Sejauh mana diri kita
mau melakukan sesuatu yang dipaksakan? Sejauh mana kita ingin memikul beban
dari hal-hal yang tidak disukai, namun harus tetap dilakukan, semata-mata agar
kehidupan masih bisa berlanjut esok hari?
Minggu, 31 Mei 2020
Selasa, 19 Mei 2020
Catatan tentang Contagion: Perkara Kepercayaan Kepada Pakar dan Sains (Bagian 2-Rebes Bos)
I
Ini sebenarnya bermula
dari rasa penasaran saja setelah menonton film Contagion. Penasaran kira-kira
apa yang ada dalam benak pembuatnya ketika mengetahui bila dunia saat ini
berjalan sangat mirip dengan apa yang mereka buat delapan tahun lalu. Petikan
wawancara Michelle L.. Norris dengan penulis naskah Contagion, Scott Z. Burns,
akhirnya kutemukan di laman daring the
Washington Post.
Jumat, 15 Mei 2020
Catatan tentang Contagion (Bagian 1)
Sekelibat aku kerap
mendengar tentang film ini, Contagion. Film yang dibuat tahun 2011 tentang
pandemi virus global. Kata orang-orang, gambaran pandemi virus dalam film yang
disutradarai oleh Steven Soderbergh itu mendekati peristiwa global yang terjadi
akhir-akhir ini tentang pandemi virus corona.
Jumat, 27 Maret 2020
Tentara Industri Cadangan
Sering aku merasa heran
dengan diri sendiri bisa merasakan kuliah pascasarjana. Apalagi merasakannya
dengan uang sendiri, uang yang kukumpulkan dari hasil bekerja selama 8 tahun
terakhir. Semua orang di negeri ini tahu, pendidikan adalah hal yang mewah,
terutama pendidikan tinggi pascasarjana. Menjadi mewah karena biayanya yang memang
tidak murah. Tapi, disinilah ternyata kita. Aku sendiri sering merasa tidak
percaya.
Sabtu, 08 Februari 2020
Aurora Journalismo
Lapangan jurnalistik
tengah berubah kini. Berubah menjadi sesuatu yang belum diketahui benar. Tapi,
satu yang pasti, tuntutan bisnis yang melingkupi perkembangan teknologi digital
menjadi pendorong kuat perubahan itu. Kajian Ross Tapsell, dalam Media Power in Indonesia, menunjukkan adanya perubahan konfigurasi
perusahaan media arus utama ke arah oligarki dan kaitan para elitnya dalam
relasi-relasi politik, seiring teknologi digital diadopsi dalam industri media.
Arah yang mengkhawatirkan bila mengingat media massa selama ini dipandang
sebagai sarana yang efektif menyebarluaskan pesan simbolik yang dapat
mempengaruhi khalayak.
Kamis, 16 Januari 2020
Sirkus Politik
Sirkus politik pemerintahan
akhir-akhir ini sungguh luar biasa bikin migren. Mulai dari koalisi partai
politik, bergabungnya gerbong Om Prabs, komposisi kabinet Om Joks sampai arah
kebijakannya. Melihat semua dinamika itu, mulai dari penentuan koalisi sampai
arah kebijakan, bagiku terasa cukup turun naik. Tapi, tetap saja ada benang
merahnya: seakan-akan semuanya itu menjauh dari perspektif kerakyatan.
Rabu, 17 Juli 2019
Semua Orang Berbohong
Davidowitz
melihat fakta bahwa penetrasi internet ke dalam kehidupan bisnis dan sosial
memunculkan kemungkinan baru dalam mengamati perilaku manusia. Kesan yang
muncul dari tulisannya mengenai perilaku manusia sebelum era internet adalah
bahwa manusia itu sumber segala bias. Manusia cenderung berbohong kepada orang
lain, bahkan kepada dirinya sendiri.
Minggu, 30 Juni 2019
Politik Jatah Preman
Bila disebut “mind blowing”,
mungkin buku Politik Jatah Preman karya Ian Douglas Wilson bisa dibilang
demikian. Tulisannya mengenai dinamika jejaring preman di perkotaan, khususnya
Jakarta, sangat membuka pandangan tentang seluk-beluk kehidupan kota di level
yang sangat bawah. Aku tekankan sekali lagi, kota di level yang sangat bawah. Buatku, penelitian sosial yang
benar-benar meneropong dinamika kuasa dari aras “rakyat kebanyakan” di
Indonesia sangatlah jarang.
Kamis, 06 Juni 2019
Menari Di Dalam Pusaran Kabut (Pikiranmu)
Sekitar
tahun 2018 aku memberanikan diri ikut ujian saringan masuk ke Kampus Salemba.
Itu berarti untuk yang kedua kalinya aku mengikuti ujian setelah tahun 2017
gagal. Bila dipikir-pikir lagi, aku terlihat cukup ngotot untuk bisa kembali
kuliah, meskipun telah gagal dalam ujian saringan pertama yang diselenggarakan
pada tahun 2017. Entah kenapa, tapi sepertinya memang ada dorongan dari
berbagai arah.
Rabu, 05 Juni 2019
Berjudi dengan Nasib di Salemba
Semester 2
telah terlewati dengan cukup susah payah. Kubilang susah payah karena
sebenarnya banyak urusan di luar perkuliahan yang harus dihadapi dan ditangani.
Di satu sisi, ada tuntutan pekerjaan dan segala problematika di dalamnya.
Kemudian, di sisi lain, ada tuntutan tugas-tugas perkuliahan yang harus
diselesaikan supaya uang Rp 13,5 juta per semesternya tidak tersia-siakan. Di
samping itu, persoalan pribadi pun tidak luput dari hal-hal yang harus diatasi.
Bila dipikir-pikir, semua itu terasa tidak mudah untuk dijalani. Tapi, entah
kenapa aku bisa melaluinya.
Rabu, 27 Februari 2019
Eksil di Arus Utama
Rasanya ingin teriak sekeras-kerasnya. Tapi, hey, kau tahu? Umurku sudah mau beranjak ke angka 35 pada tahun ini. Berteriak sekeras-kerasnya dan membanting benda-benda, seperti gitar misalnya, tampak seperti bocah ingusan yang terlalu banyak teracuni lagu Pearl Jam zaman album Versus. Terlihat tidak pantas.
Jumat, 22 Februari 2019
Minggu, 11 Maret 2018
Kenyataan yang Dibayangkan
Pak Jok pernah terlihat menggerutu. Sebagai orang yang mengelola
sebuah negara, ia meyakini negara yang dikelolanya itu memiliki kekuatan yang
tidak bisa diremehkan. Keyakinan itu sering ia ucapkan dengan menyodorkan
berbagai data, mulai dari angka produk domestik bruto, pertumbuhan ekonomi per
tahun, sampai rating dari lembaga pemeringkat internasional. Namun masalahnya,
ia menganggap, selama ini bangsanya masih merasa hidup di negara kecil dan
terbelakang.
Kamis, 01 Maret 2018
Himne Untuk Kegelapan
Kosong. Kilasan cahaya melesat seperti tangkapan kamera dengan
shutter speed yang rendah pada malam hari. Metal dan logam yang padat melumer
dalam tangkapan lensa. Dan orang-orang pada malam hari, orang-orang yang
bergegas di sepanjang trotoar, yang hendak menyeberang dengan cemas, yang
menunggu di sebuah stasiun, yang tercenung dengan tatapan nanar, menjadi
semakin buram.
Selasa, 31 Oktober 2017
Sudut Pandang
Setiap kali menyeberang Jalan Raya Soekarno-Hatta, Bandung,
rasa-rasanya lebar jalan itu semakin sempit.
Berbeda ketika masih mengenakan seragam merah-putih dulu, pertengahan
dekade 1990. Menyeberang jalan itu terasa menyeramkan. Laju kendaraan jarang ada
yang pelan. Truk besar hilir-mudik dengan kecepatan yang tinggi dan menyeramkan
bila membayangkan terlindas olehnya. Untuk bisa menyeberang jalan itu, dulu,
selalu saja ada rasa deg-degan. Rasa-rasanya harus berlari jauh untuk bisa
menyeberang sampai tujuan.
Kamis, 26 Oktober 2017
Hidup Adalah Narkotik*
Sabtu, 14 Oktober 2017
Hidup Dalam Ironi
Rasa-rasanya seperti mengetahui seluruh isi dunia ketika masa remaja dihabiskan di Bandung. Hitamnya kehidupan rasa-rasanya telah dimasuki ketika mengingat kawan yang meninggal karena putaw, kawan yang babak belur karena perkelahian, kulit punggung yang terkelupas karena dihantam balok, menggelandang tengah malam di Jalan Ambon...dan setumpuk kenangan lainnya yang terlalu banyak untuk dituangkan di sini.
Jumat, 07 Juli 2017
Peralihan
Kabar kurang
menyenangkan hadir sore itu lewat grup whatsapp, memberitahu tentang perusahaan
media massa cetak lainnya yang kembali tutup. Tapi, penutupan kali ini cukup
berbeda karena hanya menutup biro-biro di daerah saja. Sementara untuk kantor
pusatnya di Jakarta tidak terkena penutupan. Kabar kali ini bukan seperti
kabar-kabar sebelumnya bahwa sebuah perusahaan media bangkrut. Tetapi, lebih kepada
efisiensi usaha. Efisiensi yang tidak mengenakkan bagi sebagian besar
pekerjanya.
Rabu, 05 Juli 2017
Robotika
Robotika berevolusi
dengan sangat cepat dalam lima dekade terakhir. Perkembangan robotika yang
pesat tentu akan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun cepat atau
lambat, otoritas masyarakat perlu merancang antisipasi salah satu dampak
terburuknya bagi manusia, yakni kehilangan pekerjaan. Robotika—ketika sudah
siap untuk diaplikasikan di tengah-tengah masyarakat--tidak hanya bersangkut
paut dengan ilmu pengetahuan tok,
namun juga akan membentuk iklim sosio-ekonomi masyarakat. Bahkan mengubahnya secara
fundamental.
Selasa, 13 Juni 2017
War and Peace: Asmara (1)
I
Membaca War and Peace karya Leo Tolstoy di satu
sisi cukup membingungkan. Perlu ada gambaran mengenai dataran Rusia untuk
mengimajinasikan medan pertempuran yang dipaparkan Leo Tolstoy. Manuver-manuver
prajurit di bawah pimpinan Kutuzov dan Napoleon di Borodino, misalnya, akan
cukup sulit dibayangkan. Gambaran seperti apa Rusia dan lebih spesifik, kawasan
yang bernama Borodino, cukup sulit menumbuhkannya di dalam benak bagi seseorang
yang seumur hidupnya tinggal di negara yang berjarak 6.963 kilometer dengan
Rusia.
Langganan:
Postingan (Atom)









