Rabu, 25 Februari 2009

Ulysses

Ulysses
(by: Tennyson)

Come my friends,
tis not too late to seek a newer world...
for my purpose holds
to sail beyond the sunset...and though
we are not now that strength which in old days
moved earth and heaven; that which we are, we are...
one equal temper of heroic hearts,
made weak by time and fate, but strong in will
to strive, to seek, to find, and not to yield.


Saat membaca puisi dari Tennyson ini, tiba-tiba saja saya teringat kawan-kawan yang diwisuda. Tiba-tiba saja saya memikirkan kisah lain dibalik wisuda kawan-kawan: bahwa waktu itu terus berputar dan sebuah masa akan menemui akhirnya sendiri dan digantikan oleh yang lain. dan dibalik itu semua, ada kehilangan, ada perpisahan, dan kenangan akan suatu pengalaman yang dulu disatukan, namun sekarang terpecah saat perlahan dari kita mulai menyongsong kehidupannya masing-masing di luar sana.

Saya tidak menyukai kehidupan yang sedih dan melankolia yang berlarut-larut. Walau dalam satu titik, kesedihan dan melankolia itu bisa menyumbangkan energi yang sangat kuat. Saya masih percaya optimisme, sekecil apapun itu. Dan membaca Ulysses ini, saya merasakan sebuah contoh tepat yang menggambarkan bagaimana kesedihan dan harapan bergejolak dalam porsinya masing-masing: saling mendukung. Bukan saling meniadakan. Tidak ada cerita yang lebih dramatis dan agung dibandingkan cerita tentang bagaimana sebuah harapan berkecamuk gelisah diantara ketakutan yang menyedihkan.

Seperti salah satu fragmen Ulysses: "...and though we are not now that strength which in old days", seolah-olah kita terpaksa untuk menerima kenyataan pahit dalam kehidupan: bahwasannya kita menua dan lain-lain yang ada sebelumnya menghilang. Gambaran ini tentu menyedihkan.Namun demikian, kenyataan pahit itu tidak lantas memberi rasa sedih sebuah ruang yang leluasa. karena pada akhirnya muncul fragmen lain: "made weak by time and fate, but strong ini will/to strive, to seek, to find, and not to yield".

Harapan dan kesedihan itu hadir bagai dua buah kutub yang bertolak belakang, namun pada satu titik ia saling mengisi bagai sepasang kekasih dan mendorong sebuah gerak laju. seolah-olah Ulysses hadir dan berkata pada kita agar tidak berjalan di tempat, namun justru menyongsong hari yang penuh ketidakpastian ini dengan menjaga api harapan di dalam dada agar terus membara. Memang kehidupan adalah sesuatu yang menyusahkan dan tidak gampang. Tetapi, tidak ada yang lebih mendebarkan dibandingkan ketika kita terus berjalan dengan rasa takut akan ketidakpastian hidup. Berdebar-debar, itulah esensi hidup, karena kelegaan hanya ada di akhir perjalanan.

Dan untuk teman-teman yang diwisuda...teman kalian, si abo ini, mengeluarkan sebuah fatwa yang haram hukumnya bila tidak diikuti. fatwa itu adalah: NIKMATI SEMUA SUMSUM KEHIDUPAN. CARPE DIEM SEIZE THE DAY!


cheersh.



Jumat, 20 Februari 2009

Para Motivator Ditambah Buku-bukunya

Sebenarnya saya selalu skeptis terhadap buku-buku ‘motivasi’ dan ‘pengembangan’ diri. Sebutlah buku-buku Dale Carnagie atau Stephen R. Covey, misalnya. Yah, pokoknya buku-buku yang isinya selalu ada embel-embel ‘bagaimana meraih teman sebanyak mungkin’, ‘bagaimana membuat hidup Anda bahagia selalu’…hal-hal seperti itulah. Menurut saya, motivasi-motivasi dan pengembangan diri seperti itu terasa hanya memberikan solusi-solusi praktis saja. Dan ujung-ujungnya, motivasi dan pengembangan diri yang ditawarkan itu seringkali diarahkan kepada keuntungan finansial. Bagaimana meraih profit sebanyak-banyaknya. Jadi, tingginya profit seakan-akan menjadi parameter bagaimana sebuah motivasi dan pengembangan diri itu seharusnya diarahkan. Hal seperti itu, menurut saya, bukan perkara substansif dalam meraih motivasi dan mengembangkan diri secara maksimal.

            Namun begitu, hal-hal yang berbau motivasi dan pengembangan diri itu juga begitu digemari oleh sebagian masyarakat di Indonesia. Sebutlah munculnya para motivator akhir-akhir ini yang sering saya dengar, seperi Tung Desem Waringin. Orang ini pernah membuat heboh dengan membuang-buang uang sebanyak seratus juta rupiah di sebuah lapangan luas di Serang, Banten, melalui pesawat terbang. Sontak, orang-orang yang berkerumun di lapangan itu saling berebut mengejar uang yang melayang-layang dihamburkan dari pesawat itu. Banyak aksi saling sikut tanpa melihat kanan-kiri, karena, tentu, uang yang melayang-layang itu terlalu mubazir untuk diacuhkan. 

            Belakangan diketahui, bahwa tindakannya itu hanyalah sebagai salah satu cara mempromosikan buku terbarunya. Bukunya itu tentang marketing. Judulnya lupa lagi. Tapi, pastinya tidak akan jauh dari ‘Bagaimana Anda Meraih Uang Sebanyak-Banyaknya sampe Mampus’. Tindakan Tung Desem Waringin itu sempat dikecam oleh beberapa pihak. Salah satunya dalam rubrik opini majalah Tempo edisi 9-15 Juni 2008.

            Begini tulisan yang tercantum di Tempo: “Tung Desem Waringin bukanlah anak kecil. Ia motivator yang konon nomor satu di negeri ini. Ia terpelajar dan tentu jauh dari sifat anak-anak kecil yang suka kurang ajar, meskipun Tung harus banyak lagi belajar. Terutama belajar menaruh iba kepada orang miskin tanpa menjadikan kemiskinan rakyat sebagai obyek promosi atau pemuas diri”.

             Nah, itulah Tung. Konon, cara yang ia lakukan itu adalah taktik marketing yang diulas dalam buku barunya itu. Jadi, intinya, bagaimana membuat masyarakat luas shock akan produk yang akan dipasarkan. Sehingga masyarakat luas akan melihat kepada produk yang ditawarkan tersebut. Menurut saya, bila memang mempunyai pemikiran seperti itu, Tung berhasil. Setidaknya kegiatannya itu diliput oleh media massa
dan bahkan diulas di rubrik opini Tempo. Setidaknya Tung berhasil mempraktekkan teorinya tentang merebut perhatian massa, walaupun caranya bodoh. 

            Lalu, selain Tung, ada motivator lainnya, yakni Mario Teguh. Mario memiliki acaranya sendiri di MetroTv. Dia adalah seorang motivator yang menyuguhkan penampilan sedikit teaterikal. Terutama bila membicarakan bagaimana ia mempresentasikan ide-idenya seputar motivasi dan pengembangan diri. Perhatikan intonasi suaranya yang berubah-rubah saat presentasi. Ada penekanan-penekanan tertentu dalam intonasinya tersebut yang bisa menarik perhatian khalayak yang mendengarkannya (pastinya bukan saya).

            Munculnya ‘profesi motivator’ di jaman modern ini, tentu menunjukkan bagaimana beberapa masyarakat memang tertarik terhadap hal-hal berbau motivasi dan pengembangan diri tersebut. Hal itu juga menjelaskan, kenapa buku-buku praktis pengembangan diri selalu laku dipasaran. Bahkan, dalam sampul bukunya seringkali kita melihat stiker bertuliskan ‘best-seller’.

              Melihat tingginya antusiasme khalayak terhadap hal-hal berbau pengembangan diri serta munculnya profesi motivator di jaman modern ini, saya merasa, bahwa ada sebuah cermin yang merefleksikan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Fenomena munculnya ‘profesi motivator’ dan juga digemarinya buku-buku pengembangan diri menunjukkan bagaimana rutinitas dunia industri yang kapitalistik dan tuntutan yang ditimbulkannya telah menciptakan ruang hampa dalam diri manusia. Ruang hampa itulah yang menjadi salah satu masalah manusia modern dan mereka berusaha mati-matian untuk mengisinya kembali. Dan salah satu caranya adalah dengan mencari-cari ekstase melalui buku-buku pengembangan diri dan, ya, para motivator itu. Itu juga, bagi saya, memberi suatu siratan, bahwa manusia tidak bisa lepas dari pencarian ekstase spiritual. Apapun bentuk ekstase spiritual itu.

Kecepatan dalam Dunia Industri Kapitalisme

            Dalam dunia industri, ‘kecepatan’ menjadi tuhan yang baru. Konsekuensinya, tindak laku manusia pun berorientasi pada bagaimana tuntutan kecepatan itu terpenuhi dengan seefisien mungkin. Maka dari itu, ketergesaan dan kepanikan massal menjadi hal yang lumrah terjadi. Akibatnya, karena tidak ingin tertinggal oleh kecepatan itu sendiri, muncullah gaya hidup instan. Gaya hidup yang mengutamakan hal-hal praktis (pikirin juga itu ‘Bahasa Jurnalistik’). Hal seperti itu juga mengakibatkan manusia kehilangan ‘kedalamannya’ sendiri. Tidak ada waktu bagi manusia untuk berkontemplasi dengan dirinya sendiri di jaman yang menuntut segala sesuatunya berjalan serba praktis dan efisien ini. Terlalu banyak tuntutan yang harus diperhatikan.

Disisi lain, ‘kecepatan’ itu menciptakan sebuah ruang hampa dalam diri manusia yang menggelutinya. Seperti yang pernah diutarakan oleh Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia yang Dilipat: durasi dan tempo kehidupan semakin cepat, akan tetapi semakin cepat bagi sebuah kehampaan dan fatalisme. Sebab, hidup dihabiskan untuk sebuah siklus kerja/hiburan yang berjalan dengan tempo yang tinggi, sehingga memerangkap manusia dalam irama percepatannya, dan sebaliknya, makin mempersempit waktu dan ruang bagi perjalanan kehidupan yang bermakna dan bernilai luhur. Ekstasi percepatan, di satu pihak, meningkatkan durasi kesenangan, di sisi lain, mempersempit durasi spiritual.

Penjelasan dari Yasraf di atas, buat saya, cukup memberikan landasan ketika memperhatikan trend berbau motivasi saat ini. Kita terasing, hampa, namun begitu, kita butuh sebuah bentuk spiritualitas dalam hidup yang hanya satu kali ini. Namun sayangnya, ‘spiritualitas praktis’ seperti motivasi-motivasi yang disampaikan oleh para motivator dan juga yang tercetak di buku-buku pengembangan diri, masih berorientasi pada pengembangan diri yang, ehm, dangkal (bila tidak ingin disebut ‘semu’).

Masalahnya begini, segala khotbah mengenai pengembangan diri dan gambaran mengenai pribadi yang sukses tersebut, selalu dibingkai dalam konteks dunia kerja yang kapitalistik. Ambil contoh misalnya buku ‘7 Habits of Highly Asshole People’ atau ‘Kiat Sun Tzu untuk Menjadi Mucikari Teladan’. Memang dalam buku itu dipaparkan mengenai pribadi yang tangguh, positif, blah-blah-blah. Tetapi, semua itu ujung-ujungnya selalu dalam konteks ‘bagaimana kamu mengambil peluang secara cepat untuk meraup profit sebanyak-banyaknya’. Manusia ingin untung, wajar. Tetapi, ‘untung’ dalam konteks dunia kerja…nanti dulu. Menjadi pribadi sukses dalam dunia kerja bukan berarti kamu sesukses itu. Banyak manajer yang berhasil membawa perusahaannya ke tangga kesuksesan, tapi ternyata istri/suami di rumah menganggap sebaliknya. Bahkan anaknya sendiri pun malah mencibirnya. Atau, banyak pula sebuah perusahaan yang sukses, selalu ekspansi kemana-mana, akan tetapi seringkali tidak memperdulikan hak-hak ulayat.

Lalu, masalah lainnya adalah, bahwa hal-hal yang berbau motivasi itu juga seringkali mendikte seseorang untuk berubah menjadi sesuatu yang terkesan artifisial. Menurut saya, pengembangan diri dan menjadi pribadi yang sukses bukanlah melalui seperangkat tata cara ‘kamu harus begini’ atau ‘kamu harus begitu’. Dalam pengembangan diri, tidak ada yang praktis dan instan. Pengembangan diri, bagi saya, tidak melulu diperoleh melalui sebuah jawaban-jawaban praktis yang tersedia begitu saja dalam sebuah buku atau khotbah para motivator, tetapi seringkali melalui pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan.

Dan para filsuf jaman Yunani kuno itu bertanya-tanya dan itulah yang membuat diri mereka berkembang. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun menyepi dari keramaian. Mempertanyakan segala sesuatunya. Hasilnya, pemikiran-pemikiran filsuf jaman Yunani kuno itu setidaknya memberikan pengaruh dan landasan yang besar terhadap perkembangan kebudayaan dan peradaban dunia hingga saat ini. Lalu, lihat riwayat nabi kaum muslim, yakni Muhammad. Ia mempunyai kebiasaan menyepi di gua hira tiap tahun. Muhammad menyepi ke gua Hira pastinya bukan untuk sekadar bengong. Tetapi, pasti ada sesuatu yang dipikirkannya. Oleh karena itu, Muhammad Husein dalam buku tentang biografi Muhammad menyebut, periode bertapa ke gua hira itu adalah proses pematangan berpikir Muhammad yang pada gilirannya membawa dia menjadi seorang rasul atau utusan untuk semua orang.

Tentu saja setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri mengenai bagaimana agar dirinya bisa diselamatkan dari kesedihan hidup. Penyelamatan yang saya lakukan sangat mungkin tidak sesuai dengan jenis penyelamatan yang sering Anda lakukan selama ini. Klise memang: semuanya tergantung pada metode yang paling sesuai untuk dirinya sendiri. Terdengar sangat liberal. Dan saya memang tidak pernah memperdulikan apapun sejauh ini. Wallahualam. 

 

 

  

           

    

             

             

 

  

        
 
   

             

             

Jumat, 16 Januari 2009

Another Morning Stoner

Ada awan hitam menggelayut jauh di atas atap-atap rumah. Begitu tebal awan itu, hingga sinar mentari harus merayap susah payah mencari celah agar bisa meluncur ke tanah bumi. Dan di bawah awan hitam itu, bayang-bayang manusia yang bergerak lincah di permukaan tanah semakin memudar. Padahal, saat itu siang seharusnya berada pada titik yang paling terang. Awan hitam yang menggumpal itulah penyebabnya. Yang menghalau sinar matahari untuk menghujam bumi. Menjadikan siang begitu temaram di bawah naungannya.

Beberapa tahun kebelakang, bila awan-awan hitam itu terlihat mulai menutupi langit dan setiap bayangan di permukaan bumi berangsur memudar, buru-buru kuseduh kopi dan segera duduk di teras rumah. Kunantikan tetesan air hujan pertama yang jatuh ke tanah. Kunantikan bagaimana jalan yang kering dan berdebu diguyur oleh air yang digiring oleh awan hitam itu. Lalu, bila hujan turun, akan terdengar bunyi yang menyatu seperti sebuah simponi. Ada orkestra, ketika air hujan itu menghantam seng, mengalir di pipa paralon, atau jatuh beradu dengan air hujan lainnya yang tertampung di sebuah ember. Suara-suara gemercik itu bisa mengantarkan imajinasimu untuk mengalun di alam pikiranmu sendiri.

Tetapi, akhir-akhir ini aku tidak menantikan datangnya sebuah hujan. Perasaanku terhadap hujan sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Berada di siang yang mendung bukanlah ide yang bagus buatku saat ini. Seperti ada fragmen-fragmen yang mencuat dari dalam benak bila awan hitam di atasku itu sudah mulai bergerak dan menghimpun kekuatan untuk menghalau sinar matahari. Fragmen-fragmen itu selalu merengek agar bisa dilekatkan dalam benak. Sekuat tenaga aku selalu berusaha membuang jauh-jauh fragmen-fragmen itu, tetapi seiring dengan semakin tebalnya gumpalan awan hitam, semakin pekat pula fragmen-fragmen itu di dinding alam pikiranku.

Seperti hari ini. Hari yang menjadi permulaan tahun. Ada awan hitam yang menghalau sinar mentari. Ada suara yang menggebu-gebu seperti gemuruh kecil, ketika angin berhembus kencang. Ranting-ranting pohon bergoyang gontai didera angin. Suara daun yang saling bergesekan terasa meringis bagai didera pilu karena terombang-ambing oleh kencangnya angin. Hujan memang belum turun jua, namun gumpalan awan hitam yang sedari pagi menggantung di bentangan langit itu membuat pikiran risau.

Ku bayangkan bagaimana langit begitu terang benderang di balik gumpalan awan hitam itu,. Kontras dengan keadaan permukaan bumi yang berada di bawah awan hitam yang terasa suram. Mungkin di balik awan hitam itu ada awan-awan putih sehalus kapas. Awan-awan yang halus dan polos. Kubayangkan bagaimana awan-awan putih itu sebagian bercampur dengan awan hitam. Sesekali juga mungkin nampak kilatan-kilatan petir dari awan hitam di bawah. Pastinya langit dibalik awan hitam itu akan terlihat lebih terang benderang dan menakjubkan. Berbeda dengan keadaan di permukaan bumi.

Kubayangkan Ikarus. Ia juga pernah memandang lurus kelangit. Ia malah berpikir untuk menembus langit itu. “Aku ingin bertemu Tuhan di surga,” katanya kepada diri sendiri. Dan ternyata terbanglah ia dengan sayap terbuat dari lilin yang menempel di punggungnya.

Tidak seperti diriku yang cukup melamun di bawah awan hitam, Ikarus berhasil menembus sang awan dan terus melesat menembus langit. Ia terbang melewati bintang-bintang. Terus melayang di angkasa raya yang megah. Hingga suatu saat, tak sadar Ikarus ternyata terbang mendekati sang surya. Sayap-sayap lilin yang menempel dipunggungnya pun perlahan meleleh. Terlambat bagi Ikarus untuk menyadari, bahwa sayap-sayap lilin itu tidak tahan terhadap tempaan panas sinar Sang Surya. Dan jatuhlah Ikarus ke permukaan bumi. Ia jatuh dan mendarat di sebuah danau. Danau yang indah dan menakjubkan. Begitu indah dan menakjubkan danau beserta pemandangan alamnya itu, sehingga Ikarus terlena untuk terus berdiam selamanya disana dan melupakan keinginannya untuk ke surga bertemu Tuhan.

“Toh, Tuhan ada juga disini. Di Danau ini. Kiranya diriku tak usah lagi mencari-cari surga,” Ia bergumam.


The Wedding Ruiner (Part I)




Hmm...foto ini sudah lama berkubang di draft juga. Saya baru sadar sekarang. Dokumentasi foto pas kawinan temen. Awal tahun ini sudah lima kali saya menghadiri undangan kawinan teman-teman sekolah dulu. Waw, haha, sepertinya untuk urusan kawin-mawin ini saya tertinggal. Hehe, tapi datang ke kawinan temen juga seperti mengadakan reuni. Beberapa teman-teman lawas hadir. Ujung-ujungnya nostalgia. Ha.

Senin, 15 Desember 2008

Lagu Apa yang Bisa Didengarkan Ketika Anda Patah Hati?

Baiklah. Anda jatuh cinta. Tiba-tiba saja hari Anda cerah terang benderang. Anda terus teringat tentang hari kemarin, ketika si do’i ternyata mengklaim menyimpan rasa suka juga kepada Anda. O, ya, ya…Anda pikir ini semua sudah sempurna. Timbal-baliknya bagus, Anda berpikir dalam hati sambil senyam-senyum sendiri di angkot. Kenek yang berasal dari Tapanuli yang tadinya mau nagih ongkos jalan pun jadinya urung menagih, karena mengira Anda adalah orgil yang salah masuk angkot. Si kenek sudah curi-curi pandang kepada Marpaung, sopir angkot Cicaheum-Cibaduyut yang Anda tumpangi itu. Si Marpaung tidak melihat ke kenek, karena Marpaung melihat ke jalan. Sedangkan kenek ada di ‘lawang panto’ belakang. Jadi, tidak mungkin bila Marpaung terus-terusan melihat ke ‘lawang panto’ belakang, karena bila begitu, siapa yang akan lihat ke jalan di depan?


Nah, sudahlah, pikir kenek itu. Biarkan saja orang yang senyam-senyum itu sendirian di pojok. Lalu, ketika angkot berada di daerah Kiaracondong…what the fuck? Anda melihat si do’i yang kemarin mengklaim menyimpan rasa suka juga terhadap Anda ternyata sedang berduaan sama ‘the other’. Ekspresi cengar-cengir Anda itu tiba-tiba berubah jadi raut wajah yang masam. Mereka sedang melihat-lihat ular sanca yang digelar di sisi jalan. Uh, tau gak apa yang bikin Anda panas? Mereka terlihat sangat mesra sekali. Saling melingkarkan lengan ke arah pinggul (itu berarti beberapa inci lagi mendekati pantat). Bluah….Anda panas. Anda berharap Anda adalah ular sanca yang ada di pinggir jalan itu, sehingga Anda bisa menerkam mereka berdua. Tapi, Anda bukan ular sanca. Anda adalah penumpang angkot jurusan Cicaheum-Cibaduyut yang disupiri oleh Marpaung dan dikeneki oleh Sirajagukguk. Anda cemburu buta disitu. Pacaran yang telah berjalan selama satu hari, ternyata sia-sia belaka. Bagian yang paling parahnya adalah: fakta bahwa Anda dipermainkan sekaligus diduakan oleh si do’i. Sudah, cukup. Ini brutal, saudara. Bila gelap mata, dunia pasti tidak kelihatan.


Ada baiknya, saudara-saudara, bila Anda patah hati, Anda bersikap tenang. Akan lebih baik, bila Anda mendengarkan beberapa lagu yang bisa mengendurkan syaraf, sehingga pada gilirannya pikiran Anda akan menjadi lebih rileks. Nih, saya kasih tau soundtrack bagi mereka yang sedang patah hati. Mau didenger, mangga. Ga juga ga apa-apa. Saya mah ga peduli. Hehe. Lagipula, ini mah keisengan belaka. Bukan sesuatu yang serius. Cheersh.



Judul Lagu :
Evil Woman (Don’t Play Your Games With Me)
Band :
BLACK SABBATH
Album :
Self Titled

Lirik
I see the look of evil in your eyes / women filling me is full of lies / sorrow will not change your shameful deals / you will pass someone else instead of me / evil woman don’t you play your games with me /
Komentar
No-no-no…saya turut prihatin mendengar kabar, bahwa Anda telah dipermainkan secara fisik dan batin oleh wanita yang Anda puja-puja selama ini. Tapi tetaplah tenang, karena Ozzy Osbourne pun pernah merasakan hal yang sama dengan Anda. Coba perhatikan lagu Evil Woman. Setidaknya Anda tidak sendirian dalam menjalani penderitaan cinta ini (oouuwww, ahahaha, penderitaan, bow!).


Lagu Evil Woman ini diambil dari album perdananya Black Sabbath yang keluar di tahun 1970. Album perdana Black Sabbath ini pada perkembangannya banyak mempengaruhi musisi-musisi, terutama heavy metal, yang datang sesudahnya, hingga saat ini. Riff bluesy rock and roll horornya memberi dampak yang bisa dibilang tidak kecil. Coba perhatikan riff-riff yang ada pada band rock n roll ataupun heavy metal saat ini, pasti saja ada pattern yang bermuara ke Black Sabbath. Seperti yang dikatakan oleh Rob Zombie, band heavy metal berjenis apapun, yang cepat ataupun lambat, mempunyai utang yang tidak akan bisa terlunasi pada Black Sabbath.


Bila wajah musik heavy metal bisa berubah dan banyak musisi heavy metal saat ini begitu terpenngaruh karena Black Sabbath, mungkin hal itu juga bisa terjadi pada Anda, seseorang yang sedang patah hati. Setelah mendengarkan Black Sabbath, bukan tidak mungkin Anda menjadi seseorang yang tangguh menanggung yang namanya ‘penderitaan cinta’. Ahahaha, saya make kata penderitaan cinta lagi. Kamana ateuh derita!heuheu.



Judul Lagu :
Just Friends (Empty Love)
Band :
ST. VITUS
Album :
Hallows Victim
Lirik :

I don't want your empty love
Just leave me alone
I have done OK so far
Living on my own
You said you could give me shelter
Underneath your wing
But all I ever got from you
Was hate and misery


Komentar:
Tuhan Maha Mengetahui, bagaimana Anda susah payah berenang dari Pulau Samoa langsung menuju Cicadas, Bandung, hanya untuk menemui pujaan hati yang selama ini memenuhi hati Anda. Tapi, apa lacur, ketika Anda berhasil menemui pujaan hati dan memberikan boneka Panda yang yang sudah susah payah Anda buat dari kumpulan kulit orok selama sebulan lebih itu, sang Pujaan Hati menerimanya dengan cara yang mengingatkan pada rektor Anda di kampus: begitu formal dan resmi. Dan diatas segalanya, membuat patah hati. Begini kira-kira kata yang keluar dari sang Pujaan Hati, ehm (bersiap-siap ngemiripin suara kaya si Ganjar rektor Unpad itu), “Terima Kasih atas kadonya yang sungguh mengesankan ini. Bersamaan dengan ini juga saya terima kado yang Saudara berikan kepada saya di hari yang cerah ini pada tanggal bla-bla-bla, hari ‘anu’. Peristiwa ini juga kiranya menjadi sebuah momentum yang akan semakin mengeratkan ikatan pertemanan kita selama ini. Dan maaf, saya tidak bisa lama-lama memberi sambutan, karena hari ini sebenarnya saya ada kencan dengan Boneng, itu, yang anaknya dokter spesialis penyakit kelamin itu. Mari. Assalamualaikum.”
Sesunggguhnya Tuhan memang Maha Membalas.




Judul Lagu :
Black Wedding
Band :
SUNN O)))
Album :
The Grimmrobe Demos
Lirik
tidak ada lirik
Komentar

Misalnya Anda menyukai seseorang yang akan menikah dengan orang lain. Tentu Anda tidak bisa melakukan apa-apa, karena, toh, kartu undangan sudah menyebar kemana-mana. Tapi, jangan khawatir…ada satu hal terakhir yang masih bisa Anda lakukan. Ketika resepsi pernikahannya sudah dimulai, coba Anda datang sambil bawa cd player. Daripada mendengarkan lagu-lagu sunda yang membosankan itu, lebih baik Anda ganti playlistnya dengan lagu SUNN O))) berjudul ‘Black Wedding’. Putar dengan volume maksimum (ditambah speaker surround akan lebih bagus). Dijamin, saya jamin, hati Anda akan terhibur dan tenang melihat bagaimana para tamu undangan dan bahkan pengantinnya sendiri lari terbirit-birit karena aroma teror audio dari band ambient doom ini begitu kuat. Apabila sudah begitu, mungkin Anda dan teman-teman yang Anda ajak ke pernikahan itu bisa mencicipi hidangan yang tersedia di perkawinan dengan sepuasnya tanpa harus repot-repot antri. Setidaknya ada dua keuntungan disini, pertama, Anda bisa tertawa ngakak ngeliat orang-orang yang lari terbirit-birit dan kedua, perut Anda pun kenyang.



Judul Lagu :
I Wanna Be A Sex Symbol On My Own Terms
Band :
BOTCH
Album :
We Are the Romans












Lirik
All I know I've seen through a lens
All I feel
I've learned through pages
She's a perfect ten
Here's the supermodel for you to follow
She's
bringing something new
Worked her for so long and we've lost
Komentar

Uh, Anda begitu kesal pada sang do’I akhir-akhir ini. Dia terlalu banyak menuntut dan tuntutannya pun memang benar-benar tidak masuk akal. Do’I nuntut supaya tubuh kamu dibikin sintal kaya artis Novia Kolopaking atau dibuat berotot dan gagah seperti bintang laga Advent Bangun. Anda pun sudah balik berargumen, “perut Akang yang buncit mah emang udah gini dari dulu, Neng?!” atau untuk kaum Hawa, “Gimana lagi atuh Kang, Eneng mah da waktu lahir juga prematur. Jadi, mau digimana-manain juga tetep aja kerempeng.”
Do’I memang ngerti sama alasan Anda, tapi keesokan harinya do’I langsung memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun. Selang berapa hari juga do’I sudah punya pacar baru yang tubuhnya sintal kaya Novia Kolopaking atau gagah kaya Advent Bangun itu. Anda lemas dan galau. Salah apa coba Anda. Padahal, Tuhan pun Maha Mengetahui, bahwa Novia Kolopaking dan Advent Bangun pun mempunyai bahan material yang sama dengan Anda ketika diciptakan, yaitu sperma. Tapi, ah, jangan dipikirin kelakuan absurd si do’I itu, coy. Tinggalin aja.


Tapi, sebelum ditinggalin itu si do’I, lebih baik Anda dengarkan dulu Botch, band asal Boston yang jadi pionir genre mathrock/posthardcore ini. Karena, Tuhan memang Maha Pembalas, Botch juga bisa menendang pantat mantan Anda dengan lagu chaotic surrealnya yang berjudul ‘I Wanna Be a Sex Symbol on My Own Terms’! dari judul lagunya yang panjang pun Anda sudah bisa menebak keseluruhan liriknya seperti apa. Tidak ada seorang pun, termasuk pacar Anda, yang bisa menuntut Anda berubah menjadi sesuatu yang bukan diri Anda seutuhnya. Karena Anda adalah si perut buncit yang humoris dan si kerempeng yang periang. Lagipula, lihat, banyak orang yang menyenangi Anda, walaupun perut Anda memang buncit atau perawakan Anda kerempeng sedari lahir. Di atas segalanya, Anda adalah sederajat dengan manusia lain, punya dan bisa berpendapat menurut sudut pandang Anda sendiri. Jadi, ayo, tendang pantat mantan Anda itu sekeras-kerasnya!ahaha.



Judul Lagu :
All Is Not Lost / In This Life
Band :
SEEMLESS
Album :
Untitled
Lirik

Watching the tide rise and fall / reminds me…of our mortality / Our days are few / So hold close to the time we have / In this life / Into your hands… / I commend my self a sacrifice / a path of life that pacifies / To reveal the beauty of this life….
Komentar
…engga, ini serius. Kalau Anda menghadapi musibah (atau patah hati) dan ingin mencari pencerahan layaknya siraman rohani ala Aa Gym tetapi dengan cara metal dan rock and roll…Anda bisa dengarkan lagu ini. Band stoner-metal yang penuh dengan lirik-lirik introspektif. Musiknya seperti CORROSION OF CONFORMITY, SOUNDGARDEN, KYUSS dan apapun yang bernuansa hardrock 90an. Lirik-liriknya pun mempunyai tendensi yang positif dan bersifat ‘membangun kepribadian’ ke arah yang lebih baik. Coba dengarkan. It’s like getting spiritualized, but in a good ol’ metal way.