jangkarnya jauh kedalam lautan alienasi. Seperti kamar mayat yang akan kukunjungi, ada mayat terbaring kaku disitu. Diam dan tidak bergerak. Kadang kuberpikir, betapa ironisnya semua ini. Pernah kukatakan pada seorang teman, “berita membuatku berpikir, tetapi tidak ketika ku membuatnya secara harian.”

         Melewati belokan di salah satu jalan di Taman Sari, kulihat perempuan. Cantik sekali. Wajahnya campuran arab. Dia menyebrangi jalan dengan tubuhnya yang melenggok-lenggok. Baju motif polkadotnya seakan mewarnai Kota Kembang ini. Rambut panjangnya yang hitam terurai begitu anggun. Amboi. Tawanya pun terlihat sungguh memukau. Kupikir, hati para lelaki mulai dari tukang mabok hingga paling sering mengaji pun akan meleleh bila tersentuh oleh tawanya yang riang itu. Halus nian memang sosok seorang perempuan. Sungguh ada gunanya juga Tuhan menciptakan mereka. Tidak seperti peristiwa di jam tujuh malam yang menuntut presisi antara shutterspeed dan diafragma, ditambah imaji kumis baplang redaktur yang menungguku untuk tiba di kantor jam sembilan. Begitu keruh. Andai ku bisa menghentikan motor dan mengiringi perempuan blasteran arab itu menyebrangi jalan, aku akan bahagia sekali. Waktu mungkin akan berputar dengan lambat. Ya, mungkin waktu akan melambat. Dari sini terbesit pertanyaan, seperti apakah rasa sepi itu? Apakah pada akhirnya adalah rasa sepi yang menyatukan ku dengan siapapun ia nantinya?

“Ide tentang cinta”, bagaimana pun juga, adalah seperti ku menuliskan sebuah kata setelah tanda kutip yang sering kugunakan akhir-akhir ini: ‘katanya’, ’ujarnya’, ’imbuhnya’, ’paparnya’, ’jelasnya’...sebut apapun yang kau tahu. Hanyalah ‘katanya’. Namun demikian, “Ide tentang cinta”, kupikir saat ini, setidaknya serupa seperti rubrik yang ada di koran-koran itu: hiburan. Pemanis diantara rubrik politik, kota bandung, kabupaten bandung, dan berita umum. Ada yang ringan diantara yang pelik. Menenangkan syaraf.

Dan atas permintaan dari salah satu perusahaan percetakan milik jawa pos yang terletak di Provinsi Banten, “Ide tentang cinta” itu menghilang dan berganti menjadi kesadaran. Sebuah ‘wake up call’. Ibarat sms seorang teman yang menginformasikan untuk “merapat” kesuatu tempat itu. “Merapat”, dalam rangka menunaikan ibadah SKS ini, kupikir mencerminkan sebuah realitas: ada fakta yang harus kau kejar di suatu tempat sana.

Kamis, 05 Maret 2009

dazed and confused

 Saya ga begitu ngerti dunia yang saya tinggali saat ini. Hal apa saja yang menjadikan dunia yang saya tinggali bisa menjadi seperti sekarang ini: ide-ide seperti liberalisme, persamaan didepan hukum, dan demokrasi... Semuanya menjadi hal yang lumrah dan seolah-olah demikian adanya. Saya melihat dan merasakannya setiap hari di media massa dan juga dari obrolah dengan orang-orang terdekat. Ide dan fenomena besar itu berseliweran dan tumpang tindih dalam kehidupan.

Dalam tataran lebih kecil pun demikian adanya: semua topik yang dibicarakan, semua perilaku, interaksi yang dilakukan saat ini seolah-olah hadir begitu saja dan menjadi sebuah common sense. Salah satu contoh kecil, misalnya ketika seseorang yang dicemooh hanya karena busana yang dikenakannya terlihat konyol. Orang yang dicemooh itu membalas secara defensif dengan mengatakan, “ah, bebas we lah, kumaha aing. Aing nu make baju ieu! (ah, bebaslah, suka-suka saya. Saya yang memakai baju ini!-terj.). Bagaimana ia bisa melontarkan suatu penentangan yang begitu menekankan pada sikap kemandirian individu dalam berekspresi  seperti demikian? Bagaimana orang yang dicemooh itu bisa mengatakan sesuatu mengenai kebebasan dan individualisme seperti demikian? Dan bagaimana pula ide dan sikap yang menekankan pada kebebasan dan individualisme itu menjadi pola pikir yang ‘lumrah’ dalam masyarakat dewasa ini?

Saya tidak tahu dan tidak mengerti. Bila ingin menengok sedikit ke masa lalu dimana tempat saya hidup saat ini, yakni nusantara, bisa dibilang, tidak ada ide dan pola pikir mengenai kebebasan dan individualisme seperti sekarang. Dulu, nusantara adalah wilayah yang dikuasai oleh kerajaan-kerajaan. Pola kehidupan dalam sebuah masyarakat yang berada dalam pengaruh kerajaan, sepertinya bukan tempat yang baik untuk tumbuhnya ide-ide, seperti kebebasan dan individualisme. Karena pola interaksi dalam kerajaan adalah pola interaksi yang mendasarkan hubungannya pada siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai. Istilah-istilah yang mencerminkan suasana kerajaan, seperti abdi istana, abdi dalem dan abdi-abdi lainnya, bagi saya, sangatlah tidak ‘bebas’ dan ‘individualistik’. Kata-kata seperti itu mengesankan adanya ketergantungan yang bersifat feodalistik terhadap pihak atau sesuatu diluar sana, dalam hal ini adalah raja atau sultan atau kaisar atau emperor atau apalah. Dengan sendirinya, pola kerajaan tidak memungkinkan bagi ide mengenai kebebasan dan individualisme menjadi sesuatu yang lumrah dalam masyarakatnya.

Lalu, bila begitu, dari mana masyarakat yang saya menjadi bagian didalamnya mengenal pola pikir kebebasan dan individualisme? Bagaimana bisa, masyarakat saya yang dulunya hidup dengan menganggap raja adalah titisan para dewa hingga mereka rela menyembahnya, menjadi masyarakat dimana seorang presiden bisa dijatuhkan dengan sebuah prosesi pemakzulan? Apa yang terjadi sebenarnya dengan masyarakat? Semua istilah-istilah besar, seperti hukum, hak azasi manusia, liberalisme, rasionalisme…sebenarnya itu tuh apa? Sebenarnya apa sih yang kita bicarakan dan lakukan selama ini?

Saya tidak tahu dan tidak mengerti. Saya bingung. Lalieur, kalo kata orang Sunda. Tapi, saya percaya kalo mau mencari jawabannya, ada di masa lalu. Selama ini, kebetulan saya selalu mendapatkan literatur-literatur yang tema besarnya mengenai masa lalu sebuah masyarakat. Dalam proses pembacaannya, saya merasakan adanya sebuah benang tipis yang berjalinkelindan antara satu dengan lainnya dan dalam suatu cara saling berhubungan dalam menjelaskan dunia saat ini. Namun begitu, semakin saya menelusuri benang tipis itu lebih jauh kebelakang, semakin kompleks pula benang-benang itu. Seolah-olah saya berada dalam sebuah penelusuran tanpa akhir dan dalam setiap perjalanannya, selalu ada saja benang-benang baru yang bermunculan dan semakin membuat masa lalu itu terasa luas sekaligus rumit. Dan mau tidak mau, saya harus menguraikannya agar menjadi lebih jelas. Ah, bingung.   

Senin, 02 Maret 2009

Marji

Ada seorang tokoh yang diceritakan dalam novel grafis berjudul ‘Revolusi Iran’ karya Marjane Satrapi bernama Marji. Ia adalah seorang perempuan kecil yang tumbuh, ketika Iran mengalami gejolak sosial, seperti tumbangnya kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang kemudian digantikan oleh seorang ulama kharismatis: Ayatollah Agung Ruhollah Khomeini.  

            Gejolak sosial di Iran setidaknya sudah dimulai pada tahun 1977. Ketika kaum miskin kota, pengangguran, pengacara, penulis, wartawan dan berbagai macam kelas menengah kebawah lainnya aktif turun ke jalanan sebagai bentuk protes atas tidak efektifnya kinerja pemerintahan dibawah Shah Reza Pahlavi. Salah satu alasan kaum menengah kebawah itu turun kejalanan selama rentang waktu 1977-1979, seperti yang tercatat dalam situs wikipedia, adalah karena kebijakan Shah Reza dalam hal westernisasi yang tidak sejalan dengan spirit identitas Muslim Syiah Iran. Lebih luas dari itu, campur tangan Washington melalui CIA dalam hal ketatanegaraan Iran dan kebijakan-kebijakan pemerintah Iran yang represif sekaligus otoriter terhadap warganya sendiri ditambah krisis ekonomi yang melanda Iran menjadi pemicu berjuta penduduk untuk mengambil alih jalanan.

            Marji tumbuh dengan menyaksikan bagaimana para demonstran itu tak lelah-lelah berunjuk rasa di jalanan pada tahun 1979 menuntut agar Shah Reza Pahlavi diturunkan. Marji juga menyaksikan bagaimana pada akhirnya patung dan poster Shah Reza Pahlavi yang terserak hingga kehidupan paling pribadi setiap warga Iran akhirnya dirubuhkan dan disobek-sobek. Gejolak demi gejolak yang terjadi dalam kehidupan sosial di Iran itu memberi warna pada hati dan juga pikiran si kecil Marji.

            Shah Reza Pahlavi memang berhasil ditumbangkan saat itu dan di tahun itu, rakyat Iran mengenalnya sebagai peristiwa ‘Revolusi Islam’. Sebuah pergantian rezim yang sebelumnya kental dengan corak monarki menjadi sebuah rezim teokrasi dibawah pimpinan kharismatis Khomeini. Revolusi itu untuk beberapa waktu memberikan euphorianya terhadap warga Iran, tak terkecuali si kecil Marji. Hal itu bisa dilihat ketika suatu waktu Marji bermain bersama teman-temannya di sekitar rumahnya. Marji melihat seorang bocah bernama Ramin yang juga adalah tetangganya. Hampir saja Marji bersama kawan-kawannya itu menikam si bocah Ramin, karena ayah si bocah itu adalah anggota SAVAK. Marji geram terhadap SAVAK, karena intelijen yang dingin di masa Shah Revi Pahlavi itu dianggapnya bertanggungjawab atas nyawa ribuan warga Iran yang tewas. Untung saja Ibu Marji ada di tempat kejadian itu dan segera menarik Marji agar tidak bertindak kelewatan.

            “Tapi, Bu…Ayah Ramin kan pembunuh?” tanya Marji tidak mengerti mengapa Ibunya mencegah dirinya menghantam muka Ramin dengan paku-paku yang diselipkan diantara kelima jarinya.

            “Mama tahu,” jawab Ibu Marji, ”Ayahnya yang melakukan itu. Jadi bukan kesalahan Ramin. Bagaimanapun bukan tugasmu dan Mama untuk mengadili seseorang. Mama bahkan ingin mengatakan kalau kita perlu belajar untuk memaafkan.”

            Marji, bagaimanapun juga, adalah seorang bocah perempuan yang tumbuh ditengah gejolak-gejolak pertentangan antara fundamentalisme dengan modernisme yang bahkan kaum tuanya pun seringkali tidak memahaminya.

Meloncati tai kuda hanya untuk mendarat di tai kuda lainnya

Perjuangan dan pengorbanan dalam sebuah kisah perebutan kekuasaan memang selalu menyisakan cerita haru dan penuh romantika. Bagaimana tidak, setidaknya perjuangan dan pengorbanan itu, walaupun di satu sisi memang terasa sesak dan gelap, namun ia dianggap merefleksikan kejujuran dan kemurnian cita-cita dari para pelaku yang menjalaninya. Maka dari itu, selalu ada himne, lagu puji-pujian bagi mereka para pahlawan yang dianggap membawa perubahan melalui serangkaian perjuangan dan pengorbanan yang panjang dan melelahkan.

            Namun, tidak banyak kisah heroik dan mengharukan diceritakan ketika kekuasaan yang lama itu  berhasil digantikan oleh kekuasaan baru. Himne itu menjadi sayup dan perlahan menghilang tertelan dalam gedung-gedung kekuasaan yang dingin. Kegembiraan yang sebelumnya membucah dari riuhnya dansa para rakyat yang tumpah ruah di jalanan kota menghilang dan digantikan oleh rapat-rapat yang dingin nan kaku dalam sebuah ruangan sunyi di gedung parlemen. Rakyat, yang dalam banyak cerita mengenai sebuah revolusi, menjadi motor yang memungkinkan perubahan itu terwujud, tidak bisa mendengar apa-apa yang dikatakan atau disiasati oleh segelintir orang di ruangan parlemen yang sunyi itu. Pada akhirnya, rakyat hanya bisa menerima sekadar instruksi yang bersumber dari gedung parlemen mengenai apa-apa yang seharusnya dan tidak seharusnya rakyat lakukan terkait dengan perubahan kekuasaan yang terjadi. Pada titik ini, seringkali terpapar sebuah contoh bagaimana revolusi yang bertujuan menghantam tirani, justru menjadi tiran itu sendiri.

            Di Iran, disamping kesewenangan Shah Reza Pahlavi dalam memerintah dan krisis ekonomi, kembali kepada nilai-nilai islam merupakan dambaan hampir semua rakyat Iran pada masa itu. Pemerintahan di bawah Shah Reza Pahlavi memang begitu mencaplok nilai-nilai barat yang cenderung sekuler (memodernisasi Iran), walaupun mayoritas Iran saat itu belum mengenal bentuk nilai-nilai barat. Sehingga mencabut akar sebagian besar Rakyat Iran terhadap nilai-nilai tradisionalnya, yaitu agama islam. Karen Armstrong menyebut kondisi sebagian besar rakyat Iran pada saat itu sebagai kondisi pramodern, dimana keadaan masyarakat masih dipengaruhi kuat oleh bentuk-bentuk kepercayaan tradisional yang bersumber dari agama, dalam hal ini islam. Ditambah lagi, sebagian besar rakyat Iran begitu dipengaruhi oleh nilai-nilai Syiah. Perasaan terasing oleh nilai-nilai barat yang sekuler ditambah dengan kerinduan untuk kembali ke ajaran islam itulah yang membuat rakyat Iran menjadi pendorong utama terjadinya revolusi.

            Kerinduan untuk kembali memurnikan ajaran islam itu ditemukan dalam sosok seorang Ayatollah Khomeini. Keadaannya yang diasingkan oleh rezim Shah Reza Pahlavi membuat dirinya dipersonifikasikan dengan imam syiah yang keduabelas atau Imam Gaib dan segera mendapat dukungan dari sebagian rakyat Iran. Untuk hal ini, kita harus mengingat, bahwa sebagian besar rakyat Iran berafiliasi kepada Islam Syiah. Kaum Syiah mempunyai keyakinan, bahwa imam yang akan memimpin umat muslim setelah kepergian Nabi Muhammad berada di tangan Ali bin Husain beserta kedua belas keturunannya. Faktor kepercayaan Syiah yang dipeluk sebagian besar rakyat Iran itulah salah satunya yang mempengaruhi Ayatollah Khomeini bisa didapuk menjadi tokoh pemimpin bagi revolusi Iran.

            Namun demikian, pergantian kekuasaan ke tangan Ayatollah Khomeini dilihat oleh kaum liberal Iran yang notabene telah menerima pendidikan barat dan terbiasa dengan nilai-nilai sekuler barat sebagai gelagat yang tidak baik. Revolusi yang terjadi di Iran mengubah kondisi politik menjadi bercorak teokrasi dan hal itu sangat rentan dalam memunculkan bentuk pemerintahan otoriter lainnya. Kaum liberal Iran memandang, revolusi seharusnya merubah pola pikir menjadi lebih sekuler, dimana rasionalitas beserta akal menjadi sorotan utama, sehingga jalannya pemerintahan dilandaskan pada pola pikir yang rasional tanpa terikat oleh pertimbangan-pertimbangan keagamaan yang seringkali nilai-nilainya bertentangan dengan realitas politik yang menuntut pragmatisme, pertimbangan dan kompromi dari para pelakunya. Revolusi biasanya dianggap bakal terjadi pada saat alam duniawi telah mendapatkan posisi baru, dan akan mendeklarasikan kebebasannya dari dunia agama yang mitis (Karen Armstrong: 2002, 502).

Dalam pandangan kaum liberal Iran, pemerintahan yang diidam-idamkan setelah revolusi bergulir adalah sebuah pemerintahan berbentuk republik islam. Republik dimana ‘orang-orang biasa’ yang memegang pemerintahan. Dengan kata lain, pemerintahan itu berjalan sesuai dengan prinsip good governance dimana kekuasaan absolut ditangan para ulama tiada. Namun demikian, pandangan kaum liberal Iran itu pada masanya merupakan pandangan yang tergolong minoritas. Pada dasarnya, sebagian besar rakyat Iran mendukung naiknya Ayatollah Khomeini sebagai pemimpin revolusi dan dengan begitu, berarti mendukung pula sebuah bentuk pemerintahan yang menempatkan ulama (mullah) sebagai otoritas yang tertinggi dalam pemerintahan.

            Kekhawatiran kaum liberal Iran akan pemerintahan yang bercorak otoritarian itu menjadi nyata ketika pada bulan Oktober 1979 terjadi sebuah perdebatan mengenai draft konstitusi yang disusun oleh para pengikut Khomeini, yang memberikan kekuasaan tertinggi pada Fakih (Khomeini), yang akan mengontrol angkatan bersenjata dan dapat begitu saja memecat perdana menteri (Karen Armstrong: 2002, 503). Beberapa elemen dari rakyat Iran, seperti kelompok sayap kiri, Islam, intelektual, nasionalis dan kelompok liberal memandang dalam draft konstitusi tersebut terdapat sebuah nilai-nilai yang berpotensi mengkhianati cita-cita awal revolusi Iran. Dalam draft konstitusi tersebut, kebebasan pers dan kebebasan mengungkapkan pendapat dijamin selama tidak bertentangan dengan hukum dan praktek Islam (Karen Armstrong: 2002, 503-504). Padahal, kebebasan berpendapat itulah yang menjadi dasar perjuangan rakyat Iran selama ini dalam melawan tiran seperti Shah Reza Pahlavi. Bila konstitusi itu tetap dipaksakan untuk diterapkan, maka keadaan Iran tidak akan jauh berbeda dibandingkan ketika Shah Reza Pahlavi masih berkuasa.

            Namun demikian, seperti cerita yang berulang-ulang mengenai bagaimana seseorang mempertahankan kekuasaan at all cost, Khomeini tetap mendesak agar konstitusi tersebut disahkan dan memaksa setiap rakyat Iran untuk menerimanya. Khomeini juga tidak ragu-ragu untuk memberangus setiap oposisi.

Dalam mempertahankan kekuasaan, Khomeini memakai retorika dengan bumbu sentimen keagamaan yang dianggapnya bisa dijadikan alat pembenaran bagi tindakan yang dilakukannya. Hal itu bisa dilihat dari ucapannya kepada jamaah haji tahun 1979 yang terdapat pada Foreign Broadcasting and Information Service(FBIS), sebagaimana yang tercantum dalam Karen Armstrong:

           “Kesatuan Pendapat adalah rahasia kemenangan. Umat tidak akan mencapai kesempurnaan spiritual yang diinginkan kecuali bila mereka menggunakan pemikiran yang tepat. Tak ada demokrasi pendapat; umat harus mengikuti Fakih Tertinggi, yang perjalanan mistiknya telah memberinya “keimanan sempurna” (Karen Armstrong: 2002, 511).

            Ucapan Khomeini itu keluar sebagai cermin atas kondisinya yang terjepit oleh kepungan musuh-musuhnya yang berasal dari luar (Amerika dan negara Barat) maupun dari dalam (kaum liberal dan modernis Iran). Dalam hal ini, Khomeini menekankan konformasi ideologi yang berdasarkan ketentuan Islam (Karen Armstrong: 2002, 510). Dengan harapan, revolusi akan terus berjalan tanpa gejolak yang berarti dibawah sentimen agama. Sebagian besar rakyat Iran justru mendukung gagasan khomeini mengenai kesatuan pendapat yang berlandaskan sentimen agama tersebut. Hal itu bisa terjadi, karena kondisi sebagian besar rakyat Iran yang belum tersentuh oleh modernisasi ditambah pengalaman tercerabut dari nilai-nilai tradisional semasa rezim monarki Shah. Seperti yang ditulis oleh Armstrong, rakyat Iran dapat mengerti Khomeini tapi tidak Barat modern. Mereka masih berbicara dan berpikir dalam pola pramodern yang tak lagi dipahami oleh orang-orang Barat (Karen Armstrong: 2002, 512). Ide-ide mengenai rasionalitas dan hak individu sebagai ciri modernitas merupakan suatu hal yang masih asing bagi sebagian besar rakyat Iran. Sebaliknya, mereka masih melihat kekuasaan Ilahi sebagai nilai tertinggi dan belum melihat hak individu sebagai sesuatu yang mutlak (Karen Armstrong: 2002, 512).

Fundamentalisme islam yang muncul sebagai akibat dari keterasingan atas nilai-nilai modern (barat) yang merasuk di kehidupan masyarakat Iran semasa Shah Reza Pahlavi berkuasa sekaligus paranoia akan tercerabutnya akar sejati islam oleh nilai-nilai modern menjadi laksana sihir yang sanggup membius sebagian besar masyarakat Iran yang memang belum tersentuh oleh modernitas. Oleh karena itulah, mengapa Khomeini pada akhirnya selalu mendapatkan dukungan dari sebagian besar masyarakat Iran. Walaupun, dalam hal corak pemerintahan, pada dasarnya, masih berisi hal yang sama, yakni represi dan otoriter. Namun bedanya kali ini, represi dan pemerintahan otoritarian itu berjubahkan sentimen keagamaan (islam) dimana hal itu merupakan senjata yang jitu mengingat mayoritas rakyat Iran memeluk islam sebagai agama dan jalan hidup. Dengan demikian, pemerintahan yang otoritarian dan represif tidak akan terasa bagi sebagian besar orang.

Fundamentalisme versus Iron Maiden

Melihat kehidupan Marji dibawah pemerintahan Ayatollah Khomeini, setidaknya akan memberi gambaran kepada kita bagaimana sebuah cita-cita revolusi berubah menjadi tak semurni seperti yang telah dicita-citakan semenjak awal. Pemerintahan Ayatollah Khomeini yang kental dengan ide fundamentalismenya yang berusaha untuk menegakkan kembali ajaran-ajaran sejati islam sebagai upaya tandingan atas nilai-nilai Barat yang sekular (modernisme), pada tataran mikro malah melahirkan sebuah bentuk pemerintahan yang otoritarian.  

            Hal itu bisa dilihat dari sebuah cuplikan kisah yang lucu namun miris, ketika orang tua Marji berniat liburan ke Turki. Marji, yang pada saat itu beranjak remaja, merengek minta dibawakan oleh-oleh berupa jaket jeans denim dan sebuah poster Iron Maiden. Ada potret psikologis mengenai bagaimana reaksi orang tua Marji menanggapi permintaan poster Iron Maiden itu. Dan reaksi psikologis itu seolah-olah merefleksikan bagaimana suasana sosial Iran dibawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini.

            Hal yang terpikir pertama kali dalam benak orang tua Marji mengenai permintaan anaknya itu adalah bagaimana cara menyembunyikan jaket jeans denim dan poster Iron Maiden tersebut agar tidak diketahui oleh pengawal revolusi ketika memasuki Iran sekembalinya dari Turki nanti. Pengawal revolusi adalah sebuah kelompok yang dibentuk pada tahun 1982 di Iran. Kelompok ini berfungsi sebagai aparat penegak syariah. Dimana mereka dapat menindak setiap anggota masyarakat yang dianggap melenceng dari syariah dan menerapkan gaya hidup barat.

            Cuplikan kisah tersebut memberi gambaran, bagaimana sebuah revolusi yang telah dibangun pada akhirnya menjadi sebuah gerakan fundamentalisme agama. Sebuah gerakan dimana fondasinya adalah sebuah upaya untuk memerangi nilai-nilai barat dan berusaha untuk kembali memurnikan ajaran agama.

Karen Armstrong dalam bukunya The Battle for God, menyebutkan, di era ’70 an dunia dijangkiti oleh apa yang disebutnya sebagai gejala fundamentalisme agama. Gejala ini merebak di setiap agama yang ada di dunia, dalam hal ini tidak saja terbatas pada Islam, namun juga kristen, judaisme, budha dll. Gejala fundamentalisme ini tumbuh sebagai reaksi atas semakin sekulernya pola hidup masyarakat sebagai dampak modernisasi yang mengandung nilai-nilai liberal dan sekular yang kental dan dalam satu titik, begitu bertolak belakang dengan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu agama.

            Nilai-nilai yang terkandung dalam modernitas menempatkan akal serta rasionalitas manusia sebagai kekuatan utama. Penempatan akal serta rasionalitas manusia sebagai kekuatan manusia ini mempunyai sejarah yang panjang yang dimulai pada abad ke-14 dimana saat itu muncul sebuah pergerakan di Florence, Italia, yang berusaha menggali kembali pemikiran-pemikiran dari peradaban Romawi dan Yunani Kuno. Kita mengenal pergerakan itu sebagai ‘Renaisans’. Istilah renaisans itu sendiri berasal dari kata rinascita (bahasa Italia) yang artinya kelahiran kembali. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Giorgio Vasari pada abad ke-16 untuk menggambarkan semangat kesenian Italia mulai abad ke-14 hingga ke-16 yang bernafaskan semangat kesenian Yunani dan Romawi kuno (Denys Hay dalam Sutarjo Adisusilo: 2005, 20).

            Pada masa renaisans, esensinya adalah, bahwa manusia menjadi pusat dari alam semesta. Dalam hal ini, akal manusia meraih penghargaan yang tinggi. Manusia harus mempunyai pikiran yang bebas dan tidak boleh terkungkung oleh dogma-dogma moral agama, dalam hal ini gereja, yang saat itu memang mempunyai otoritas yang tinggi ditengah-tengah masyarakat. Itulah yang membedakan masa renaisans dengan masa sebelumnya, yakni masa abad pertengahan. Mengenai perbedaan antara Abad Pertengahan dan Renaisans, dalam bukunya “Sejarah Pemikiran Barat dari yang klasik hingga yang Modern”, Sutarjo Adisusilo menulis:

…pada zaman Abad Tengah, budaya klasik tersebut (Romawi dan Yunani Kuno – ST) sepenuhnya dibingkai dan bernafaskan relijiusitas Gereja serta dimanfaatkan bagi kepentingan Gereja. Sebaliknya pada zaman Renaisans, budaya klasik tersebut berada di bawah kekuasaan manusia dan bernafaskan keduniawian serta dimanfaatkan demi manusia itu sendiri.” (Sutarjo Adisusilo: 2005, 23).

            Semangat dan optimisme akan kemampuan manusia untuk mengolah dan menikmati dunia dengan akal pikirannya sendiri, tanpa harus terkungkung oleh mentalitas takdir sebagai akibat doktrin serta dogma agama sebagai ciri abad pertengahan, dengan sendirinya menyisihkan peran agama dalam sendi kehidupan pribadi maupun masyarakat di sebagian besar benua Eropa saat itu. Karena dalam hal ini, nalar, kebebasan individual dan tanggungjawab pribadi yang penuh menjadi ciri khas sebuah zaman bernama renaisans. Ada proses sekularisasi disini, dimana peran agama tidak lagi memainkan peranan penuh dan bahkan sama sekali dipisahkan dalam setiap aktivitas sosial masyarakat maupun individu.

            Pemisahan peran agama dalam kehidupan duniawi dengan menempatkan akal serta nalar manusia sebagai kekuatan utamanya di masa renaisans itu membawa pengaruh yang kuat bahkan hingga saat ini. Berangkat dari renaisans di abad ke-14, kita mengenal berbagai fase yang turut memberi corak pada perkembangan kehidupan manusia, seperti munculnya konsep kontrak negara, liberalisme, demokrasi, konsep mengenai hukum dan HAM, revolusi industri, kapitalisme, marxisme, serta perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, renaisans, dimana akal serta nalar manusia sepenuhnya dihargai, memberikan dampak yang tidak kecil dan positif bagi perkembangan hidup manusia.

             Namun demikian, tidak semua orang di dunia ini yang bisa langsung begitu saja mengikuti nilai-nilai baru yang dibawa oleh modernisme. Dalam hal proses modernisme di Timur Tengah, biasanya  mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan nilai-nilai modernisme ini adalah karena mereka dihadapkan terlalu cepat dengan nilai-nilai modernisme yang memang sangat agresif. Pengetahuan mereka mengenai modernisme itu sangatlah tidak memadai. Sedangkan di sisi lain, kebudayaan maupun nilai-nilai pramodern masih melekat kuat dalam keseharian dan pola pikir mereka. Bila ada yang sanggup menerapkan modernisme pun, seringkali penerapannya itu masih sepotong-sepotong dan dangkal. Penerapan modernisme hanya dilakukan pada tataran infrastruktur, seperti di bidang militer atau tata pemerintahan. Padahal, hal yang lebih krusial dari modernisme terletak pada permasalahan pola pikir. Hal seperti ini yang seringkali dilewatkan, hingga pada satu titik akan menciptakan kebingungan tersendiri. Seperti pola pikir yang terkait dengan perubahan cara pandang yang lebih menitikberatkan pada aspek manusia (antroposentris) dan kehidupan duniawi (materialistis) dalam modernisme. Pola pikir modernisme itu akhirnya selalu bertabrakan dengan cara pandang pramodern yang menitikberatkan pada doktrin ataupun dogma reliji.

            Kebingungan pola pikir pramodern dalam alam modernisme itulah yang seringkali memicu sebuah pergerakan fundamentalisme agama. Proses modernisme seringkali agresif, hingga seseorang akan kesulitan menempatkan peranan agama dalam bingkai modernisme. Di satu sisi, relijiusitas adalah sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja oleh manusia. Karena dalam reliji terdapat spiritualitas, dimana tanpanya, kehidupan akan menjadi tidak bermakna. Kehidupan yang tidak memiliki makna sama saja dengan terasing dari kehidupan dunia. Akibatnya, manusia mulai mencari cara-cara baru untuk menjadi relijius ditengah zaman yang secara agresif mengikis mitos dan lebih mengedepankan logos.

            Oleh sebab itulah, proses modernisme untuk sebagian orang dipandang sebagai proses yang mengerikan dan menyakitkan. Seringkali mereka yang tidak sigap beradaptasi dengan nilai-nilai modernisme akan tercabut akar-akar kepercayaan lamanya. Dengan tercabutnya akar-akar kepercayaan itu, maka yang tersisa adalah perasaan keterasingan dalam dunia dimana nilai-nilai baru begitu bertolak belakang dengan nilai-nilai yang sebelumnya telah ada dan dipegang erat oleh mereka. Dan pada akhirnya, fundamentalisme agama itu hadir sebagai  sebuah bentuk ekspresi kekecewaan dan kemarahan terhadap nilai-nilai modernisme yang mengikis bentuk-bentuk kepercayaan lama tersebut.  

            Seperti yang bisa dilihat dari kondisi sosial pasca revolusi Iran. Revolusi yang terjadi adalah sebuah revolusi yang mengungkapkan ketakutan dan kemarahan terhadap nilai-nilai modernisme yang terlalu dipaksakan terhadap masyarakatnya sendiri dengan cara kembali ke kepercayaan yang telah mengakar kuat dengan cara menegakkan syariah secara ketat. Namun ketakutan dan kemarahan itu menjadi sebuah bumerang yang menggagalkan makna awal sebuah revolusi, yakni pembebasan dari belenggu. Fundamentalisme agama yang menjadi ‘ruh’ dari revolusi gagal untuk menandingi nilai-nilai modernisme. Pada akhirnya, sebuah kerinduan untuk kembali memurnikan ajaran agama itu malah jatuh menjadi sebuah praktek pemerintahan yang otoriter.

            Dan untuk Marji, pada akhirnya remaja perempuan itu memang berhasil memperoleh poster Iron Maiden. Sebelum memasuki bandara Iran, sang Ibu menyobek bagian belakang jas milik sang Ayah dan menyelipkan poster tersebut disana. Taktik sang Ibu berhasil mengelabui pengawal revolusi yang berjaga-jaga di bandara Iran. Keberhasilan orang tua Marji mengelabui para pengawal revolusi seolah-olah menggambarkan proses modernisme itu sendiri. Modernisme sesungguhnya menjadi sebuah proses yang tidak bisa dihindari dari hidup manusia. Cepat atau lambat, menyakitkan atau tidak, kita dituntut beradaptasi dengan nilai-nilainya. Dan adaptasi inilah yang seringkali jadi biang masalah.     

 

REFERENSI:

Adisusilo, Sutarjo. Sejarah Pemikiran Barat dari yang Klasik Sampai yang Modern. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2005.

Armstrong, Karen. The Battle for Gods. Bandung: Mizan, 2002.

Satrapi, Marjane. Revolusi Iran. Yogyakarta: Resist Book, 2005.

www.wikipedia.com

           

           

           

             

Rabu, 25 Februari 2009

Ulysses

Ulysses
(by: Tennyson)

Come my friends,
tis not too late to seek a newer world...
for my purpose holds
to sail beyond the sunset...and though
we are not now that strength which in old days
moved earth and heaven; that which we are, we are...
one equal temper of heroic hearts,
made weak by time and fate, but strong in will
to strive, to seek, to find, and not to yield.


Saat membaca puisi dari Tennyson ini, tiba-tiba saja saya teringat kawan-kawan yang diwisuda. Tiba-tiba saja saya memikirkan kisah lain dibalik wisuda kawan-kawan: bahwa waktu itu terus berputar dan sebuah masa akan menemui akhirnya sendiri dan digantikan oleh yang lain. dan dibalik itu semua, ada kehilangan, ada perpisahan, dan kenangan akan suatu pengalaman yang dulu disatukan, namun sekarang terpecah saat perlahan dari kita mulai menyongsong kehidupannya masing-masing di luar sana.

Saya tidak menyukai kehidupan yang sedih dan melankolia yang berlarut-larut. Walau dalam satu titik, kesedihan dan melankolia itu bisa menyumbangkan energi yang sangat kuat. Saya masih percaya optimisme, sekecil apapun itu. Dan membaca Ulysses ini, saya merasakan sebuah contoh tepat yang menggambarkan bagaimana kesedihan dan harapan bergejolak dalam porsinya masing-masing: saling mendukung. Bukan saling meniadakan. Tidak ada cerita yang lebih dramatis dan agung dibandingkan cerita tentang bagaimana sebuah harapan berkecamuk gelisah diantara ketakutan yang menyedihkan.

Seperti salah satu fragmen Ulysses: "...and though we are not now that strength which in old days", seolah-olah kita terpaksa untuk menerima kenyataan pahit dalam kehidupan: bahwasannya kita menua dan lain-lain yang ada sebelumnya menghilang. Gambaran ini tentu menyedihkan.Namun demikian, kenyataan pahit itu tidak lantas memberi rasa sedih sebuah ruang yang leluasa. karena pada akhirnya muncul fragmen lain: "made weak by time and fate, but strong ini will/to strive, to seek, to find, and not to yield".

Harapan dan kesedihan itu hadir bagai dua buah kutub yang bertolak belakang, namun pada satu titik ia saling mengisi bagai sepasang kekasih dan mendorong sebuah gerak laju. seolah-olah Ulysses hadir dan berkata pada kita agar tidak berjalan di tempat, namun justru menyongsong hari yang penuh ketidakpastian ini dengan menjaga api harapan di dalam dada agar terus membara. Memang kehidupan adalah sesuatu yang menyusahkan dan tidak gampang. Tetapi, tidak ada yang lebih mendebarkan dibandingkan ketika kita terus berjalan dengan rasa takut akan ketidakpastian hidup. Berdebar-debar, itulah esensi hidup, karena kelegaan hanya ada di akhir perjalanan.

Dan untuk teman-teman yang diwisuda...teman kalian, si abo ini, mengeluarkan sebuah fatwa yang haram hukumnya bila tidak diikuti. fatwa itu adalah: NIKMATI SEMUA SUMSUM KEHIDUPAN. CARPE DIEM SEIZE THE DAY!


cheersh.



Jumat, 20 Februari 2009

Para Motivator Ditambah Buku-bukunya

Sebenarnya saya selalu skeptis terhadap buku-buku ‘motivasi’ dan ‘pengembangan’ diri. Sebutlah buku-buku Dale Carnagie atau Stephen R. Covey, misalnya. Yah, pokoknya buku-buku yang isinya selalu ada embel-embel ‘bagaimana meraih teman sebanyak mungkin’, ‘bagaimana membuat hidup Anda bahagia selalu’…hal-hal seperti itulah. Menurut saya, motivasi-motivasi dan pengembangan diri seperti itu terasa hanya memberikan solusi-solusi praktis saja. Dan ujung-ujungnya, motivasi dan pengembangan diri yang ditawarkan itu seringkali diarahkan kepada keuntungan finansial. Bagaimana meraih profit sebanyak-banyaknya. Jadi, tingginya profit seakan-akan menjadi parameter bagaimana sebuah motivasi dan pengembangan diri itu seharusnya diarahkan. Hal seperti itu, menurut saya, bukan perkara substansif dalam meraih motivasi dan mengembangkan diri secara maksimal.

            Namun begitu, hal-hal yang berbau motivasi dan pengembangan diri itu juga begitu digemari oleh sebagian masyarakat di Indonesia. Sebutlah munculnya para motivator akhir-akhir ini yang sering saya dengar, seperi Tung Desem Waringin. Orang ini pernah membuat heboh dengan membuang-buang uang sebanyak seratus juta rupiah di sebuah lapangan luas di Serang, Banten, melalui pesawat terbang. Sontak, orang-orang yang berkerumun di lapangan itu saling berebut mengejar uang yang melayang-layang dihamburkan dari pesawat itu. Banyak aksi saling sikut tanpa melihat kanan-kiri, karena, tentu, uang yang melayang-layang itu terlalu mubazir untuk diacuhkan. 

            Belakangan diketahui, bahwa tindakannya itu hanyalah sebagai salah satu cara mempromosikan buku terbarunya. Bukunya itu tentang marketing. Judulnya lupa lagi. Tapi, pastinya tidak akan jauh dari ‘Bagaimana Anda Meraih Uang Sebanyak-Banyaknya sampe Mampus’. Tindakan Tung Desem Waringin itu sempat dikecam oleh beberapa pihak. Salah satunya dalam rubrik opini majalah Tempo edisi 9-15 Juni 2008.

            Begini tulisan yang tercantum di Tempo: “Tung Desem Waringin bukanlah anak kecil. Ia motivator yang konon nomor satu di negeri ini. Ia terpelajar dan tentu jauh dari sifat anak-anak kecil yang suka kurang ajar, meskipun Tung harus banyak lagi belajar. Terutama belajar menaruh iba kepada orang miskin tanpa menjadikan kemiskinan rakyat sebagai obyek promosi atau pemuas diri”.

             Nah, itulah Tung. Konon, cara yang ia lakukan itu adalah taktik marketing yang diulas dalam buku barunya itu. Jadi, intinya, bagaimana membuat masyarakat luas shock akan produk yang akan dipasarkan. Sehingga masyarakat luas akan melihat kepada produk yang ditawarkan tersebut. Menurut saya, bila memang mempunyai pemikiran seperti itu, Tung berhasil. Setidaknya kegiatannya itu diliput oleh media massa
dan bahkan diulas di rubrik opini Tempo. Setidaknya Tung berhasil mempraktekkan teorinya tentang merebut perhatian massa, walaupun caranya bodoh. 

            Lalu, selain Tung, ada motivator lainnya, yakni Mario Teguh. Mario memiliki acaranya sendiri di MetroTv. Dia adalah seorang motivator yang menyuguhkan penampilan sedikit teaterikal. Terutama bila membicarakan bagaimana ia mempresentasikan ide-idenya seputar motivasi dan pengembangan diri. Perhatikan intonasi suaranya yang berubah-rubah saat presentasi. Ada penekanan-penekanan tertentu dalam intonasinya tersebut yang bisa menarik perhatian khalayak yang mendengarkannya (pastinya bukan saya).

            Munculnya ‘profesi motivator’ di jaman modern ini, tentu menunjukkan bagaimana beberapa masyarakat memang tertarik terhadap hal-hal berbau motivasi dan pengembangan diri tersebut. Hal itu juga menjelaskan, kenapa buku-buku praktis pengembangan diri selalu laku dipasaran. Bahkan, dalam sampul bukunya seringkali kita melihat stiker bertuliskan ‘best-seller’.

              Melihat tingginya antusiasme khalayak terhadap hal-hal berbau pengembangan diri serta munculnya profesi motivator di jaman modern ini, saya merasa, bahwa ada sebuah cermin yang merefleksikan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Fenomena munculnya ‘profesi motivator’ dan juga digemarinya buku-buku pengembangan diri menunjukkan bagaimana rutinitas dunia industri yang kapitalistik dan tuntutan yang ditimbulkannya telah menciptakan ruang hampa dalam diri manusia. Ruang hampa itulah yang menjadi salah satu masalah manusia modern dan mereka berusaha mati-matian untuk mengisinya kembali. Dan salah satu caranya adalah dengan mencari-cari ekstase melalui buku-buku pengembangan diri dan, ya, para motivator itu. Itu juga, bagi saya, memberi suatu siratan, bahwa manusia tidak bisa lepas dari pencarian ekstase spiritual. Apapun bentuk ekstase spiritual itu.

Kecepatan dalam Dunia Industri Kapitalisme

            Dalam dunia industri, ‘kecepatan’ menjadi tuhan yang baru. Konsekuensinya, tindak laku manusia pun berorientasi pada bagaimana tuntutan kecepatan itu terpenuhi dengan seefisien mungkin. Maka dari itu, ketergesaan dan kepanikan massal menjadi hal yang lumrah terjadi. Akibatnya, karena tidak ingin tertinggal oleh kecepatan itu sendiri, muncullah gaya hidup instan. Gaya hidup yang mengutamakan hal-hal praktis (pikirin juga itu ‘Bahasa Jurnalistik’). Hal seperti itu juga mengakibatkan manusia kehilangan ‘kedalamannya’ sendiri. Tidak ada waktu bagi manusia untuk berkontemplasi dengan dirinya sendiri di jaman yang menuntut segala sesuatunya berjalan serba praktis dan efisien ini. Terlalu banyak tuntutan yang harus diperhatikan.

Disisi lain, ‘kecepatan’ itu menciptakan sebuah ruang hampa dalam diri manusia yang menggelutinya. Seperti yang pernah diutarakan oleh Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia yang Dilipat: durasi dan tempo kehidupan semakin cepat, akan tetapi semakin cepat bagi sebuah kehampaan dan fatalisme. Sebab, hidup dihabiskan untuk sebuah siklus kerja/hiburan yang berjalan dengan tempo yang tinggi, sehingga memerangkap manusia dalam irama percepatannya, dan sebaliknya, makin mempersempit waktu dan ruang bagi perjalanan kehidupan yang bermakna dan bernilai luhur. Ekstasi percepatan, di satu pihak, meningkatkan durasi kesenangan, di sisi lain, mempersempit durasi spiritual.

Penjelasan dari Yasraf di atas, buat saya, cukup memberikan landasan ketika memperhatikan trend berbau motivasi saat ini. Kita terasing, hampa, namun begitu, kita butuh sebuah bentuk spiritualitas dalam hidup yang hanya satu kali ini. Namun sayangnya, ‘spiritualitas praktis’ seperti motivasi-motivasi yang disampaikan oleh para motivator dan juga yang tercetak di buku-buku pengembangan diri, masih berorientasi pada pengembangan diri yang, ehm, dangkal (bila tidak ingin disebut ‘semu’).

Masalahnya begini, segala khotbah mengenai pengembangan diri dan gambaran mengenai pribadi yang sukses tersebut, selalu dibingkai dalam konteks dunia kerja yang kapitalistik. Ambil contoh misalnya buku ‘7 Habits of Highly Asshole People’ atau ‘Kiat Sun Tzu untuk Menjadi Mucikari Teladan’. Memang dalam buku itu dipaparkan mengenai pribadi yang tangguh, positif, blah-blah-blah. Tetapi, semua itu ujung-ujungnya selalu dalam konteks ‘bagaimana kamu mengambil peluang secara cepat untuk meraup profit sebanyak-banyaknya’. Manusia ingin untung, wajar. Tetapi, ‘untung’ dalam konteks dunia kerja…nanti dulu. Menjadi pribadi sukses dalam dunia kerja bukan berarti kamu sesukses itu. Banyak manajer yang berhasil membawa perusahaannya ke tangga kesuksesan, tapi ternyata istri/suami di rumah menganggap sebaliknya. Bahkan anaknya sendiri pun malah mencibirnya. Atau, banyak pula sebuah perusahaan yang sukses, selalu ekspansi kemana-mana, akan tetapi seringkali tidak memperdulikan hak-hak ulayat.

Lalu, masalah lainnya adalah, bahwa hal-hal yang berbau motivasi itu juga seringkali mendikte seseorang untuk berubah menjadi sesuatu yang terkesan artifisial. Menurut saya, pengembangan diri dan menjadi pribadi yang sukses bukanlah melalui seperangkat tata cara ‘kamu harus begini’ atau ‘kamu harus begitu’. Dalam pengembangan diri, tidak ada yang praktis dan instan. Pengembangan diri, bagi saya, tidak melulu diperoleh melalui sebuah jawaban-jawaban praktis yang tersedia begitu saja dalam sebuah buku atau khotbah para motivator, tetapi seringkali melalui pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan.

Dan para filsuf jaman Yunani kuno itu bertanya-tanya dan itulah yang membuat diri mereka berkembang. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun menyepi dari keramaian. Mempertanyakan segala sesuatunya. Hasilnya, pemikiran-pemikiran filsuf jaman Yunani kuno itu setidaknya memberikan pengaruh dan landasan yang besar terhadap perkembangan kebudayaan dan peradaban dunia hingga saat ini. Lalu, lihat riwayat nabi kaum muslim, yakni Muhammad. Ia mempunyai kebiasaan menyepi di gua hira tiap tahun. Muhammad menyepi ke gua Hira pastinya bukan untuk sekadar bengong. Tetapi, pasti ada sesuatu yang dipikirkannya. Oleh karena itu, Muhammad Husein dalam buku tentang biografi Muhammad menyebut, periode bertapa ke gua hira itu adalah proses pematangan berpikir Muhammad yang pada gilirannya membawa dia menjadi seorang rasul atau utusan untuk semua orang.

Tentu saja setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri mengenai bagaimana agar dirinya bisa diselamatkan dari kesedihan hidup. Penyelamatan yang saya lakukan sangat mungkin tidak sesuai dengan jenis penyelamatan yang sering Anda lakukan selama ini. Klise memang: semuanya tergantung pada metode yang paling sesuai untuk dirinya sendiri. Terdengar sangat liberal. Dan saya memang tidak pernah memperdulikan apapun sejauh ini. Wallahualam.